“Kamu sedang apa di situ, Karin?“ Suara laki-laki yang sudah menikahinya seakan mencekam jiwa.
Perlahan Karin menoleh ke arah sumber suara, menatap kedua matanya dengan bibir yang selalu diusahakan tetap tersenyum walaupun hatinya sakit.
“Aku? Ah, iya, aku sedang apa di sini.“ Bahkan Karin sendiri tidak tahu kenapa dirinya sampai berjongkok—melamun di dekat tanaman hias.
Perlahan tapi pasti langkah kaki laki-laki itu semakin mendekati tubuh mungil Karin, mengulurkan tangan tanpa ekspresi apapun, hanya datar.
“Maksudnya?” tanya Karin.
“Astaga! Kamu ini, lemot minta ampun. Untung saja kerja mu selama ini bagus, kalau tidak sudah saya pecat!”
“Ya, aku nggak ngerti maksudnya apa? Salah, ya?“ Karin mengatupkan bibirnya dengan penuh kepolosan.
“Saya ulurkan tangan karena kamu masih jongkok seperti bocah, ayo, berdiri!” Reyhan masih mengulurkan tangannya.
Akhirnya Karin pun mengerti, dengan cepat dia meraih uluran tangan itu, kembali berdiri saling tatap dengan bosnya ah lebih tepatnya suaminya.
Tidak ada yang mereka ucapkan selain tatapan mata, seolah-olah tatapan itu sudah mewakili apa yang ingin mereka ucapkan.
“Kenapa Bapak lihatin saya segitunya?” Karin memang polos tapi bodoh.
“Panggil saya Sayang! Jangan panggil Bapak, kita berdua saja tidak ada orang lain di sini.” Seketika pikiran Karin melayang ke mana-mana, tidak bisa dia pungkiri Reyhan memang sudah menjadi suaminya.
Baru saja Karin akan menjawab, rupanya Reyhan lebih lihai dalam berbicara dengan cepat tanpa harus berpikir panjang seperti Karin.
“Oh, iya, satu lagi Karin. Pernikahan kita sah secara agama dan hukum! Jadi, kamu ....”
“Belum, Pak! Maaf, pernikahan yang sah itu harus ada wali dari pihak keduanya, maksudnya orangtua ....”
Mendengar penuturan Karin yang berbelit-belit tentu berhasil membuat Reyhan tertawa sembari menyentil kening Karin dengan gemas.
“Harus ada wali nikah? Ayahmu? Penting untuk saya? Tidak. Yang terpenting itu, kita sudah menikah sah mempunyai dua buku nikah, bisa langsung usaha untuk punya anak! Itu saja, tidak lebih,” ucap Reyhan.
“Tapi, kan, Pak ....”
“Tapi apa lagi, Karin? Mau banyak omong tetap saja otakmu di dengkul bukan di kepala! Oh, iya, kamu harus sering-sering melakukan dengan saya, tidak ingin menunggu lama lagi mendambakan seorang anak, jangan sampai saya dengar kamu pakai KB!”
Setelah mengucapkan kata-kata menyakitkan, Reyhan melenggang entah pergi ke mana yang jelas saat ini yang ada dipikiran Karin hanya satu, pernikahan mereka tidak sah! Mereka zina? Rasanya ingin sekali Karin meminta Reyhan untuk menikahi wanita lain saja, tapi apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur.
Apa yang harus aku lakukan? Nggak percaya banget sekarang aku udah menikah mana jadi madu orang! Ck, aku bukan jalang! Aku sungguh terpaksa.
***
Adinda mengelus perutnya yang selama ini selalu dia dambakan ada benih-benih cinta di dalamnya, anak.
“Kenapa aku belum punya anak juga, ya? Beberapa kali diperiksa, ganti-ganti dokter bahkan sampai pernah periksa ke luar negeri, hasilnya tetap sama aku subur dan nggak ada masalah apa-apa,” ucap Adinda.
“Kamu harus banyak bersabar, Nak. Ibu juga dulu waktu mendambakan memiliki anak lama banget, harus nunggu lima tahun dulu baru punya anak, yaitu kamu. Apapun harus kita lakukan dengan ikhlas dan sabar, mungkin Allah SWT punya rencana lain yang tak diduga,” sahut Aisyah ibunda Adinda.
“Iya, sih, Bu. Hanya saja yang nggak sabar bukan hanya aku tapi Mas Reyhan, pernikahan kita sudah dua tahun tapi belum mempunyai seorang anak juga, rumah sebesar apapun kalau nggak ada tangsian bayi, gelak tawa bayi, dan ... ah rasanya sepi, percuma, Bu.” Adinda lemah menundukkan kepalanya.
Sebagai seorang Ibu yang baik, Aisyah pun selalu memberikan nasihat, petuah, dan solusi yang terbaik untuk anak semata wayangnya, tapi urusan takdir dia sendiri kembalikan kepada Allah dan berserah diri, tidak bisa menghakimi.
Semuanya butuh proses dan tak bisa langsung jadi dalam waktu yang cepat, proses membuat opor ayam saja ada langkah-langkah dan caranya, tidak beda jauh dengan proses kehidupan di dunia ini.
“Nak, apa suamimu tetap bersikap baik walaupun kalian belum dikaruniai seorang anak?” tanya Bu Aisyah.
Masih dengan posisi yang sama seperti tadi, masih menunduk dan enggan untuk menatap langsung ibunya.
“Masih baik, Bu.”
“Loh, kalau masih baik tapi bicara sama Ibu sambil nunduk, ini bukan kamu banget, Sayang. Ayo, angkat kepalamu dan tatap Ibu,” titah Bu Aisyah.
Karena tak mau ibunya curiga pada rumah tangganya, terpaksa dengan berat hati dia menatap ibunya dengan sayu, berat sungguh berat rasanya yang dia rasakan saat ini.
“Nah, gitu dong. Gini, kan, lebih baik, coba katakan sekali lagi, apa suamimu tetap baik walaupun kalian belum dikaruniai seorang anak?” tanya Bu Aisyah lagi.
Adinda menghela napas dalam-dalam lalu dia menghembuskan perlahan, “Tidak, dia tidak baik, Bu, dia ... dia.” Bulir air matanya tak dapat lagi tertahankan, hati dan pikirannya kacau.
Memang sudah tahu dari awal walaupun anaknya belum cerita, Bu Aisyah pun mengelus pundak anaknya dengan penuh kasih sayang, mencoba untuk menenangkan pikiran putrinya.
“Sudah, Nak, sudah jangan menangis lagi. Sayang sekali air matamu jatuh hanya untuk menangisi laki-laki yang kasar seperti suamimu itu,” ucap Bu Aisyah.
“Apa? Ibu kenapa bicara seperti itu?” tanya Adinda merasa heran.
Bu Aisyah dengan cepat langsung menggeleng karena tak ingin anaknya tambah sedih jika tahu bagaimana sikap suaminya pada ibu kandungnya sendiri, memang pada mertua Reyhan selalu akting baik, tapi di depan orangtuanya? Istrinya? Reyhan pantang bersandiwara.
“Ibu? Ibu kok diam saja, jawab aku, Bu. Kenapa Ibu bisa bicara seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi, ada yang disembunyikan dariku, ya?” tanya Adinda lagi.
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi membuat keduanya saling menatap lagi, mengerti apa maksud Adinda akhirnya Bu Aisyah pun bisa menghela napas panjang di saat anaknya pergi untuk membukakan pintu.
Untung saja ada tamu, kalau tidak? Kasihan jika anakku sampai tahu kelakuan b***t suaminya pada ibu kandungnya sendiri. Selama ini Reyhan memang masih bersikap baik padaku—mertuanya, tapi awas saja jika Adinda yang dia kasari aku tak akan tinggal diam.
Sedangkan di luar sana Adinda begitu bahagia karena yang datang adalah ibu mertuanya, Ibu Deli.
“Mami? Aku senang sekali Mami ....”
“Nggak usah basa-basi deh sama saya! Mana anak saya? Mana Reyhan!”
Bu Deli celingukan ke dalam mencari sosok anaknya yang selama ini dia banggakan tapi sudah berani membantahnya hanya karena gadis kampung seperti Adinda.
“Mi, Mas Reyhan nggak ada di rumah dia ....”
Ibu mertuanya menatap Adinda dengan tatapan tajam, seolah-olah ada kebencian yang sangat mendalam.
“Di mana anak saya hah! Di mana kamu sembunyikan anak saya!” teriak Bu Deli.
Di dalam sana keluarlah Bu Aisyah dengan perasaan tak menentu, karena mendengar teriakan-teriakan dari luar.
“Sayang siapa yang datang kok nggak disuruh ma-” ucapannya terjeda.
“Apa? Mau usir saya?“ Bu Deli tak ingin kalah.
Bersambung.
Next? Update setiap hari Sabtu saja, ya. Harap tap love, komentar, dan follow author.