Pilihan yang Terburu-buru

1063 Words
Pagi itu, Aruna bangun dengan kepala berdenyut. Hujan semalam meninggalkan udara lembap yang menempel di kulit, membuat kamar kos terasa lebih sempit dari biasanya. Ia duduk lama di tepi kasur, menatap lantai, mencoba mengingat apa yang seharusnya ia lakukan hari ini, seolah hidupnya masih punya daftar yang jelas. Ponselnya bergetar. Nama Dava muncul di layar. Aruna menatap layar itu cukup lama sebelum menjawab. “Pagi,” suara Dava terdengar pelan, tidak secerah biasanya. “Pagi,” balas Aruna. “Kamu ada waktu hari ini?” tanya Dava. Aruna ragu, ia seharusnya ke kampus, menyelesaikan revisi karya. Tapi pikirannya terlalu penuh. “Ada, kenapa?” jawab Aruna akhirnya. “Aku mau ngajak kamu ikut meeting kecil. Nggak lama, sekalian makan siang.” ucap Dava. Aruna menarik napas. Ia tahu, mengatakan iya berarti menempatkan dirinya lebih dekat pada satu sisi. Tapi mengatakan tidak juga terasa seperti menutup pintu terlalu cepat. “Ya,” katanya akhirnya. “Aku ikut.” Telepon ditutup. Aruna memejamkan mata, bertanya pada dirinya sendiri apakah ia baru saja membuat keputusan yang tepat atau sekadar keputusan yang paling mudah. Di kampus, Rama berdiri di depan papan pengumuman, membaca daftar final karya pameran. Namanya dan nama Aruna tertera berurutan, seperti biasa. Dulu, itu selalu terasa menyenangkan. Hari ini, itu terasa seperti pengingat yang menyesakkan. “Rama.” panggil teman sekelasnya. Ia menoleh, salah satu teman sekelas menghampirinya. “Aruna nggak masuk hari ini?” tanyanya. Rama menggeleng. “Kayaknya nggak.” “Oh,” temannya mengangguk. “Kupikir kalian bareng.” ucap temannya. Rama tersenyum singkat. “Enggak.” Ia kembali menatap daftar itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa jarak itu benar-benar nyata bukan sekadar keputusan sementara. Meeting berjalan lancar. Dava menjelaskan konsep rebranding dengan percaya diri, sesekali melirik Aruna untuk meminta pendapat visual. Aruna menjawab profesional, fokus, seperti bagian dirinya yang lain sedang dikunci rapat. Saat makan siang, mereka duduk berhadapan di restoran sederhana dekat kantor Dava. Tidak ada pembicaraan berat. Hanya cerita ringan. Tapi Aruna bisa merasakan sesuatu yang berubah, Dava terlihat lebih berhati-hati, lebih menimbang setiap kata. “Aku lihat Rama di kampus sering sama kamu,” ujar Dava tiba-tiba, memecah keheningan. Aruna berhenti mengunyah. “Kami satu proyek.” ucap Aruna. “Aku tahu,” kata Dava cepat. “Aku cuma jujur kalau aku cemburu.” ujar Dava. Kata itu melayang di udara, tidak meledak, tapi cukup untuk membuat Aruna terdiam. “Kamu berhak,” ujar Aruna pelan. Dava mengangkat alis. “Berarti kamu sadar posisimu sekarang?” tanya Dava. Aruna menatapnya. “Aku sadar aku lagi menyakiti banyak orang.” lirih Aruna menunduk. Dava menghela napas. “Aku nggak mau jadi orang yang memaksa. Tapi aku juga nggak mau terus berada di ruang tunggu.” Aruna meremas sendoknya. “Aku lagi berusaha.” lirihnya. “Berusaha memilih?” tanya Dava. Aruna terdiam. Dava tersenyum pahit. “Atau berusaha menunda?” Pertanyaan itu menampar Aruna dengan jujur. “Aku bisa kasih waktu,” lanjut Dava. “Tapi aku butuh tanda kalau kamu benar-benar berjalan ke arahku.” Aruna mengangkat wajahnya. “Tanda seperti apa?” tanya Aruna. Dava menatapnya lama. “Datang ke pameran akhir semester nanti. Sama aku bukan sebagai teman tapi sebagai pilihanku.” ucap Dava. Jantung Aruna berdegup keras. “Aku nggak minta kamu berhenti kenal Rama,” tambah Dava. “Aku cuma minta kejelasan.” lanjut Dava lagi. Aruna tahu, ini bukan ultimatum kasar. Ini permintaan yang masuk akal. Dan justru karena itu, terasa menakutkan. “Baik,” ucap Aruna akhirnya. “Aku datang sama kamu.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan cepat, nyaris impulsif. Begitu kata itu terucap, Aruna langsung merasa perutnya mengeras. Dava menatapnya, terkejut, lalu tersenyum lega. “Terima kasih.” Aruna tersenyum balik, tapi ada sesuatu di dadanya yang runtuh pelan. Sore hari, Aruna ke kampus untuk mengambil beberapa perlengkapan. Studio hampir kosong. Rama duduk sendirian di sudut, menyelesaikan sketsa. Aruna berhenti di pintu. “Rama.” panggil Aruna. Ia menoleh, tatapannya lembut, tapi ada jarak yang tidak lagi ia sembunyikan. “Hai.” sapa Rama. “Aku nggak masuk tadi,” kata Aruna, tidak tahu harus mulai dari mana. “Aku tahu,” jawab Rama singkat. Aruna mendekat. “Aku,” Rama menutup bukunya perlahan. “Kamu habis sama Dava?” tanya Rama tepat sasaran. Aruna terkejut. “Kamu tahu?” kagetnya. “Bukan soal tahu,” ucap Rama tenang. “Soal ngerasa.” lanjutnya. Aruna menelan ludah. “Rama, aku mau jujur.” Rama mengangguk. “Aku denger.” “Aku bilang ke Dava kalau aku datang ke pameran sama dia.” ucap Aruna. Hening jatuh di antara mereka. Rama tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menarik napas panjang, lalu mengangguk sekali. “Oke.” jawab Rama santai. “Cuma itu?” tanya Aruna, suaranya bergetar. “Kamu minta aku apa?” Rama menatapnya. “Marah?” tanya Rama. “Enggak, aku..” “Aku menghargai kejujuranmu,” potong Rama. “Meski sakit.” lanjutnya lagi. Aruna menggenggam ujung bajunya. “Aku nggak memilih dia, aku cuma..” “Aruna,” Rama mengangkat tangan, menghentikannya. “Keputusan impulsif tetap keputusan.” ucapnya tegas. Kata-kata itu membuat Aruna tercekat. “Aku nggak akan menghalangimu,” lanjut Rama. “Tapi mulai sekarang, aku jaga jarak lebih jauh.” ujarnya. “Rama, jangan.” lirih Aruna. “Aku perlu,” katanya lembut. “Biar aku nggak berharap pada orang yang sedang belajar memilih.” ucap Rama. Air mata Aruna jatuh. “Aku nggak mau kehilangan kamu.” lirihnya menunduk. Rama tersenyum kecil, getir. “Kehilangan itu kadang bukan soal pergi tapi soal berhenti berharap.” kata Rama. Ia berdiri, mengemas barangnya. “Jaga dirimu, Aruna.” Rama pergi tanpa menoleh. Aruna berdiri sendiri di studio yang sunyi, menyadari bahwa satu kalimat impulsif telah mengubah banyak hal. Malam itu, Aruna duduk di kamar dengan pikiran berisik. Ponselnya berbunyi pesan masuk dari Dava. Dava : "Aku senang kamu mau datang sama aku, aku nggak akan sia-siakan itu." Aruna menatap pesan itu lama. Ia mengetik balasan, lalu berhenti. Di kepalanya, wajah Rama muncul dengan tenang, jujur, dan kini menjauh. Akhirnya ia membalas. Aruna : "Aku harap aku nggak salah." Balasan Dava datang cepat. Dava : "Kita jalanin aja, bareng." Aruna meletakkan ponsel. Dadanya terasa kosong. Ia sadar, keputusan yang ia buat hari ini bukan karena keyakinan, melainkan karena ketakutan, takut kehilangan keduanya sekaligus. Dan ia tahu, cinta yang lahir dari ketakutan jarang berakhir tanpa luka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD