Entah Apa yang Merasukimu

1201 Words
"Pak! Pak Cahyo!" Jessi terengah mengejar Cahyo, karna meski Cahyo jalan santai tapi nyatanya langkah kakinya panjang dan sulit diimbangi Jessi yang kakinya pendek. Cahyo menoleh saat suara Jessi terdengar. Cahyo buru-buru memanjangkan langkah dan berusaha menjauhi Jessi. Cahyo takut Jessi berhasil membuat hatinya mulai tertarik pada gadis centil itu. Jujur, sejak pertama melihat Jessi, Cahyo selalu suka memandang wajah mungil Jessi, tapi sebagai dosen, Cahyo mengabaikan perasaan yang sempat muncul, dan lagipula ia sudah memiliki tunangan. "Ih...Pak Cahyo! Kok malah kabur sih!" Jessi mengerucutkan bibirnya dan mempercepat langkahnya menyusul Cahyo yang memasuki ruang dosen. Hampir saja Jessi yang tergesa menabrak Bu Harmiyati, dosen mata kuliah politik timur tengah sekaligus dosen walinya. "Eh maaf Bu!" Jessi meringis dan buru-buru minta maaf. "Kenapa sih kok lari-larian?" "Eh ini, mau bimbingan sama Pak Cahyo." "Bimbingan skripsi? Kamu kan belum ngajuin skripsi?" tanya Bu Harmi. "Bu-bukan." Deuh ribet banget si si ibu ini. "Bimbingan tugas Bu." "Maaf ya Bu, duluan, soalnya pak Cahyo-nya keburu ngajar kelas." Jessi buru-buru pamit sebelum Bu Harmi menanyainya lebih banyak. "Pak!" Jessi terengah-engah saat sampai di ruangan Cahyo. "Kok bapak kabur sih?! Saya kan bukan zombie! Jessi protes dan tanpa disuruh duduk di depan Cahyo. "Pak, boleh minta minum?" tanya Jessi lagi. Emang Jessi udah ga ada sungkan-sungkannya sama dosen. Gas pol terus pokoknya. "He?" Cahyo masih belum konek pas Jessi minta minum dan hal yang dilakuin Jessi selanjutnya membuat Cahyo semakin shock. Jessi dengan santainya ngambil botol air mineral milik Cahyo yang ada di atas meja dan meminumnya langsung. "Makasih ya Pak. Aus banget nih! Bapak sih lari-larian, kan saya jadi aus." Jessi mengelap bibirnya yang basah kena air minum. "I-itu air minum...." "Kenapa Pak?" tanya Jessi sambil menghentikan kegiatannya yang lagi ngelapin bibir. "Tadi udah saya minum." "Jadi? Tadi saya minum air bekasan bapak?" tanya Jessi. Cahyo ngangguk. "Ih nggak apa-apa Pak! Malah seneng saya." Jessi cengengesan, Cahyo nggak ngerti kok bisa ada mahasiswi kayak Jessi. Cantik, tapi absurd. "Pak! Bapak kok malah bengong sih! Nggak apa-apa kok pak kalau kita ciuman nggak langsung hehehehe ciuman langsung aja saya gak apa-apa kok!" Jessi makin ngegas, ngeliat dosennya masih dalam mode bengong. "Haloooo, pak? Bapak nggak papa?" Jessi ngelambaiin tangan di hadapan Cahyo yang nggak mampu berkata-kata ngelihat kecentilan dan keberanian Jessi melontarkan kata-kata menjurus. Cahyo berdehem, untuk menetralkan suasana. "Gimana tadi pelajaran statistiknya sama Kai?" Cahyo sengaja ngalihin topik pembicaraan. "Ih bapak kok perhatian sih. Saya jadi baper." "Udah jelas kan sekarang?" Tanya Cahyo, mengabaikan jawaban Jessi yang pantang mundur nunjukkin ketertarikan padanya. "Apanya Pak? Iya sih,jelas. Perasaan saya ke Bapak." Cahyo menghela nafas. Jessi benar-benar mahasiswi yang menarik perhatiannya. Nggak cuma karena kecantikannya, tapi juga karena sikapnya yang blak-blakkan dan menggemaskan. Meski Cahyo tidak menganggap kata-kata Jessi serius tapi Cahyo nggak bisa mengabaikan Jessi. "Jessica Kirana?" "Ouch, bapak sampe apal nama saya?" Jessi masang muka sumringah dengan kedipan mata. "Tapi ada lengkapnya pak, Jessi Kirana binti Abimanyu Satyandaru, depannya saya terima kawin dan nikahnya ...." Cahyo bener-bener takjub sama mahasiswi di depannya ini. Jelas-jelas Jessi tau, Cahyo sudah punya tunangan tapi gadis menthel ini tetep aja kompor gas modusin. "Jessi, kamu kesini mau ngapain? Kan masalah statistik udah dijelasin sama Kai?" Cahyo nanya, mengabaikan Jessi yang makin centil. "Mau ketemu Bapak." "Untuk?" "Kangen-kangenan." Cahyo menghela nafas. Sekian lama menjadi dosen, baru kali ini Cahyo nemuin mahasiswi model Jessi. "Jessi, saya serius." "Saya dua rius." "Saya suka Bapak." Jessi nekat aja katakan cinta. Ngegas pokoknya. Suasana sesaat hening. "Pak...?" "Jessi, saya tau kamu suka bercanda. Makasih, candaan kamu cukup lucu." "Ih...Bapak! Saya serius. Tadi aja pas Bapak sama tunangannya hati saya kretek-kretek gitu. Auto sad girl loh saya pak. Pengen nyanyi lagunya Didi Kempot jadinya." Cahyo nggak sengaja senyum, ngeliat Jessi dengan ekspresi dan omongan cablaknya yang lucu. Menggemaskan. "Makanya, kamu jangan suka sama saya, nanti hati kamu makin kretek-kretek. Saya udah punya calon istri." Oh kampret! Pak Cahyo bucin banget sih sama tunangannya, susah digoyang euy! Batin Jessi. Jessi menggembungkan pipinya. "Yah, masa saya harus gabung jadi sobat ambyar." Cahyo gak bisa nggak ketawa saat denger kata-kata Jessi. "Ya udah sini catetan kamu mana? Kamu udah rangkum kan bagian mana yang belum ngerti?" Cahyo akhirnya mencoba berbaik hati dengan nawarin Jessi ngajarin statistik. Awalnya Cahyo nyoba buat sedikit mungkin interaksi sama Jessi, jadi Cahyo nyuruh Kai yang ngajarin Jessi, tapi apa daya, Jessi tetep mepet kayak gini. Jessi tersenyum lebar. Yes! Paling nggak ada waktu deket-deketan sama Cahyo meski konsepnya belajar. Dari belajar jadi ciuman bisa kan ya? Hihihi Jessi ngeluarin bukunya cepet dari tas. "Ini yang modus ini lho pak...." "Oh yang modus, median dan mean?" "Iya, saya mau tanya gimana caranya modusin bapak hehehe." Cahyo menghela nafas. Jessi nggak pernah serius soal mata kuliah, dan Cahyo akhirnya yakin kalau Jessi nanya matkul statistik itu cuma alesan aja. Tujuan Jessi sesungguhnya adalah buat ngedeketin dirinya, tapi Cahyo nggak mau geer dulu, meski Jessi dari tadi udah mepet terus. "Kayaknya kamu nggak serius, bercanda mulu dari tadi." "Udah jam ngajar kelas F, saya ngajar dulu, kamu kalau ada lainnya belum jelas tanya Kai ya." Cahyo mutusin buat pergi ngajar daripada lebih lama di ruangan ini bersama Jessi. "Yaaah, Pak...nggak gitu. Saya kan lagi breaking ice aja Pak, biar suasana mencair, asyik kayak di Tasik, santai kayak di pantai, ntar kalau suasananya asoy kan belajarnya enak, kalau udah enak ntar nyaman, ntar kalau udah nyaman jadian deh...." Cahyo lagi-lagi menghela nafas. Gadis mentel ini bener-bener nguji kesabarannya, tapi Cahyo heran nggak ada rasa marah setitikpun di hatinya. Alih-alih marah, Cahyo sebenernya suka dengerin suara Jessi yang ceriwis kayak beo dikasi pisang. "Ya udah deh saya ikut kuliah aja," ucap Jessi saat ngeliat Cahyo mulai nyiapin diktat materi kuliah. "Kamu kan udah kuliah Bisnis Internasional tadi?" "Nggak papa kan tadi belum jelas, biar jelas saya mau ikut kuliah lagi." "Boleh kan Pak?" "Suka-suka kamu aja, saya larang juga kamu pasti ngeyel." "Ih, pak Cahyo kok gitu sih, saya nggak ngeyelan pak, saya cuma berpegang teguh pada prinsip." "Ya...ya...ya terserah kamu." "Beneran terserah saya?" "Kalau gitu gapapa dong saya suka sama Pak Cahyo." Cahyo kehilangan kata. Entah apa yang merasuki mahasiswinya ini sampai nggak bosen ngejar-ngejar dirinya padahal jelas-jelas tadi Jessi lihat Cahyo sudah punya tunangan. "Jessi, saya sudah punya tunangan." "Lha emang kenapa pak? Ga ada undang-undang yang ngelarang jatuh cinta pada orang yang udah tunangan." "Tapi kan...." Sebagai dosen, Cahyo kalah debat sama Jessi dan ini memalukan. "Terserah lah!" Cahyo menyambar diktat mata kuliah bisnis Internasional dan cepat-cepat keluar dari ruangannya, berharap Jessi tidak akan mengikutinya, meski harapannya itu hanya angan. Si gadis mentel dan ceriwis itu ngikutin Cahyo dengan semangat. Cahyo menghabiskan waktu mengajar dengan kehilangan konsentrasi. Sebabnya tak lain tak bukan Jessi yang duduk di bangku paling depan dan tak henti menatapnya, dan sesekali mengerling manja. Belum pernah Cahyo mengajar segrogi ini. Cahyo juga nggak tau kenapa dia bisa kehilangan konsentrasi dan malah gugup saat mengajar hanya karna gadis menel yang beberapa hari ini mendadak menyambangi hidupnya. Waktu enam puluh menit berlalu dan Cahyo bernafas lega. Setidaknya ia bisa bebas dari Jessi. Cahyo meninggalkan kelas tanpa menoleh, ia takut Jessi nempel kayak perangko. Tapi nggak semudah itu menjauh dari Jessi. Gadis cantik berambut panjang itu, mengejar Cahyo dan Cahyo bisa mendengar suara ceriwis, memanggil namanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD