“Pak, itu suara apa?”
Karina dan Reyhan masih melakukannya, meskipun Karina menolak tetap saja tidak dipedulikan sama sekali. Terdengar suara dari luar, tepatnya di dekat jendela.
“Hmm.” Hanya itu jawaban Reyhan yang masih memompa tubuhnya dengan cepat, keluar masuk kejantanannya menjepit manja kewanitaan Karina.
“Pak, cukup ... di luar seperti ah ....”
Terpaksa Karina diam dan tetap pasrah di bawah dengan jeritannya, walaupun dia berpikir ada siapa di luar? Kucing yang tidak sengaja lewat kah? Atau memang ada orang.
Sekitar jam setengah sepuluh malam, selesai melakukan dengan panas keduanya mandi masing-masing, semula Reyhan mau mandi bareng tetapi Karina menolaknya dengan tegas.
Selesai mandi lebih dulu, membuat Karina lebih mudah untuk cek ke luar rumah, tiba-tiba ada bayangan seseorang yang langsung lari di saat Karina membuka pintu rumah.
“Hah? Siapa itu? Kok langsung pergi, apa jangan-jangan ....”
“Jangan berpikir yang aneh-aneh, siapa tahu itu orang lewat saja,” ucap Reyhan yang masih memakai kimono nya.
“Apaan, sih, mana mungkin orang lewat tetapi suaranya aneh banget dari tadi, apa dia mengintip? Bahkan ... ah entahlah!”
Reyhan tersenyum dan menarik pinggang Karina dengan gemas, “Sst, jangan seperti itu pikiran kamu bahaya, membahayakan diri sendiri.”
“Bahaya untuk diri aku? Maksudnya?” tanya Karina.
“Bodoh, masa gitu doang tidak mengerti. Kalau kamu terus berpikiran yang aneh-aneh lalu besok kerjamu tidak bagus, siapa yang bahaya? Kamu! Emang mau dipecat?”
“Ya, emang Bapak tega pecat aku?”
“Tega, karena tidak kerja pun kamu akan tetap mendapatkan uang, dari nafkah yang saya beri!”
Mendengar semua ucapan Reyhan berhasil membuat Karina emosi, seenaknya mengatakan Karina tidak kerja pun tetap mendapatkan uang.
Memangnya dia wanita apa? b***h? Tidak, walaupun dia sendiri belum yakin pernikahannya sah, tetap saja statusnya sudah menjadi istri bukan wanita simpanan.
“Jangan melamun seperti itu, siapkan pakaian untuk saya, masih ada, kan, di lemari?” tanya Reyhan.
“Ada, ambil aja sendiri!” Karina melenggang meninggalkan Reyhan.
Lebih memilih duduk sendirian di belakang rumah, walaupun sudah larut malam tetap saja merasa lebih aman di belakang rumah dibandingkan di dalam rumah.
Entah tahu dari mana, tiba-tiba Reyhan ikut duduk di sampingnya, bersama menatap langit yang penuh dengan bintang malam, ada satu bulan yang indah di tengahnya.
“Kamu tahu?” Tiba-tiba Reyhan menggenggam tangan Karina.
“Pak? Kok bisa?”
“Kamu tahu tidak kenapa saya menjadi tempramental seperti ini?” tanya Reyhan.
“Aku nggak tahu dan nggak mau tahu juga,” jawab Karina.
“Walaupun kamu tidak mau tahu, saya akan tetep menceritakan semuanya.” Reyhan tetap percaya diri.
Reyhan mulai menceritakan dari awal sampai akhir, flashback satu tahun ke belakang, masa di mana dia masih romantis dengan istrinya.
Flashback kala itu, Karina pun tadinya acuh jadi semangat mendengarkan semuanya, karena penasaran juga.
Jakarta, 3 September.
“Mas, aku belum hamil juga.”
“Sabar, Sayang. Aku yakin, secepatnya kita akan punya anak,” ucap Reyhan kala itu.
“Aku pengen banget jadi seorang Ibu, tetapi kenapa hasilnya selalu negatif.”
Di saat itulah Reyhan memeriksa semuanya, awalnya Reyhan biasa saja saat membuka kertas hasil pemeriksaan di rumah sakit, saat itu pun Adinda tidak ikut.
“Apa? Jadi ....”
Reyhan sampai terkulai lemas, menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai sembari menghajar tembok dengan keras, setelah membaca hasil tes pemeriksaan itulah Reyhan menjadi berubah drastis, tempramental dan mudah emosi.
Flashback selesai, walaupun Karina sendiri terkejut tetap saja dia terharu, di satu sisi dia benci Reyhan, dan di sisi lain bangga, baru pertama kali lihat laki-laki mau berkorban walaupun dengan cara yang salah.
“Pak, jadi selama ini? Kamu menyembunyikannya?”
“Iya, kamu rahasiakan semua ini, ya. Sampai waktu yang tepat,” sahut Reyhan.
“Pak ... masih berharap anak dari aku?”
“Kalau jawaban saya IYA pun kamu tetap tidak mau, kan? Jadi, saya jawab TIDAK LAGI, saya bukan pemaksa setidaknya sudah berusaha, kalau saya jahat mungkin dari awal kamu sudah saya jadikan sugar baby, tetapi tidak, kan?”
Benar apa yang dikatakan Reyhan saat ini, buktinya Reyhan mengambil cara dengan menikah lagi bukan berzina sembarangan.
“Pak, kalau tahu seperti itu aku ... bisa kok,” ucap Karina.
“Bisa apa?”
“Bisa kasih Bapak anak, alhamdulilah juga aku subur kok,” sahut Karina.
“Serius?” Reyhan masih tak percaya.
“Hmm, tapi semua cerita Bapak tadi seriusan, kan?”
“Saya masih simpan bukti, nih, saya bawa sengaja supaya kamu percaya, baca sendiri.”
Karina dengan tidak sabar langsung membaca, dia baru lega karena semuanya benar, setidaknya Reyhan punya alasan kuat.
“Pak, aku mau, tapi ....”
“Sudahlah, pikirkan saja dulu. Anggap yang tadi terakhir kita melakukan, kalau kamu tidak mau, maaf.” Reyhan bangkit dan meninggalkan Karina seorang diri.
***
Keesokan harinya, Karina tidak bisa tidur semalaman sampai salat subuh pun belum bisa merem, pagi-pagi sekali sudah siap untuk ke kantor.
Tanpa sarapan, Karina sudah siap di kantor. Reyhan semalam tidak menginap, bahkan hari ini Karina belum lihat sosoknya.
“Mbak, lihat Pak Reyhan? Kok nggak ada di ruangannya,” tanya Karina.
“Lah, kan, kamu yang sekretaris Pak Reyhan, Mbak saja tahu kok hari ini Pak Reyhan tidak akan masuk kantor, selain maklum dia bos, Mbak yakin dia ada acara keluarga seperti biasa, jauh sebelum kamu kerja di sini memang sudah sering,” jawab Mbak Dedeh, karyawan tetap.
“Kok aku nggak dikasih tahu, ya? Hmm, kalau gitu terima kasih, Mbak.”
Tanpa menunggu dan berpikir panjang, Karina pergi dari kantor untuk menyusul Reyhan ke rumahnya, rumah bersama Adinda tentunya.
Namun, sesampainya di rumah itu. Karina sendiri bingung harus beralasan apa datang tanpa diundang, dia menggigit bibir bawahnya dan gugup sekali.
“Ngapain kamu di sini?”
“Hah? Pak, akhirnya ....” Karina kaget Reyhan tiba-tiba datang menghampiri.
“Saya tanya, ngapain kamu di sini?”
“Pak, aku cari Bapak ke ruangan nggak ada lalu ada yang kasih tau katanya nggak bakal ke kantor hari ini, ya? Aku kok nggak dikasih tau.”
“Lah, memangnya kamu siapanya saya? Cuma sekretaris, kan? Tidak harus tahu!”
Jleb, rasanya sakit mendengar ucapan Reyhan seperti itu. Entah apa yang berhasil merubahnya seperti ini, padahal semalam ... apa karena semalam?
“Aku ....”
“Reyhan ngapain kamu di sini? Mami tunggu dari tadi, buruan masuk! Kita sarapan!”
“Sebentar, Mi.”
Mami Deli mendekat, menatap Karina dengan tatapan tak suka, Karina sendiri malu dan menunduk saja, bagaimanapun Karina sudah tahu, dia ibu kandungnya Reyhan.
“Kamu? Saya tahu kamu sekretaris di perusahaan, kan?” tanya Mami Deli.
Karina mengangguk.
“Ngapain kamu ke rumah bos tanpa diundang? Lancang sekali, mana diam di gerbang seperti ini!”
Reyhan diam saja, seolah-olah malu untuk mengakui siapa Karina sebenarnya, bukan sekadar sekretaris saja.
“Loh, udah datang, Karina? Kenapa nggak masuk? Aku nunggu kamu loh dari tadi.” Tiba-tiba saja Adinda datang.
“Maksud kamu apa, Dinda?!” Mami emosi.
“Itu, Mi. Aku yang undang Karina ke sini, maaf nggak izin sama Mami dan Mas Reyhan dulu, habisnya aku kangen masak bareng Karina,” sahut Adinda.
Hah masak bareng? Memangnya kapan aku pernah masak bareng Mbak Adinda? Kenapa juga di sini Mbak Adinda seperti membela aku.
“Ah, sudahlah. Urus saja urusan kalian, Mami ke dalam duluan!”
Melihat dan mendengar Mami seperti itu, membuat Adinda yakin bukan Karina istri kedua Reyhan, tetapi kejadian semalam? Entahlah membuat rumit saja dengan teka-teki ini.
“Kalian urus saja urusan kalian, saya masuk ke dalam menyusul Mami,” titah Reyhan.
Tetapi salah, Adinda lebih dulu masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun, Karina merasa ada yang aneh dan membingungkan di sini.
“Kamu lihat? Mami? Adinda? Semuanya seolah akting, mereka tidak seakrab itu jika tidak ada kamu, orang lain!” bentak Reyhan.
“Pak, kok Bapak jadi kasar sama aku? Sebenarnya aku salah apa?”
“Kamu tahu? Di seluruh rumah ini sudah dipasang CCTV, di depan gerbang pun. Saya berbisik seperti ini agar kamu mengerti, jangan buat saya kehilangan perusahaan karena ketahuan nikah dua kali oleh Mami,” bisik Reyhan.
“Oh, jadi kamu lebih takut kehilangan perusahaan dibandingkan aku, Pak? Baik, aku mengerti sekarang. Semalam kamu hanya pura-pura baik, kamu pun sebenarnya hanya butuh rahim bukan aku, setelah aku hamil dan melahirkan pun tetap saja akhirnya aku dibuang dan kamu? Akan kembali pada Adinda!”
“Pulang! Atau saya usir kamu secara kasar, hah?”
“Nggak perlu Bapak usir, aku pulang. Besok pagi aku kirim surat resign. Jangan cari aku lagi, Pak. Aku akan pergi, terima kasih untuk semuanya, suatu hari nanti uang Bapak saya kembalikan, terima Mbak Adinda apa adanya, permisi!”
Karina menyeret kakinya sendiri untuk melangkah jauh dari Reyhan, sengaja berjalan lambat ingin tahu namanya akan segera dipanggil untuk mencegahnya pergi atau tidak.
Reyhan tidak memanggilnya melainkan langsung masuk ke dalam rumah, Karina? Menangis sesegukan, kata-kata Reyhan semalam ternyata hanya akting dan bodohnya Karina bisa percaya.
“Aku benci kamu, Reyhan!” Karina pun memesan taxi, secepatnya dia urus surat pengunduran diri dari perusahaan dan pulang kampung.
Next? Jangan lupa tap love dan komentar ya.