Yang Tak Terucap

1078 Words
Aruna terbangun dengan perasaan aneh, bukan rasa sedih dan bukan rasa takut, tapi seperti ada sesuatu yang perlahan runtuh di dalam dirinya. Seperti bangunan tua yang masih berdiri, tapi retaknya sudah merambat ke mana-mana. Ia memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan baru sejak semalam. Dua nama yang biasanya bergantian muncul di layar kini sama-sama diam. Entah kenapa, itu membuat Aruna rasanya ingin menangis dan pastinya Aruna merasa kecarikan dengan dua seseorang yang telah perduli padanya. Ia bangun untuk bersiap ke kampus dengan gerakan mekanis. Hari itu ada diskusi untuk pameran, dan Rama biasanya akan terlibat penuh di pameran itu. Biasanya, itu membuatnya lebih tenang. Tapi pagi ini, pikiran itu justru menambah beban bagi Aruna. Studio seni ramai sejak pagi tadi. Kanvas-kavas berjajar dengan rapih, serta bau cat yang menyengat, dan terdengar suara diskusi saling tumpang tindih. Aruna berdiri di depan karyanya, mencoba untuk lebih fokus, tapi matanya terus mencari satu sosok yaitu Rama. Rama datang terlambat. Ketika akhirnya ia masuk, Aruna langsung menyadari perubahan kecil itu dengan cara Rama berdiri agak jauh darinya, cara senyumnya yang lebih singkat, dan cara ia tidak langsung menghampiri Aruna seperti biasa. Diskusi sedang dimulai. Aruna mencoba untuk berpendapat, tapi suaranya terdengar asing di telinganya sendiri dan Rama menanggapinya dengan cara yang sangat profesional, netral, tanpa tatapan personal yang dulu sering ia berikan padanya. Selesai diskusi, Aruna memberanikan diri untuk mendekat lebih dulu. “Rama,” panggilnya lembut. Rama menoleh. “Iya, ada apa?” tanya Rama. “Kamu sibuk nggak?” tanya Aruna lagi. Rama menatap jam tangannya sebentar. “Nggak terlalu, kenapa?” jawab Rama singkat. “Bisa kita ngomong sebentar?” ucap Aruna. Rama mengangguk, mereka keluar ke lorong belakang studio, tempat yang jarang dilewati orang. Dindingnya penuh dengan berbagai coretan lama, nama, tanggal, dan kalimat patah hati yang ditulis entah oleh siapa pelakunya. Aruna berdiri berhadapan dengan Rama. Jarak mereka cukup dekat untuk mendengar napas masing masing, tapi terasa lebih jauh dari sebelumnya. “Ada apa?” tanya Rama pelan. Aruna membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kata-katanya terasa berantakan. “Kamu berubah,” kata Aruna akhirnya. Rama tersenyum tipis. “Aku menyesuaikan diri.” ucap Rama sekenanya. “Kenapa harus sejauh itu?” lirih Aruna menunduk. Rama menatap Aruna lama, seolah menimbang sesuatu. “Karena aku capek berharap tanpa tahu aku di posisi apa.” ucap Rama. Kalimat itu jatuh tepat di d**a Aruna. “Aku nggak pernah minta kamu untuk berharap, Ram,” ucap Aruna cepat, nada suaranya meninggi tanpa ia sadari. “Aku tahu,” jawab Rama, tetap tenang. “Makanya aku mundur, biar harapanku nggak tumbuh sendirian.” jawab Rama lagi. Aruna menggigit bibirnya. “Aku lagi bingung.” lirih Aruna. “Aku juga,” balas Rama. “Bedanya, aku tahu batas kebingunganku.” lanjutnya lagi. Kalimat itu membuat Aruna terdiam. “Aruna,” lanjut Rama, suaranya melembut. “Aku nggak marah, aku cuma nggak mau jadi tempat kamu kembali setiap kali kamu ragu.” ucap Rama. Air mata mulai menggenang di mata Aruna. “Aku nggak pakai kamu.” “Aku tahu,” kata Rama cepat. “Tapi perasaan nggak selalu menunggu niat.” Hening menyelimuti mereka. “Aku sayang kamu, Ar,” ujar Rama akhirnya. Kalimat itu keluar pelan, nyaris berbisik. “Dan karena itu, aku harus jujur. Aku nggak kuat kalau harus berbagi tempat di hatimu.” ucap Rama. Dada Aruna terasa sesak. “Aku nggak pernah berniat bikin kamu merasa begitu.” lirihnya. Rama mengangguk. “Aku percaya.” “Terus?” tanya Aruna lirih. Rama menghela napas panjang. “Terus, aku butuh kamu memilih meski bukan sekarang, tapi jangan terlalu lama juga.” ucap Rama. Aruna menunduk kata kata itu memilih kembali untuk menghantamnya. Sore itu, Aruna tidak langsung pulang. Ia berjalan tanpa tujuan, menyusuri trotoar yang mulai basah oleh gerimis. Kepalanya penuh suara Rama, jujur dan tenang tapi menyakitkan. Ponselnya bergetar nama Dava muncul di layar ponselnya. “Kamu di mana, Ar?” tanya Dava begitu panggilan langsung terhubung. “Jalan,” jawab Aruna singkat. “Aku jemput.” ucap Dava. Aruna ingin menolak, tapi kakinya sudah sangat lelah, dan hatinya lebih lelah lagi. “Aku di halte dekat taman.” kata Aruna akhirnya. Dava datang tidak lama kemudian. Begitu Aruna masuk mobil, Dava langsung tahu ada yang tidak beres pada Aruna. “Kamu habis nangis ya?” tanya Dava. Aruna menggeleng, meski matanya merah. “Cuma capek.” ucap Aruna dusta. Dava tidak memaksa untuk ia bercerita, mobil melaju dalam keheningan yang berat. “Aku ketemu Rama hari ini,” kata Aruna tiba-tiba. Dava tidak menoleh, tapi tangannya mengencang di setir. “Oh.” ucap Dava dengan ber oh saja. “Kami ngobrol,” lanjut Aruna. “Serius?” tanya Dava, suaranya datar. “Iya.” ucap Aruna. Hening kembali. “Aku nggak mau kamu dengar dari orang lain,” kata Aruna. “Aku pengen jujur.” lanjutnya. Dava tertawa pendek. “Kejujuran yang datang terlambat rasanya tetap sakit.” ucap Dava. Aruna menatap ke luar jendela. “Aku tahu.” “Dia minta kamu memilih?” tanya Dava pelan. Aruna terkejut. “Kamu tahu?” ucapnya kaget. “Laki-laki yang sayang nggak akan tahan terlalu lama,” jawab Dava. “Aku juga ada di titik itu.” Aruna memejamkan mata. “Aku bukan orang jahat.” ucap Aruna. “Aku tahu,” ucap Dava. “Makanya ini susah.” Mobil berhenti di pinggir jalan. Dava mematikan mesin, lalu menatap Aruna. “Aruna,” katanya, suaranya rendah dan serius. “Aku nggak mau jadi pilihan kedua, tapi aku juga nggak mau pergi tanpa kamu benar-benar memilih.” “Aku takut salah,” ujar Aruna, suaranya pecah. “Semua pilihan bisa salah,” kata Dava. “Yang bikin hancur itu menunda terlalu lama.” jelas Dava. Kalimat itu menusuk, karena kenyataannya memang benar. Malam itu, Aruna pulang dengan langkah berat. Di kamar, ia duduk di lantai, menatap dinding dengan pandangan kosong, tidak ada kanvas, tidak ada musik dan tidak ada pelarian. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian meski ada dua orang yang sangat mencintainya. Ia membuka ponsel, menulis satu pesan dengan perasaan yang ragu, lalu menghapusnya, menulis lagi, kemudian menghapus lagi dan pada akhirnya, ia meletakkan ponsel itu di sampingnya. Aruna menyadari sesuatu yang menyakitkan, selama ini ia bukan sedang mencintai dua orang namun ia sedang menunda kehilangan. Dan penundaan itu kini menuntut harga. Air mata Aruna jatuh tanpa suara. Di luar, hujan kembali turun, lebih deras dari sebelumnya. Seolah mengerti bahwa malam ini, tidak ada lagi yang bisa ditahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD