Aruna pulang ke kos dengan kepala penuh dengan pikiran. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan bayangan yang memanjang di aspal basah. Kota selalu tampak sama setiap malam, tapi perasaan Aruna tidak pernah benar-benar menetap di satu titik.
Ia menutup pintu kamar perlahan, lalu bersandar sebentar di baliknya. Dadanya terasa sesak, bukan karena tangis yang ingin keluar, tapi karena terlalu banyak hal yang ingin disembunyikan.
Dava tidak memaksanya malam itu. Ia hanya mengantar sampai depan kos, memastikan Aruna masuk dengan aman, lalu pergi tanpa banyak kata. Itu seharusnya membuat Aruna lega. Tapi entah kenapa, keheningan itu justru terasa lebih berat.
Aruna duduk di lantai, menyandarkan punggung ke kasur. Ia membuka ponsel tanpa tujuan, hanya untuk menemukan satu nama yang sudah ia duga sejak awal, Rama.
Pesan terakhirnya masih belum terbalas.
Aruna menggigit bibirnya. Ia tahu, membiarkan pesan itu menggantung bukan hal yang baik. Tapi menjawabnya juga berarti membuka pintu yang sedang ia coba tutup perlahan.
Akhirnya, ia mengetik.
Aruna : "Maaf baru balas, aku baru sampai kos."
Balasan datang hampir seketika.
Rama : "Nggak apa-apa, aku cuma mau tahu kamu selalu aman."
Kalimat yang pendek, tidak ada tanya lanjutan dan tidak ada tuntutan justru itu yang membuat Aruna merasa bersalah.
Ia meletakkan ponsel di sampingnya, menatap langit-langit kamar yang mulai kusam. Dulu, ia selalu merasa tenang ketika berbicara dengan Rama. Sekarang, ketenangan itu bercampur dengan rasa takut, takut memberi harapan dan takut menariknya terlalu dekat.
Aruna tahu, ia tidak sedang bermain-main. Tapi perasaannya juga tidak sesederhana hitam dan putih.
Keesokan paginya, Aruna datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Ia ingin tenggelam di studio, mengalihkan pikiran dengan kanvas, cat, dan musik yang mengalun pelan dari speaker kecil.
Studio seni masih sepi. Aroma cat dan kayu terasa akrab. Ia menggelar kanvas di lantai, kemudian duduk bersila, lalu mulai menarik garis demi garis tanpa benar-benar tahu apa yang ingin ia buat.
Terlihat wajah-wajah samar muncul di kanvas. Bukan wajah yang jelas, hanya bayangan mata dan garis rahang. Ada dua sosok yang berbeda, saling berhadapan, tapi tidak pernah benar-benar menyatu.
“Masih pagi tapi kelihatan kayak abis perang aja,” suara Rama muncul dari belakang.
Aruna menoleh, sedikit terkejut. “Huh, kamu ngagetin aja.”
Rama tertawa kecil, ia membawa dua gelas kopi dari vending machine. “Kupikir kamu butuh ini.” ucapnya sambil menyerahkan kopi pada Aruna.
Aruna menerimanya. “Makasih.”
Mereka duduk berdampingan dengan jarak yang cukup dekat untuk merasa hangat, tapi cukup jauh untuk menahan diri.
Rama memperhatikan kanvas Aruna. “Ini baru?” tanyanya.
“Iya.” jawab Aruna.
“Keliatan berat.” ucap Rama sambil menyeruput kopi miliknya.
Aruna tertawa pendek. “Semua yang aku gambar belakangan ini berat.” lirih Aruna.
Rama mengangguk pelan. “Kadang kita nggak perlu cari tema, tema yang nyari kita.” ucap Rama.
Kalimat itu membuat Aruna diam.
Rama menatapnya, lalu berkata dengan nada hati-hati, “Kalau kamu capek, kamu boleh istirahat, Ar. Dunia nggak bakal runtuh cuma karena kamu berhenti sebentar.” lanjutnya.
Aruna menoleh. “Kamu selalu ngomong gitu.”
“Karena kamu selalu lupa,” balas Rama ringan.
Hening menyusup di antara mereka. Hening yang tidak canggung, tapi penuh hal yang tidak terucap.
“Aku lihat kamu belakangan ini sering pergi sama Dava,” ujar Rama akhirnya. Nada suaranya datar, nyaris santai.
Aruna menegang sedikit. “Iya.” jawabnya.
Rama mengangguk, menatap kopi di tangannya. “Dia baik.”
Aruna tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut satu kata saja bisa terdengar seperti pembelaan atau pengakuan.
Rama melanjutkan, “Aku cuma mau kamu tahu satu hal. Aku nggak pernah berniat berdiri di tengah hidup kamu dan bikin kamu bingung.”
Aruna menatapnya cepat. “Rama,” lirihnya.
“Tenang,” Rama tersenyum tipis. “Aku cuma pengen jujur kalau suatu hari kamu ngerasa aku harus mundur, kamu harus bilang jangan diam aja.” ujarnya.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada amarah.
Aruna menunduk. “Aku nggak pengen kamu mundur.” lirih Aruna.
“Terus apa yang kamu mau?” tanya Rama lembut.
Pertanyaan sederhana tapi Aruna tidak punya jawaban.
Di sisi lain, Dava duduk di ruang rapat kecil kantornya. Laptop terbuka, presentasi sedang berjalan, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Seorang staf memanggil namanya dua kali sebelum ia tersadar.
“Maaf,” ucap Dava singkat. “Lanjut.” ucapnya lagi.
Setelah rapat selesai, Dava bersandar di kursinya, menghela napas panjang. Ia jarang merasa ragu. Biasanya, hidupnya berjalan lurus dan jelas. Tapi Aruna membuatnya mempertanyakan banyak hal terutama kesabarannya sendiri.
Ia mengambil ponsel, menatap nama Aruna, lalu menutupnya lagi. Ia tidak ingin terlihat menekan tapi diam juga terasa seperti menyerah.
Akhirnya, ia mengirim pesan.
Dava : "Kamu uda makan siang?"
Beberapa menit berlalu sebelum balasan datang.
Aruna : "Belum, kenapa?
Dava : "Aku jemput, kita makan bentar aja."
Aruna menatap layar ponsel itu lama. Ia ingin berkata tidak, tapi juga tidak ingin menjauh terlalu cepat.
"Iya." balas Aruna akhirnya.
Dava pun menjemput Aruna dan makan siang itu berlangsung dengan tenang dan santai. Tidak ada pembicaraan berat. Dava bercerita soal klien yang rewel, Aruna bercerita soal tugas kampus. Di sela-sela itu, ada tawa kecil yang terasa ringan.
Tapi di balik semua itu, ada jarak tipis yang sama-sama mereka sadari.
“Aruna,” ucap Dava saat mereka sudah hampir selesai makan. “Aku nggak mau jadi orang yang bikin kamu merasa terpojok.” lanjutnya.
Aruna menatapnya.
“Kalau kamu butuh waktu, aku bisa kasih,” lanjut Dava. “Aku cuma nggak mau kamu diam-diam menjauh.”
Kalimat itu mengingatkan Aruna pada ucapan Rama pagi tadi.
Dua orang, dua permintaan yang hampir sama. Jangan diam dan jangan pergi tanpa bicara.
“Aku lagi bingung,” ujar Aruna jujur. “Bukan karena kamu salah, tapi karena aku sendiri yang masih terhanyut.” lirih Aruna.
Dava mengangguk pelan. “Aku bisa nunggu, tapi aku juga manusia, Aruna.”
Kalimat itu tidak mengandung ancaman. Justru kejujuran itulah yang membuat Aruna semakin tertekan.
Malamnya, Aruna kembali ke kamar dengan perasaan lelah yang tidak bisa dijelaskan. Ia duduk di depan kanvas yang tadi pagi belum selesai.
Kali ini, ia menggambar garis lebih tegas. Tidak ada lagi dua sosok yang berhadapan. Hanya satu perempuan berdiri sendirian, dengan bayangan yang terbelah di belakangnya.
Aruna menatap hasil gambarnya lama. Ia akhirnya sadar, masalahnya bukan Rama atau Dava.
Masalahnya adalah dirinya yang belum berani memilih, tapi juga belum sanggup melepaskan. Dan selama ia terus berdiri di tengah, luka itu hanya akan semakin dalam.