Aruna tidak langsung menjawab.
Keheningan di antara mereka bukan lagi canggung melainkan berat. Dava berdiri di dekat pintu, tangannya mengepal longgar, seolah menahan diri untuk tidak berkata lebih banyak. Aruna duduk di tepi ranjang kos, punggungnya tegak tapi jiwanya berantakan.
“Aku butuh waktu,” kata Aruna akhirnya. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar.
Dava tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. “Aku udah duga.” jawab Dava.
“Aku bukan mau mempermainkan,” lanjut Aruna cepat. “Aku cuma, aku belum pernah ada di titik ini sebelumnya.” lirih Aruna.
“Kita semua belum pernah,” jawab Dava pelan. “Tapi kita tetap harus mutuskan sesuatu.”
Aruna menunduk. “Aku minta satu hari.”
“Satu hari?” Dava mengulang, pahit. “Rama pergi lusa, kan?”
Aruna mengangguk.
“Berarti kamu mau satu hari untuk memastikan perasaanmu ke dia,” ujar Dava. Bukan bertanya menyimpulkan.
Aruna mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi jujur. “Aku mau satu hari buat jujur ke diriku sendiri.”
Dava menatapnya lama. Di wajah itu ada cinta, ada lelah, ada ego yang berusaha diturunkan setenang mungkin.
“Oke,” katanya akhirnya. “Satu hari.”
Aruna menghembuskan napas lega yang bercampur rasa bersalah.
“Tapi denger baik-baik,” lanjut Dava. “Besok malam, aku mau jawaban. Apa pun itu.”
“Aku janji,” ucap Aruna.
Dava mengangguk singkat. Ia melangkah ke pintu, berhenti sejenak. “Aku harap kamu tahu, Aruna. Aku nggak pernah minta jadi yang dipilih karena kasihan.”
Aruna menelan ludah. “Aku tahu.”
Pintu tertutup pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Aruna merasa benar-benar sendirian.
Malam itu Aruna tidak tidur.
Ia berbaring, menatap langit-langit kos yang penuh bercak lembap. Kenangan datang tanpa izin, wajah Rama saat pertama kali tersenyum padanya di studio, tangan Dava yang selalu sigap meraih ketika ia cemas, tawa-tawa kecil yang dulu terasa ringan dan kini berubah menjadi beban.
Pagi datang terlalu cepat.
Aruna mandi seadanya, lalu duduk lama di depan cermin. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang akan memilih masa depanlebih seperti orang yang sedang berkabung.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rama.
Rama : Aku di studio sampai siang, kalau kamu mau ketemu.
Aruna menutup mata sebentar, lalu mengetik balasan singkat.
Aruna : Aku ke sana.
Studio seni terasa berbeda di pagi hari. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, menimpa kanvas-kanvas yang setengah jadi. Rama berdiri di dekat rak, membenahi lukisan yang sudah dibungkus plastik.
“Kamu datang,” katanya tanpa nada terkejut.
“Aku janji,” jawab Aruna.
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada basa-basi. Tidak ada senyum kecil yang biasanya menjadi pelindung.
“Aku cuma punya waktu sampai siang,” kata Rama. “Sore aku harus ke rumah orang tua. Malam beres-beres.”
Aruna mengangguk. “Aku nggak akan lama.”
Rama menatapnya. “Kamu kelihatan capek.”
“Aku memang capek,” jawab Aruna jujur. “Capek bingung.”
Rama tersenyum kecil. “Aku dulu.”
Kalimat itu membuat Aruna tersentak. “Dulu?”
“Iya,” Rama mengangguk. “Waktu aku mutusin buat mundur dari kamu.”
Aruna menunduk. “Aku nggak tahu.”
“Kamu nggak nanya,” jawab Rama lembut, tapi tegas.
Aruna menarik napas dalam. “Aku di sini bukan buat minta kamu nunggu.”
“Aku tahu,” kata Rama.
“Aku juga nggak mau kamu pergi dengan harapan palsu,” lanjut Aruna. “Aku cuma mau jujur sebelum semuanya terlambat.”
Rama bersandar ke meja, menyilangkan tangan. “Jujur itu risiko.”
“Aku masih cinta kamu,” kata Aruna, cepat, seperti orang melompat dari tebing sebelum pikirannya berubah. “Dan aku benci fakta itu karena aku juga peduli sama orang lain.”
Rama tidak terkejut. Ia mengangguk pelan. “Aku bisa nebak.”
“Aku nggak mau kamu jadi masa lalu yang nggak selesai,” lanjut Aruna, air matanya jatuh. “Tapi aku juga nggak mau kamu jadi alasan aku menghancurkan hidup orang lain.”
Rama mendekat satu langkah. “Aruna, dengar. Aku pergi bukan karena kamu memilih orang lain. Aku pergi karena aku tahu aku akan tetap mencintai kamu, bahkan kalau kamu nggak memilih aku.”
Aruna terisak.
“Itu bukan posisi yang sehat,” lanjut Rama. “Buat aku.”
“Terus kalau aku bilang aku mau kamu tinggal?” tanya Aruna lirih.
Rama menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca. “Aku akan tinggal.”
Harapan itu menyala terlalu cepat di d**a Aruna.
“Tapi,” tambah Rama, “aku akan tinggal dengan ketakutan bahwa suatu hari kamu akan menyesal memilih aku.”
Kalimat itu mematikan cahaya tadi.
“Aku nggak mau jadi pilihan yang lahir dari panik,” ujar Rama. “Aku mau dipilih karena kamu yakin. Bukan karena aku mau pergi.”
Aruna menangis tanpa suara. “Aku nggak yakin sama apa pun.”
Rama menghela napas panjang. “Maka itu jawabanmu.”
Ia mengambil satu kanvas kecil, menyerahkannya ke Aruna. “Ini buat kamu.”
Aruna menerima dengan tangan gemetar. Lukisan itu sederhana seorang perempuan berdiri yang berdiri, dengan dua bayangan memanjang ke arah berbeda.
“Aku nggak mau kamu kehilangan dirimu sendiri karena memilih,” kata Rama. “Apa pun jawabanmu nanti.”
Aruna memeluk lukisan itu erat. “Kamu terlalu baik.”
Rama tersenyum pahit. “Atau terlalu pengecut buat memaksa.”
Sore itu, Aruna berjalan tanpa tujuan. Ia duduk di taman kecil dekat kos, menatap orang-orang yang berlalu lalang dengan hidup yang tampak sederhana.
Ponselnya kembali bergetar ada pesan dari Dava.
Dava : "Kita ketemu malam ini?"
Aruna menutup mata.
Aruna : "Iya."
Malam datang dengan udara lembap. Dava menunggunya di kafe kecil yang biasa mereka datangi. Tempat itu sunyi, lampu kuning temaram, lagu pelan mengalun.
“Kamu sudah ketemu Rama?” tanya Dava tanpa pembuka.
“Sudah,” jawab Aruna.
Dava mengangguk. “Dan?”
Aruna menarik napas dalam-dalam. Inilah saatnya. Tidak ada lagi jeda.
“Aku masih cinta dia,” kata Aruna. “Tapi aku juga tahu aku belum siap hidup dengan rasa takut kehilangan seperti itu setiap hari.”
Dava menegang.
“Aku butuh stabil,” lanjut Aruna, suaranya bergetar. “Dan kamu memberiku itu.”
Hening panjang.
“Jadi aku pilihan aman?” tanya Dava, datar.
Aruna menggeleng cepat. “Bukan cuma itu. Aku peduli. Aku mau mencoba sepenuh hati.”
Dava menatapnya lama, lama sekali. Lalu ia tersenyum kecil, senyum yang tidak sepenuhnya menang.
“Aku terima,” katanya pelan. “Tapi aku akan jujur juga.”
Aruna menunggu.
“Aku akan selalu bertanya-tanya,” lanjut Dava, “apakah kamu memilih aku, atau melarikan diri dari kehilangan yang lebih menyakitkan.”
Air mata Aruna jatuh. “Aku nggak tahu caranya mencintai tanpa takut.”
“Belajar,” jawab Dava. “Atau kita akan sama-sama lelah.”
Mereka duduk berhadapan, tidak berpelukan, tidak tersenyum lega. Keputusan telah dibuat tapi damai belum datang.
Di tempat lain, Rama sedang menutup koper terakhirnya. Dan tanpa mereka sadari, pilihan hari ini belum mengakhiri apa pun.
Ia baru saja memulai luka yang berbeda.