Mereka bertemu di tempat yang suasananya netral, seperti menyesuaikan dengan hati mereka.
Bukan di kafe favorit, bukan kampus, bukan juga di tempat kos Aruna. Dava memilih taman kecil di pinggir kota yang lebih terasa tenang dengan sedikit orang, itu yang membuat nyaman untuk tempat berbicara. cukup jauh dari kenangan bersama. Bangku kayu itu terasa dingin bagi mereka meski matahari sore masih menggantung.
Dava datang lebih dulu, menunggu kedatangan Aruna, ia duduk dengan tegak, dan rapih, seperti orang yang sudah menyiapkan suatu keputusan. Aruna datang lima menit kemudian, membawa wajah lelah dan terlihat mata yang kurang tidur.
“Kita duduk aja,” kata Dava singkat dengan muka yang tak manis.
Aruna mengangguk dan langsung duduk di dekat Dava.
Beberapa detik berlalu tanpa ada kata yang keluar. Angin menggerakkan daun-daun kering di tanah. Suara kendaraan jauh terdengar samar.
“Aku nggak mau muter-muter,” kata Dava akhirnya tanpa basa basi. “Aku capek, Ar.” lanjut Dava lirih.
Aruna menarik napas dalam. “Aku juga sama.” lirih Aruna.
Dava menoleh, menatap Aruna langsung. “Aku butuh kamu jujur, Aruna. Jangan seperti ini terus.” ucapnya tegas.
Aruna menelan ludah, ia tak tau harus berbicara apa.
“Kalau Rama nggak pergi,” tanya Dava pelan, “apa kamu masih pilih aku?” tanya Dava lagi.
Pertanyaan itu menghantam dengan kuat tepat di d**a. Tidak ada ruang untuk menghindar dan tidak ada kalimat pengaman untuk membela diri.
Aruna membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dan itu sudah cukup bagi Dava.
Dava tersenyum kecil, menerima hal yang pahit. “Aku ngerti.” ucap Dava sambil mengangguk.
“Aku nggak mau bohong,” ucap Aruna cepat, dengan suara bergetar. “Aku nggak tahu jawabannya.” ucap Aruna yang masih dalam kebingungan nya.
“Itu dia jawabannya,” balas Dava dengan tenang dan bahkan terlalu tenang.
Aruna menunduk, air mata jatuh ke tangannya sendiri. “Aku peduli sama kamu, Dav. Aku cuma..” ucapnya terhenti.
“nggak bisa mencintaiku tanpa bayangan orang lain, ia kan!” potong Dava. “Dan itu bukan kesalahan tapi itu juga bukan sesuatu yang harus ku terima.” ucap Dava dengan tegas.
Aruna menggeleng pelan. “Aku nggak mau kehilangan kamu.” lirih Aruna.
Dava menghela napas panjang. “Aku juga nggak mau kehilangan diriku sendiri.” jawab Dava.
Hening menyelimuti mereka. Tidak ada amarah, tidak ada tangisan yang keras. Justru itulah yang membuat perpisahan ini terasa lebih nyata.
“Kita berhenti di sini,” kata Dava akhirnya. “Bukan karena aku nggak cinta lagi. Tapi karena aku uda capek dan aku berharap kamu suatu hari nanti akan sepenuhnya hadir untuk ku” lanjut Dava lagi.
Aruna menatapnya dengan matanya yang merah. “Apa ini selamanya?” ucapnya lirih kemudian menunduk.
Dava bangkit berdiri. “Aku nggak mau janji apa pun dan aku cuma mau jujur.” ucap Dava yang sudah siap untuk langsung pergi.
Ia menatap Aruna sekali lagi. “Aku berharap suatu hari kamu bisa mencintai tanpa ada rasa takut dan entah sama siapa pun itu.” ucap Dava kemudian langsung pergi.
Lalu ia pergi, tidak menoleh dan tidak ada keraguan, ia pergi membawa luka.
Aruna duduk sendirian di bangku itu dengan lama setelah langkah Dava menghilang. Kali ini, rasa aman itu benar benar pergi tanpa menyisakan pegangan untuknya.
Malamnya, Aruna berjalan ke galeri seni tempat pameran Rama dibuka.
Ia datang seorang diri.
Galeri itu tidak besar tapi terlihat penuh. Lukisan-lukisan Rama tersusun dengan sangat rapi, dengan tema yang sama. Ruang yang hampa, bayangan, dan jarak. Aruna berjalan pelan dari satu karya ke karya yang lain, dadanya semakin terasa sesak.
Di satu sudut, ia berhenti lama.
Lukisan peron itu versi besar dengan lebih detail dan lebih gelap. Perempuan itu kini berdiri dengan satu kaki melangkah maju, sementara dua bayangan di belakangnya sudah memudar. Dengan judul. Sisa yang Tidak Ikut Pergi.
Aruna menutup mata. Ia tidak tahu Rama ada di mana saat ini. Ia tidak tahu apakah ia akan kembali yang ia tahu hanya satu hal pilihan dengan setengah hati tidak pernah melindungi siapa pun.
Ponselnya terasa bergetar, pesan dari Rama masuk.
Rama : Kamu datang?
Aruna terkejut dan Aruna langsung membalasnya.
Aruna : Iya.
Beberapa detik kemudian.
Rama : Maaf aku nggak di sana.
Aruna menatap lukisan itu lagi dengan perasaan yang campur aduk.
Aruna : Aku juga minta maaf.
Rama : Mintak maaf untuk apa?
Aruna mengetik dengan lama, padahal pesannya hanya singkat saja.
Aruna : Untuk semua yang tidak kupilih tepat waktu.
Tidak ada balasan dari Rama.
Aruna berdiri di tengah galeri, dikelilingi karya yang lahir dari rasa kehilangan. Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan sekaligus rasa yang jujur.
Cinta gila-gilaan bukan tentang memilih siapa yang paling mencintai kita. Tapi tentang berani memilih, meski kita sendirian setelahnya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Aruna benar benar dengan kesendirian nya.
Tanpa ada Rama dan juga tanpa ada Dava di sisinya. Serta tanpa alasan untuk bersembunyi.