BAB 3 - SAYA INGIN...,

1771 Words
Milla berjalan dengan pelan memasuki kamar hotel yang disewa untuk kamar pengantin, kamar dengan ukuran luxury itu telah dihias dengan indah layaknya kamar pengantin pada umumnya. Bahkan ranjang dengan ukuran king size itu terdapat taburan kelopak bunga mawar di atasnya. Pemandangan kota terlihat begitu indah di luar sana, bahkan Milla dapat melihatnya dari jendela besar yang menghubungkannya langsung dengan balkon. Kaki Milla melangkah dengan pasti menuju jendela besar tersebut, menyibak tirai berwarna putih yang menggantung di sana, kedua mata Milla dimanjakan dengan pemandangan kota Surabaya di malam hari. Kota metropolitan yang tidak pernah tidur, selalu ada aktivitas dari orang-orang yang menjadi penghuninya, menjadikan kota itu selalu hidup dan jarang sekali merasakan kesunyian. Bahkan, ingar bingar di luar tidak mampu meramaikan rasa hampa di hati Milla saat ini. Tidak seperti gadis lainnya yang telah berpindah status, ia sama sekali tidak dapat merasakan kebahagiaan di hatinya layaknya pengantin pada umumnya. Yang ia rasakan justru kesakitan, kesunyian, kesedihan dan hampa yang begitu mendalam. "Milla, Sayang," Itu suara Laras, mamanya. Milla dapat mengenalinya dengan begitu jelas. Pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok Agus dan juga Laras yang menatap sendu ke arahnya. Laras berlari pelan menghampiri Milla lalu memeluk putrinya itu dengan begitu erat. Hatinya terasa sakit dan begitu teriris ketika menyaksikan Winda yang menumpahkan kekecewaannya terhadap Milla di atas podium tadi. Ingin sekali Laras membatu Milla namun ia tak kuasa. "Maafkan Mama, Sayang. Sebagai orang tua Mama gagal untuk membahagiakanmu." Milla menggeleng cepat. "Enggak, Mama nggak gagal untuk membahagiakan Milla. Selama ini Mama telah memberi kebahagiaan itu kepada Milla." "Tapi Mama merenggut masa depanmu. Mama menghancurkan kebahagiaanmu." "Ini bukan salah Mama mau pun Papa, ini keputusan Milla. Ini semua karena takdir, bukan salah siapa pun." Agus menatap Milla dengan pandangan bersalah. "Kamu bisa kembali kepada Andy setelah ini, Papa akan mengurus berkas perceraian mu-" "Enggak, Pa, Papa nggak perlu ngelakuin itu. Milla akan menanggung segala risiko dari keputusan yang telah Milla ambil. Lagi pula..., Andy juga membenci Milla, mana mungkin pria baik itu mau denganku." Bibir Milla menyunggingkan segaris senyum tipis, membuat Laras dan Agus semakin bersalah karena telah mengorbankan anak sulungnya, walaupun itu adalah keputusannya sendiri. "Jadi, Papa dan Mama tidak perlu khawatir, Milla akan tetap menjalankan pernikahan ini sebagaimana mestinya," hingga dia kembali dan mengambil miliknya. "Kamu yakin, Sayang? Mama dan Papa akan membicarakannya baik-baik dengan Mahesa dan keluarganya jika kamu-" "Enggak, Ma, itu nggak perlu. Milla ikhlas kok menjalaninya." Laras dan Agus saling berpandangan, mencoba mengirimkan beberapa sinyal, hingga akhirnya Agus mengangguk pelan. "Baik, jika itu mau kamu. Papa akan tetap dukung. Tapi, jika kamu ada masalah, bilang saja sama Papa dan Mama, kami akan membantumu. Karena bagaimanapun, kamu tetap anak kami." Milla mengangguk pelan, bibirnya kembali tersenyum walau hatinya tengah pilu. Tapi ia senang, karena memiliki orang tua yang selalu mendukungnya. "Hem, Papa dan Mama akan pergi, karena mungkin sebentar lagi Mahesa akan kemari untuk menemuimu. Jaga dirimu dan juga selalu jaga kesehatan ya, kami menyayangimu," ucap Agus diakhiri dengan mencium kening Milla dengan penuh kasih sayang, begitu pula dengan Laras. Lalu kemudian mereka keluar dari sana, karena Mahesa hanya memberi mereka waktu lima belas menit untuk menemui Milla. Dan benar, tak berselang lama Mahesa memasuki kamar mereka dengan wajah angkuh dan dingin seperti tadi. Entah apa yang tengah pria itu pikirkan, dan Milla tidak ingin mengetahuinya. Ia terlalu lelah karena masalah yang ia hadapi hari ini. Maka dari itu, ia ingin cepat-cepat mengganti pakaiannya, menghapus make up nya lalu kemudian berselancar menuju dunia mimpi sebelum sebuah panggilan yang terdengar begitu pelan namun juga tegas menginterupsi kegiatannya. Dengan perlahan Milla menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamar mandi. Lalu sedikit melirik ke arah Mahesa yang ternyata juga tengah menatapnya dengan begitu lekat, seakan pria itu tengah memikirkan sesuatu sebelum berbicara dengannya. "Ada apa?" tanya Milla kemudian. "Saya tidak tahu harus berkata apa. Tapi..., terima kasih," ucapnya kemudian. "Terima kasih? Untuk apa? Saya tidak melakukan sesuatu yang membuatmu harus mengucapkan terima kasih pada saya." Kali ini Mahesa semakin menatap Milla dengan begitu lekat, sehingga membuat aura tegasnya semakin memancar. Membuat Milla yang tanpa sadar mencengkeram erat gaun yang tengah ia kenakan. "Pernikahan, terima kasih atas pernikahannya. Kamu telah menyelamatkan nama baik keluarga saya." Mata elang itu melirik ke arah tangan Milla yang tengah mencengkeram erat gaunnya. Ada apa? Apakah istrinya itu takut kepadanya? "Jika tidak, mungkin saya dan keluarga saya akan menanggung malu akibat tingkah bodoh adikmu," lanjut Mahesa dengan nada mencibir di belakangnya ketika mengucapkan kata adik. Hati Milla sedikit bergemuruh mendengar ucapan Mahesa yang cenderung mencibir adiknya. Ia tahu bahwa adiknya salah, tapi pria di depannya ini tidak berhak untuk menjelekkan adiknya sedikit pun, apalagi di depannya. "Adik saya memang bersikap bodoh. Dan saya akan menebusnya, tapi jangan salahkan dia. Mungkin dia memiliki alasan tersendiri hingga harus memilih pergi." Lalu kemudian Milla menatap Mahesa dengan sedikit berani, dan tentu saja hal itu dibalas Mahesa dengan senang hati. "Dan saya melakukan ini bukan karena Anda, tapi karena kedua orang tua saya." Mengendikkan bahunya, Mahesa beranjak duduk di tepi ranjang dengan taburan kelopak bungan Mawar di atasnya. "Ya, dan setidaknya saya tidak harus menanggung malu karena itu." Milla terus memperhatikan gerak-gerik Mahesa dengan saksama, bahkan ketika pria itu sedikit bermain dengan taburan kelopak bunga mawar. Menjumputnya satu lalu membolak balikkannya dan akhirnya melemparkannya. "Jadi, tugas saya telah selesai, bukan? Menyelamatkan nama baik Anda dan juga keluarga Anda." "Maksud kamu?" Milla dapat melihat kerutan di sana. Menarik napasnya perlahan, Milla menatap Mahesa dengan lekat. Ia harus melakukan ini, karena Milla tahu, bahwa ini hanya sementara sampai adiknya itu kembali lagi. Karena Milla sadar, bahwa ia hanyalah seorang pengganti. "Hanya mengantikan posisi adik saya, maka setelah ini saya bisa pergi dan-" "Dan kamu akan kembali kepada tunanganmu yang telah membuangmu itu?" potong Mahesa dengan cepat. Ia bingung, namun ada rasa yang membuatnya ingin marah ketika pemikiran itu terlintas di benaknya, pemikiran ketika membayangkan Milla kembali kepada tunangannya. "Apa kamu bodoh?" Mahesa semakin memicingkan matanya, dan kini mata tajam itu terlihat semakin mengerikan di mata Milla, hingga membuat Milla tidak berani menatap matanya dan lebih memilih untuk memalingkan pandangannya. "Saya rasa ya. Dan, jika Anda menginginkan perceraian maka saya akan-" "Tidak akan ada perceraian!" potong Mahesa cepat, memikirkan atau mendengar kata perceraian membuat hatinya panas. "Tapi, saya hanya pengganti adik saya yang pergi...," "Maka kamu harus menggantikannya sampai dia kembali, jika kamu menganggap dirimu adalah seorang pengganti." Mahesa telah berdiri dengan tegak, menatap Milla lekat seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahannya. "Melakukan kewajiban dan hak yang dilakukan oleh seorang istri pada umumnya." "Pernikahan ini..., bukanlah kehendak kita." Mahesa mengangguk mengiyakan ucapan ragu-ragu yang berasal dari Milla. "Tapi kita telah menikah secara agama dan juga negara. Kita sah di mata hukum." "Tapi-" "Ya, atau tidak sama sekali." Suara itu terdengar pelan namun tegas secara bersamaan. Dan kini Milla tahu, bahwa Mahesa bukanlah seseorang yang suka berkata kasar. Namun, hanya dengan suara pelannya, pria itu sanggup mengintimidasi lawan bicaranya. "Saya bukan orang penyabar dan suka memberikan pilihan. Saya adalah orang yang hanya mengerti kata Ya. Dan saya tidak suka dibantah mau pun diatur, oleh siapa pun," lanjutnya dengan mata yang terus mengintimidasi Milla, membuat gadis itu merasakan ketakutan dan akhirnya tunduk kepadanya. "Kali ini saya akan memberimu kesempatan dengan memberikan sebuah pilihan. Iya, atau tidak sama sekali." "Baiklah, tapi saya ingin melakukan sebuah perjanjian di sini." Milla mengangguk dan akhirnya mendongak menatap Mahesa yang berdiri di depannya. Ia harus kuat dan berani. Ini satu-satunya kesempatan yang ia punya, dan Milla tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja. "Perjanjian?" Sebelah alis Mahesa terangkat, dan matanya memincing menatap Milla. "Ya, hitam di atas putih." Mahesa tersenyum miring. "Ini bukan sebuah pernikahan kontrak seperti di film atau pun novel romansa yang pernah kamu lihat atau baca. Ini kenyataan, Milla, dan pernikahan bukanlah sebuah permainan." "Karena ini bukanlah permainan, maka saya menginginkan sebuah kepastian dan perjanjian yang jelas di dalamnya." "Apa kamu tidak akan menyesalinya?" Mahesa melangkah secara pasti dan berdiri tepat di depan Milla, hingga jarak mereka hanya tersisa lima puluh senti meter saja. Milla menggeleng pelan lalu tersenyum tipis. "Menyesal atau tidak, kurasa itu adalah urusan saya, dan bukan urusan Anda, Tuan Mahesa." "Ah," Mahesa menunjukkan smirknya. "Ya, kamu benar. Itu urusanmu dan bukan urusanku." Menghela napas pelan Mahesa kembali menatap Milla lekat. Mahesa tidak paham dengan apa yang tengah Milla pikirkan. Namun yang dapat Mahesa tangkap adalah, Milla tengah membangun sebuah benteng pertahanan di antara mereka. Entah apa yang membuat Milla melakukan hal tersebut di saat ia akan mencoba menerima gadis itu sebagai istrinya. "Tapi itu dulu, ketika kamu masih lajang. Namun sekarang, kamu telah menjadi istri saya, Milla Faiqa Rahardian." Milla tertegun ketika Mahesa mengucapkan nama lengkapnya namun mengganti marganya dengan marga miliknya. Entahlah, namun Milla masih bingung dengan apa yang pria itu inginkan sebenarnya. "Saya tahu, namun saya juga memiliki hak untuk menentukan pilihan saya sendiri, Tuan Mahesa." "Apa kamu memang suka membangkang ucapan seseorang, Milla?" Mata Mahesa memincing tajam menatap Milla. Kepala itu menggeleng pelan. "Tidak," "Lalu kenapa sekarang kamu selalu membangkang apa yang saya ucapkan?" "Hanya untuk mempertahankan diri saja." "Dari?" "Dari sesuatu yang memang dari awal bukanlah milik saya. Saya hanyalah seorang pengganti, dan saya tidak ingin terjebak oleh sesuatu yang tidak boleh saya miliki." "Saya tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Ke arah mana ia akan berlabuh, ke arah mana ia akan berjalan dan akhirnya berhenti karena lelah. Kamu terlalu membatasi diri." "Saya memang harus melakukan hal ini. Karena saya telah berjanji kepada seseorang." Berjanji? Tentu saja, Milla telah berjanji kepada orang itu. Dan karenanya pula, Milla harus berkorban sekali lagi. "Tunanganmu itu? Apakah kalian telah bertemu lagi di belakang saya?" Mahesa tersenyum sinis. Sial! Membayangkan Milla bertemu lagi dengan mantan tunangannya di belakangnya membuat hatinya bergemuruh tidak terima. "Kenapa Anda bertanya seolah Anda cemburu dengan itu? Bertemu atau tidak, itu urusan saya-" "Kamu adalah istri saya. Dan kamu bukan lagi wanita lajang seperti dulu. Apa yang terjadi dan kamu lakukan adalah tanggung jawab saya sekarang." Mahesa menekan setiap kata yang ia ucapkan, apalagi di bagian kata istri. "Ah, apakah sekarang Anda tengah berperan sebagai suami yang baik dan pengertian?" "Terserah apa katamu, tapi saya menginginkan beberapa hal dari pernikahan ini." Sebuah senyuman kecil muncul di sudut bibir Mahesa. Sangat kecil, dan bahkan Milla tidak dapat melihat hal tersebut. Mahesa mempunyai sebuah rencana yang akan menunjang keberhasilan misinya. Tentu saja misi untuk membuat pernikahan yang nyata, karena bagaimanapun, Mahesa hanya menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Dan Mahesa akan membuat pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya. "Apa?" "Saya ingin kamu...," _________________________ [Cerita ini hanya dapat dibaca secara online atau versi digital di aplikasi Innovel / Dreame ©®2019 by Olipoill]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD