Keluarga Mata Duitan!

1030 Words
KELUARGA MATA DUITAN! "Pak Hendrawan, bawa semua hadiah ke mobil! BATALKAN SEMUANYA!" perintahnya lagi. Tanpa menjawab Pak Hendrawan langsung menuruti semua perintah Tuan nya itu. Melihat semua barang yang ada di belakang Tuan Hendrawan di bawa beberapa lelaki muda berbalik arah ke parkiran tidak jadi di berikan membuatnya panik juga. "Hey! Hey! Tunggu tunggu! Tunggu jangan pergi," teriak Tuan Agung. "Hei hei kau tidak sadar, siapa yang kau bawa itu, Tuan? Wanita itu statusnya masih anakku! Aruna adalah putriku, kamu calon suaminya. Jadi kamu adalah lelaki yang akan menjadi menantuku," sambungnya. Dion lagsung menghentikan langkah kakinya, benar juga dia belum menikah dengan Aruna. Lebih tepatnya keluarga Aruna belum mengetahui semuanya, namun secara cepat Dion sudah mengurus surat pemberkatan dan pernikahan mereka. Dengan kekuatan uang dan kekuasaannya, dia harus mempercepat prosesnya, besok dia akan segera mengurus dokumen negeranya. Untuk membereskan urusan ini. Hal ini dilakukan agar Aruna bisa segera putus hubungan dengan keluarga toxic ini. "Aku ke sini karena Aruna bukan keluargamu," tegas Dion. Aruna menganggukkan kepalanya. "Terimakasih, Tuan Dion," bisik Aruna. "Tegakkan kepalamu, jangan sampai kau di pandang rendah! Kalau kau di pukul selama kau bukan yang memukulnya duluan PUKUL BALIK! Aku akan di belakangmu, kalau kau di hina, HINA BALIK! JANGAN LEMAH. Sudah kau bawa semua barang yang aku pesankan?" sahut Dion lirih memberikan aba-aba. Aruna menganggukkan kepalanya, dia seperti mendapatkan kekuatan baru dari Dion. Mereka berbalik arah, Tuan Agung langsung menyambutnya dnegan senyuman ramah. Sedangkan Arumi dan Revan mendelik tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana mungkin seorang Tuan Agung yang terkenal galak menjadi ramah sekali. "Bagaimana mungkin kita tidak menyambut kedatangan tamu? Revan, Arumi, kenapa kau diam saja? Cepat sambutlah! Mereka adalah tamu kita," perintah Tuan Agung. "Sekarang kau liat kan bagaimana gila hartanya Ayahmu itu. Kalau kau datang tanpa ku, pasti kau akan diperlakukan seperti sampah. Menjijikkan," bisik Dion meninggalkan Aruna yang tertegun tak percaya. Sakit dan sesak sekali hati Aruna mendengakan ucapan Dion yang memang benar. Ini pertama kalinya dalam hidup dia menyadarinya, bahwa selama ini di mata keluarganya tak ada yang lebih penting dari pada uang. Dia benar-benar baru menyadari bahwa ayahnya benar-benar gila harta, bahkan dia rela merendahkan harga dirinya setelah tahu siapa lelaki yang bersamanya. Benar apa kata Dion mungkin jika Dion tidak mengatakan Siapa dirinya maka Tuan Agung tidak akan peduli akan kedatangannya, "Hei menantuku, ahhh. Maafkan Ayah mertuamu yang bodoh ini sampai tidak mengenalimu. Kau jangan memasukkan hati ya," kata tuan Agung berusaha mencegah kepergian Dion. "Aruna! Aruna anakku, kemarilah, Nak. Anak perempuan ku yang paling cantik. Kenapa dari tadi kamu tidak mengenalkannya kepada Papamu ini, kalau dia benar-benar adalah Tuan Dion? Ck, payah sekali kau ini. Papa kan malu," ujar Tuan Agung. Aruna langsung bergidik ngeri membayangkan betapa sang Ayah menjadi seorang penjilat. "Bagaimana dia bisa mengatakan semuaa ini. Bahkan dia tak bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak. Dia benar-benar lebih peduli pada harta," batin Aruna. "Mari, silakan masuk, Tuan. Kita ini keluarga kan? Tenang saja, ini hanya salah paham. Rasanya aku tidak sopan memanggilmu dengan nama Dion langsung meskipun kau adalah menantuku. Aku akan memanggilmu Tuan Dion. Bagiamana?" tanya Tuan Agung berusaha sok akrab. "Atau bagaimana kalau aku memanggil sebagai presiden direktur Dion? Meski kau adalah calon menantuku tapi kau tetaplah beda, Presdir. Kau tetaplah CEO, karena ke pemilik perusahaan terbesar," puji Tuan Agung berlebihan. Dion pun terdiam dia menengok ke arah Aruna, sama sekali tak mendengarkan semua ocehan Tuan Agung. Dia bertanya, "Apakah kita harus masuk atau tidak?" Kemudian dengan cepat Aruna menganggukkan kepalanya. Meskipun sang Ayah sudah menyakiti hatinya dengan perkataan seperti itu tetap saja dia masih ingin memberikan ucapan selamat pada kakaknya. Meski sakit hati, dia masih tak menyangka mengapa keluarganya bisa hancur seperti ini. "Bolehkah kita masuk, Tuan Dion? Sekali saja, aku sudah lama tidak bertemu dengan keluargaku," pinta Aruna berbisik lirih. "Meskipun mereka begitu? Merendahkanmu? Apakah kau sudah siap menerima semua sakit hatinya?" tanya Dion memastikan. "Tuan, maafkanlah mereka. Aku ingin bertemu terakhir kalinya dengan keluarga ini sebagai Aruna yang tertindas. Setelah acara ini aku bisa pastikan mereka semua tak akan pernah bertemu lagi dengan sosok Aruna seperti itu. Percayalah setelah keluar darri sini aku adalah seorang istri Presdir, Tuan Dion Hadinata Wijaya. Aku akan membalas semuanya apa yang telah mereka perbuat," tegas Aruna. "Baik! Buktikan padaku," sahut Dion, Dion dan Aruna pun masuk ke dalam gedung, belum sampai ke dalam dengan cepat Arumi mencegah ayahnya yang di ikuti dengan Revan. Dia masih tak terima mengapa Ayahnya menyetujui mereka berdua tamu yang paling di benci Arumi masuk. "Papa! Berhenti," teriak Arumi. "Kenapa lagi sih?" tanya Tuan Agung menolehkan kepalanya. "Papa, mereka memukul lengan Revan sampai seperti ini! Lihatlah, kenapa Papa malah mengundang mereka masuk?" tanya Arumi tak terima. "Ck! Diamlah! Dia jauh lebih berharga dari pada suamimu! Apa yang kamu mengerti," bentak Tuan Agung. "Apa maksud, Papa? Lebih berharga dari pada Revan calon menantu Papa?" tanya Aruna. "Itu adalah pundi-pundi uang kita. Kau tahu tidak kalau adikmu Aruna itu lebih hebat dari dirimu ternyata, dia bisa menjadi istri pimpinan presiden direktur Dion Hadinata Wijaya. Kau tahu siapa dia? Dia adalah keluarga besar Wijaya Company, jajaran orang terkaya. Kau bisa bayangkan apa yang bisa kita dapatkan? Kita bisa mendapatkan keuntungan dari itu dan bisa membangun gunung emas," bisik Tuan Agung sambil memegang erat tangan Arumi. "Tapi Papa...." "Sttt! Diamlah. Aku tidak akan membuang waktu dengan kalian. Aku akan menjamu mereka, mereka lebih penting daripada kalian," kata Tuan Agung sambil masuk ke dalam gedung. Otomatis hal itu membuat Arumi murka, dia bertambah benci dengan sosok Aruna. Padahal selama ini dia sudah berusaha semaksimal mungkin merebut kebahagiaan adik angkatnya itu, dia kira dengan menikahi Revan dunia Aruna akan hancur. Mengingat dia tahu betul bahwa Aruna sangat mencintai Revan. Namun ternyata salah. "Sialan!" umpat Arumi. Tanpa menghiraukan Revan dan Arumi yang masih syok dengan semua ini, mereka pun langsung masuk ke dalam gedung. Dengan bangga langsung Tuan Agung langsung memperkenalkan Dion ke semua tamu. Dia mendonggakkan kepalanya tanpa tahu malu. "Halo semua, kenalkan ini menantuku. Pimpinan presiden direktur, Dion Hadinata Wijaya dari perusahaan Wijaya Company yang terkenal itu. Dan bisa kalian lihat wanita cantik yang ada di sampingnya itu adalah anakku, putri cantikku terakhir yang bernama Aruna Premesthi Tjahyadi," APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD