Menantu Konglomerat Tuan Agung!

1069 Words
MENANTU KONGLOMERAT, TUAN AGUNG! "Ah tenang saja, pasti itu barang KW! Ya itu barang palsu. Pasti ini akal bulus Aruna, dia melakukan itu karena iri denganku dan berakting serta ingin mengacaukan pernikahanku. Hari ini aku tak boleh lengah," ujar Arumi dalam hati mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dari dulu sampai sekarang Arumi memiliki sifat yang tak ingin disaingi. Dia tak mau kalah dengan siapapun termasuk dengan Aruna. Bahkan menganggap dari dulu Aruna adalah sainganya, mengingat dia terbiasa menjadi anak tunggal lalu tiba-tiba ayahnya mengangkat anak Aruna. Kedatangan Aruna tiba-tiba di rumah itu membuat Ibu dan Ayahnya sering bertengkar dan mental Arumi serta pemikirannya tertuju pada Aruna, gadis itu yang membuat keluarganya hancur. "Hari ini adalah hari pertunanganku dengan Revan. Sepertinya ada kesalahpahaman antara aku dan Aruna. Oh ya, siapa kau? Apakah kau lelaki yang dekat dengan Aruna ya? Semoga Tuan...." "Sudah cukup, Kak. Tak perlu dijelaskan, aku sudah memutuskan akan menikah dengan Tuan Dion juga, lelaki yang di sampingku ini. Jadi kau tak perlu mengungkit kisah masa laluku kita. Silahkan saja kau bisa mengambil Kak Revan. Oh ya kenalkan, dia adalah Tuan Dion, dia adalah calon suamiku," tegas Aruna. "Maaf aku baru mengenalkan pada kalian," sambungnya. "Apa maksudmu? Apa kau menantangku?" teriak Arumi. "Stop, Kak. Aku datang bukan untuk mengacau, aku datang untuk memberikan selamat kepada kalian dengan tulus. Jadi kau jangan salah paham. Aku tak ingin ada pertengkaran," kata Aruna. "Apa? Suami? Sejak kapan kau menikah? Lagi pula kau ingin memberi selamat seperti apa? Jelas-jelas kau memukul suamiku kok. Kau bahkan mengorbol dengan kakak iparmu dengan mesra di hadapan suamimu? Konyol sekali!" debat Arumi. "Oh maaf, maaf. Sepertinya kau salah paham, Kak. Asal kakak tahu saja, bahwa suamiku cemburuan jika istrinya di sentuh oleh lelaki asing. Dia melakukannya karena calon suamimu yang mendekat duluan. Dia tak mau," ujar Aruna. Dion menatap ke arah Aruna, dia tak menyangka wanita itu berakting dengan sempurna. Bahkan dia dengan sangat alami bisa menyebut suami dan membanggakannya layaknya mereka sudah menikah. Dion tersenyum penuh arti ternyata gadis polos ini menyimpan sejuta misteri. "Hey! Apa yang kalian lakukan di sini pertunangan akan segera dimulai. Kenapa kalian masih di depan pintu menyambut tamu! Ayok masuk," ujar seorang lelaki yang sangat tak asing sekali, dia Tuan Agung. "Oh ya, jika butuh biaya pengobatan aku akan memberikannya, tapi tunggu sampai aku punya pekerjaan. Aku akan menggantinya kok," tegas Aruna lagi. "Hey Anak Haram! ANAK DURHAKA! Beraninya kau muncul setelah kabur! Siapa yang mengizinkanmu muncul di sini! Apa kau mau merusak acara ini juga?" teriak Tuan Agung. "Kamu masih berani datang kemari? Padahal kau sudah pergi mencoreng muka keluarga besarmu! TAK TAHU MALU! ANAK TAK TAHU DIUNTUNG!" kata tuan Agung ingin menampar ke arah muka Aruna yang hanya terdiam syok, tak menyangka saja ayahnya mampu mengumpat di hadapan mereka semua. Untung saja dengan cepat tangan Dion langsung mencegahnya, dia hendak memukul Aruna. Membuat wanita itu langsung terdiam, dia melirik ke arah Dion. "Apa kau tidak bisa menghindari dia?" sindir Dion, Aruna menggelengkan kepalanya lirih. "Bagaimanapun juga dia ayahku kan, Tuan," sahut Aruna. "Ck!" decih Dion. "Lepaskan! Siapa kau!" teriak Tuan Agung. "Selamat siang ayah mertua," sapa Dion. "Ayah mertua???" gumam Tuan Agung. Tuan Agung diam, dia hanya mengamati penampilan Dion dari atas sampai bawah. Rasanya dia seperti mengenal lelaki itu namun lupa pernah bertemu dimana. Dengan gagah, dia berdiri di hadapan Tuhan Agung, bahkan memanggilnya dengan sebutan Ayah Mertua. "Siapa lelaki ini? Rasanya aku pernah menemuinya, tapi dimana ya?" batin Tuan Agung pun mengerutkan keningnya heran. "Sepertinya Anda tidak ingat siapa saya. Apakah Anda ingat apa yang dikatakan oleh seseorang yang datang dan membawa putrimu beberapa hari lalu? Itu adalah utusanku yang datang menjemput Aruna," jelas Dion. Tuan Agung pun langsung terdiam. "Ah iya, sepertinya Ayahh Mertua ini benar-benar tak ingat. Baiklah kalau begitu, aku akan memeperkenalkan diri, namaku adalah Dion Hadinata Wijaya," sambungnya. "A...apa... Dion Hadinata Wijaya? Tuhan, apakah ini mimpi?" gumam Tuan Agung, "Ah sepertinya kau mulai mengenalku sekarang, Ayah Mertua," sahut Dion. "Ya ya, aku ingat. Ada seorang lelaki datang dan memberi kartu namamu. Tapi apakah kau benar-benar Tuan Dion pemilik perusahaan Wijaya Group?" kata tuan Agung sambil mundur beberapa langkah. "Syukurlah, kalau Ayah Mertua memang mengenalku," ucap Dion. "Bagaimana mungkin dia bagian dari keluarga Hadinata Wijaya Group? Aku seperti mimpi saja. Memang sih dari tampilannya terlihat meyakinkan dan oke, tapi apa iya dia menggunakan mobil buntut itu? Aku tak melihat ada keluarga lain dari Hadinata Wijaya datang kesini. Tapi aku juga merasa tak aneh dengan wajahnya. Ah dia paling hanya tipu-tipu saja, tidak akan ada keluarga Hadinata Wiyaja yang suka mengendarai mobil yang sudah hampir rusak itu," monolog Tuan Agung sambil celingukan di arah parkiran. "Hey Aruna, apakah dia benar-benar Tuan Dion? Ya, meskipun kamu cemburu dengan kakakmu, kamu tidak perlu mengacau di acara seperti ini!" tegur Tuan Agung. "Apa? Aku cemburu karena Kak Arumi menikah dengan lelaki yang lebih buruk dari calon suamiku? Tidak mungkin, Ayah. Aku sudah memiliki calon suami lain yang bahkan sangat sempurna. Jadi tak mungkin aku akan mengacau dalam acara pernikahan ini, bahkan aku hanya ingin mengucapkan selamat saja," jelas Aruna. "Kamu datang bahkan datang ke sini dengan membawa penipu hebat sekali! Apa sandiwara yang kau lakukan? Dari mana kamu mendapatkan uangnya? Awas saja kalau kau kembali dengan membawa beban hutang yang banyak," ancam Tuan Agung. Tiba-tiba seorang lelaki datang di hadapan mereka. Dia memberikan salam hormat kepada Dion. Membuat Tuan Agung langsung mengerutkan keningnya, dia langsung membungkukkan badannya dengan hormat. "Loh, Pak Hendrawan? Manager perusahaan pusat. Aduhhh yang kebetulan sekali kamu ada di sini. Merupakan suatu kehormatan besar bagi kami Anda bersedia datang kemari. Silahkan, silahkan masuk dan nikmati jamuannya," perintah Tuan Agung langsung melupakan masalah Aruna. ""Hah? Maaf, saya hanya datang untuk membawa barang-barang yang sudah di pesan Tuan kami yang kebetulan datang dalam acara ini. Tuan Dion," jawab Pak Hendrawan. "Pak Hendra kenal dengan lelaki ini?" bisik Tuan Agung ingin memastikan. "Hah?" sahutnya. "Lelaki ini menyuruh seorang datang ke rumahku dan membawa putriku yang pingsan. Lelaki ini membawa suruhannya, dia tak berani datang kemari. Namun dia menyuruh orang untuk mengacau, ingin ku usir tapi dia mengatakan bahwa namanya Dion Hadinata Wijaya. Apakah benar Pak Hendrawan? Apakah dia sungguh-sungguh anak keluarga Hadinata Wijaya group," tanya Tuan Agung ingin memastikan. "Memang kenapa? Apakah kau tak percaya bahwa aku adalah Dion Hadinata Wijaya? Kalau aku bukan Dion Hadinata Wijaya, apakah kamu yakin akan mengusir kami?" tanya Dion. APA YANG AKAN DI LAKUKAN TUAN AGUNG SAAT TAHU MENANTUNYA ADALAH KONGLOMERAT? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD