Bagian 6

1029 Words
“Sejak kapan kamu datang bulan?!” “Kepo banget, sih, Pak! Aku mau beres-beres lagi, maaf aku mendorong Bapak seperti ini,” ucap Karina setelah dia mendorong tubuh kekar itu. Reyhan yang diperlakukan seperti itu pun diam, bukan karena dia lemah dan kalah oleh Karina, hanya saja dia kepikiran apa jangan-jangan Karina belum hamil? Betapa bodohnya bisa berpikiran seperti itu, jelas-jelas saja belum hamil, baru sekali melakukannya. Saya harus bisa mendapatkan seorang anak tahun ini, harus bisa. Saya akan bersabar selagi Karina datang bulan, katanya setelah selesai datang bulan lalu melakukan hubungan badan, wanita akan lebih mudah/cepat hamil. “Hei? Bapak kok jadi bengong, mau pulang atau mau di sini?” tanya Karina membuyarkan lamunan Reyhan. “Mau di sini, ngapain juga pulang.” “Loh? kan, Bapak punya rumah sendiri. Punya istri dan ....” Reyhan membungkam mulut mercon itu dengan mulutnya, mereka saling melumat, walaupun awalnya Karina sempat berontak dan tidak suka diperlakukan seperti itu secara mendadak. Napas keduanya terengah-engah, merasakan kenikmatan yang belum tentu halal, karena Karina sadar, dia menikah tanpa wali yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri, masih hidup dan ada di dunia ini. “Lepas, Pak!” “Kenapa?” “Aku tidak suka!” “Tidak suka bagaimana? Dari tadi kamu sama-sama menikmatinya kok, munafik,” cecar Reyhan. “Aku tahu, kita sudah menikah Pak. Namun, apa Bapak tidak sadar? Kita menikah tanpa wali dariku, aku masih punya Ayah di dunia ini. Tidak sah dan ....” “Terus saja kamu bicara seperti itu, bosan! Sekali lagi saya mendengar kamu membicarakan hal bodoh seperti tadi, mati kamu!” Reyhan dengan cepat menyelimuti dirinya dengan selimut. “Heh! Kok Bapak main tidur saja, kenapa, sih?” “Apa, sih? Saya belum tidur. Di rumah ini selain tidak ada AC, juga banyak sekali nyamuk. Jadi, saya harus berlindung di balik selimut.” “Euww, lebay banget, sih, jadi laki-laki. Cuma karena nyamuk saja lebay,” ledek Karina. “Diam kamu! So pakai bahasa formal segala,” celetuk Reyhan tanpa membuka kedua matanya. Kali ini Karina yang lebih memilih diam saja, karena baginya percuma saja mau membalas ucapan laki-laki itu sampai Upin Ipin sekolah SMA pun tidak akan pernah menang, tetap saja Reyhan yang menang. “Baik, Bapak boleh tidur di sini dengan syarat jangan pernah datang lagi ke sini,” ucap Karina. Ucapan Karina berhasil membuat kedua mata Reyhan yang semula terpejam kembali melotot langsung pada sasaran, menatap Karina dengan sinis. “Silakan! Saya tidak takut dengan kamu, Karina!” Benar saja, tidak akan pernah menang dari laki-laki itu. Karina menghela napas berat berkali-kali, beristighfar dan memilih untuk ke luar dari kamar. Entah harus melakukan apa, yang jelas Karina benar-benar tidak ingin ada kesalahpahaman dengan tetangga yang lebih dekat dengan rumahnya. Semuanya belum ada yang tahu status Karina yang sudah berubah menjadi istri kedua dari bos di kantornya sendiri. Mengingat bagaimana keadaan keluarganya di desa, mereka semua sangat bangga pada Karina. Hanya Karina yang sukses di Jakarta, bekerja sebagai sekretaris bos, sedangkan keluarga dan teman-temannya di desa hanya menjadi kuli di ladang orang lain, serabutan. Namun, bagaimana jadinya jika nanti mereka semua tahu, bahwa saat ini Karina yang semula mereka banggakan sangat mengecewakan, bukan hanya karena dia menikah tanpa wali dari ayahnya, melainkan Karina sudah merusak kebahagiaan rumah tangga bosnya sendiri. Karina sendiri tahu, istri pertamanya Reyhan sangat baik. Bahkan dulu mereka pernah saling bercengkrama walaupun baru pertama kali kenal dan bertemu, istri Reyhan pernah memberikan sejumlah uang untuk Karina membayar uang sewa rumah di Jakarta, di saat Karina akan membayarnya, ditolak karena niatnya memang ikhlas. “Hei? Kamu sendiri melamun, lama-lama jodoh dan beneran suka deh.” “Bapak! Ih, bikin kaget saja.” “Bukan, bukan saya yang bikin kamu kaget. Toh salah sendiri melamun di sini sendirian, tidak takut hantu? Coba lihatlah, rumah kamu ini bersebelahan dengan kuburan!” “Ngapain takut? Toh semua manusia yang ada di muka bumi ini pasti akan mati,” sahut Karina nyeletuk. “Ya, tidak sekarang juga kali.” “Kita nggak akan ada yang tahu kapan kita mati, entah Bapak duluan atau aku, yang jelas bersiaplah, hati-hati dosa menyakiti perasaan wanita itu dosa besar,” ucap Karina sebelum dia pergi. Ucapan Karina akhir-akhir ini memang ada benarnya, tetapi tetap saja bagi Reyhan tidak ada ngaruhnya. Dia tetap berpegang teguh pada pendiriannya, untuk mendapatkan seorang anak pada tahun ini melalui rahim istri keduanya, Karina. *** Sampai malam pun Reyhan belum juga pulang, Karina sendiri sudah geram dan kesal, berulang kali sudah mengusirnya, sudah beberapa cara dilakukan tetap saja tidak pergi juga. Saat ini, Karina hanya bisa menatap langit dengan sesegukan, dia terus menangis. Duduk sendirian di teras rumah akan jauh lebih baik dibandingkan harus berduaan satu atap bersama Reyhan. “Masuk ke dalam, kalau kamu sakit lalu besok alasan tidak masuk kerja, saya akan potong gaji kamu,” ucap Reyhan ikut duduk di sebelah Karina. “Karina? Kamu tidak dengar saya ....” “Pak? Bapak pengen punya anak?” tanya Karina. “Iya, kenapa? Saya, kan, sudah berulang kali bilang saya menginginkan seorang anak secepat mungkin. Memang benar urusan anak sudah ada yang ngatur, tetap saja menunggu pada istri di rumah itu lama!” “Baik, gimana kalau besok aku antarkan Bapak ke panti asuhan,” ucap Karina. “Hah?” Reyhan sampai melotot tak menyangka. “Ya, iya. Kalau memang istri Bapak belum bisa kasih anak, dan Bapak sendiri sudah tak sabaran. Kenapa tidak coba adopsi anak panti asuhan yang jauh lebih membutuhkan sosok kedua orang tua, hitung-hitung Bapak amal ibadah merawatnya,” cecar Karina. Reyhan tak menyangka sampai geleng-geleng, entah kerasukan apa Karina sampai lupa apa tujuan dan keinginan Reyhan. “Bodoh! Panti asuhan memang bagus, tetapi saya? Menginginkan seorang anak yang darah daging saya sendiri, dengan rahim kamu! Bukan anak orang lain yang tidak jelas bebet bobot bibitnya, mengerti?!” “Kenapa tidak dijadikan sebagai anak pancingan saja? Bisa kok, asalkan Bapak pakai otak mikirnya, jangan pakai nafsu!” “Tidak! Sekali tidak akan tetap tidak, sudahlah. Jika kamu tidak ingin masuk ke dalam, ga papa. Tidur sana dengan nyamuk!” Reyhan bangkit dan masuk ke dalam rumah Karina. “Pak Reyhan! Jangan masuk lagi!” teriak Karina hampir frustasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD