Bagian 13

1072 Words
Sudah malam, aku masih bingung harus bagaimana. Lingerie yang mami berikan pun sudah aku pakai, belum berani ke luar dari kamar mandi. “Kamu lagi apa, sih, di dalam? Mandi atau pingsan?” Adinda yang mendengar ucapan itu pun semakin gemetaran, dia sendiri bingung harus bagaimana, sampai terdengar lagi gedoran pada pintu membuyarkan semuanya, sontak membuat Adinda membuka pintu dan terjadilah saling tatap. “K-kamu? Ngapain?” “Hmm, aku ... nggak ngapa-ngapain kok,” sahut Adinda. “Oh, awas saya mau mandi.” Hanya itu? Seolah-olah benar-benar sudah tak selera lagi dengan Adinda, walaupun memakai pakaian sexy, tetap tak dilirik. Namun, sebelum Reyhan masuk ke dalam kamar mandi, Adinda sempat tahu Reyhan memandangnya diam-diam. Aku harus gimana, ya? Bingung, masalahnya sudah lama juga aku tidak melakukan lagi, terlebih lagi aku masih mengingat jelas adegan panas Reyhan dengan Karina, ya Allah sakit jika mengingat itu, masih belum yakin semuanya kalau mereka sudah berkhianat. Clek, suara pintu kamar mandi terbuka. “Kamu bengong di situ dari saya masuk kamar mandi sampai ke luar lagi hah?” “Nggak kok, Mas. Aku cuma bingung.” “Bingung kenapa? Buruan tidur, saya lelah tamu banyak sekali tadi,” titah Reyhan yang sudah rapi memakai pakaian tidurnya. Bahkan tak bisa Reyhan pungkiri, dia laki-laki normal, malam ini melihat Adinda seperti itu bisa saja langsung menerkamnya sampai pagi. “Din, kamu ngapain pakai pakaian seperti itu?” tanya Reyhan. Untuk pertama kalinya lagi Reyhan memanggil Adinda dengan sebutan Din? Itu adalah panggilan sayang semasa dulu, awal pacaran dan awal menikah. “Kamu panggil aku Din? Aku kangen banget, Mas, dengan sebutan itu,” sahut Adinda. “Ha ha, lebay kamu. Cuma dipanggil gitu saja langsung baper, heran.” “Bukannya baper, Mas. Sebagai seorang istri yang udah lama nggak dimanja itu rasanya luar biasa di saat suaminya kembali ....” Reyhan mendekat, semula dia ingin sekali tidur, tetapi gairah dalam dirinya terus bangkit, karena saat ini pakaian yang Adinda pakai hanya menutupi d**a dan kewanitaannya saja. “Mas ....” “Hmm? Buruan tidur, jangan diam terus di situ,” titah Reyhan meraih tangan kanan Adinda. Adinda dengan senang hati menerima uluran tangan itu, Reyhan membawanya tidur dalam dekapannya, hanya dalam dekapan tidak lebih dari itu. Mengusap pelan kepala Adinda, merasakan kepalanya dikecup sampai meneteskan air mata, apakah Reyhan yang manis akan segera kembali? Pikir Adinda. “Tidur, jangan bengong terus,” titah Reyhan untuk kesekian kalinya. “Hmm, kamu nggak mau itu dulu, Mas?” “Itu apa? Saya sangat ngantuk, tidur.” Reyhan tahu, sebenarnya malam ini Adinda dengan sengaja menggodanya, tetapi Reyhan berpikir lagi, untuk apa melakukannya? Membuang s****a saja, toh tidak akan pernah membuahkan hasil jika melakukan dengan Adinda. “Mas, aku mau kita melakukan apa yang seharusnya dilakukan suami istri,” ucap Adinda mulai berani menggoda Reyhan. Adinda melupakan harga dirinya, toh ini pasangan halal bukan yang haram, mengelus pelan bibir Reyhan dengan lembut, tetapi saat Adinda mengelus kepunyaan Reyhan, ditepis dengan pelan. “Saya tahu apa yang kamu inginkan, please saya ngantuk, tidur, ya, selamat tidur!” Adinda menghela napas dalam-dalam, bagaimanapun dia sudah berusaha dengan keras, walaupun akhirnya selalu gagal seperti malam ini. Memilih untuk tidur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, menangis dalam hening, bahkan saat ini Reyhan tidur membelakangi Adinda. Maaf, Mi. Lagi-lagi aku gagal, aku sudah berusaha dengan baik, tetap saja gagal. Mana Mami tidak pasang CCTV di kamar ini, andai saja dipasang. *** Keesokan harinya, sarapan sudah selesai dengan baik, tidak ada pembicaraan karena Reyhan benci percakapan di saat makan. Mami Deli sudah pulang tadi subuh, semakin terancam posisi diri Adinda. “Adinda, hari ini Mami sudah pulang, tapi jangan sampai kamu lengah, lihatlah di mana-mana ada CCTV, hanya di kamar yang tidak ada, jadi tolong bersikap romantis di sini,” bisik Reyhan. “Hah? Kenapa jadi aku? Bukannya di sini yang laki-laki itu kamu, Mas.” Reyhan terkekeh, kemudian bibirnya mendarat tepat dibibir mungil Adinda, awalnya hanya ditempel untuk akting, tetapi dengan kesempatan seperti ini membuat Adinda leluasa untuk mengambil kesempatan, melumat lebih dulu bibir Reyhan, tak henti-hentinya sampai Reyhan sendiri yang menghentikan semuanya. “Sudah, jangan berlebihan. Kita hanya akting, saya ke kantor, jaga rumah selama pembantu belum datang lagi,” titah Reyhan sedikit berbisik. “Mas, ini tas kerja kamu, dan ....” Adinda meraih tangan kanan Reyhan, mencium punggung tangannya. “Apa?” Reyhan melotot. “Salim ke suami yang mau kerja,” jawab Adinda. “Hmm, ya, saya pergi!” Walaupun Reyhan masih dingin, tetap saja saat ini Adinda bisa merasakan kehangatan itu akan segera kembali, buktinya di saat mereka berciuman, Reyhan membalas lumatan itu, itu tandanya? Adinda menyeringai lebar. Aku akan balas kamu dengan kebaikan, Karina. Karena bukti yang aku punya belum banyak, kita lihat siapa yang akan menang, aku istri pertama, atau kamu wanita yang belum jelas apa statusnya bagi Reyhan. Sedangkan Reyhan di kantor, tepatnya di ruangan pribadinya, meneguk air minum dengan cepat, kerongkongannya terasa kering saat ini entah kenapa. “Permisi, Pak.” “Masuk!” “Pak, ini semua berkas harus Bapak segera tanda tangani,” ucap Karina. “Oh, iya.“ Hanya itu, bahkan dengan cepat semuanya Reyhan tanda tangani. “Sudah, silakan kembali bekerja,” titah Reyhan. “Pak, ini aku buatkan makan siang,” ucap Karina menyodorkan rantang. “Makan siang? Hei, ini bahkan masih pagi loh, kesambet apa, sih? Baik banget,” kata Reyhan. “Nggak kesambet, aku inisiatif aja,” jawab Karina. “Baik, isi rantang ini apa saja?” tanya Reyhan. “Isinya ada ayam gulai, nasi tentunya, dan yang paling Bapak suka yaitu balado tempe,” jawab Karina lagi. “Wah, terima kasih. Tolong jangan panggil saya Bapak di saat kita sedang berduaan, ingat, kan?” “Hmm, nggak enak Pak. Ini di kantor, nanti aja di rumah.” Reyhan tersenyum nakal, mendengar penuturan Karina saat ini, nanti saja di rumah, seolah-olah itu adalah kode. “Ya sudah, simpan saja rantang nya di sana, jangan sampai kamu tidak bisa hamil dalam tahun ini,” kata Reyhan. “Ya ampun, masih terobsesi dengan kehamilan? Kenapa Bapak nggak hamil aja?!” “Sinting kamu, mana ada laki-laki hamil! Huh, sudah sana kerja,” usir Reyhan malu-malu. “Malam ini, datang, ya, aku ada sesuatu, pokoknya Bapak akan suka,” kata Karina. “Apa itu? Tumben kamu manis banget, lagi akting?” Reyhan menautkan kedua alisnya. Next? Komentar dan tap love, ya, follow author juga. Karina mau apa, ya? Kenapa dia tiba-tiba berubah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD