Drama Arumi Selesai! Topeng Sebenarnya Mulai Terbuka!

1003 Words
DRAMA ARUMI TELAH SELESAI! TOPENG SEBENARNYA MULAI MUNCUL! "Halo semua, kenalkan ini menantuku. Pimpinan presiden direktur, Dion Hadinata Wijaya dari perusahaan Wijaya Company yang terkenal itu. Dan bisa kalian lihat wanita cantik yang ada di sampingnya itu adalah anakku, putri cantikku terakhir yang bernama Aruna Premesthi Tjahyadi," kata tuan Agung dengan berbangga hati. Dion muak, dia tak menjawab semua sanjungan dan pujian yang ada untuk dirinya. Jika bukan karena permintaan Aruna dia tak akan datang ke sini. Tiba-tiba personal asistennya datang dan menyodorkan HP ke arahnya. "Presiden direktur, Tuan Dion. Ada yang mencarimu," bisik Rafli. "Ada telepon dari Prancis," sambungnya. "Halo," sapa Dion. "Hey Dioi, kau kemana saja? Akhirnya aku bisa menghubungimu. Kau mau mengangkat teleponku," jawab suara seoraang wanita. "Kenapa? Apa kau benar-benar marah setelah pembicaraan kita kemarin? Astaga. Ayolah, Sayang. Kenapa kau masih bersikap ke-kanak-kanakan? Padahal itu akan menguntungkan bagi kita," sambungnya. "Hah? Suara seorang perempuan? Siapa dia?" batin Aruna yang sempat mendengarkan suara menyapa di telepon itu. Tanpa membuang waktu Dion langsung berbalik arah. Dia tak mau Aruna mendengarkannya. Membuat Aruna hanya tersenyum pahit. "Aku akan mengangkat telpon dulu. Kamu jalan-jalan sendiri dulu, bisa kan?" tanya Dion. Aruna mengangguk. "Manfaatkan waktumu dengan sebaik mungkin, setelah itu aku akan menjemputmu," tegas Dion. "Aku akan pergi ke toilet kalau begitu," pamit Aruna. Dia pun berjalan menuju ke toilet. Sepanjang perjalan Aruna selalu berpikir bahwa orang yang ditelepon Dion itu memanggilnya dengan sangat akrab, bahkan tidak menggunakan embel-embel presiden direktur ataupun Tuan Dion. Apalagi suara wanita, kemungkinan besar itu adalah kekasihnya. "Apakah itu adalah kekasihnya? Lalu kenapa dia tak menikah dengan wanita itu saja? Mengapa harus aku? Apakah merea sedang bertengkar?" gumam Aruna lirih. Dia langsung menyadari kesalahannya dan menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak boleh berpikir berlebihan! Aku tidak boleh cemburu, bagaimanapun juga aku dan dia menikah karena kontrak saja. Apa hubungannya denganku? Mengapa dia mau menolongku hanya dengan imbalan anak? Apakah sesusah itu mendapatkan keturunan? Mengapa aku?" monolongnya lagi. Dia berjalan ke kemar mandi, sekedar mencuci tangannya. Saat di wastafel dia melihat kaca dan tersenyum. Namun tak lama kemudian meneteskan air matanya. Sakit sekali hatinya melihat apa yang dilihat hari ini. Sikap dan sifat ayahnya yang di luar batas toleransi nya. "Apa dia sosok Ayah yang sebenarnya? Aku benara-benar baru menyadari Papa memiliki watak sekejam ini. Mengapa dia menjadi begini? Dia mendadak menyebut didirnya Papa dengan lembut di depan semua orang, mengagappku sebagai anak yang tak pernah dia lakukan di depan semua kolega. Apa yang sebernarnya terjadi? Apa ini ada kaitannya dengan Aruna? Drama apa yang sedang dimainkannya sekarang? Sungguh aku tak mengerti. Selama ini aku menganggap dia seorang Ayah yang bisa mejadi panutan sekali. Ini baru pertama kali aku seperti menemukan sosok baru, aku baru mengenalnya. Mengapa Papa berubah sampai seperti ini?" lanjutnya. Tiba-tiba Aruna tersadar satu hal setiap dia menanyakan siapa Ibunya. "Jika begini, orang seperti Papa memang benar-benar bisa mencelakai Ibuku seperti yang dikatakan Tuan Dion. Ini tidak aneh," kata Aruna lirih. Dia pun berjalan menuju ke luar kamar mandi, namun melihat riasannya tak sempurna lagi ia pun mengeluarkan make up di pounch tas yang dia bawa. Tak lupa dia membenahi dan merapikan sedikit dandanannya. Saat asik berkaca dan memakai lipstik tiba-tiba seorang memanggilnya dari luar kamar mandi. "Aruna! Aruna! Dimana kau! Keluar!" teriak Arumi. Tanpa aba-aba wanita itu pun segera datang dan hendak menampar Aruna. Namun dengan sigap Aruna langsung berusaha untuk menghindarinya sampai akhirnya Arumi sendiri jatuh terjungkal. Pelipisnya mengenai pinggiran wastafel, nampak darah mengucur dari keningnya. "Sialan kau! Berani kau ya! Badjingan!!!!!" umpat Arumi. Aruna tertegun, sebelumnya dia tak pernah tau sosok Arumi kakaknya bisa seberingas ini. Biasanya dia snagat lemah lembut, Aruna langsung memasang sikap waspada, untunglah dia sudah mawas diri dan membawa apapun yang di perintahkan Dion sebelum mereka ke sini tadi. "Hey Aruna! Berani ya kau menghindariku sekarang. Berani kau sekarang denganku!" teriaknya lagi. "Kenapa? Apakah aku tidak boleh menghindar? Apa kau ingin aku selalu menjadi bahan pelampiasan kemarahanmu? Apakah memang kau tak ingin kalau aku lebih unggul darimu, Kak Arumi? Mana yang sebenarnya kau inginkan dariku? Sebutkan! Karena aku mendadak tak mengenal sosok kakakku ini. Siapa yang berubah? Aku atau dirimu?" tanya Aruna dengan nada suara bergetar mencoba kuat untuk melawan semua ucapan sang Kakak. Ini pertama kali dalam hidupnya berani mendebat semua ucapan kakaknya, biasanya dia akan mengalah dari pada banyak bicara. "Aku yang biasanya pendiam baru kali ini berani menentangnya. Apakah dia akan murka?" batin Aruna. "Sialan kau! Jangan menjawabku!" teriak Arumi sambil berdiri memegang pinggir wastafel karena limbung. Arumi mengamati wajah Aruna dan tampilannya dari atas sampai bawah. Membuatnya tertegun, dia bahkan bisa memakai sepatu hak tinggi edisi terbatas salah satu brand yang tidak bisa Arumi dapatkan karena harganya selangit. Gaunnya juga milik perancang busana terkenal negara ini. Hal itu membuat hati Arumi makin membara panas karena cemburu, bagi Arumi sosok adiknya tak boleh lebih hebat dari dia. "Kenapa si miskin ini memiliki benda sebagus itu? Apakah benar semua yang di bilang Ayah tadi? Sialan! Tidak boleh, ini tak boleh terjadi. Dia tak boleh lebih hebat dariku! Dia pikir siapa dia bisa melakukan semua ini," batin Arumi dalam hati. "Tidak! Tidak, dia tak mungkin bisa mendapatkan lelaki yang lebih hebat dariku," monolognya lagi. "APA MAKSUDMU DATANG KE PERNIKAHANKU DENGAN MEMAKAI PAKAIAN SEPERTI INI? KAU MAU PAMER, ARUNA? DARI MANA KAU MENDAPATKAN SEMUA INI! HAH?" sindir Arumi. "Aruna, Aruna. Sekarang di mataku kau nampak mengenaskan sekali. Apakah ini artinya kau masih tak terima ya karena Revan lebih memilihku? Kamu bahkan meminta orang memukul Revan? Apa hati nuranimu sudah mati? Kamu pikir apa dengan kamu menjadi hebat setelah mendapatkan pimpinan perusahaan Hadinata Wijaya itu? Kau menjadi sok cantik seperti ini?" sambungnya. Aruna tersenyum getir sekali. "Atau kau melakukan semua ini dengan memainkan drama dan berpura-pura?" sindirnya lagi. "Apa akhirnya dia tidak berpura-pura menjadi kakakku lagi? Mana Kak Arumi yang aku kenal dulu? Mengapa dia berubah seperti ini? Dia yang seperti ini membuatku sedikit tidak terbiasa, aneh sekali. Padahal dulu dia selalu berbaik hati kepadaku. Rupanya aku tertipu akan casingnya saja?" batin Aruna. "PERMAINAN APA INI? APA YANG SEDANG KAU MAINKAN?" BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD