Bagian 10 (Adult)

1165 Words
“Kamu tidak bisa dengar atau pura-pura tuli? Saya bilang ke luar dari rumah ini!” bentak Mami Deli lagi. Sudah lelah diusir dan dibentak oleh mertuanya sendiri, Adinda pun akhirnya menyerah mau pulang saja, toh di sini pun tidak bisa mendapatkan bukti apapun. Masih dengan hormat serta sopan, Adinda pamit mencium punggung tangan Mami Deli dan mengucap salam walaupun responnya tetap sama, kasar. Berjalan dengan gontai, belum pulang ke rumah melainkan luntang-lantung di jalanan entah mencari apa, Adinda masih syok dan belum sepenuhnya percaya. Apa ia Mas Reyhan mengkhianati aku? Apa dengan Karina? Ya Allah, berikan aku petunjuk yang benar, agar aku tidak salah menebak dan soouzon. Di saat Adinda akan menunggu taxi, tiba-tiba datanglah mobil yang selama ini sudah Adinda rindukan untuk duduk di samping pengemudinya, yang tak lain adalah mobil Reyhan. Suara klakson terus terdengar, Adinda pun spontan langsung mendekati mobil mewah itu, kaca mobil pun terbuka lebar. Ada sosok Reyhan yang sangat tampan, memakai kacamata hitam membuat ketampanannya semakin bertambah. “Naik!” Suara bariton itu mengagetkan Adinda, tak ingin membuat masalah lagi. Adinda pun langsung masuk dan duduk di sebelah Reyhan. Mobil melaju dengan cepat, tetapi Adinda belum berani untuk bertanya lebih dulu, dia lebih memilih diam dan berpura-pura fokus pada jalanan. “Lain kali kalau mau pulang pesan taxi atau gojek, jangan luntang-lantung di jalan seperti tadi. Kamu tahu? Kalau sampai ada kerabat kerja, ataupun keluarga yang melihat kamu seperti tadi tanpa saya, kamu tahu siapa yang akan malu?” Adinda menggeleng dan kembali menunduk, dia takut dengan perubahan Reyhan saat ini, berbeda jauh dengan Reyhan yang dulu. “Saya yang akan malu, Adinda! Jangan coba-coba membuat malu, mengerti?!” “I-iya, Mas. Maaf aku nggak sengaja seperti itu, aku ....” “Sudahlah, jangan diulangi lagi,” potong Reyhan. “Mas ... nggak ada kerjaan lagi, ya?” tanya Adinda. Reyhan menatap Adinda sekilas lalu kembali fokus pada jalanan, Reyhan hanya diam tanpa menjawab. “Mas ... aku takutnya mengganggu waktu Mas, soalnya ....” “Jangan lupa, saya lah pemilik perusahaan itu! Mana mungkin saya kerja 24 jam seperti karyawan biasa, kapanpun saya bisa pulang karena saya bos!” “Ya udah, kalau gitu makasih, Mas. Udah mau antar aku pulang,” ucap Adinda bahagia. “Ha ha, jangan kepedean. Saya hanya kebetulan lewat saja, bukan khusus untuk kamu.” Deg, kenapa Reyhan berubah? Sudah dibahagiakan, lalu dihempaskan begitu saja, Adinda pun lebih berani lagi untuk bertanya. “Mas ... kenapa kamu berubah seperti ini? Apa salah aku? Apa karena aku belum bisa kasih kamu anak, pernikahan kita baru dua tahun kok masih banyak waktu untuk ....” Reyhan kesal dengan Adinda yang terus saja bicara, dia menghentikan kemudinya di pinggir jalan. Membuka kacamata itu dan menatap Adinda dengan tatapan tajam. “Kamu tanya kenapa saya berubah? Hmm? Kamu hanya berpikir saya menginginkan anak saja? Dengarkan! Saya sudah hilang selera bersama kamu, Adinda. Menyetubuhi badan kamu itu percuma, buang-buang s****a doang!” Jleb, dua tahun menikah baru kali ini Adinda mendengar pernyataan dari suaminya, buang-buang s****a doang? Membuat hati Adinda sangat sakit. “Tidak usah nangis, cengeng. Lebih baik saya berikan s****a berharga untuk perempuan yang jauh lebih berharga dibandingkan kamu!” Reyhan memakai kembali kacamata hitam nya, dan kembali melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan yang ada dipikiran Adinda hanyalah satu, Karina kah perempuan berharga itu? Apa semua ucapan Mami Deli waktu itu benar? Reyhan sudah menikah lagi, dan perempuan itu Karina? Rasa khawatir itu Adinda lupakan sejenak lalu ingat lagi. “Mas, apa kamu sudah menikah lagi?” Pertanyaan Adinda tanpa basa-basi lagi. “Kalau jawabannya IYA, kamu mau apa? Nangis? Minta cerai? Maaf, saya dan keluarga tidak ada istilahnya perceraian,” jawab Reyhan. “Bukannya di keluarga kamu pun tidak ada istilahnya selingkuh, Mas? Tidak ada istilah punya istri dua?” “Diam kamu! Diam atau saat ini juga saya banting setir, supaya kita mati konyol berdua!” bentak Reyhan. Adinda diam, mulutnya sendiri sulit untuk marah, bahkan untuk memaki suaminya sendiri terasa sulit dan mustahil, Adinda tidak diajarkan seperti itu oleh keluarganya dulu. *** Malam harinya. “Mas, kamu mau ke mana? Kok udah rapi,” tanya Adinda. “Saya mau ke mana itu terserah saya, apa urusannya dengan kamu? Siapa kamu? Awas,” jawab Reyhan mendorong tubuh Adinda yang semula menghalangi jalannya. Tak ingin menyesal dikemudian hari, maka dari itu Adinda memesan taxi online, mengikuti ke mana pun suaminya pergi malam ini, arah jalanan pun belum pernah Adinda ketahui arah ke mana ini? Adinda semakin khawatir. Sekitar satu jam, akhirnya sampai. Adinda yang melihat jelas Reyhan masuk ke dalam rumah sederhana, mobilnya? Bahkan masuk ke halaman rumah itu terparkir jelas. Rumah ini? Sepertinya ... aku ingat. Astaghfirullah, apakah benar ini rumah Karina? Yang waktu itu, ah aku harus turun. Membayar taxi, kemudian langsung berlari ke rumah itu. Mengintip dan bahkan mendengarkan dari balik jendela rumah. “Loh, kok Bapak bisa masuk? Aku udah kunci loh rumah ini,” tanya Karina heran. “Ha ha, saya punya kunci cadangan Sayang. Kan, kamu sendiri yang waktu itu kecolongan, ingat? Dan saya lah yang sengaja ambil kunci itu,” sahut Reyhan merangkul Karina tetapi langsung ditepis. “Apaan, sih, awas! Jangan coba-coba!” Karina sedikit menjauh. “Kenapa? Saya suami kamu! Berhak dong menyentuh istrinya sendiri,” ucap Reyhan. “Bukan! Aku bukan istrimu, yang sebenarnya istri kamu itu Mbak Adinda!” Awalnya, kedatangan Reyhan itu untuk minta maaf karena sikapnya sudah kasar pada Karina, tetapi karena sikap Karina yang seperti ini, membuat Reyhan tak peduli sedang di mana mereka sekarang, di ruang tengah. Reyhan mendekat, mengunci tubuh Karina di bawahnya, sofa yang ukurannya sedang itu sampai bergeser karena terlalu berat tak seimbang. “Pak ... jangan ....” Reyhan sudah tidak sabar lagi, dia hanya menginginkan hak itu, ini untuk kedua kalinya mereka melakukan hubungan badan setelah menikah, berontak berkali-kali rasanya percuma karena tenaga Reyhan lebih kuat. “Pak, cukup ... hentikan ahh ....” Desahan itu lolos begitu saja di saat Reyhan terus memompa tubuhnya dengan hebat, Karina meremas sofa dengan kuat, kejantanan Reyhan sangat besar dan rasanya sangat sakit. “Ahh, Pak Reyhan ....” Mendengar Karina mendesah menyebutkan nama Reyhan, tentu berhasil membuatnya kembali berkabut dengan napsu, desahan mereka berdua terdengar keras sampai ke luar rumah, Adinda? Membekap mulutnya untuk tidak menangis menyaksikan langsung. “Ya Allah, Mas. Aku udah dengar semuanya, bahkan udah melihat langsung. Kalian memang tidak zina, tetap saja hatiku sakit, kamu tega Mas, kamu juga tega Karina.” Sedangkan di dalam sana, Karina sudah berhasil o*****e sampai tiga kali. Reyhan sangat puas, berusaha keras untuk menanam benih pada Karina. “Cukup, Pak. Aku lelah ....” “Satu kali lagi! Cepat kamu nungging!” titah Reyhan. Karina menolak, tetap saja Reyhan memaksa. Melakukan lagi dan lagi, desahan mereka terdengar keras, Adinda masih kuat untuk menyaksikan itu, bahkan saat ini dia berani merekamnya di balik jendela yang tak ditutup oleh tirai, mungkin Karina lupa. “Maaf, Mas. Ini untuk bukti di pengadilan nanti,” ucap Adinda lirih menahan rasa sakitnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD