Yang Tak Pernah Selesai Di Antara Kita

1297 Words
Malam itu harusnya selesai ketika Dava pulang lebih dulu, meninggalkan studio dengan napas berat dan langkah panjang yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tapi justru setelah pintu tertutup, keheningan yang tertinggal terasa lebih berat dari pertengkaran. Aruna berdiri mematung di tempat. Rama tetap di pojok ruangan, seperti seseorang yang takut suaranya akan membuat situasi lebih parah. “Aruna!” Rama akhirnya memanggil. Suaranya sangat pelan. “Kamu baik-baik aja?” Aruna tertawa kecil, bukan karena lucu. Tapi karena getaran di dadanya sudah terlalu penuh. “Aku kelihatan baik?” “Nggak.” Rama menjawab jujur, “Itu yang bikin aku khawatir.” Aruna duduk di lantai, Rambutnya berantakan, mata sembab, dan pipinya dingin oleh sisa tangis. Rama duduk di sampingnya ingin menghibur. “Kenapa semuanya seolah meledak malam ini!” gumam Aruna. “Karena kamu udah terlalu lama simpan semuanya sendirian,” jawab Rama. Aruna mendongak. “Kamu bilang kayak gitu seolah kamu tau semua isi kepalaku.” “Aku nggak tau semuanya,” kata Rama sambil menatap lantai. “Tapi aku tau satu kamu selalu berusaha jadi kuat sendirian dan itu bikin kamu hancur pelan-pelan.” Aruna menelan ludah. Kata-kata itu tepat. “Mungkin aku pantas dihukum karena bikin kalian berdua terseret,” ucap Aruna lelah. “Aku bahkan nggak tau kenapa hatiku bisa sepecah ini.” Rama mendekat lebih dekat. Bahunya menyentuh bahu Aruna. “Aruna!” ia menarik napas panjang, “kamu nggak salah.” ucap Rama. Aruna menatapnya lama. “Lalu kenapa rasanya aku jahat?” lirihnya. Rama menggeleng pelan. “Karena kamu terlalu takut menyakiti orang. Tapi kamu lupa kamu juga manusia.” Kata sederhana itu menusuk. Ia menengok Rama, memperhatikan raut wajah yang selama ini ia kenal teduh, lembut, dan selalu mengalah. “Ram,” bisik Aruna. “Kenapa kamu masih di sini?” Rama menunduk. “Kamu tau alasannya.” “Kenapa nggak pergi aja? Itu lebih mudah.” Rama memejamkan mata. “Karena pergi dari kamu adalah hal yang paling nggak bisa kulakukan.” Hening. Yang ini terasa seperti keheningan yang menyimpan banyak kata yang tidak terucap. Aruna menatap lututnya sendiri sebelum akhirnya bertanya, “Rama, kalau dulu aku nggak pernah pergi, apa kita masih bareng sekarang?” Rama menegang. Pertanyaan itu seperti merobek luka lama yang selama ini ia tutupi dengan tawa. “Aku nggak tau,” jawabnya perlahan. “Tapi aku tau satu aku nggak pernah berhenti ngerasa kamu masih bagian dari hidupku.” Aruna memalingkan wajah, tidak berani menatap sorot mata itu. Sorot mata yang terlalu jujur dan tulus. “Rama!” Aruna hampir berbisik, “kamu bikin semuanya makin susah.” “Aku tau.” Rama tersenyum pahit. “Tapi apa pun yang terjadi, aku nggak akan maksa kamu milih aku. Aku cuma mau kamu jujur sama dirimu.” Aruna mengusap wajahnya yang lelah. “Kalau aku jujur aku takut jawaban itu nyakitin kalian.” “Biarkan kami yang nanggung rasa sakit itu,” jawab Rama. “Jangan bawa semuanya sendiri.” Aruna menatapnya. Selama ini, ia selalu mengira ia harus kuat sendiri. Hampir setengah jam berlalu dalam hening. Rama menemani Aruna di studio sampai lampu jalanan meredup dan suara mesin di luar mulai sepi. “Udah malam banget,” katanya akhirnya. “Kamu harus pulang.” “Aku masih mau di sini.” ucap Aruna. “Aruna!” “Di sini aja, jangan tinggalin aku dulu.” ucap Aruna Kalimat itu yang membuat napas Rama berhenti sesaat. “Kalau kamu minta begitu,” ia menunduk, “aku nggak akan kemana-mana.” Aruna menyandarkan kepala pada rak kayu di belakangnya. “Aneh ya, kamu selalu datang pas aku hampir jatuh.” “Soalnya aku selalu lihat kamu sebelum kamu sadar kamu jatuh,” jawab Rama pelan. Aruna menutup wajahnya. “Kamu bikin aku tambah bingung.” “Lebih bingung dari sama Dava?” Aruna menatapnya. “Kalian bikin aku gila.” Rama tersenyum kecil. “Dava juga pasti ngerasa gitu.” Aruna menghela napas panjang. “Ram, tadi waktu Dava telepon, aku hampir bilang kamu pergi.” Rama terdiam. Aruna menunduk, jari-jarinya meremas celana. “Tapi aku nggak bilang, aku minta kamu tetap di sini.” Rama memiringkan kepala. “Kenapa?” tanyanya lembut. Aruna menelan ludah. “Karena aku butuh kamu.” Rama menutup matanya sebentar, seperti menahan sesuatu yang terlalu besar di dadanya. Ketika ia membuka mata lagi, ia menatap Aruna lama, sangat lama. “Aku ada,” katanya singkat. Aruna tidak berkata apa pun setelah itu. Namun kehadiran Rama di ruangan kecil itu sudah cukup membuat hatinya yang kacau sedikit lebih ringan. Sampai akhirnya pintu studio diketuk lagi. Aruna dan Rama saling menoleh. "Siapa malam-malam begini?" Ketukan terdengar dua kali. Tidak keras, tidak tergesa tapi terdengar jelas. Aruna berdiri perlahan dan membuka pintu. Di luar, seseorang berdiri dengan mantel hitam dan wajah dingin. Dava. Rama langsung berdiri refleks. Aruna terpaku di depan pintu. “Dava, kamu..” “Aku nunggu di mobil,” potong Dava. “Tapi kamu nggak keluar juga.” Aruna memegang dadanya. “Aku, aku butuh waktu.” “Aku tau,” jawab Dava. “Makanya aku tunggu.” Rama mengepalkan tangan, tidak marah tapi jelas ingin bicara sesuatu. Namun Dava menatap Rama duluan. Tatapan tenang, tapi tajam. “Maaf tadi aku kehilangan kendali,” katanya. “Aku kesini bukan buat ribut.” Rama mengangguk kecil. “Aku ngerti.” Dava lalu menatap Aruna. “Aruna,” suaranya melembut, “aku nggak mau bikin kamu makin tertekan. Tapi aku juga nggak bisa pulang tadi tanpa memastikan kamu beneran baik-baik aja.” Kalimat itu berbeda dari Rama memiliki berat yang lain. Aruna menggigit bibir. “Dava, aku, aku bingung sama semuanya.” Dava mendekat satu langkah. “Aku tau,” katanya lembut. “Aku cuma mau satu hal malam ini.” “Apa?” “Jujur, sedikit aja.” jawab Dava. Aruna menelan ludah. “Tentang apa?” Dava melirik Rama sebentar, lalu kembali ke Aruna. “Waktu aku telepon, kamu minta Rama jangan pergi, kan?” tanyanya. Aruna terdiam. Rama menunduk. Dava tersenyum pahit namun tidak sinis. “Aku tau, Aruna. Kamu nggak butuh bilang. Suaramu berubah.” Aruna meremas kausnya. “Aku, aku lagi kacau jangan paksa aku jawab malam ini.” “Aku nggak maksa.” ucap Dava. Dava menggeleng perlahan. “Aku cuma mau kamu tahu kalau kamu takut, kamu bisa takut di depan aku juga. Kamu nggak harus kuat setiap saat.” Aruna menatapnya. Perkataannya menusuk dengan cara berbeda dari Rama. Jika Rama memberi ruang, maka Dava memberi pegangan. “Aku nggak nyuruh kamu milih,” lanjut Dava. “Tapi mulai malam ini aku nggak akan pura-pura kuat kalau kamu selalu nyari dia dulu.” Rama menutup mata perlahan. Aruna menahan napas. “Dava!” suaranya pecah kecil, “aku nggak nyari siapa pun lebih dulu. Aku cuma..” “Kamu nyari yang bisa nenangin kamu paling cepat.” Aruna terdiam. Dava mendekat, mengusap pipinya yang dingin. “Malam ini kamu nggak harus kuat,” kata Dava. “Tapi kamu harus jujur.” Aruna menatap dua laki-laki itu bergantian. Rama dengan tatapan sabar yang membuat d**a hangat. Dava dengan tatapan dalam yang membuat hati bergetar dan di tengah dua tatapan itu Aruna akhirnya sadar sesuatu yang menakutkan. Perasaan itu tidak datang bergantian. Perasaan itu datang bersamaan. Sama besarnya, sama kuat dan sama memabukkannya. Ia mundur satu langkah, menutup wajahnya. “Kenapa kalian ada di hidupku barengan?” suaranya nyaris seperti erangan. Tidak ada jawaban. Karena dua laki-laki itu sama-sama terluka namun sama-sama tidak pergi. Rama berkata pelan, “Aruna, kita hadapi bareng-bareng.” Dava menambahkan, “Tapi jangan kabur dari dirimu sendiri.” Aruna duduk perlahan, memeluk lututnya, berusaha bernapas dengan benar. Yang ada hanya satu hal cinta yang semakin dalam, semakin gila, semakin sulit dihentikan dan untuk pertama kalinya Aruna takut pada perasaannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD