Masih penasaran dengan Karina, sampai akhirnya Reyhan sendiri yang menyelidiki ke ruangan Karina, tidak jauh dari ruangannya. “Kalau Reyhan tahu pasti dia senang, tapi ... harus mulai dari mana, ya?” Suara itu yang Reyhan dengar, apa yang akan membuatnya senang? Saat itulah senyuman manis terbentuk dari bibir Reyhan. Namun, sayangnya usaha Reyhan untuk mendengarkan lebih lanjut langsung gagal, Karina sudah menatap Reyhan dengan sebal di balik pintu yang memang sedikit terbuka, karena bisa-bisanya mengintip di perusahaannya sendiri. “Bapak ngapain? Senyum-senyum segala.” “Hah? Eh, apa, tidak ada yang senyum-senyum.” “Masa? Ngapain diam di situ, kalau ada perlu masuk aja, toh ini perusahaan Bapak, nggak harus ngintip.” “Saya perlu apa? Tidak ada, hanya lewat saja.” Karina sendiri mer

