Kesepian Aruna

943 Words
Aruna baru menyadari betapa sunyinya hidup ketika seseorang yang biasa ada kini tiba tiba berhenti muncul tanpa suara. Tidak ada pertengkaran dan tidak ada pintu yang dibanting. Hanya ada jarak yang tiba-tiba terasa luas. Pagi itu, Aruna datang ke kampus dengan perasaan asing. Studio seni yang biasanya terasa seperti rumah kini terasa dingin. Ia menaruh tas di sudut ruangan dan membuka map karya, lalu berhenti. Biasanya, Rama sudah terlihat ada di sana. Duduk berada di dekat jendela, menyapa dengan anggukan kecil, lalu bertanya apakah Aruna sudah sarapan. Tapi pagi ini, kursi itu terlihat kosong. Aruna menoleh ke sekeliling, berharap jika ia hanya keliru, tapi sepertinya tidak, itulah kenyataan. Ia mencoba untuk tetap fokus, menyiapkan cat, mengatur kanvas. Tangannya bergerak dengan lihai, tapi pikirannya tertinggal di percakapan kemarin. Kalimat Rama terus terngiang jelas dikepalanya, keputusan impulsif tetap keputusan. Ia menelan ludah, menahan sesak di d**a. Siang hari, Aruna melihat Rama dari kejauhan. Ia sedang berbicara dengan dosen, dengan wajah yang serius dan sangat profesional, ia tidak menoleh ke arah Aruna sama sekali. Ada jarak yang disengaja di sana bukan hanya kebetulan. Aruna hampir menghampiri, tapi langkahnya terhenti. Ia sadar, ini bagian dari harga yang harus dibayar. Saat diskusi kelas dimulai, Rama memilih duduk di barisan depan dan Aruna di belakang. Dulu, mereka sering bertukar catatan, saling melirik saat dosen melontarkan komentar tajam. Hari ini, tidak ada lagi itu semua. Semua seperti tinggal kenangan. Ketika kelas telah selesai, Rama langsung pergi. Aruna berdiri mematung, dadanya terasa sesak, ia tidak menangis tapi justru itulah yang menakutkan rasa mati yang merambat dengan perlahan. Sore harinya, Dava menjemput Aruna. Ia terlihat lebih ringan dan lebih yakin, seperti seseorang yang akhirnya mendapat kepastian. “Kamu kelihatan capek,” kata Dava saat Aruna masuk mobil. “Sedikit,” jawab Aruna. “Kampus padat?” tanya Dava. “Iya.” jawab Aruna singkat. Dava meliriknya sekilas, lalu tersenyum. “Kamu mau makan di luar atau aku yang masak?” tawar Dava. Aruna terdiam. Tawaran itu sangat hangat, domestik, seperti masa depan yang terlihat rapi. “Masak aja,” katanya akhirnya. Di apartemen kecil Dava, Aruna duduk di meja makan, memperhatikan Dava yang sibuk di dapur dengan gerakannya yang cekatan, seperti koki yang handal. Dava selalu tahu apa yang ia lakukan dalam pekerjaan dan dalam hidupnya. “Pameran tinggal dua minggu lagi,” ujar Dava sambil memotong sayur. “Aku udah tandain di kalender.” tambahnya lagi. Aruna mengangguk. “Iya.” jawab Aruna. “Kita datang bareng,” lanjut Dava. “Aku pengen ada di sana buat kamu.” ucap Dava. Kalimat itu sangat tulus. Tapi entah kenapa, Aruna justru merasa bersalah. “Dava,” ucap Aruna pelan. “Iya, kenapa?” jawab Dava. “Kamu pernah ngerasa terlalu yakin sama sesuatu gak?” tanya Aruna hati hati. Dava tersenyum. “Sering, tapi itu yang bikin aku maju.” jawab Dava yakin. Aruna menunduk. “Kalau keyakinan itu ternyata salah?” tanya Aruna lagi. Dava berhenti memotong kemudian menatap Aruna. “Kenapa kamu nanya gitu?” Dava tanya balik. “Enggak apa-apa,” Aruna menggeleng cepat. “Cuma mikir aja.” ucapnya. Dava mendekat, berdiri di depan Aruna. “Aruna, aku nggak minta kamu jadi sempurna, aku cuma minta kamu hadir, itu sudah cukup bagiku.” ucap Dava. Aruna mengangguk, tapi hatinya bergetar. Malam itu, Aruna pulang lebih cepat. Di kamar kos, ia duduk di lantai, membuka ponsel, menatap nama Rama di daftar kontak. Ia tidak menghubunginya. Ia tahu, mengganggu jarak yang sedang Rama jaga hanya akan memperpanjang luka. Ia membuka media sosial. Tanpa sengaja, ia melihat unggahan teman foto studio, ada Rama di dalamnya. Tersenyum kecil, dikelilingi oleh karya tapi tidak ada Aruna di sana. Rasa cemburu itu datang dengan pelan dan pasti, lalu kemudian berubah menjadi membesar. “Ini salahku,” bisik Aruna. Ia memeluk lutut, merasa seperti orang luar dalam hidupnya sendiri. Hari hari berikutnya berjalan sangat lambat. Rama semakin menjauh, tidak mengirim pesan, tidak menyapa lebih dulu, dan tidak mencari Aruna. Ia sangat profesional, sopan, dan itu lebih menyakitkan daripada marah. Aruna mencoba untuk bertahan. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Dava, membantu proyek, makan malam, dan tertawa kecil. Dari luar, hidupnya terlihat baik baik saja terlihat tabil dan aman. Tak kelihatan bahwa ia sedang menyimpan luka itu sendiri. Tapi setiap kali ia sendirian, ada bagian dirinya yang terasa ditinggalkan. Suatu malam, setelah pulang dari apartemen Dava, Aruna duduk di kos dan membuka buku sketsanya. Ia menggambar tanpa sebuah rencana. Garis-garisnya terlihat tajam dan tidak sabar. Wajah seorang perempuan muncul dengan mata besar, mulut terkatup, dan d**a yang retak. Ia menulis di sampingnya. Aku memilih tapi kenapa rasanya seperti kehilangan lebih dulu? Keesokan harinya, Rama tidak datang ke kampus. Aruna mendengar kabar dari teman kalau Rama lagi izin, ia sedang fokus menyelesaikan proyek luar. Aruna menatap kursi kosong itu sangat lama. Untuk pertama kalinya, ia benar benar merasa panik dan kehilangan. Ia menyadari sesuatu yang lebih menakutkan, kehilangan Rama bukan ancaman lagi baginya dan itu sudah terjadi, perlahan tapi rapi, dan tanpa drama. Ponsel Aruna bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Ternyata pesan dari Dava yang masuk. Dava : "Aku bangga sama kamu, kamu kelihatan lebih tenang belakangan ini." Aruna menatap pesan itu, tangannya terasa gemetar. Ia mengetik balasan, lalu menghapus, mengetik lagi dan menghapusnya lagi dan pada akhirnya ia mengirim. Aruna : "Aku lagi belajar kelihatan baik-baik saja." Dava membalas cepat. Dava : "Aku di sini kalau kamu jatuh, Ar." Aruna tersenyum kecil. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia sadar, ia mulai menyabotase pilihannya sendiri mencari Rama dalam bayangan, merindukan sesuatu yang sudah ia lepaskan dengan setengah hati. Dan yang paling menyakitkan ia belum berani mengakui, pada dirinya sendiri, siapa yang sebenarnya ia tinggalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD