Sisa yang Tidak Ikut Pergi

1000 Words
Rama harus berangkat pagi-pagi sekali. Tidak ada pesan perpisahan yang panjang untuk Aruna dan tidak ada janji yang akan kembali. Hanya ada satu notifikasi masuk ke ponsel Aruna pada pukul lima lewat sedikit, ketika saat itu langit masih abu-abu dan kota itu belum sepenuhnya bangun, yaitu pesan dari Rama. Rama : "Aku berangkat ya, jaga dirimu baik-baik, Aruna." Aruna membaca pesan dari Rama berkali-kali. Tidak ada emotikon manis dan tidak ada kata sayang yang tertulis namun justru itu yang membuat d**a Aruna semakin terasa sesak. Ia tidak membalas bukan karena Aruna tidak mau. Tapi karena apa pun yang ia tulis itu akan terdengar seperti rasa penyesalan baginya dan Rama sudah cukup lama hidup dari hal seperti itu. Hari itu Aruna mencoba mulai belajar untuk menjalani perannya yang baru. Ia langsung menemui Dava pada sore hari, tersenyum ketika seharusnya ia tersenyum, dan menggenggam tangan ketika seharusnya ia menggenggam. Ia mengangguk di waktu yang sangat tepat, tertawa di jeda yang rasa aman. Semua tampak terlihat normal, bahkan bahagia jika akan di lihat dari luar. “Kamu kelihatan lebih tenang dari sebelumnya, Ar.” kata Dava sambil menyeruput secangkir kopi di tangannya. Aruna mengangguk mantap. “Iya, aku mencoba untuk lebih baik lagi , Dav.” ucap Aruna dengan santai. Dava meliriknya, seolah ia ingin berkata sesuatu tapi ia mengurungkannya. “Kalau capek kamu bilang aja, ya.” ucap Dava akhirnya. “Aku nggak apa apa kok.” jawab Aruna cepat bahkan terlalu cepat. Dava terlihat mengangguk saja. Kemudian mereka berjalan pelan menyusuri trotoar. Lampu-lampu terlihat mulai menyala dan langsung terlihat terang. Dava bercerita banyak tentang pekerjaannya, tentang proyek bisnis barunya, dan tentang rencana rencana yang konkret dan terasa terukur. Aruna mendengarkan dengan sangat teliti, tapi pikirannya sesekali melayang ke studio seni, ke kanvas, dan ke koper kecil yang di tutup dengan rapat. “Kamu dengerin aku kan, Ar?” tanya Dava. “Iya,” jawab Aruna, lalu Aruna mengulang sebagian cerita yang barusan di dengarnya dan itu sedikit cukup untuk meyakinkan bagi Dava. Dava tersenyum tapi senyum itu bertahan tak lama dan singkat saja. Pada malamnya, saat Aruna pulang ke kos, ia duduk lama di lantai. Lukisan pemberian dari Rama di sandarkan di dinding dan masih tertutup rapih oleh kain. Ia belum berani untuk membukanya lagi, ia masih takut menemukan dirinya sendiri di sana. Hari hari berikutnya berjalan seperti latihan. Aruna belajar untuk mencintai dengan cara yang lebih rapi lagi. Ia mengatur jadwal dan menjaga nada bicara, menimbang setiap reaksi. Dava adalah pasangan yang baik perhatian, hadir dan tidak selalu berisik. Semua yang pernah Aruna pikir ia butuhkan dan kini ia temui di diri Dava. Namun ada satu hal yang tidak ikut berubah. Setiap kali ponselnya berbunyi pasti dadanya selalu menegang dan setiap kali ia melewati kampus, langkahnya terasa lambat tanpa sadar dan setiap kali ia mendengar kata pergi, ada rasa bagian dirinya yang seperti mengecil. “Aruna, kamu kayak lagi di sini tapi nggak sepenuhnya ada,” kata Dava suatu malam, pelan. Aruna terdiam. “Maksud kamu apa?” tanya Aruna tersentak. “Kamu itu ada bersama ku,” lanjut Dava, memilih kata. “Tapi rasanya seperti kamu lagi menahan sesuatu.” ucap Dava lagi. Aruna memejamkan mata. “Aku lagi nencoba untuk belajar.” ucap Aruna tanpa melihat ke arah Dava. “Belajar apa?” tanya Dava penasaran. “Belajar untuk melepaskan,” jawab Aruna cepat. Dava mengangguk, tapi raut wajahnya tidak sepenuhnya terasa lega. Seminggu setelah kepergian Rama, Aruna mencoba memberanikan diri untuk membuka lukisan itu kembali. Ia duduk di lantai dan kain penutup lukisan itu langsung jatuh ke samping Aruna. Perempuan berdiri di peron itu menatap ke arah depan, bukan ke dua arah bayangan yang berada tepat di belakangnya. Namun bayangan bayangan itu tetap ada memanjang, tampak gelap, dan tidak bisa dihapus. Di sudut kanvas, Rama menulis satu kalimat kecil. Kadang kita tidak kehilangan orang. Kita hanya kehilangan diri kita saat bersamanya. Air mata Aruna langsung jatuh tanpa suara. Ia tidak merindukan Rama dengan cara yang meledak ledak. Ia merindukan nya dengan cara yang lebih berbahaya, terlihat tenang, menetap, dan seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar pergi. Dava dapat merasakan perubahan itu. Bukan dari kata kata Aruna melainkan dari hal-hal kecil yang ia lihat di diri Aruna, cara Aruna menarik tangan lebih cepat, cara ia tidak lagi menatap lama dan cara ia sering terlihat lelah setelah bersama Dava. “Kamu menyesal, Aruna?” tanya Dava suatu malam dengan tiba-tiba. Aruna terkejut. “Kenapa kamu nanya gitu?” tanya Aruna langsung. “Karena aku bukan orang yang bodoh,” jawab Dava. “Aku bisa merasakannya dan aku tahu rasanya dipilih dengan setengah hati.” lanjut Dava lagi menatap Aruna. Kalimat itu langsung menghantam Aruna lebih keras dari teriakan. “Aku di sini,” kata Aruna, hampir memohon. “Aku tahu,” balas Dava. “Pertanyaannya hatimu lagi di mana?” tanya Dava. Aruna membuka mulut lalu menutupnya lagi. Dia tak menjawab perkataan Dava. Itulah jawabannya. Malam itu mereka berpisah tanpa ada pertengkaran, tanpa ada pelukan yang lama. Di depan kos, Dava berkata pelan, “Aku nggak akan maksa kamu berubah, Ar. Tapi coba untuk bisa merelakan” Aruna menatapnya. “Aku nggak mau menyakiti kamu.” lirih Aruna. “Aku sudah terluka, Aruna sejak kamu harus belajar untuk mencintai,” kata Dava dengan jujur. “Tapi aku masih tetap di sini bersama mu, Ar” lanjut Dava lagi. Aruna cuma bisa menunduk tanpa berani menatap mata Dava langsung. Aruna masuk ke kamar dengan d**a yang terasa sesak. Ia menyadari sesuatu yang terlambat untuk ia pahami sekarang ini. Ia tidak memilih antara dua orang itu namun ia memilih untuk menunda kejujuran pada dirinya sendiri. Dan cinta yang seharus nya menyembuhkan dengan cara yang pelan pelan namun kini berubah menjadi beban bagi semua yang terlibat di dalam nya. Berbeda di kota yang lain, Rama membuka studio baru dan di kota ini, terlihat Aruna berdiri di antara keputusan yang sudah ia buat dan perasaan yang belum pernah ia selesai kan dan itulah awal dari luka yang pasti nya lebih dalam lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD