Aruna bangun dengan pikiran berat, seolah semalam ia tidur sambil memeluk kegelisahan. Cahaya pagi menyelinap lewat celah gorden kosnya, jatuh tepat di wajahnya, tapi tidak membawa kelegaan yang tersisa hanya satu perasaan yang ia rasa lelah.
Ia duduk di tepi kasur, memijat pelan pelipisnya. Ponselnya tergeletak tak jauh dari tangan Aruna, dengan layar gelap dan tanpa ada notifikasi baru. Sangat aneh baginya biasanya ia selalu berharap tidak ada pesan yang masuk, tapi kali ini terasa sangat berbeda, pagi ini hanya ada keheningan yang justru membuatnya semakin terasa gelisah.
Tidak ada pesan yang masuk dari Rama dan juga tidak ada pesan dari Dava.
Aruna berdiri, berjalan ke kamar mandi dengan langkah yang pelan dan segera ia membasuh wajahnya. Pantulan Aruna di cermin menunjukkan mata yang sedikit merah dan bibir yang pucat. Ia menatap dirinya dengan lama, mencoba menemukan jawaban di sana. Tapi yang ia lihat hanya seorang perempuan muda yang terlalu takut untuk mengambil sebuah risiko.
Hari itu, Aruna memilih untuk pergi ke studio seni lebih awal. Ia ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Kanvas besar sudah menunggunya karya yang rencananya akan menjadi pusat pameran akhir semester nanti.
Ia mulai melukis dengan gerakan yang agresif. Warna gelap mendominasi biru tua, hitam, dan abu-abu. Setiap sapuan terasa seperti melampiaskan segala sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata kata.
“Lukisanmu kelihatan marah,” ujar suara dari belakang.
Aruna terdiam mendengar suara yang sangat familiar bagi pendengarannya kemudian ia menoleh menatap Rama, Rama berdiri beberapa langkah darinya dan tangannya membawa sebuah map besar. Ekspresinya tetap tenang seperti biasa, tapi Aruna cukup peka untuk melihat jarak yang kini harus ia jaga.
“Kadang marah lebih jujur,” jawab Aruna pelan.
Rama tersenyum samar. “Iya.” ucap Rama.
Ia tidak mendekat seperti dulu. Ia memilih berdiri di sisi lain ruangan. Jarak itu membuat Aruna ingin bicara, ingin memanggil, tapi lidahnya terasa kelu dan sangat berat.
“Aku dengar kamu sering bantu Dava belakangan ini,” kata Rama akhirnya, tanpa nada menuduh.
Aruna berhenti melukis. “Iya, kadang ilustrasi atau kadang konsep visual.” ujar Aruna.
“Itu bagus,” ucap Rama tulus. “Kamu cocok kerja di banyak ruang.” tambah Rama lagi.
Aruna menatap Rama, ingin memastikan apakah kalimat itu benar-benar tanpa beban. Tapi mata Rama terlalu jujur untuk disalahartikan.
“Kamu, baik-baik saja?” tanya Aruna ragu.
Rama mengangguk. “Aku belajar jadi baik-baik saja.” ucap Rama lirih.
Kalimat itu seperti pisau kecil. Tidak menusuk, tapi perlahan bisa mengoyak.
Aruna terdiam dan menunduk. Sore harinya, Dava mengajak Aruna meninjau lokasi klien baru sebuah kafe kecil yang akan rebranding. Aruna setuju, meski hatinya belum sepenuhnya siap.
Di mobil, suasana hening. Bukan hening canggung, tapi hening yang penuh perhitungan.
“Aku lihat kamu hari ini di kampus,” ujar Dava tiba-tiba.
Aruna menoleh. “Kapan?” tanya Aruna.
“Tadi siang, kamu sama Rama.” ucap Dava tepat sasaran.
Jantung Aruna berdetak lebih cepat. “Oh.” jawab Aruna singkat.
Dava tidak langsung bicara lagi. Ia fokus menyetir dan rahangnya sedikit mengeras.
“Kalian kelihatan dekat,” kata Dava akhirnya.
“Kami hanya teman,” jawab Aruna cepat, mungkin terlalu cepat.
Dava tersenyum kecil. “Aku nggak nanya definisi.” ucap Dava.
Aruna menunduk. “Aku nggak bohongin kamu, Dav.” ujar Aruna.
“Aku tahu,” kata Dava. “Tapi aku juga bukan orang bodoh.” lanjut Dava.
Kalimat itu membuat udara di mobil terasa lebih berat.
“Aku nggak minta kamu berhenti ketemu dia,” lanjut Dava. “Aku cuma pengen tahu, apa aku masih punya tempat? Itu saja.” ujar Dava menatap Aruna yang masih menunduk.
Aruna memejamkan mata sebentar. Pertanyaan yang sama dari dua orang yang berbeda dan juga di hari yang sama.
“Aku lagi berusaha jujur,” jawabnya akhirnya. “Tapi kejujuran kadang nggak datang bareng kepastian.” ucap Aruna lirih.
Dava tertawa pelan, tanpa humor. “Itu kalimat yang menyakitkan.” ucap Dava.
Aruna menoleh cepat. “Aku nggak bermaksud,” ucap Aruna terhenti.
“Aku tahu,” potong Dava. “Aku cuma lagi belajar nerima.” lanjut Dava.
Aruna terdiam, dia tak tau harus seperti apalagi.
Malam itu, Aruna duduk sendirian di kafe klien setelah Dava keluar sebentar menerima telepon. Lampu-lampu kuning menggantung rendah, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan isi kepalanya saat ini.
Ia membuka ponsel. Tanpa sadar, ia membuka galeri foto. Ada satu foto lama dirinya dan Rama, tertawa di studio, cat mengenai pipi Rama. Foto itu sederhana, tapi penuh rasa aman dan nyaman. Lalu ia berpindah ke foto lain dirinya dan Dava, berdiri di depan kantor kecil Dava, Dava tersenyum bangga sambil menggenggam tangannya. Foto itu rapi, stabil, menjanjikan. Keduanya punya cerita yang berbeda.
Dua dunia dan dua versi dirinya.
Dava kembali dan duduk di seberangnya. Ia melihat layar ponsel Aruna sekilas, lalu mengalihkan pandangan, tidak bertanya dan juga tidak menuntut. Itu justru membuat Aruna ingin menangis.
“Dava,” ucap Aruna tiba-tiba.
“Iya, kenapa?” tanya Dava menatap Aruna.
“Kalau suatu hari aku memilih mundur, kamu bakal marah?” tanya Aruna dengan hati hati.
Dava terdiam lama. “Aku bakal kecewa,” katanya jujur. “Tapi aku nggak mau mencintai orang yang tinggal karena kasihan.” ucap Dava lagi.
Aruna mengangguk, tenggorokannya terasa tercekat.
Malam semakin larut ketika Aruna pulang. Di kamar, ia duduk luruh di lantai, memeluk lutut. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang menakutkan.
Ia bukan hanya takut kehilangan mereka. Ia takut kehilangan versi dirinya di mata masing-masing dari mereka yang sudah selalu ada untuknya.
Ponselnya berbunyi, ada pesan dari Rama.
Rama : Aku lihat kamu capek hari ini, jangan lupa istirahat ya!
Aruna mengetik lama sebelum akhirnya mengirim.
Aruna : Aku lagi kacau, Ram!
Balasan Rama datang dengan cepat.
Rama : Kamu nggak harus rapi untuk dicintai.
Air mata Aruna jatuh begitu saja. Di saat yang sama, pesan dari Dava pun masuk.
Dava : Kalau kamu butuh aku malam ini, aku ada, Aruna.
Dua pesan, dua bentuk cinta dari dua orang yang berbeda. Dan Aruna akhirnya sadar, retak itu sudah ada tidak terlihat, tapi terasa nyata. Dan jika ia terus berdiam diri, retakan itu akan berubah menjadi patah.