PUTUSNYA HUBUNGAN KAKAK DAN ADIK!
"Apa akhirnya dia tidak berpura-pura menjadi kakakku lagi? Mana Kak Arumi yang aku kenal dulu? Mengapa dia berubah seperti ini? Dia yang seperti ini membuatku sedikit tidak terbiasa, aneh sekali. Padahal dulu dia selalu berbaik hati kepadaku. Rupanya aku tertipu akan casingnya saja?" batin Aruna.
"PERMAINAN APA INI? APA YANG SEDANG KAU MAINKAN?" sindir Aruna.
"Apa bedanya kamu denganku?" sahut Aruna seolah menantang Arumi.
"Hah? Kau tanya apa bedanya? Jelas berbeda! Kamu perempuan b******k! Kau anak angkat! Kau anak haram! Ibumu tak jelas, kau dan aku jelas berbeda. Aku lahir dari pernikahan yang sah, kau hanya WANITA PEREBUT KEBAHAGIAAN DAN KELUARGA ORANG LAIN!" teriak Arumi.
"Ah ya! Tak hanya itu, mulai sekarang jangan pernah menatap mataku dengan seperti ini. Kau jangan sombong. Oke lah sekarang kau bisa mendapatkan hati CEO abal-abal itu, tapi aku memiliki bukti Kamu bermain dengan orang lain. KAU MALAM ITU KE HOTEL BERSAMA PRIA TAK DIKENAL! Jika kamu memprovokasiku terus-terusan, maka aku akan mengantarkan bukti itu ke keluarga Hadinata Wijaya! Maka kau akan dengan mudahnya di depak dari sana," ancam Arumi.
"Sudah?" tanya Aruna sambil tersenyum getir.
"Ya! KAU HANYALAH SAMPAH DAN TETAP AKAN MENJADI SAMPAH!" teriak Arumi sambil tersenyum senang.
Di sisi lain, Aruna sekarang hanya bisa tersenyum kecut, sepertinya apa yang dikatakan oleh Tuan Dion tentang keluarganya bahkan Kakaknya pun benar. Sebelumnya dia sudah di beri tahu bahwa dia bisa ada dalam hotel karena jebakan kakaknya. Awalnya dia benar-benar tak percaya bagaimana mungkin seorang Kak Arumi yang dia kenal baik selama ini bisa melakukan itu, namun sekarang dia sendiri mengatakan dari mulutnya bahwa dia lah yang memiliki bukti Aruna dengan seorang pria di hotel. Dimana pria itu tanpa di sadari Arumi adalah Dion.
Hanya Arumi lah yang berada di sana saat itu. Bahkan dia satu-satunya orang yang tahu kejadian ini dengan jelas. Dia yang mengantar Aruna.
"Aku tak mengerti mengapa kau melakukan semua ini, Kak Arumi. Kenapa kau berubah seperti ini?" batin Aruna sambil menggelengkan kepalanya, kaget dan tak percaya. Dia merasa sakit hati dikhianati oleh kakak kandungnya sendiri.
"Bukti? Bukti apa yang kau punya memangnya? Apa maksudmu? Kalau hanya foto aku yakin Tuan Dion tidak akan percaya begitu saja. Pada saat ini foto seperti bukankah lebih bisa di rekayasa?" pancing Aruna.
"Apa kamu lupa bahwa akulah yang mengantarmu ke hotel itu? Ah, sepertinya kau benar-benar teller malam itu. Kau kehilangan kesadaranmu, atau kau menikmatinya? Kenapa apa bos yang malam itu menghabiskan waktu denganmu tidak cukup memuaskan? Dasar jalang dan binal," hardik Arumi.
"Aruna! Aruna! Kau ini polos atau SOK POLOS? Aku memanfaatkanmu dan memberikanmu kepadanya," sambungnya sambil meludah ke samping.
Aruna menghela nafasnya panjang sekali, dia mencoba menetralisir sakit dan sesak di hatinya. Dia tak menyangka jika akan sesakit ini mengetahui kakaknya sendiri yang menjualnya. Bahkan tanpa rasa berdosa sang kakak mengakuinya, di hadapannya secara langsung. Sekali lagi dia menarik nafas dalam agar suaranya tak bergetar.
"Kalau begitu bagaimana dengan Revan? Apa kau juga yang menjebak Kak Revan dan membuatnya menikahimu? Apakah selama ini kau memang mengicar Kak Revan?" tanya Aruna.
"Hahahaha! Haruskah aku menjawab sesuatu yang sudah jelas kau tahu jawabannya?" sahut Arumi.
"Revan...Tentu saja aku yang pergi menemuinya. Kami b******u sangat mesra dan ganas, kau tahu itu? Bahkan dia menikmati layananku. Dia mengambil kesucianku! Kau tahu? Semalam dengannya sangat membuatku b*******h. Aku akui seleramu dalam memilih pria lumayan juga namun sayangnya aku yang lebih dulu merasakannya dari pada dirimu. AKU YANG MENANG LAGI, SAMPAI KAPANPUN KAU TAK AKAN PERNAH BISA MENGALAHKAN AKU, ARUNA!" ucap Arumi memancing emosi Aruna.
"Kalau begitu waktu itu aku pingsan karena ulahmu, Kan? Kau yang membuatku seperti ini. Kau mengatur semuanya, benar kan?" tebak Aruna.
"Kamu tidak sebodoh itu rupanya," jawab Arumi dengan entengnya tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Bagaimana bisa kau membuatku pingsan?" tanya Aruna.
"Kenapa? Kau menyepelekan diriku? Apapun bisa aku lakukan, barang yang bisa membuat orang pisan itu aku dapatkan dari beberapa relasiku lah. Nikmat bukan? Kau harusnya berterima kasih untuk itu. Karena itu kau tak menjadi perawan tua. Benar kan?" sahut Arumi.
Aruna langsung menggelengkan kepalanya lemah, dia tersenyum pahit sekali. Tak habis pikir mengapa kakaknya bisa melakukan ini. Padahal selama benar-benar percaya dengan semua yang dikatakan Arumi, dia selalu mengalah padanya. Hari ini runtuh sudah semua kepercayaan itu.
"Kenapa? Kaget? Syok? Jangan sok polos kau!" hardik Arumi.
"Aku sungguh tak habis pikir, bagaimana mungkin wanita di hadapanku ini adalah Kak Arumi? kakak perempuanku yang selama ini aku kenal. Sungguh, seperti orang lain. Wanita yang menjadi sandaranku, aku sayang, berubah menjadi monster yang menyeramkan. Membuatku tak nyaman, bagaimana selama ini dia pandai menyembunyikannya?" jelas Aruna dengan nada suara bergetar menahan tangisnya.
"Aku tak pernah merasa se- kecewa ini dengan orang lain. Bukan tentang Revan namun tentang kau, Kak. Mengapa bisa kau melakukan semua ini? Bahkan jika kau mengatakan padaku kalau selama ini menintai Revan maka dengan senang hati aku akan melepaskannya. Aku akan memberikannya untukmu. Apa artinya lelaki bagiku? Karena selama ini yang paling penting untukku adalah kau, keluargaku!" terang Aruna.
"Penipu!" teriak Arumi.
"Bagaimana mungkin aku membuatmu tidak nyaman selama ini? Aku adalah kakak angkatmu, aku sangat tahu siapa dan bagaimana watakmu sejak kecil. Benar kamu mungkin lupa jika akulah yang mengantarkanmu ke hotel, tapi memang AKU YANG MELAKUKAN SEMUANYA. Aku tak sudi menganggap wanita sepertimu adikku! Aku tak sudi menganggap wanita penghancurr rumah tangga orang tuaku sepertimu masuk dalam keluargaku!" kata Arumi tanpa rasa berdosa. Dia senang membuat Aruna merasa hancur dan tersakiti perasaannya.
"Baiklah, terimakasih karena kau sudah mengatakannya," ujar Aruna.
"Apa maksudmu?"
Tanpa banyak bicara, dia pun menyingsingkan bajunya dan mengambil bolpoin. Nyatanya itu bukan bolpoin namun semacam alat rekaman. Semua pembicaraan mereka semua sudah terekam di sana. Memang Dion yang memberikannya tadi sebelum mereka berangkat, alat itu dilengkapi dengan GPS. Sehingga Dion bisa mengaksesnya kapanpun lewat Hpnya.
"Terimakasih karena kau sudah mengatakan semua itu. Untung saja Tuan Dion sangat cerdik, bahkan aku keluar dengan membawa alat ini bersamaku dan aku mematuhinya. Sepertinya dia benar-benar akan menjadi malaikat penolongku nanti," kata Aruna sambil menunjukkan alat sadap bolpoin itu.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan dengan semua pengakuanmu ini? Dengan semua fakta ini rasanya aku bisa membagikan rekaman ke semua orang. Biar semua orang tahu, bagaimana baiknya kakakku ini. Ternyata semuanya hanyal topeng semata! Lihat saja, betapa polos dan tidak bersalahnya kakakku dalam melakukan hal yang di luar batas ini. Bagaimana kalau semua orang tahu? Rasanya aku akan sangat menikmati babak drama baru ini,"
APA YANG AKAN DILAKUKAN OLEH ARUMI?
BERSAMBUNG