“Kamu bisa pijat seenak ini belajar dari mana?” tanya Reyhan.
“Nggak dari mana-mana kok, Pak,” jawab Karina jujur.
Reyhan menoleh sekilas menatap wajah karyawan sekaligus istrinya, betapa cantiknya wajah Karina malam ini walaupun wanita itu hanya memakai pakaian biasa saja.
“Kok Bapak lihatin aku seperti itu, jelek, ya?” tanya Karina polos.
“Iya kamu jelek!” cetus Reyhan langsung mengalihkan pandangannya.
Mana ada cewek jelek sampe dilihatin pea banget, sih, Karina! Untung polos nya kebangetan, kalau nggak polos? Bisa narsis, sih, ah serba salah.
“Besok kita pulang ke Indonesia,” ucap Reyhan tiba-tiba.
“Hah? Serius? Ayo,” sahut Karina dengan semangat.
“Besok! Bukan sekarang! Dikira nggak sakit apa hampir mati nih!” Lagi dan lagi Reyhan membahas kejadian tadi.
Karina pun sebenarnya merasa bersalah karena bagaimanapun juga Reyhan sudah menyandang status sebagai suaminya, walaupun belum benar-benar dia terima, Karina masih syok dengan semua ini.
Awalnya, saat tahu akan pergi meeting ke luar negeri Karina sudah terbiasa, tetapi menjadikannya sebagai pengantin bayaran seperti sekarang bukanlah impiannya.
“Karina ....”
“Iya, Pak?” Karina langsung menyahut.
“Jangan sungkan dengan keluarga saya setelah kita pulang ke Indonesia, lebih tepatnya Jakarta. Awas, kalau kamu bocorkan pernikahan ini pada siapapun! Habis kamu!” ancam Reyhan.
“Nggak usah diingetin terus Pak, aku pun nggak bakalan tega bilang sama orang-orang kalau kita udah nikah, apalagi Mbak Dinda ....”
“Apa? Jangan terlalu akrab dengan istri saya, jangan sampai semua rahasia kita terbongkar,” ucap Reyhan bangun dari posisi tidurnya.
“Kamu tahu kenapa saya menikahi kamu? Dan kenapa saya tidak mencari wanita jalang di luaran sana, karena semua itu ada alasan. Saya tidak pernah mau menikahi ataupun menyentuh wanita yang kotor! Saya tahu dan yakin dari awal memang kamu masih perawan,” tegas Reyhan blak-blakan.
Karina hanya bisa menunduk malu mendengarkan semua penjelasannya Reyhan. Belum pernah Karina diperlakukan seperti ini oleh laki-laki, hanya Reyhan pertama dan semoga yang terakhir yang menyakiti seperti ini.
“Jangan nangis, saya sudah transfer semua, cek saja rekening kamu,” ucap Reyhan.
“Maaf, uang Bapak udah aku kembalikan semuanya ke rekening Bapak, aku bukan wanita jalang ataupun murahan yang bisa seenaknya dibayar setelah dinikmati,” sahut Karina bangkit dari duduknya menjadi berdiri.
Reyhan pun melakukan hal yang sama dengan Karina, saling bertatapan dan Karina kembali menunduk malu. Terutama malu pada semua orang jika tahu betapa murahannya saat ini, bersama Reyhan.
“Jadi, kamu tidak menerima uang 1M dari saya! Itu mahar untukmu, Karina!”
“Bukan mahar, Pak, itu bayaran untuk rahim, kan? Kalaupun Bapak menginginkan anak, akan aku kasih tapi maaf ... anakku tidak akan pernah dijual belikan pada siapapun termasuk pada ayah kandungnya sendiri,” tegas Karina.
Reyhan bertepuk tangan ketika tahu ternyata Karina bukanlah wanita yang sembarangan, selain kerjanya di perusahaan sangat bagus, Karina pun memang benar-benar wanita hebat.
“Bagus, bagus sekali. Lalu setelah kamu hamil nanti, apa bersedia untuk ....”
“Cukup, Pak, jangan pernah katakan lagi anak untuk dijual belikan, kesucian yang udah Bapak renggut malam itu walaupun kita udah menikah, tetap saja tidak sebanding dengan harga yang Bapak kasih,” cecar Karina mulai tegas.
Reyhan semakin tertantang untuk mencoba lagi malam ini bersama wanita yang ada di hadapannya, tetapi Reyhan akan lebih pintar lagi, kali ini dia sedang dihadapkan dengan wanita pintar seperti Karina.
“Baik, lalu maumu apa Karina?” tanya Reyhan.
“Nikahi aku sekali lagi, Pak!”
“Maksud kamu?”
“Nikahi aku di depan ayah kandungku!”
***
Keesokan harinya, Karina sudah prepare semua barang-barangnya ke dalam koper untuk pulang, Reyhan tidak banyak bicara semenjak permintaan Karina semalam. Mereka pun menuju pesawat tanpa sepatah kata pun, hanya saling tatap lalu mengalihkan pandangannya masing-masing.
Di perjalanan sampai ke Indonesia pun tetap sama seperti tadi, saling diam. Di bandara Karina terlihat kewalahan membawa barang-barangnya, Reyhan pun sebagai laki-laki sejati langsung peka harus berbuat dan melakukan apa.
“Sini, biar saya bantu,” ucap Reyhan.
“Nggak usah, Pak, aku bisa sendiri kok,” jawab Karina.
Hanya itu percakapan mereka berdua, di perjalanan memakai mobil pribadi Reyhan pun mereka tetap diam, sopir yang sedari tadi memperhatikan pun menjadi sasaran emosi Reyhan.
“Ngapain kamu lihat-lihat!” bentak Reyhan.
“Maaf, Pak,” jawab sopir hanya itu karena ketakutan.
Badan kekar dan berotot ciri khas Reyhan benar-benar ditakuti siapapun yang bekerja padanya, tetapi tidak dengan Karina yang saat ini mulai tegas.
Sesampainya di rumah sederhana yang Karina sewa selama tinggal di Jakarta, Reyhan memutuskan untuk ikut masuk ke dalam sedangkan sopir sudah pergi entah ke mana, yang jelas perintah Reyhan harus segera dilaksanakan.
“Loh, kok sopirnya ....” Karina terheran-heran.
“Ayo,” ajak Reyhan sampai merengkuh tubuh Karina tetapi langsung ditepisnya.
“Jangan kurang ajar di Jakarta,” ucap Karina.
Reyhan pun masuk ke dalam rumah itu sampai masuk ke kamar pribadi seorang wanita yang awalnya anak perawan, banyak koleksi photo Korea dan China di dalam kamar Karina.
“Kalau suka Korea dan China nanti kita ke sana,” ucap Reyhan.
“Nggak usah,” jawab Karina.
“Kenapa, sih, kamu! Saya lembut salah dan saya kasar juga salah, saya harus bagaimana!”
“Pak, mau Bapak apa, sih, sampai ikut masuk ke dalam kamar ini? Pulang Pak, istri Bapak pasti sangat merindukan suaminya,” ucap Karina.
“Kamu juga istri saya, sama saja. Kita menikah juga real bukan sebuah kontrak, jadi ngapain harus takut? Digrebek warga? Toh ada buku nikah,” cetus Reyhan dengan santai.
Bahkan saat ini Reyhan tiduran di ranjang milik Karina, walaupun awalnya Reyhan tidak nyaman dengan kamar kecil seperti ini.
“Karina ... buatkan saya minum,” titah Reyhan.
“Buat aja sendiri,” jawab Karina yang sibuk merapikan bajunya ke lemari.
Sangat lihai Reyhan langsung merengkuh tubuh Karina dari belakang, membawanya ke pelukan dalam hangat, Karina terus memberontak saat Reyhan semakin dekat dengannya. Posisi Karina yang di bawah Reyhan membuatnya ketakutan, tidak ingin melakukan lagi karena takut hamil.
“Maaf, Pak ....”
“Maaf apa?!”
Karina pun akhirnya berpikir keras apa yang harus dia lakukan, tiba-tiba pikiran jernih dan ide cemerlang pun ada.
“Aku datang bulan!” pekik Karina memejamkan matanya.
“Hah? Sejak kapan?” tanya Reyhan terkejut.