DUA SATU!
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan dengan semua pengakuanmu ini? Dengan semua fakta ini rasanya aku bisa membagikan rekaman ke semua orang. Biar semua orang tahu, bagaimana baiknya kakakku ini. Ternyata semuanya hanyal topeng semata! Lihat saja, betapa polos dan tidak bersalahnya kakakku dalam melakukan hal yang di luar batas ini. Bagaimana kalau semua orang tahu? Rasanya aku akan sangat menikmati babak drama baru ini," ledek Aruna sambil berlalu meninggalkan Arumi yang terbengong itu.
Arumi langsung syok, dia terpaku. Lelehan darah di keningnya tak di rasa lagi, rasa pusing yang mendera mendadak hilang. Dia tak mengira jika adiknya bisa berbuat demikian, bahkan diam-diam membawa bukti rekaman dan alat penyadapnya. Semua seperti sudah di siapkan. Di luar prediksinya.
"Sialan!" umpat Arumi.
Tentu saja, semua ini adalah perintah dari Dion. Awalnya Aruna memang ragu untuk apa Dion memintanya berbuat seperti itu. Bahkan sudah menyalakannya sejak awal ke gedung turun dari mobil. Namun sekarang dia paham dan meragukan kemampuan Dion dalam menyelidiki masalah keluarganya. Dia akan percaya sepenuhnya kepada Dion mulai detik ini.
"Aruna tunggu!" teriak Arumi berlari mengejar Aruna.
"Berikan padaku! Mana! Serahkan! Kau harus memberikan rekaman itu padaku sekarang! Cepat!" teriak Aruna lagi sambil berusaha merebut pulpen itu. Aruna menghindarinya, mereka bertatapan tajam, bukan tatapan cinta namun rasa benci yang ada.
"Aruna Serahkan alat itu padaku!" perintah Arumi lagi. Aruna berbalik arah meninggalkan kakaknya.
"Tunggu! Aku akan memberitahumu satu sal! Apa kamu tahu sejak kecil aku membencimu?" tanya Arumi. Dia menyeka keningnya yang sedikit berdarah.
"Kenapa?" tanya Aruna menghentikan langkah kakinya.
Jujur saja ini pertama kalinya Arumi mengatakan hal ini. Tentu saja Aruna penasaran sekali, karena selama ini hubungan merea benar-benar baik saja. Ini kali pertama mereka bertengkar hebat dan yang membuat Aruna terkejut semua karena kakaknya membencinya. Selama mereka hidup puluhan tahun bersama baru kali ini Aruna merasakan sakit dan kecewanya.
"Pertama kamu datang ke keluargaku secara tiba-tiba. Rasanya aku ingin membunuhmu tapi ayah dan kakek mengatakan kamu akan berguna jika tinggal di sini, kamu juga bisa memberiku harta dan reputasi serta kekayaan di kemudian hari. Aku mencoba bersabar," jawab Arumi.
"Tak hanya itu. Kau datang menghancurkan keluarga kami, keluarga yang baik-baik saja dan endingnya harus menderita karena kehadiranmu. Papa dan Mamaku yang semula baik-baik saja menjadi terus berdebat karen anak haram sepertimu," teriaknya lagi. Aruna hanya bisa tersenyum kecut sekarang.
"Lalu mengenai Revan? Apakah ini alasanmu merebutnya? Kau begitu membenciku bahkan ingin menyaingiku? Merebut semuanya dariku? Padahal kalau saja kau mengatakan sejak awal padaku maka dengan rela aku akan melepaskannya untukmu," terang Aruna.
"Hahahaha! Kau salah, Aruna. Kau terlalu percaya diri. Dia hanya ingin bermain-main saja denganmu. Dengan statusnya itu, bagaimana mungkin dia akan menikahi anak haram sepertimu. Kenapa kau berpikir semua karena rasa benciku? Kau terlalu percaya diri," ledek Arumi.
"Benarkah? Nyatanya aku mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Revan, yaitu Tuan Dion. Bukankah kau tahu nama lengkapnya adalah Dion Hadinata Wijaya, anak pemilik perusahaan besar? Ah, sepertinya kau tak tahu. Jadi haruskah aku sedih atau senang?" sahut Aruna.
"Sepertinya aku harus senang dan mengucapkan terimakasih banyak padamu. Terimakasih ya, Kak. Terimakasih karena kau MEMBANTUKU MEMBUANG SAMPAHKU! AMBIL LAH! Aku sudah mendapatkan emas itu," perintah Aruna dengan percaya dirinya.
Dia sendiri pun tak menyangka jika bisa mengatakan semua dengan lancar pada Arumi. Entah keberanian dari mana yang dia dapatkan, sedangkan di sisi lain Arumi langsung menggenggam erat tangannya. Dia benci sekali dan tak mengira lelaki yang baru saja menikah dengannya di bilang sampah oleh Aruna. Rasanya hina sekali.
"Kenapa?" tantang Aruna.
"Kenapa Kak Aruna sekarang hanya diam? Kakak juga tak menyangka kan aku bisa berada di titik ini. Sama, aku percaya sekali kuasa Tuhan itu nyata! Kau memang ingin menjebakku, menujualku tapi Tuhan menyeleamatku dari rencana busuk itu. Benar bukan? Manusia bisa merencanakan namun kau lupa akan kuasa Tuhan. Kak. Sekarang aku membalikkan keadaan satu sama. Bahkan lebih unggul dua satu darimu," sambung Aruna.
"Hahaha! Aku yakin sebenarnya kau hanya menghibur dirimu sendiri, Aruna. Benar bukan? Aku yakin sekali kau sekarang sedang iri dengan posisiku yang menikah dengan Revan. Ya mungkin bisa dikatakan kau hanya sedikit beruntung saja karena salah perhitunganku! Aku tidak menyangka setelah bermain dengan laki-laki lain kamu bisa mendapatkan keluarga dari Hadinata Wijaya," sanggah Arumi tak mau kalah.
"Tapi benarkah semua kuasa Tuhan seperti kamu? Jangan-jangan kamu merayunya juga ya? Benar kan? Kau tawari dengan tubuhmu itu! Benar kan? Laku berapa kau di beli oleh hartawan itu? Bagaimana bisa kau merendahkan dirimu? Menjijikkan," sambungnya.
Aruna hanya bisa tersenyum sinis, sebenarnya kasihan dengan wanita itu. Meskipun dia berusaha galak namun keningnya mengeluarkan darah tanda bahwa sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Dia yakin saat ini kakaknya hanya sedang berpura-pura kuat demi dendam, tak ingin kalah, dan tak mau tersaingi oleh Aruna.
"Serahkan rekamannya sekarang, maka aku berjanji tidak akan memberitahu masalah ini kepada keluarga Dion. Impas bukan? Mana rekamannya," teriak Arumi.
"Bagaimana jika aku tidak mau? Bagaimana jika aku tetap membiarkanmu memberitahu semuanya pada keluarga Hadinata Wijaya?" tantang Aruna.
"Aku akan membuatmu menderita! Aku tak akan mengampunimu," tegas Aruna langsung mencoba menerkam Aruna tanpa aba-aba.
"Arrggghh!" pekik Aruna kaget, dia pun hampir terkena cengkramanya.
Untung sjaa secepat kilat seorang menarik tangannya. Aruna langsung berada di dekapan Dion. Lelaki itu lah yang menyelamatkannya.
"Siapa yang akan membuatmu menderita? Berani dia menyentuh istri seorang presiden direktur sepertiku," ucap seorang lelaki yang tak lain itu adalah Din.
Dengan cekatan dia langsung menarik Aruna ampai ke dalam dekapannya, membuat Arumi hanya mencengkram angin. Dia pun langsung meneguk ludahnya dengan kasar. Tak menyangka Dion akan masuk dalam toilet menyusulnya. Seketika Arumi langsung merubah mimik wajah dan gesture nya, dia menjadi wanita paling teraniaya dan terdzolimi.
"Tu...Tuan Dion..." gumam Arumi panik.
"Kenapa Nyonya Arumi? Apa yang kau lakukan kepada calon istriku? Apakah kamu merasa tidak senang dengan istriku? Apa yang membuatmu begitu membencinya?" tanya Dion dengan lembut namun sorot maanya mengintimidasi.
"Eh tidak..tidak begitu, Tuan Dion. Ini hanya salah paham saja, mana mungkin sebagai kakak adik kami tidak senang? Bahkan kami bersama hampir dua puluh tahun. Jadi ini semua tak seperti yang kau pikirkan," jawab Arumi.
"Lalu? Kau bisa jelaskan apa yang terjadi tadi dan apa saja yang baru aku lihat?" sindir Dion.
AKANKAH DION PERCAYA DENGAN SEMUA UCAPAN ARUMI?
BERSAMBUNG