Jarak yang Tidak Pernah Disepakati

1000 Words
Dava secara perlahan mulai berubah bukan dengan kemarahan, tapi dengan cara keheningan yang sangat terasa. Ia tetap membalas pesan dari Aruna juga tetap mengirim pesan kepadanya, tetap menjemput Aruna jika ia sudah berjanji dan tetap duduk berhadapan di tempat kafe yang sering ia datangi bersama Aruna. Namun ada sesuatu yang terasa hilang, kehangatan kecil yang dulu hadir tanpa harus diminta. Tidak ada lagi pertanyaan yang ringan tentang hari Aruna dan tidak ada lagi sentuhan spontan yang membuat Aruna merasa di inginkan, bukan sekadar hanya dipilih. Semua terasa berbeda bagi Aruna. “Kamu nggak apa-apa, Dav?” tanya Aruna suatu sore, ketika mereka sedang duduk lama tanpa banyak yang di bicarakan. Dava mengangguk. “Aku baik.” jawab Dava dengan singkat. Jawaban itu tidak langsung meyakinkan Aruna, tapi Aruna tidak tahu cara menggali tanpa harus menyakiti perasaan. Malam itu, Aruna bermimpi. Ia berdiri di sebuah stasiun tua. Peron kosong, jam dinding yang mulai berhenti berdetak. Dari kejauhan, ia melihat Rama berjalan dengan membawa koper, punggungnya terlihat lurus, langkahnya lebih pasti dan mantap. Aruna memanggil, tapi suaranya tidak dapat keluar. Ketika ia berlari, kakinya terasa berat seolah lantai menariknya untuk turun. Rama hanya berhenti dan menoleh sebentar tapi ia tidak mendekat dan tidak melambaikan tangan ke Aruna. “Kamu sudah terlambat,” kata Rama pelan dan ia langsung pergi kembali. Aruna langsung terbangun dengan napas yang terengah, dadanya terasa basah oleh keringat yang terus bercucuran. Jam menunjukkan pukul tiga pagi, ia duduk lama di tepi ranjang, menenangkan diri dan meyakinkan bahwa itu hanya sebuah mimpi. Namun rasa bersalah yang tertinggal seperti terasa nyata bagi Aruna. Pagi-pagi sekali, Aruna mendapat pesan dari nomor tak di kenal. Nomor Baru : "Kamu baik-baik saja?" Jantung Aruna langsung berdegup dengan kencang, ia tahu sebelum bertanya, ia bisa merasakannya. Dan Aruna tau itu pesan dari siapa. Aruna : "Rama?" Beberapa detik berlalu, terlalu lama untuk di anggap sebuah kebetulan. Rama : "Iya, ini aku, Aruna." Aruna menutup mata, tangannya langsung gemetar, air mata langsung tergenang di pelupuk mata dan siap untuk tumpah kapan pun. Aruna: "Kamu kenapa?" Rama : "Nggak apa apa, aku cuma mau pastiin kamu masih bernapas gak". Kalimat itu sangat sederhana, tapi langsung menusuk diri Aruna. Aruna tersenyum kecil di tengah rasa bersalah yang terasa mendesak. Aruna : "Aku baik, Ram" Kebohongan kecil yang terasa besar. Rama : "Bagus itu." Tak ada balasan lagi dari Aruna. Hanya itu dan percakapan langsung berhenti. Namun Aruna tahu sesuatu telah terbuka kembali. Hari itu Aruna bertemu denan Dava. Mereka makan siang di tempat yang biasa mereka datangi, tapi suasananya seperti terasa asing, terlihat canggung. Dava menatap ponselnya lebih sering daripada bercerita seperti biasanya ke Aruna. “Kamu sibuk ya, Dav?” tanya Aruna melirik Dava. “Sedikit,” jawab Dava singkat dan ia pun tak menoleh. Aruna terlihat ragu sejenak. “Aku dapat kabar dari Rama.” ucap Aruna akhirnya untuk jujur. Dava seketika langsung berhenti mengetik. Wajahnya tidak langsung berubah, tapi rahangnya langsung mengeras. “Oh,” kata Dava singkat. “Aku nggak mulai, Dav.” lanjut Aruna cepat. “Dia cuma,” ucapnya langsung terhenti. “Aku nggak tanya,” langsung di potong Dava dengan pelan. Hening langsung terasa, suasana makin terasa canggung dan seperti timbul rasa jarak di antara mereka. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring terdengar terlalu keras. “Aku cuma mau jujur, Dav.” ucap Aruna lirih. Dava menghela napas panjang. “Kejujuran yang terlambat tetap menyakitkan, Aruna.” ucap Dava tanpa menatap Aruna. Aruna langsung menunduk. “Aku nggak mau sembunyi.” lirih Aruna. “Dan aku nggak mau hidup dengan bayangan,” jawab Dava. “Dan itu membuat Kita impas.” lanjutnya lagi. Aruna ingin berkata sesuatu, tapi tidak menemukan kalimat yang tidak terdengar seperti pembelaan, akhirnya Aruna hanya diam saja. Malamnya, Aruna membuka ponsel lagi. Pesan Rama tidak bertambah. Namun kehadirannya terasa seperti cahaya kecil yang mengganggu gelap, bukan untuk menerangi. Ia menulis, lalu menghapus. Menulis lagi dan lalu menghapus lagi, seperti itu beberapa kali dan pada akhirnya ia mengetik satu kalimat. Aruna : "Kamu bahagia di sana, Ram?" Balasan datang lama setelah itu. Rama : "Aku lagi belajar untuk bahagia." Aruna menatap layar, kata itu terasa familiar baginya. Aruna : "Aku juga sama seperti itu." Ada jeda yang terasa panjang. Rama : "Belajar apa?" Aruna menutup mata. Ia tahu jawabannya, tapi tidak siap untuk menuliskannya. Hari hari berikutnya, jarak dengan Dava makin terasa dan nyata. Mereka tidak bertengkar justru itulah yang paling menyakitkan bagi Aruna. Tidak ada ledakan yang bisa menjadi alasan untuk ia harus pergi. Hanya perasaan yang tidak diinginkan yang pelan pelan akan tumbuh. Pada suatu malam, Dava mengantar Aruna pulang tanpa turun dari motor. “Kamu nggak masuk, Dav?” tanya Aruna menatap Dava. Dava menggeleng. “Aku capek.” jawab Dava langsung. “Kita jarang ngobrol lagi,” kata Aruna lirih. Dava tersenyum kecil. “Aku lagi nyoba nggak jadi orang yang menuntut.” ucap Dava lirih. Suara Aruna tercekat. “Aku nggak minta itu, Dav.” lirih Aruna menunduk. “Aku tahu,” jawab Dava. “Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang selalu nunggu kamu selesai untuk memilih.” lanjut Dava lagi. Kalimat itu kembali lebih dingin dari sebelumnya. “Kalau aku salah?” tanya Aruna lirih. Dava menatap Aruna. “Salah ke siapa?” tanya Dava heran. Aruna tidak bisa menjawab, dia hanya diam dan menunduk. “Sudah malam, kamu tidur yang cukup,” kata Dava akhirnya. “Kita ngomong lagi besok.” ucap Dava sebelum pergi. Motor melaju dengan kencang, meninggalkan Aruna di depan kos yang masih berdiri dengan perasaan yang tidak bernama. Aruna melihat kepergian Dava sampai bayangan itu tak terlihat lagi. Malam itu Aruna kembali memandangi lukisan pemberian dari Rama. Ia tidak menangis tapi ia hanya merasa hatinya seperti kosong seperti seseorang yang sedang berdiri di tengah dua kehidupan dan tidak sepenuhnya hidup di salah satunya. Ia menyadari sesuatu yang terasa pahit! Cinta gila-gilaan tidak selalu berteriak. Kadang ia hadir sebagai keheningan yang menuntut setiap jawaban. Dan Aruna tahu keheningan itu tidak akan bertahan dengan lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD