PUKULAN TELAK!
"Memang kenapa? Apakah kau tak percaya bahwa aku adalah Dion Hadinata Wijaya? Kalau aku bukan Dion Hadinata Wijaya, apakah kamu yakin akan mengusir kami?" tanya Dion.
"Bukan kalian tapi anak perempuanku sendiri, Aruna. Lihatlah dia sangat iri sekali pada kakaknya, jadi bukankah kami tak salah kalau mengusirnya? Sebentar lagi kami akan melangsungkan pertunangan anak kami pertama Arumi. Namun sepertinya dia sebagai adik dia sedikit tak terima dengan semua itu. Jadi aku takut kalau dia mengacaukan acara pertunangan ini," jelas Tuan Agung.
"Apalagi dia datang bersama pria tak di kenal yang mengaku sebagai Tuan Dion Hadinata Wijaya. Jadi aku tak ingin ada apa-apa nantinya, ini hanya kesalahpahaman saja, Tuan," sambungnya takut jika lelaki itu benar Tuan Dion juga.
"Sepertinya lelaki ini benar-benar Dion Hadinata Wijaya. Tapi aku masih ragu apakah benar? Bagaimana bisa Aruna mengenal seorang presdir sepertinya? Anakku itu tak pernaah bergaul dengan siapapun. Namun dilihat dari gelagatnya juga, Pak Hendrawan jelas-jelas team marketing executive perusahaan pimpinan Wijaya Company. Dan juga aku masih berpikir pernah bertemu dengan lelaki muda dari keluarga itu. Kenapa mereka bisa datang kemari? Jika bisa membuat mereka datang ke acara Arumi, maka keluargaku akan menjadi terpandang," monolog Tuan Agung dalam hati.
Dia benar-benar merasa bimbang sekarang, satu posisi bingung apakah itu lelaki asli bernama Dion karena kurang yakin. Namun di sisi lain dia juga tak mau ambil resiko karena andaikata dia benar-benar Dion dari keluarga Hadinata Wijaya maka dia lah yang nanti akan di untungkan. Dia melirik ke arah putrinya Aruna, melihat penampilannya yang glamour sekali. Tak nampak gembel, berarti menandakan hidupnya nyaman juga.
"Dia benar-benar pimpinanku, Tuan Dion Hadinata Wijaya. Seorang Presdir, Hadinata Wijaya atau Wijaya Compeny," sahut Tuan Hendrawan. Hal itu membuat Tuan Agung langsung mendongakkan kepalanya, matanya terbelalak setengah tak percaya.
"Wahhh! Ini merupakan berita dan kejutan yang besar sekali," gumam Tuan Agung langsung beralih kearah Dion.
"Tuan Dion, maaf jika saya tadi meragukan anda. Astaga, sungguh semua ini rasanya seperti mimpi di datangi oleh seorang pimpinan perusahaan besar seperti anda. Tuan kenalkan aku adalah Agung, aku dari perusahaan Tjahyadi. Itu dalah perusahaan milik mertuaku," kata Tuan Agung langsung menghampiri Dion, bahkan dia sampai membungkukkan badannya merendah.
"Tuhan, kenapa Papa melakukan semua ini. Sangat memalukan, padahal dengan jelas tadi dia menolak kedatanganku bahkan mengumpatku," batin Aruna.
"Bagaimana, Tuan? Apa Tuan masih ingat? Saya pernah mengajukan tawaran kerja sama perusahaan denganmu, Tuan," jelas Tuan Agung.
"Ck," decih Dion.
"Maaf saya rasa kita belum pernah bertemu calon Ayah mertua," kata Dion.
"Ah ya ya, wajar saja orang seperti Anda lupa, Tuan Dion. Saya sangat maklum sekali, apalagi Tuan Dion sangat sibuk. Oh ya, hari ini adalah hari pertunangan putri pertamaku, Kakak dari runa. Namanya adalah Arumi. Apa Tuan berkenan datang untuk mencicipi makanannya?" tanya Tuan Agung langsung mencari muka.
"Tidak," tegas Dion.
"Tuan, bagaimana barang bawaan ini? Haruskah saya menyerahkannya ke dalam? Ini tadi adalah set perhiasan mahal yang sudah di pesan, lengkap dengan wine langka, dan seserahan lainnya," kata Tuan Hendrawan membawa barang itu.
Jujur saja dia tak mengerti apa yang terjadi. Dion hanya menyuruhnya membeli barang seserahan yang dia gunakan untuk mengunjungi kolega. Jadi dengan patuh dia hanya melakukannya.
"A...apa? Perhiasan? Wine? Seserahan?" tanya Tuan Agung.
"Kenapa? Bukankah awalnya kau meragukanku? Kau tahu sendiri kan bagaimana kwalitas yang akan aku berikan dan tidak dijual secara bebas demi menghargai calon mertuaku. Tapi sepertinya kau tak mengenaliku, Tuan Gaung. Bahkan kau dengan tegas menghina Aruna, calon istriku," sindir Dion.
"Tentu, bahkan saya sendiri kesusahan untuk mencarinya dengan sangat susah. Ini perhiasan yang Tuan inginkan merk edisi terbatas yang hanya ada lima buah di dunia. Saya harus berebut dengan ibu-ibu sosialita demi mendapatkannya," jelas Hendrawan.
"Apakah kau datang untuk mengantarkan yang spesial edisi terbatas itu, Tuan?" tanya Tuan Agung dengan mata berbinar.
"Tentu saja, jika tidak untuk apa aku melakukannya," sahut Pak Hendrawan.
"Wahhh rejeki apa ini? Kedatangan Tuan Dion Hadinata Wijaya dan membawakan hadiah yang spesial? Bayangkan betapa mahal harganya karena hanya Ada 5 buah di dunia. Apakah semua hadiah ini akan diberikan kepadaku?" tanya Tuan Agung dengan mata berharap.
Semua ucapan Pak Hendrawan dan Tuan Agung membuat Aruna benar-benar malu, dia sekarang tahu bagaimana kwalitas keluarganya sendiri. sedangkan Revan dan Arumi tentu saja mereka pun langsung syok mendengar itu semua. Bahkan barang bawaan Dion lebih mewah dari seserahan yang di berikan oleh Revan.
Tuan Agung bahkan lupa diri karena dia benar-benar takjub, seakan hidupnya berubah. Bagaimana tidak dia mencari nomer Dion saja kesusahan, ingin bekerja sama untuk perusahaan mereka saja sulit sekali, Tiba-tiba ini datang tawaran menjadi mertua langsung dari seorang pimpinan Dion Hadinata Wijaya dan mengatakan dia adalah mertuanya.
"Tuhan, apa ini mimpi? Apa kamu sungguh pimpinan bernama DIon HAdinata Wijaya? Pimpinan Wijaya Company? CEO muda dan orang yang berada ke urutan ke lima, sebagai orang yang terkaya menurut majalah Forbes? Wahhh, aku benar-benar tak menyangka," ucap Tuan Agung berulang.
"Sekali lagi, maafkan aku, Tuan. Pantas saja aku merasa tak asing dengan wajahmu. Kau ternayata benar-benar Tuan Dion. Maafkan orang tua ini karena mudah pelupa sekali, aku harap kau akan maklum, Tuan Dion," sambung Tuan Agung dengan wajah gembira.
"Sungguh maafkan aku, Tuan. Maafkan," lanjutnya lagi sambil membungkukkan badan berkali-kali.
"Tidak perlu, aku tak ingin datang ke sini sebenarnya. Aku ke sini hanya menuruti keinginan calon istriku saja, Aruna. Jika tanpa dia aku tak akan mau ke sini hanya untuk di rendahkan," sahut Dion. Padahal datang ke acara ini adalah idenya, Aruna bahkan sama sekali tak tahu karena dia hanya mengikuti Dion.
"Ayok kita pergi," ajak Dion menggandeng Aruna.
"Kenapa? Bukankah acara belum selesai? Bahkan aku belum mengucapkannya pada kak Arumi. Kita harus mengatakannya terlebih dahulu, Tuan," jawab Aruna menolak.
"Tidak usah. Mari pulang, kau tak lihat bagaimana kau di perlakukan? Mereka tidak mengharapkan kedatanganmu, kau dihina dan direndahkan di depan mataku sendiri. Bahkan dengan orang yang kau sebut dengan keluarga?" tanya Dion . Aruna diam,
"Mari kita pulang dan hadiahnya tidak perlu diberikan juga kepada mereka! Bawa pergi" tegas Dion.
"Pak Hendrawan, bawa semua hadiah ke mobil! BATALKAN SEMUANYA!" perintahnya lagi.
APA YANG AKAN DI BUAT TUAN AGUNG UNTUK MENCEGAHNYA?
BERSAMBUNG