Ketika Rasa Aman Telah Pergi

670 Words
Dava tidak langsung datang pada keesokan harinya, dia juga mulai menjaga jarak pada Aruna. Tidak ada pesan untuk pembatalan, tidak ada sebuah alasan. Hanya ada keheningan yang tiba tiba menjadi terlalu nyata baginya. Aruna menunggu di kafe kecil yang dekat dengan kampus, duduk di kursi yang sama, memesan minuman yang sama untuk Dava dan jam di dinding baginya bergerak sangat lambat, seolah sedang mengejek nasibnya. Pukul tujuh lewat sepuluh, Aruna mengirim sebuah pesan. Aruna : "Kamu di mana, Dava?" Tidak dibaca sama Dava apalagi untuk dibalas. Ia menunggu sepuluh menit lagi, dua puluh menit dan bahkan sudah sampai setengah jam ia sudah menunnggu belum juga ada balasan dari Dava ataupun datang menjumpai Aruna. Setiap detik terasa seperti keputusan yang tidak pernah benar benar ia ambil. Akhirnya Aruna memutuskan untuk pulang ke kos dan ia berdiri kemudian membayar makanan yang sudah ia pesan, lalu kemudian ia pulang dengan langkah yang kosong dan pikiran yang kacau. Setelah sampai di kamar kos, ia langsung duduk di lantai sambil memeluk lutut dengan erat. Rasa aman yang selama ini ia pegang tidak hilang dengan ledakan, ia menguap, meninggalkan rasa yang terlalu dingin. Ponselnya berbunyi saat waktu hampir tengah malam, pesan dari Dava masuk. Dava : "Aku butuh jarak." Dada Aruna langsung mengencang. Aruna : "Apa karena Rama?" Balasan datang cepat, terlalu cepat untuk tidak jujur. Dava : "Gak, tapi karena kamu." Air mata Aruna langsung jatuh tanpa harus diminta. Aruna : "Aku lagi berusaha, Dav." Balas Aruna dengan memohon. Dava : "Aku tahu, tapi usahamu selalu dimulai setelah aku sudah terluka." Aruna tidak membalas, tidak ada kalimat yang bisa memperbaiki fakta yang sebenar nya, dia hanya bisa pasrah dalam kebingungan nya. Hari hari berikutnya, Dava menghilang dari setiap rutinitas Aruna. Namun ia tidak benar-benar pergi, masih ada jejaknya di media sosial, di cerita -cerita yang ia lihat tanpa memberi tanda. Namun kehadirannya tidak lagi bisa untuk disentuh. Aruna mulai merasa kehilangan dengan cara yang baru. Bukan kehilangan karena ditinggalkan, tapi karena ditahan di ambang kebingungannya sendiri. Ia mencoba menghubungi, sekali lagi dan dua kali. Setelah itu ia berhenti, ia tidak ingin menjadi orang yang sedang memaksa seseorang untuk tetap tinggal. Ironisnya, pada hari ketiga, Rama kembali muncul. Bukan secara fisik melainkan lewat undangan pameran seni di kota mereka. Nama Rama tercetak jelas di poster digital yang dibagikan para temannya. Pameran Tunggal “Sisa” Tangan Aruna langsung terasa gemetar saat membaca deskripsinya. Tanggal pembukaan dimulai pada minggu depan. Ia duduk lama, menatap ke layar, merasakan sesuatu di dadanya yang tidak ia beri nama. Malam itu Rama mengirim pesan. Rama : "Karyaku dipamerin di kota kamu, tapi aku nggak akan datang." Aruna menelan ludah dengan susah payah. Aruna : "Kenapa, Ram?" Rama : "Aku nggak mau bikin kamu makin bingung." Kata-kata itu terasa seperti perlindungan dan godaan. Aruna : "Aku sudah bingung sejak awal." Rama tidak langsung membalas. Rama : "Terus kenapa kamu masih nanya?" Balasan itu langsung menghantam d**a Aruna, ia langsung tersadar bahwa kebingungannya sudah menghancurkan segalanya. Aruna memejamkan mata, ia menyadari sesuatu yang lebih menakutkan, ia tidak lagi tahu siapa yang bisa ia lindungi dengan kejujurannya. Sementara itu, Dava akhirnya menghubungi Aruna dengan kata yang singkat dan terasa formal. Dava : "Kita ketemu besok, aku mau jelas." Tidak ada emoji dan tidak ada sapaan yang lembut, ia berkata langsung tanpa basa-basi. Aruna membaca pesan itu berkali-kali. Ia tahu, apa pun yang akan terjadi pasti tidak ada jalan kembali ke tempat yang “aman” seperti saat dulu. Malam sebelum pertemuan itu, Aruna tidak bisa tidur. Ia membayangkan dua wajah dengan dua jenis kehilangan. Rama yang pergi agar tidak semakin hancur. Dava yang menjauh agar tidak terus merasa terluka. Dan di tengah-tengahnya, Aruna yang terlalu lama menunda kejujuran, berharap waktu akan memilihkan jawaban yang tepat. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. “Apa yang kamu mau, Ar?” bisiknya lirih. Bahkan dirinya pun tak mampu memberi jawaban. Hanya ada rasa ketakutan bahwa apa pun yang ia pilih besok, seseorang akan benar-benar pergi. Dan kali ini, bukan sementara tapi pergi untuk selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD