Aruna dan Rama tidak pernah sepakat untuk “memulai” kembali apa pun itu.
Mereka hanya bertemu lagi dan tidak pernah berhenti.
Tidak ada jadwal yang mereka tetap kan dan juga tidak ada janji yang akan selalu ada. Tapi anehnya, kehadiran itu seperti konsisten. Kadang di tempat galeri, kadang di tempat warung kopi yang kecil dekat dengan kampus lama Rama dan kadang hanya sebuah pesan singkat yang tidak menuntut balasan dengan cepat.
Hubungan mereka seperti jeda napas. Yang tidak mereka sadari, tapi juga selalu mereka butuhkan.
Aruna sangat menyukai cara Rama yang tidak pernah bertanya ke mana hubungan ini akan pergi. Dan Rama pun menyukai cara Aruna tidak lagi meminta kepastian sebelum ia siap memberikannya sebuah harapan.
Mereka sama-sama sedang belajar dalam satu hal. Tidak semua kedekatan itu harus segera diberi nama.
Pada suatu malam, Rama mengajak Aruna ke atap gedung di galeri itu. Kota yang indah itu terlihat terbentang di bawah mereka, lampu-lampu kecil seperti titik-titik kehidupan yang tidak pernah benar-benar padam.
“Kalau kamu capek, kamu boleh bilang,” kata Rama sambil duduk bersandar ke dinding menatap langit yang indah.
Aruna menoleh. “Capek kenapa?” tanya Aruna merasa aneh.
“Capek dekat dengan ku,” jawab Rama jujur. “Dan capek untuk mencoba nya lagi.” lanjut Rama lagi.
Aruna langsung terdiam cukup lama. Angin malam menggerakkan rambutnya yang tergerai.
“Aku capek untuk pura-pura kuat,” kata Aruna pada akhirnya. “Dulu aku pikir cinta itu soal bertahan tapi sekarang aku sadar kadang cinta itu soal tahu kapan berhenti menyakiti diri kita sendiri.” ucap Aruna tenang.
Rama menatapnya, bukan dengan rasa iba, tapi dengan rasa pengertian yang semakin dalam.
“Aku nggak mau jadi orang yang kamu pegang karena takut kamu akan jatuh kembali,” kata Rama pelan. “Aku mau jadi orang yang kamu pilih karena kamu berdiri dengan pilihan yang akan kamu putuskan sendiri.” lanjut Rama melirik Aruna sekilas.
Kalimat itu membuat d**a Aruna terasa menghangat sekaligus tak gentar.
“Aku sedang belajar untuk berdiri di kakiku sendiri,” jawab Aruna jujur.
“Aku tahu,” kata Rama. “Makanya aku di sini, tapi aku nggak akan menarik kamu ke arahku.” lanjut Rama lirih.
Itu bukan janji tapi itu hanya sebuah batasan.
Dan anehnya, batasan itu membuat Aruna ingin kembali untuk mendekat.
Hari-hari berikutnya, Aruna mulai menyadari sesuatu yang membuatnya merasa gelisah.
Tapi ia merasa nyaman bahkan terlalu nyaman baginya. Bukan cinta yang meledak-ledak seperti dulu lagi. Bukan juga sebuah rindu yang membuatnya lupa pada dirinya sendiri. Tapi rasa nyaman yang mulai tumbuh kembali dengan cara yang pelan, nyaris tidak terasa dan justru itu yang lebih menakutkan bagi Aruna.
Karena rasa nyaman berarti risiko kehilangan yang lebih terasa sunyi.
Pada suatu sore, Aruna bertemu dengan Dava secara tidak sengaja di sebuah toko buku. Mereka saling tersenyum canggung, lalu tertawa kecil karena itu hanya sebuah kebetulan saja.
"Hai." Sapa Dava terlebih dulu dengan senyumnya.
Aruna juga balas dengan senyuman dan berkata.
"Hai." Jawab Aruna menyapa kembali.
“Kamu kelihatan bahagia, Aruna.” kata Dava.
“Aku merasa stabil aja, Dav.” jawab Aruna setelah berpikir.
Dava mengangguk. “Itu lebih langka.” ucap Dava melirik.
Mereka berbincang sebentar. Menanyakan kabar dan kesibukan merek juga berbicara tentang sebuah buku dan tentang pekerjaan. Tidak ada sisa luka yang terlihat di sana hanya ada dua orang yang pernah saling mencintai dan kini tidak lagi saling menuntut.
Saat berpisah, Dava berkata satu hal yang tertinggal di kepala Aruna sepanjang perjalanan pulang.
“Kalau kamu menemukan seseorang yang membuat kamu tenang tanpa harus mengorbankan dirimu, jangan kamu ulangi kesalahan kita.” ucap Dava waktu itu.
Aruna tidak menjawab, tapi hatinya terasa bergetar.
Malamnya, Aruna menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengetik sebuah pesan.
Aruna : Aku takut, Rama.
Balasan langsung datang cepat.
Rama : Takut apa?
Aruna : Takut kalau kali ini aku benar-benar siap tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih nyata.
Ada jeda yang lama.
Rama : Aku juga takut.
Aruna menahan napas.
Rama : Tapi aku lebih takut kalau kita tidak pernah jujur dan akhirnya saling menebak.
Aruna menutup mata, kemudian membalas.
Aruna : Aku nggak mau kehilangan diriku lagi.
Rama : Aku nggak mau kehilangan kamu karena kamu lupa menjaga dirimu.
Pesan itu tidak ada yang menawarkan sebuah solusi. Tidak ada kata yang menenangkan dengan sebuah janji.
Namun pada malam itu, Aruna merasa satu hal dengan jelas. Ketakutan ini bukan tanda bahaya, ini hanya sebuah tanda bahwa perasaannya mulai hidup kembali, bukan sebuah ilusi semata.
Di kamar yang terasa sunyi, Aruna berdiri di depan cermin. Ia melihat pantulan dirinya yang berbeda dari waktu setahun yang lalu. Ia melihat dirinya yang lebih terasa tenang, lebih sadar dan lebih terlihat jujur.
Ia akhirnya mengerti cinta gila-gilaan bukan selalu tentang kehilangan yang kendali.
Kadang, cinta paling berani adalah tetap tinggal tanpa harus mengikat dan percaya bahwa jika waktunya akan tepat, segalanya akan memilih dengan caranya sendiri.