Angin sore menyapu halaman di tempat fakultas seni ketika Aruna menunggu di dekat tangga kecil yang mengarah ke studio musik. Rambutnya sedikit berantakan ditiup angin, tapi ia tidak peduli. Sejak pesan singkat dari Rama masuk “Tunggu aku sebentar ada yang mau aku kasih lihat.” dadanya tak berhenti berdebar.
Rama jarang minta Aruna untuk menunggu. Biasanya dia yang menunggu, entah di kantin, di depan studio, atau bahkan di halte ketika hujan mendadak turun. Kali ini rasanya terbalik, dan itu membuat Aruna lebih gelisah dari biasanya.
Langkah cepat terdengar mendekat, suara khas sepatu boots Rama terdengar menghentak ringan.
“Sorry lama,” ujar Rama sambil tersenyum kecil, napasnya sedikit terengah. “Tadi ada revisi tugas yang yaah, dosenku lebay banget.”
Aruna tertawa pelan. “Aku cuma lima menit kok.” jawabnya santai.
“Lima menit yang kelihatan kayak satu jam,” gumam Rama sambil mengusap tengkuknya.
Aruna pura-pura tidak mendengar, padahal pipinya sudah panas.
“Terus, kamu mau kasih lihat apa?” tanyanya langsung.
Rama mengangkat map hitam dari tasnya. “Ini, tapi jangan kaget.” ucap Rama.
“Aku nggak gampang kaget.” ucapnya tersenyum.
“Ya itu dia masalahnya,” balas Rama, terkekeh.
Mereka berjalan ke bangku di bawah pohon flamboyan yang bunganya sedang banyak-banyaknya. Di sana, Rama membuka map itu dan menunjukkan lembar kertas berisi sketsa wajah.
Aruna terdiam.
Di atas kertas itu dirinya, bukan hanya wajahnya, tapi juga mata yang sedang menunduk, senyum tipis, dan sedikit lekuk rambut yang jatuh sembarangan.
Semua tergambar dengan detail dan lembut, seperti seseorang menggambar dengan hati, bukan tangan.
“Ini, sejak kapan kamu..” Aruna tak melanjutkan.
“Aku mulai sketsa ini waktu kita pulang dari workshop minggu lalu,” jawab Rama santai. “Kamu kelihatan bahagia dan aku pengen nyimpen momen itu.” ujarnya.
Aruna mengedip pelan. “Kenapa harus aku?”
Rama menatapnya lama sebelum menjawab, “Karena kamu selalu jadi inspirasi terkuatku.”
Aruna mengalihkan pandangan, ini berbahaya. Kata-kata Rama terlalu tulus, terlalu hangat, terlalu dekat dengan sesuatu yang sudah lama dia tutup rapat. Sesuatu yang bisa membuatnya goyah.
Apalagi setelah pernyataan Dava di balkon kemarin.
Setelah pamit dari Rama, Aruna kembali ke kosnya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Langit berubah oranye kemerahan menambah perasaan campur aduk yang sudah mengisi dadanya sejak hari sebelumnya.
Dava mencintainya. Rama juga jelas menyayanginya, meski tidak pernah mengucapkan secara langsung. Dan di tengah itu semua, Aruna masih berusaha menghapus bayangan masa lalu yang pernah memporakporandakan hidupnya.
Sesampai di depan pintu kamar, ia terdiam. Ada tas jinjing berwarna biru tua tergantung di pegangan pintu. Tidak ada nama, tapi dia tahu betul itu tas siapa, Dava.
Aruna buru-buru masuk dan membuka tas kecil itu. Di dalamnya ada kue brownies yang dibungkus rapi dan secarik kertas.
“Jangan lupa makan. Kamu suka manis, tapi jangan terlalu banyak nanti sakit. Dava.”
Aruna menutup mata sambil menarik napas panjang.
Rama memberi sketsa dirinya. Dava mengirim makanan, memastikan ia tidak melewatkan apa pun.
Kenapa semuanya harus datang bersamaan, tepat ketika ia baru mulai belajar berdamai dengan luka yang dulu?
Ia mendudukkan diri di kasur. Pikirannya melayang-layang, berusaha menemukan pijakan. Namun, semakin dia mencoba semakin semua terasa kacau.
Ponselnya terasa bergetar, ada sebuah pesan.
Rama : "Sampai kos? Aman?"
Belum sempat membalas, pesan lain masuk.
Dava : Kamu ada di kamar? Aku mau jemput kalau kamu mau makan di luar.
Dua notifikasi berdampingan. Dua pria dan dua dunia.
Aruna merasakan hatinya menegang.
Tiba-tiba, bayangan masa lalu muncul begitu jelas, suara mantan kekasihnya, tatapan dingin, hari ketika ia ditinggalkan tanpa satu pun alasan yang masuk akal. Hari ketika ia berjanji untuk tidak membiarkan siapa pun lagi menyentuh hatinya terlalu dalam.
Namun, kini ia terpeleset lagi. Tidak ke satu hati, tapi langsung dua.
Ponsel bergetar lagi, kali ini suara telepon. Dava menelepon.
Aruna menghela napas panjang sebelum menjawab. “Halo?”
“Aruna?” suara Dava terdengar lembut, jauh dari nada tegasnya saat memimpin rapat perusahaan. “Aku di bawah, kalau kamu capek, aku nggak maksa. Aku cuma mau lihat kamu baik-baik aja.”
Aruna memejamkan mata. “Dava, kamu nggak perlu repot datang.”
“Repot buat kamu itu bukan repot,” jawabnya cepat. “Aku cuma mau ada kalau kamu butuh.”
Hatiku bergetar Aruna ingin berkata begitu, tapi dia menahannya.
“Aku turun,” katanya akhirnya.
Panggilan pun berakhir.
Dava menunggu di depan mobil, bersandar santai, tetapi begitu melihat Aruna muncul, ekspresinya langsung berubah lebih lembut.
“Kamu kelihatan capek,” ujarnya.
“Cuma banyak pikiran.” ucap Aruna tersenyum tipis.
Dava membuka pintu mobil. “Kalau kamu nggak keberatan, aku ajak kamu ke tempat yang tenang, bukan restoran dan nggak terlalu rame.” ucapnya menawar.
Aruna mengangguk. Mereka berangkat tanpa banyak bicara.
Mobil berhenti di sebuah bukit kecil tak jauh dari kota. Di sana ada gardu pandang sederhana, dengan lampu temaram dan angin yang berhembus lembut.
Dava mengambil sesuatu dari bagasi selimut tipis dan dua gelas teh panas.
“Kamu selalu siap ya?” Aruna tertawa kecil.
“Kalau sama kamu, iya.” jawab Dava tenang.
Ada sesuatu cara Dava berkata begitu mantap dan tanpa ragu sedikit pun.
Mereka duduk di tepi gardu, memandangi lampu kota yang berkelip.
“Kamu tahu nggak,” ucap Dava tiba-tiba. “Aku ini orang yang terbiasa bikin keputusan cepat. Urusan kerja, investasi, masa depan, semua udah jelas arahnya.” jelasnya.
Aruna menatapnya.
“Tapi sejak kamu muncul, semuanya nggak jelas lagi,” lanjutnya. “Aku takut salah langkah. Tapi lebih takut lagi kalau aku diam dan kamu milih pergi.” tambahnya.
Aruna menahan napas.
“Dava…” ucapnya terhenti.
“Aku nggak minta jawaban sekarang.” Dava memotong perlahan. “Aku cuma minta satu hal. Jangan jauhin aku tanpa alasan dan jangan pergi tanpa bilang apa-apa.”
Aruna merasakan sesuatu di dadanya retak sedikit.
Dava menatapnya lama. “Kamu penting buat aku, Aruna. Sangat penting dan kamu harus ingat itu.” ujarnya.
Kata-kata itu menggema terlalu keras di dalam hati Aruna dan itu membuatnya semakin bingung.
Saat ia membuka mulut untuk menjawab, ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat tangannya berhenti bergerak, Rama.
Dava melihat layar itu. Tidak ada amarah, tidak ada cemburu, hanya tatapan yang sulit dibaca.
“Kamu boleh angkat kalau itu penting,” katanya lembut.
Aruna menatap ponselnya, lalu menatap Dava.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar tidak tahu harus memilih ke mana. Dan itu sangat menakutkan baginya.