Bagian 7

1030 Words
Adinda terus saja menangis, dia tahu selama ini belum bisa membahagiakan suaminya, tetapi apa harus dia merasakan sakit hati sedalam ini? Reyhan sampai pagi ini belum pulang juga, ponselnya masih tidak bisa dihubungi walaupun aktif. Ibu dan mertuanya sudah pulang, dia hanya seorang diri menunggu kepulangan suaminya yang entah kapan itu terjadi. Baru saja dia akan menyerah, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi terus-menerus. Hati yang kegirangan pun membuat Adinda langsung bergegas menuju ke pintu rumah dan membukanya. “Kamu mati atau pingsan, sih, saya sudah menunggu lama di sini!” Benar, suaminya sudah pulang. Hanya saja datangnya dia bukan memberikan kebahagiaan ataupun sentuhan hangat, melainkan bentakan. “Ya Allah, akhirnya kamu pulang juga, Mas.” “Kenapa? Kangen uang? Sudah saya transfer uang bulanan kamu,” bentak Reyhan. “Bukan, Mas. Bukan uang yang aku rindukan tapi kamu, aku merindukan suamiku,” ucap Adinda yang saat ini membukakan jas suaminya. “Oh, iya?” Reyhan sedikit berbisik. “Iya, Mas.” “Tapi sayangnya, saya tidak peduli itu semua, Dinda.” Bulir air mata itu terus menetes, walaupun yang dia tahu Reyhan sebenarnya baik, dan lembut, tetap saja kenyataannya saat ini sosok Reyhan sudah berubah. “Mas, kamu mau sarapan apa? Aku belum masak karena nggak tahu kalau hari ini kamu akan pulang,” ucap Adinda. “Makan aja sendiri, saya mau siap-siap ke kantor, awas mau mandi!” Reyhan tak memikirkan bagaimana perasaan Adinda, dia masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan air mata itu. Kenapa kamu menjadi kasar dan tidak punya hati, Mas. Padahal dulu kamu sosok laki-laki yang lemah lembut, sopan, dan pengertian. Apa karena aku belum bisa kasih kamu anak? Tak lama Reyhan sudah mandi dan rapi, bersiap-siap untuk ke kantor. Padahal dia sendiri tahu, hari ini tidak ada jadwal apapun di perusahaan, hanya menghindari dari Adinda saja. “Mas, hari ini ada meeting, ya? Atau ....” “Diam! Kamu tahu apa, sih, tidak akan mengerti juga kalaupun ada meeting, karena kamu tahunya ngaji dan ceramahi suami!” “Ya Allah, Mas. Kok bisa bicara seperti itu, nggak baik, Mas. Istighfar.” “Bodo amat, sudah ... saya pergi! Buang-buang waktu saja kamu itu!” Reyhan pun melenggang begitu saja, sedangkan yang Adinda lakukan sekarang hanyalah menangis. Pulang atau tidaknya suami ke rumah, tetap saja sama. “Semoga Allah secepatnya mengetuk pintu hati kamu, Mas. Agar kamu bisa kembali ke Reyhan yang dulu.” Tetap memikirkan kesehatan suami walaupun dia sendiri tahu akan ditolak, memasak sendiri walaupun ada pembantu di rumah, yang kebetulan hari ini sedang cuti. “Nggak ada si Mbo. Aku masak sendiri juga pasti enak kok, semoga Mas Reyhan suka.” Mulai berkutat dengan alat—bahan—dapur. Menyiapkan bekal sarapan atau bisa dimakan siang nanti oleh suaminya, Adinda lakukan ini semua karena dia sangat sayang pada Reyhan. “Aku antarkan pakai kurir atau datang sendiri ke kantor, ya?” Adinda masih bingung, tetapi dia lebih fokus untuk menyelesaikan masakannya pagi ini, memasak olahan opor ayam kesukaan Reyhan. “Oke, aku datang saja ke kantor.” *** Di perusahaan, tentu saja Reyhan gemas dengan sekretaris cantik itu, yang tak lain adalah istri keduanya. Jam segini belum datang juga ke kantor. Tiba-tiba ... “Maaf, Pak ....” “Masuk!” Di dalam ruangan Presdir itu pun terasa tegang, kedua mata Reyhan terus melotot ke arah Karina. Yang dipelototi saja hanya diam dan menunduk ke bawah, entah kenapa lebih suka menunduk dibandingkan harus menatap suaminya sendiri. “Saya sudah baik sama kamu, saya pulang subuh-subuh dari rumahmu untuk apa? Supaya kamu tidak telat!” “Maaf, Pak. Tadi ....” “Mau alasan apa lagi Karina? Oke, jika kamu marah dengan saya tak apa, tetapi ini kerjaan! Professional dong, jangan bawa-bawa urusan rumah tangga dengan perusahaan,” ucap Reyhan, rahangnya mengeras. “Iya, Pak, aku minta maaf.” “Maaf doang tidak cukup, sebagai hukumannya ....” “Silakan saja potong gaji, ga papa kok,” ucap Karina. “Tidak, memangnya kamu pikir dengan potong gaji kamu bisa memuaskan saya?” “Puaskan bagaimana maksud Bapak?” “24Jam dengan saya, mulai hari ini sampai besok!” “Nggak bisa, aku juga punya privasi,” tolak Karina. “Saya suami kamu! Jelas saya berhak atas diri kamu!” “Kata siapa? Aku punya kepentingan sendiri, Pak. Jangan campuri urusan aku,” ucap Karina. Reyhan semakin mendekat, Karina ketakutan. Bagaimana jika Reyhan pagi ini melakukan itu? Di kantor dan di ruangan ini, Karina gemetaran, dia takut sekali jika nanti ada orang yang memergoki. Baru saja bibir mereka akan menyatu, dalam kondisi kedua mata Karina masih terpejam, ada suara pintu yang terbuka. “Mas?” Reyhan dan Karina tersontak kaget, melihat siapa yang datang dengan terkejutnya mereka jadi salah tingkah, Adinda datang membawa rantang makanan. “Karina? Kamu?” “Eh, Mbak Adinda. Ini aku lagi bahas kerjaan, jadi aku permisi dulu.” “Jangan, kamu di sini. Kamu Adinda? Ngapain ke sini? Pergi sana!” bentak Reyhan. “Pak, biar ....” ucapan Karina terhenti. “Kenapa? Kenapa aku lihat kalian tadi ... akan berciuman? Apa aku salah lihat?” tanya Adinda frontal. “Bukan, Mbak. Apa yang Mbak lihat tidak seperti itu, tadi ... ada apa gitu di rambut aku jadi ....” Karina gelagapan. “Dia ....” Reyhan menghentikan ucapannya, jangan sampai Adinda tahu. “Ah, sudahlah. Karina kamu ke luar dulu, nanti kita lanjutkan pembahasan yang tadi,” titah Reyhan akhirnya. “Baik, Pak. Mbak saya permisi,” pamit Karina. “Iya.” Adinda jadi ketus pada Karina. Setelah perginya Karina, langsung tanpa basa-basi Reyhan mendorong tubuh Adinda ke tembok. “Ngapain kamu ke sini tanpa izin dari saya? Hah? Memangnya di perusahaan nenek moyang kamu sembarangan datang dan masuk ke ruangan tanpa ketuk pintu!” “Mas, aku sudah ketuk pintu berkali-kali bahkan sudah mengucap salam, tetapi di saat aku langsung masuk, ada pemandangan yang ....” “Yang apa? Kalau benar saya dan Karina akan berciuman, kamu mau apa Adinda?” tanya Reyhan, menjambak jilbab istrinya. “S-sakit, Mas ... ampun.” “Pergi! Dan jangan datang lagi atau saya usir kamu dari rumah!” teriak Reyhan. “Mas aku ....” “Pergi ... pergi Adinda!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD