Kedatangan Tamu Tak Di Undang!

1015 Words
KEDATANGAN TAMU TAK DI UNDANG! 'Plak' belum selesai Revan mengatakan semuanya tangan Aruna langsung melayang menampar pipinya. "Apa? Kau menamparku?" tanya revan terkejut setengah mati, dia tak menyangka sosok Aruna bisa berbuat seperti itu. Tanpa bicara apapun Aruna langsung menampar tak menanggapinya. "Kenapa? Apa kau kaget? Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih dari ini," terang Aruna, "Aruna..." panggil Revan lirih sambil memegangi pipinya. "Rasa sayangmu membuatku muak! Kau mengatakan sayang padaku? Tapi apa nyatanya? Apakah semua perlakuanmu ini lantas menjadikan bukti sayang?" bentak Aruna. "Wahhh! Apa ini? Kenapa? Aku sungguh tak percaya bagaimana Aruna bisa melakukannya. Aruna kenapa kamu sudah berubah? Kau kasar sekali. Dulu kamu tidak seperti ini. Aruna sangat lemah lembut, baik hati. Kenapa kau kasar seperti ini? Kau bahkan berani main tangan denganku," kata Revan memegang pipinya. "Ck! Dasar lelaki playing victim!" decih Aruna. "Kau dengan gampangnya menyalahkanku? Benar-benar lelaki tak tahu diri. Kau bicara dengan entengnya bahwa aku berubah? Kamu bilang aku berubah?" ulang Aruna dengan polosnya Revan menganggukkan kepalanya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Hei Revan! Aku mencintaimu selama hampir lima tahun, salah! Hampir enam tahun kita bersama, sejak SMA dulu. Lalu tiba-tiba kau memilih meninggalkanku begitu saja. Tak cukup sampai sana, bahkan kau dengan kejamnya pergi dengan mudahnya, lalu kamu bilang aku yang salah? Wahhh! Kau benar-benar gila rupanya," lanjut Aruna menggelengkan kepalanya tak percaya. "Revan, Revan... kita sudah bersama sejak itu. Bahkan saat memakai seragam putih abu-abu saat kau menjadi ketua OSIS. Kau menyuruhku back street, menyembunyikan semuanya. Kau menyuruhku melakkan semuanya dan aku melakukannya juga. Aku seperti orang bodoh, wanita yang mencintaimu sendiri, kamu tak ingin terlihat memiliki pacar di hadapan adik kelas karena takut mereka tidak akan mendukungmu. Kau menyembunyikan status hubungan kita karena tak ingin hubungan ini pekerjaanmu? Apakah aku selama ini mengeluh? Hah? Apakah aku protes? TIDAK! Aku diam, aku melakukannya, aku bersembunyi agar tidak tampak seperti pacarmu!" teriak Aruna. "Aruna..." panggil Revan lirih. Dia benar-benar syok melihat Aruna berubah menjadi galak seperti orang kesurupan begini. Setahu Revan dulu, Aruna wanita lemah lembut sekali, bahkan tak pernah dia mengumpat. Wanita lemah yang tak pernah mengeluh maupun menolak semua permintaannya. Kini wanita di hadapannya berubah menyeramkan karena terluka dan kecewa. "Tapi Aruna...." "Stop! Aku belum selesai mengungkit semua kesalahan dan dosamu, kau juga yang mengatakan bahwa kita tidak boleh mengungkapkan hubungan kita bahkan di hadapan keluargaku. Kita berkencan saja harus diam-diam. Aku menerimanya, REVAN!" bentak Aruna. "Bahkan kamu bilang kamu menginginkan istri yang bisa mendukung karirmu di masa depan, jadi aku memilih pelajaran empat bahasa sekaligus di kampus demi apa? MENJADI ISTRI TERBAIK DAN PALING BAIK UNTUKMU! Kau tahu? Aku harus mempelajari berbagai etiket bisnis bahkan menghabiskan liburan di ruang belajar demi mendukungmu. Tak berhenti disana saja, Revan! Kamu bilang kamu menyukai wanita langsing dan penuh perhatian juga harus bisa memasak. Kau tahu apa yang aku lakukan? Aku bahkan tidak berani memakan daging kesukaanku dan masuk kelas memasak semua demi kamu! KAMU DAN KAMU! SEMUA TENTANG KAMU," lanjutnya menggeu-gebu. "Enam tahun aku tidak pernah meminta apapun darimu tapi nyatanya apa kamu meminta kakakku untuk memanfaatkan orang lain mengambil kesucianku. Kau juga membantu orang lain menindasku, kau membujuk dan membuat bahkan memfitnahku di depan orang tuaku. Lalu kau dengan tak tahu dirinya sekarang kamu bilang aku sudah berubah? BADJINGAN!" umpat Aruna. Ini pertama kali dia mengumpat Revan. Ada perasaan puas dihatinya sudah mengeluarkan semua pemikirannya kali ini pada lelaki yang begitu dicintainya dulu. Dan nyatanya cinta pertamanya itulah yang membuat terluka. "Jangan menampakan mukamu di hadapanku lagi. Aku sudah muak," ujar Aruna sambil pergi meninggalkan Revan begitu saja. Revan benar-benar kaget dan tak bisa berbuat apapun. Dia pun segera mengajak Dion untuk meninggalkan tempat ini karena pernikahan Nara makin membuatnya sangat terluka. Dia segera mengajak Dion untuk meninggalkan rumahnya, kemudian sesampainya di rumah itu Aruna masuk kamar dan menangis. Dia tak keluar dalam kamar, semalaman penuh dia melampiaskan semua rasa kecewanya terhadap keluarganya, terhadap kakak kandungnya, bahkan kekasihnya. Dion membiarkannya. Dia memberikan waktu pada wanita itu untuk memvalidasi rasa sakit itu. keesokan harinya pagi-pagi dia mengetuk pintu kamar Aruna. "Apa istirahatmu sudah cukup?" "Tuan Dion," panggil Aruna lirih. "Kenapa? Untuk apa kau menangisi hal bodoh semacam itu? Kau harus bangkit! Untuk apa menangisi lelaki tak berguna dan keluargamu yang toxic itu? Bangun dan ganti pakaianmu, lalu makan setelah itu pergi ke perusahaan," perintah Diom. "Hah? Perusahaan?" tanya Arun bingung. Dia memberikan paperbag kepada Aruna, sebuah brand yang sangat mahal. Aruna menerima dengan sejuta tanda tanya. Dion pun menjelaskannya. "Perusahaan kekurangan asisten dan kamu cocok untuk posisi itu. Jadi, pakailah ini! Aku sudah memberikannya untukmu, rasanya pakaian itu cocok ketika kau pakai," ucap Dion lagi. "Apa? Bekerja? Di perusahaan Tuan Dion?" sahut Aruna benar-benar tak mengerti. Perlahan Dion maju, mereka saling bertatapan, dengan lembut Dion memegang dagu Aruna. Dia mendongakkan wajah gadis itu sehingga mata mereka pun bertatapan. Jantung Aruna berdetak tak karuan, dia bisa saling menatap dengan seorang CEO besar tanpa jarak. "Tuhan, lelaki ini sangat tampan sekali. Apakah tak salah dia memilihku menjadi istrinya? Betapa beruntungnya hidupku sekarang," batin Aruna. "Bukankah kamu menguasai empat bahasa?" tanya Dion. Aruna menganggukkan kepalanya. "Aku cukup mahir berbahasa mandarin, inggris, prancis, dan latin," terang Aruna. Dia cukup bingung bagaimana seorang Dion mengetahuinya, padahal tanpa sepengetahuan Aruna dia mendengar semua perkataan wanita itu dan Revan di kamar mandi waktu pertunangan Arumi kemarin. "Ya kau harus memanfaatkannya. Kau harus membantuku di perusahaan, kau mengerti kan? Sampai kapan kau akan menjaadi orang yang selalu di sepelekan," perintahnya. Aruna menganggukan kepalanya, dia setuju dengan ucapan Dion. Kalau di pikir masuk akal sekali, daripada dia terus berpikiran buruk terhadap keluarganya dan cara efektif membalaskan dendam yang menghabiskan waktu dengan berbagai pemikiran tak bergunanya. Rasanya bekerja dengan Tuan Dion bukanlah ide jelek, sangat cocok untuk dirinya saat ini apalagi untuk melampiaskan rasa kecewa pada keluarganya. Di sisi lain seorang wanita mengenakan high heels berwarna merah menyala datang ke kantor Dion. Dia tampak fashionable sekali, bajunya sangat seksi menggoda dengan cat rambut merah menyala. Dia langsung memanggil seseorang lelaki yang berada di samping lift ruang kerja utama tempat Dion. "Hei aku sudah kembali! Di mana Dion?" tanyanya kepada asisten pribadi Dion, Rafli. SIAPA WANITA ITU?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD