RENCANA BUSUK REVAN!
"Bukankah aku sudah mengatakan kalau ada yang menindasmu maka kau harus menindas balik dengan cara yang sama. Kau ingat itu, Sayangku," kata Dion mengelus kepala Aruna di hadapan Arumi membuat wanita itu benar-benar tertegun.
"Apakah kau meragukan kekuatan calon suamimu ini, Sayang? Siapa yang membuatku kesal dan menyentuh barangku maka aku akan membuatnya sama, BERANTAKAN! Bukankah keluarga Tjahyadi dan keluarga Revan hanya keluarga kecil? Hahaha. Sangat mudah untuk seorang Dion Hadinata Wijaya menghancurkannya. Bahkan sekarang juga aku bisa menghancurkannya kalau kau sudah memerintahkannya padaku," ujar Dion dengan tegas.
Arumi pun langsung berbalik arah. Tanpa aba-aba Dion pun langsung melempar pisau lipat yang sellau dia simpan dalam saku tersembunyi di jasnya. Dia menjatuhkan pisau berapa jengkal di arah Arumi, membuat wanita itu langsung pucat pasi.
"A...apa yang kau lakukan? Kau akan melakukan pem..pembunuhan," ucap Arumi dengan nada suara bergetar.
"Sayang! Kau dimana? Mengapa kau lama sekali di kamar mandinya? Arumi!" teriak seorang lelaki dari luar yang memanggil. Tak lain lelaki itu adalah Revan.
'Brak' pintu di buka, nampak Aruna yang ada dalam pelukan Dion dengan mesranya. Sedangkan Arumi ketakutan dengan wajah pucat pasinya. Dia segera menghampiri calon istrinya itu.
"Akhirnya kamu datang ke sini, Sayang. Aku takut," kata Arumi dengan wajah pucat dan nada suara bergetar langsung memeluknya.
"Kenapa kau, Sayang? Hey! Kenapa Sayang? Kenapa keningmu berdarah? Apakah kau sakit? tanya Revan. Arumi menggelengkan kepalanya.
"Maaf Tuan Dion, apa aku bisa berbicara dengan Aruna sebentar?" tanya Revan melirik ke arah Dion. Dia sudah mendengar dari Ayah mertuanya siapa Dion sebenarnya. Jadi dia harus berhati hati.
"Silakan berbicara," perintah Dion.
Revan langsung diam, maksudnya menyuruh semua orang baik Dion maupun Arumi keluar namun dia tak berani juga, sepertinya kali ini Dion juga tak peka. Dia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dion melihat tingkah aneh lelaki itu.
"Kenapa diam? Bukankah kau mengatakan akan mengajak bicara Aruna? Kalian hanya berbicara saja kan? Silahkan. Aku tak akan menyela atau menganggu pembicaraan kalian," perintah Dion.
"Bukan begitu, Tuan Dion. Jadi begini maksudku, em... Aku ingin mengobrol dengan Aruna secra pribadi sebenarnya karena ada kesalahpahaman diantara kami sebelumnya. Aku ingin menyelesaikannya sebelum pernikahanku dengan Arumi agar semua clear," jelas Revan.
"Salah paham? Kau ingin bicara berdua dengan calon istriku saja?" selidik Dion. Revan pun menganggukkan kepalanya lemah.
"Bagaimana menurutmu, Sayang? Apa kau mau bicara dengan lelaki b******k itu?" Sambung Dion mengeluarkan satu pisau lagi.
Aruna hanya menghela nafas panjang. Sakit seenarnya hatinya melihat lelaki yang dia cintai untuk pertama kalinya justru menenangkan Aruna. Dia mememeluk Aruna di hadapannya. Cinta pertama yang menjadikan nya frustasi sebelum akhirnya Dion memberikan tawaran dan menguatkannya. Melahirkan Aruna yang baru.
"Bagaimana?" tanya Dion. Aruna menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Tidak, Sayang. Tidak ada yang perlu dibicarakan dengannya. Menurutku semua sudah selesai," tegas Aruna.
"Hey Aruna, apa kau lupa? Kita teman sekolah selama SMA hampir dua tahun. Aku kakak kelasmu, aku pun sekarang juga Kakak iparmu sekarang. Kita keluarga, jangan keras kepala seperti itu. Aku hanya ingin menjelaskan semua padamu," tegur Revan.
"JAGA UCAPANMU DI HADAPANKU!" sahut Dion. Revan langsung diam ketakutan juga.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberimu kesempatan. Katakan sekarang di hadapan calon suamiku juga selama lima menit. Sekarang aku sudah menikah jadi aku tak mau menimbulkan kesalahpahaman antara aku dan suamiku baru ini," perintah Aruna.
"Bagaimana, Sayang? Apakah itu terlalu lama? Bolehkan?" tanya Aruna pada Dion. Dion pun menggelengkan kepalanya.
"Aku pun tidak ingin ada laki-laki lain di dalam hati istriku sebenarnya. Jadi kau harus menjaga hatimu untukku," kata Dion merangkul erat Aruna, membuat wanita itu memerah pipinya karena malu.
"Sebentar saja. Hatiku akan selalu ada untukmu, Sayang. Kau tak masalah kan jika menunnggu di luar sebentar? Sepertinya dia ada sesuatu yang penting. Aku akan menghubungimu jika nanti ada yang mencurigakan," sahut Aruna.
"Baiklah," jawab Dion keluar.
"Kamu juga keluarlah sebentar," perintah Revan kepada Aruna. Hal itu membuatnya kaget,
"Revan...." panggil Aruna lirih.
"Percayalah Sayang! Ini sebentar saja, tunggu aku di luar. Apakah kau tak mau menghargaiku? Lihatlah pasangan Aruna saja mau mengalah untuknya," perintahnya lagi.
Dengan berat hati dan mendengus kesal, Arumi pun terpaksa keluar. Dia sekarang di kamar mandi hanya menyisakan Aruna dan Revan. Sesak sebenarnya hati Aruna, mereka sungguh saling menyayangi dulu. Bahkan Aruna tak menyangka kalau Revan ternyata seperti ini.
"Hubungan kami yang berjalan dari SMA nyatanya bisa dengan mudah dikhianatinya. Aku seperti tak mengenal Kak Revan. Aku juga seperti tak mengenal, Kak Arumi. Mereka berdua terlalu asing untukku. Apakah aku terlalu bodoh dalam hal ini?" Batin Aruna.
"Aruna," panggil Revan lirih, jika boleh jujur sebenarnya dia masih sangat mencintainya.
"Ya," sahutnya tersadar dari lamunan.
"Aku minta maaf padamu. Sungguh aku terpaksa seperti ini. Semua bukan karena keinginanku. Aku harus melakukan semu ini demi kebaikan semua orang ke depannya. Maafkan ketidak berdayaanku ini," ucap Revan lirih dalam helaan nafasnya.
"Untuk apa?" selidik Aruna pun berjalan mundur.
"Rencana apa lagi yang sedang kau susun untuk menghancurkanku? Apakah semua sandiwarra palsumu ini kurang? Padahal aku sudah selalu mengalah untukmu," sindirnya lagi.
Revan menghela nafas panjang. Dia menggelengkan kepalanya perlahan, dia tak mau menyalahkan Aruna, semua karena kesalahannya sendiri. Ya, dia menyadari itu.
"Aku menyukaimu tapi kamu juga tahu statusku kan? Kita tak bisa menikah dalam posisi ini, karena apa? Aku belum mapan, keluargaku dari orang biasa. Tak pantas jika denganmu, apalagi saat itu kakakmu Arumi juga mengatakan bahwa dia juga cinta padaku. Aku tak kuasa menolaknya. Hubungan kita tak akan pernah bersatu, Aruna. Aku hanya berusaha mencoba mencerna semuanya," jelas Revan.
"Jadi kamu meminta Kak Arumi untuk mencelakaiku? Apakah kau dalang di balik semua ini?" tanya Aruna. Revan menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa aku melakukannya? Tidak seperti itu kejadian yang sesungguhnya. Dia juga tidak sengaja melakukannya dan juga bukankah kamu baik-baik saja sekarang? Ini seperti simbosiosis mutualisme, kau sangat di untungkan dalam hal ini. Aruna kali ini saja dengarkan penjelasanku, kau tahu sendiri kan suamimu itu siapa. Dia adalah Dion seorang pimpinan perusahaan dan pewaris perusahan besar. Bukankah itu artinya dia jauh lebih kaya dari aku? Bukankah kau bisa memanfaatkannya? Lalu kita bisa hidup...."
'Plak' belum selesai Revan mengatakan semuanya tangan Aruna langsung melayang menampar pipinya.
"Apa?"
BERSAMBUNG