Kebahagiaan Aruna

774 Words
Setelah pertemuan Aruna di galeri Rama pada malam itu, Aruna dan Rama tidak langsung menjadi apa-apa. Tidak ada sebuah kesepakatan dari mereka dan tidak ada kalimat yang terucap salah satu dari mereka. “kita harus mulai lagi”, tidak ada. Mereka hanya mulai dengan seringnya mereka berada di satu ruangan yang sama tanpa ada unsur sengaja dan tanpa ada alasan yang harus mereka buat-buat. Semua berjalan dengan biasa saja, dengan rasa hati yang tenang seperti tak memiliki masa lalu. Kadang Aruna harus mampir ke galeri saat pulang jam kerja dan terkadang Rama hanya mengirim sebuah foto lukisan yang baru ia buat, tanpa ada caption yang berlebihan semuanya terasa biasa aja. Percakapan mereka terasa lebih ringan, tapi selalu ada yang meninggalkan sesuatu yang harus tertinggal. Dan yang paling berbahaya justru adalah rasa kenyamanan itu kembali datang. Rama tidak lagi mendekat dengan sebuah harapan. Ia hadir tanpa harus menarik Aruna ke mana pun dan justru itu yang membuat Aruna mulai merasa goyah. “Kenapa kamu nggak pernah nanya kita ini apa, Ram?” tanya Aruna pada suatu malam, ketika mereka sedang duduk berhadapan di lantai galeri dan bersandar pada dinding yang terasa dingin bagi mereka. Rama tidak langsung menjawab pertanyaan dari Aruna. Ia langsung menatap pada lukisan di depannya, dengan garis-garis yang terlihat tenang dan warna yang terasa lembut. “Karena kalau aku tanya,” katanya pelan sambil melirik Aruna sekilas, “aku takut jawabannya bikin salah satu dari kita akan mundur lagi.” ucap Rama lagi tanpa menoleh. Aruna menelan ludah dengan susah payah. “Dan kalau kita hanya diam?” tanya Aruna lirih, menatap pada Rama. “Setidaknya kita harus mulai belajar jujur mulai dari sekarang.” ucap Rama tegas pada Aruna. Kalimat itu tidak keluar dengan cara yang romantis. Tapi justru itulah yang membuat Aruna langsung terdiam tanpa bisa berkata lagi. Hari-hari berjalan dengan pola yang lebih baru dan lebih terasa berwarna. Aruna mulai menyadari dirinya bisa tertawa kembali dengan rasa yang lebih mudah dan terasa lepas. Tidurnya mulai terasa lebih nyenyak. Ia tidak lagi merasa perlu lagi untuk menjelaskan dirinya kepada Rama. Bahwa ia tidak lagi seperti dulu, di mana ia selalu takut terlihat kurang sempurna, terlalu berlebihan, atau pun salah untuk mengambil sebuah keputusan. Namun di sela kebahagiaan kecil itu, ada rasa takut yang mulai tumbuh secara diam-diam. Ia takut untuk berharap lagi dan takut jika kali ini ia sudah siap dengan segala hal, tapi malah Rama yang tidak ingin melangkah lebih jauh lagi. Pada suatu sore, Dava muncul kembali bukan secara langsung atau bertemu secara tidak sengaja, tapi ia muncul lewat cerita dari orang lain. “Dava sekarang dengan serius bangun usahanya lagi,” kata seorang teman lama Aruna. “Katanya dia mau buka cabang baru lagi. Dia kelihatan lebih bahagia kali.” ucap teman lama Aruna. Aruna hanya mengangguk menanggapi ucapan dari temannya dan ia tersenyum kecil. Tidak ada rasa cemburu yang berlebihan dan tidak ada kata penyesalan yang terucap dari nulut. Tapi seperti ada rasa kehilangan yang berbeda, rasa kehilangan versi dirinya yang dulu pernah mencintai dengan cara yang sangat salah. Pada malamnya, Aruna menulis lagi di jurnal. Aku tidak merindukan Dava tapi aku hanya mengingat siapa diriku saat dulu masih bersamanya. Di sebuah galeri, Rama sedang menyiapkan pameran kecil. Aruna dengan senang hati membantu untuk menata ruangan agar terlihat lebih nyaman, menyusun kursi dengan rapi dan penuh kehati-hatian dan membersihkan lantai dengan sangat bersih. Mereka saling bekerja sama dan terlihat selalu berdampingan, tanpa ada banyak bicara. Mereka melakukannya dengan hati yang terasa lebih ringan. “Ar, aku akan pindah kota dulu,” kata Rama secara tiba-tiba. Aruna seketika berhenti bergerak. “Pindah kota ? Ke mana?” tanya Aruna heran. “Ke luar kota hanya waktu yang sementara dan tidak akan lama. Di sana ada tawaran residensi seni.” ucap Rama menjelaskan pada Aruna. Berita itu tidak menghantam dengan keras tapi cukup untuk membuat d**a Aruna mengeras. “Kapan waktunya?” tanya Aruna. “Masih ada waktu sebulan lagi kok.” ucap Rama yang menatap Aruna. Sebulan itu waktu yang terlalu singkat untuk membangun sesuatu, terlalu lama baginya untuk berpura-pura tidak peduli. “Kenapa kamu baru bilang sekarang, Ram?” tanya Aruna, suaranya lebih pelan tapi Rama masih masih dengan jelas mendengarnya. Rama menoleh. “Karena aku nggak mau kamu tahu dari orang lain.” ucap Rama pelan. Aruna mengangguk menanggapinya, dan ia menghargai keputusan Rama itu. Namun pada malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aruna pulang dengan langkah yang terasa berat baginya. Ia langsung sadar. Kedekatan yang tanpa arah selalu berakhir pada satu pertanyaan. siapa yang lebih dulu berharap? Dan Aruna mulai merasa takut kalau jawaban nya itu adalah mengarah kepada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD