"Ihhh! Pak! Kok saya ditinggalin sih!" Jessi terengah ngejar Cahyo. Sumpah malu-maluin banget ngejar-ngejar cowok kayak gini. Biasanya Jessi yang dikejar-kejar cowok, tapi kali ini Jessi yang ngejar cowok, om-om lagi. Tapi gimana dong, Jessi udah terlanjur sayang, jadi Jessi nggak peduliin tuh semua mata yang mandangin dia saat ngejar Cahyo.
"Duuuhh Pak Cahyo! Kenapa sih ga bisa banget jalan kalem. Kan kaki saya pegel ngejar bapak!" Jessi mengeluh saat sampai di ruang dosen.
"Siapa yang nyuruh kamu ngejar saya?" Cahyo nanya kalem, padahal dalam hatinya ada perasaan aneh menyapa.
"Hati saya Pak!"
Jawaban Jessi benar-benar bikin Cahyo nggak bisa berkata apa-apa. Cahyo natap Jessi, yang sedang mengusap peluh di dahi dan lehernya, dan mengibaskan telapak tangannya, berusaha mengusir hawa panas yang menyambangi tubuhnya. Bibir mungil merah cerry Jessi terlihat sangat menggoda, terlebih saat Jessi menggigit-gigit bibir itu tanpa sadar.
Ya Tuhan.
Cahyo segera memalingkan pandangannya. Bagaimana mungkin dia seintens itu memandang Jessi. Mengamati setiap detail yang ada pada Jessi. Ini salah, nggak seharusnya dirinya melakukan hal itu. Ini bisa dianggap pelecehan seksual.
Cahyo buru-buru mengambil tas ransel, dan memasukkan laptop, berikut buku-buku dan agenda.
"Ish! Saya kok dikacangin sih!" Jessi mengembungkan pipinya, yang terlihat cute di mata Cahyo.
"Bapak mau ke mana? Kan saya belum selesai konsultasi sama bapak."
"Saya harus pulang, lagipula saya udah nggak ada kelas."
"Tapi bapak masih hutang ngajarin saya statistik."
"Tadi saya mau jelasin soal statistik, tapi kamu nggak serius."
"Saya serius kok." Jessi ngeyel.
"Jessi, kamu itu udah mahasiswa, udah dewasa, jangan childish kayak gini."
"Saya nggak childish Pak, saya cuma nagih janji aja, katanya Bapak mau ngajarin saya!"
Cahyo menghela nafas, bingung ngadepin Jessi.
"Jadi kamu maunya gimana?"
"Maunya bapak nerima cinta saya." Emang Jessi udah putus urat malu, ya kali katakan cinta ke dosen segini terus terangnya, mana dosennya udah punya tunangan lagi.
Cahyo ngangkat alisnya, nggak tau harus nanggepin gimana.
"Saya udah punya tunangan."
"Emang kenapa kalau punya tunangan?"
"Ya saya nggak bisa sama kamu."
"Jadi kalau ga ada tunangan bapak mau sama saya?"
"Eu...?"
"Bukan gitu...."
Cahyo nggak bisa ngelak dari percakapan absurd ini.
"Kalau ga ada tunangan bapak mau kan sama saya?" Jessi mengangkat alisnya dan bola mata bulatnya menatap Cahyo.
"Intinya, saya dosen dan kamu mahasiswa saya, itu saja."
Jessi ditolak untuk kesekian kali rasanya cekit, tapi gapapa, Jessi udah biasa.
Cahyo nggak ngomong lagi, pria tinggi itu keluar dari ruangannya dan bergegas jalan ke parkiran. Cahyo juga sama sekali nggak meduliin Jessi yang buntutin.
Ini bukan karena Cahyo nggak suka sama Jessi, tapi karena sebaliknya. Cahyo ngerasa Jessi sangat membahayakan hubungannya dengan Gita. Cahyo takut ia tergoda dan bikin masalah yang rumit. Cinta itu nggak bisa dikontrol, begitu yang Cahyo tau.
Sejak awal Jessi masuk ke kelasnya, sebenarnya Jessi udah ngambil perhatian Cahyo. Cahyo sering mencuri pandang pada Jessi saat mengajar, tentu saja tanpa sepengetahuan Jessi. Meski begitu Cahyo nggak pernah berpikir lebih jauh tentang Jessi, sampai gadis itu tiba-tiba muncul di ruangannya memprotes nilai ujian statistiknya yang jeblok.
"Pakkkk!! Tunggu dong!" Jessi berjalan cepat ngejar Cahyo. Duh perjuangan cinta gini amat. Jessi tadinya cuma mau deketin Cahyo demi nilai, tapi kenapa jatuhnya jadi kayak cinta mati beneran gini?
Tadinya Jessi suka aja ngeliatin Cahyo saat ngajar. Wajahnya cakep, dan tubuhnya yang kayak tiang listrik bikin Jessi gemes, tapi ya udah sampe situ doang, Jessi waktu itu lagi sibuk jalan sama om Lay.
Om Lay, pengusaha usia 35 tahun, jomblo akut gara-gara patah hati berat karna pacarnya ninggalin dia dan nikah sama orang lain. Om Lay dan Jessi ketemu di klub malam. Kenalan dan jadi deket. Om Lay baik, ngasih Jessi barang-barang yang Jessi mau. Imbalannya, Jessi dicurhatin apapun sama om Lay, sampai Jessi kadang ngerasa budeg. Om Lay kalau curhat ga tanggung-tanggung bisa dari siang sampe dini hari.
Bisa dibilang, om Lay, sugar daddy, dan Jessi sugar baby, bayi gula. Jessi sendiri suka jalan sama om Lay, karena om Lay ga pelit, ngasih Jessi uang saku dan barang-barang branded, trus juga jajan di cafe-cafe yang hype, dan liburan. Pokoknya Jessi seneng jalan sama om Lay.
Jessi pada dasarnya suka sama cowok yang lebih tua, itu semua karena Jessi merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Jessi nggak pernah ketemu ayahnya, karna kata mami Jessi, ayah Jessi nggak tanggung jawab waktu mami Jessi hamil, jadi mami Jessi mutusin jadi single parent, dan saat Jessi umur 13 tahun, maminya nikah sama bule Kanada, dan pindah ke luar negri. Jessi tinggal sama neneknya, tapi sejak neneknya meninggal, Jessi hidup sendiri.
Sejak kecil Jessi mendambakan kasih sayang pria dewasa, ayah. Karena itu Jessi selalu tertarik pada pria berusia matang, termasuk pada Om Lay.
Sampai akhirnya, kebersamaan Om Lay dengan Jessi berakhir, saat cinta mati om Lay, Alexandra, kembali. Setelah ribuan purnama, Lexa dan om Lay akhirnya bersatu dan Jessi udah nggak dibutuhin lagi sebagai tempat curhat. Jessi menyingkir, tanpa dendam, meski akrab, dekat tapi Jessi tau ia dan om Lay bukan sepasang kekasih, hati om Lay hanya untuk Lexa. Jessi juga nggak pernah berpikir untuk ngerebut Om Lay dari Lexa, Jessi malah seneng om Lay balikan sama Lexa dan hidup bahagia.
Tapi, saat berhadapan sama Cahyo, Jessi berniat merebut Cahyo dari tunangannya. Berawal dari saran bercandaannya Selly, Jessi jadi niat beneran ngerebut Cahyo dari tunangannya. Bukan demi nilai, tapi demi hati.
"Pak, Bapak tau nggak bedanya rumah kosong sama bapak?" Jessi udah menjejeri Cahyo, membuat Cahyo menoleh prihatin, Jessi niat banget sih nempelin. Wajah mungil Jessi terlihat mengkilap oleh keringat dan pikiran Cahyo malah menyimpulkan Jessi terlihat makin seksi.
Cahyo pengen jedotin kepala sendiri ke tembok karena mikir enggak-enggak soal Jessi.
"Nggak." Cahyo jawab singkat, jalan semakin cepet.
"Kalau rumah kosong, sarang hantu, kalau pak Cahyo, sarangheyooo...." Jessi senyum lebar sambil nunjukin jemari membentuk hati.
Cahyo pengen mesem, tapi ditahan. Cahyo nggak pengen Jessi liat senyumannya dan ngebuat Jessi makin gencar nempel. Cahyo berlari kecil ninggalin Jessi yang udah di sebelahnya, dan berusaha nggak peduli sama Jessi lagi, sampai terdengar suara debam benda jatuh dan suara Jessi yang menjerit kesakitan.
Langkah Cahyo terhenti. Ini seharusnya jadi peluang bagi Cahyo buat buru-buru pergi dari kejaran Jessi, tapi hati nurani Cahyo menegur, dosen macam apa yang tau mahasiswanya cedera tapi malah kabur. Cahyo nengok dan benar saja, Jessi di belakangnya sekira 10 langkah darinya tersungkur, tasnya jatuh menebar buku dan alat tulis. Cahyo nggak bisa mengabaikan hal itu. Cahyo berbalik dan menghampiri Jessi.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Cahyo.
"Huhuhu Pak, hiks hiks.... sakit...." Jessi nyebik-nyebik dengan air mata hampir jatuh, saat menatap Cahyo yang berjongkok di hadapannya.
Cahyo bantuin Jessi mungutin barang-barangnya yang berhamburan dan bantuin Jessi berdiri.
"Aaaaw... aww.... sakit, kayaknya kaki saya retak trus kepala saya gegar otak." Jessi masih aja drama.
Cahyo memeriksa kaki Jessi, ada sedikit luka di lutut, tapi hanya itu, selebihnya Cahyo yakin Jessi baik-baik saja. Untuk ukuran luka seperti itu, anak TK aja biasa menghadapinya.
"Pak! Gegar otak nih saya! Usapin kek kepala saya, biar ga jadi gegar otak!" Bibir Jessi manyun, sambil nglendotin Cahyo yang memapahnya.
Tidak ada korelasi antara ngusap kepala dan pencegahan gegar otak akibat jatuh, tapi Cahyo yang lulusan S2 di Universiteit of Trier Jerman, melakukan hal itu, ngusap pelan kepala Jessi yang ngebuat Jessi sorak-sorak dalam hati. Alasan apa yang mendasari Cahyo meluluskan permintaan Jessi, Cahyo juga nggak tau.
Itu terjadi begitu saja.