BAB 4 - SEBUAH PERSYARATAN

1605 Words
Mahesa menggantungkan kalimat yang hendak ia ucapkan, dan pria itu nampak menatap Milla dengan lekat melalui kedua mata tajamnya. Membuat Milla sedikit risih karena diperhatikan dengan begitu intens. "Kenapa Anda memandang saya seperti itu?" ucap Milla buka suara. Kedua matanya bergerak ke sana kemari dengan tidak nyaman. Kenapa Mahesa terus menatapnya? Apakah ada yang salah dengan penampilannya? Kepala Milla sedikit menunduk untuk menatap gaun yang ia kenakan. Gaunnya baik-baik saja, atau, jangan-jangan make up yang ia kenakan luntur karena ia terlalu banyak menangis sejak tadi? "Apa yang Anda inginkan? Tolong jangan menatap saya seperti itu!" "Memang kenapa? Apa salah, jika seorang suami menatap istrinya sendiri?" Jawaban Mahesa justru membuat Milla semakin salah tingkah, namun ia tidak boleh terlena begitu saja. "Tidak, tapi saya merasa tidak nyaman," jawab Milla yang memilih untuk jujur. Bersikap tak acuh, Mahesa justru menyamankan posisi duduknya di atas ranjang. Dengan menaikkan kedua kakinya dan tubuh yang bersandar pada kepala ranjang. Mahesa kembali menatap Milla dengan intens, dan jangan lupakan juga kedua lengan kekarnya yang bersedekap angkuh. "Kalau begitu, biasakan. Karena mulai saat ini, saya akan terus menatapmu dengan intens." Menghela napasnya pelan, Milla memilih untuk tidak menanggapi ucapan Mahesa yang terdengar menggodanya. Dan Milla tahu, bahwa Mahesa sengaja melakukan hal tersebut. "Jadi apa yang Anda inginkan sebenarnya? Jika tidak ada, saya ingin membersihkan diri." Mahesa beranjak dari duduknya, kemudian dengan perlahan berjalan mendekat ke arah Milla yang masih berdiri dengan tenang. Wanita itu nampak begitu tenang menunggu jawabannya. Benarkah itu sikap Milla yang sesungguhnya, atau hanyalah sebuah benteng pertahanan belaka? Mahesa penasaran. Dan pria itu pasti akan mencari tahunya. "Saya menginginkan pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya. Berjalan sebagaimana seperti pernikahan pada umumnya." Kedua mata elang milik Mahesa menatap Milla dengan begitu intens, menunggu respon dari wanita yang telah berstatus sebagai istrinya. Namun di luar dugaan, Milla tetap diam dan bersikap tenang menunggu kelanjutan dari ucapannya. "Maka dari itu saya ingin kamu melayani saya sebagaimana tugas istri terhadap suami. Dan saya juga akan memberikan hak kamu sebagai istri. Saya juga akan bersikap seperti suami yang baik." Dahi Milla sedikit mengerut mendengar penjelasan Mahesa. Jadi, pria itu menginginkan pernikahan yang sesungguhnya? Tapi bukankah ia hanya seorang pengganti? Hingga nanti saatnya tiba. "Tapi, pernikahan ini-" "Pernikahan ini sah, Milla, dan kamu adalah istri saya. Dan bukankah tadi kamu telah menandatangani dokumen pernikahannya?" Mahesa sedikit geram, karena sikap Milla yang mencoba untuk terus menyangkal kebenaran tersebut. "Tapi saya hanya pengganti...," "Kenapa kamu selalu mengucapkan kata itu? Kamu bukan pengganti, kamu istri saya sekarang!" "Saya memang istri Anda. Tapi saya hanya istri pengganti hingga adik saya kembali." "Kalau begitu gantikan dia dengan baik hingga dia kembali! Kamu puas?" "Kenapa Anda begitu marah? Seharusnya saya yang merasa dirugikan di sini karena gagal menikah dengan orang yang saya cintai." "Tentu saja saya marah! Karena jika adikmu yang bodoh itu tidak melarikan diri, maka kamu tidak perlu menikah dengan saya! Maka salahkan saja adikmu itu!" "Saya tidak bisa menyalahkannya." "Kalau begitu terima saja takdirnya!" Mahesa menghela napasnya kasar. "Tuhan menakdirkanmu menikah dengan saya, dan bukan dengan tunanganmu itu, maka nikmati saja!" "Ya, saya sedang mencobanya." "Bagus! Kalau begitu, kita kembali ke kesepakatan awal." Mahesa menatap Milla dengan begitu lekat. "Lakukan tugasmu sebagai istri, sebagaimana mestinya dan saya juga akan melakukan tugas saya sebagai suami sebagaimana mestinya. Deal?" Milla menatap Mahesa dengan begitu lekat. Ia nampak memikirkan sesuatu sebelum menyetujui permintaan Mahesa. Sebenarnya, apa yang sedang Mahesa rencanakan? "Sebenarnya, apa tujuan Anda melakukan ini semua?" Sebelas alis Mahesa terangkat, matanya sedikit memincing menatap Milla dari atas hingga bawah. Membuat sang empu yang ditatap seperti itu sedikit menggerakkan tubuhnya gelisah. Bibir Mahesa tertarik, menampilkan sebuah seringaian. "Kenapa? Saya hanya ingin dilayani istri saya secara lahir dan batin." Seringaian Mahesa bertambah lebar ketika menatap wajah Milla yang nampak pias. "Saya pria normal, Milla, jadi wajar jika saya juga menginginkan kepuasan dari istri saya. Dan mana mungkin saya menyia-nyiakan tubuh sintal di depan saya ini?" Batin Milla menjerit kencang. Ia tidak menyangka jika ternyata wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja semesum ini. Apakah pria yang berstatus sebagai suaminya ini juga seorang p****************g yang suka menggoda para wanita? "Satu lagi, saya juga memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Apalagi usia saya sudah cukup untuk hal tersebut." "Anda bisa mendapatkan kepuasan biologis itu dari perempuan lain." "Maksudmu jajan di luar?" Dan tanpa sadar Milla menganggukkan kepalanya. Mahesa tidak menyangka jika ternyata istrinya lebih menyuruhnya untuk berselingkuh dari pada melayaninya. Istri yang langka! "Untuk apa saya jajan di luar jika saya memiliki makanan yang lezat dan sehat di rumah? Lagi pula, jajan di luar itu tidak sehat, apalagi jika makanannya tidak hygenis." Tubuh Milla sedikit tersentak ketika merasakan hembusan hangat di telinganya. Dan ia baru menyadari jika kini Mahesa telah berdiri di belakangnya. Bahkan dapat Milla rasakan hembusan hangat dari napas Mahesa yang berada di ceruk lehernya. "Kamu rela jika suamimu memilih jalang di luar sana dari pada istrinya sendiri?" ucap Mahesa pelan yang bahkan menyerupai sebuah bisikan. Milla meneguk salivanya dengan susah payah. Jujur saja, istri mana yang rela melihat suaminya bersama wanita lain dari pada dirinya sendiri. Namun, di sini masalahnya berbeda. Haruskah ia menyerahkan tubuhnya? Tapi..., "Lagi pula, kamu tahu bukan, jika menolak suami itu hukumnya dosa." Kali ini Milla dapat merasakan usapan halus jemari panjang milik Mahesa di sepanjang punggungnya. Pria itu nampak begitu berani, hingga tangan tersebut berhenti tepat di bongkahan p****t sintal milik Milla lalu meremasnya pelan dan seduktif, membuat Milla memekik kaget karenanya. Sedangkan Mahesa, pria itu terkekeh kecil melihat reaksi Milla yang menurutnya sangat menggemaskan. "Jadi...," "Baiklah!" ucap Milla cepat seraya menjauhkan tubuhnya dari dekapan Mahesa ketika ia merasakan tangan Mahesa yang semakin bergerak ke depan mencoba untuk meraba perutnya lalu bergerak turun ke bawah secara perlahan. Milla berbalik, kemudian menatap Mahesa dengan tatapan tajam. Ia marah karena Mahesa bersikap kurang ajar terhadapnya, namun Milla tidak bisa menyalahkan pria itu, karena itu juga merupakan hak Mahesa. Bukannya takut karena ditatap dengan begitu tajam oleh Milla, Mahesa justru terkekeh pelan seraya mengusap dagunya perlahan. "Bagaimana?" Mata Milla masih menatap Mahesa dengan begitu tajam, hingga ia menghembuskan napasnya kasar. "Baiklah, saya akan melakukan seperti yang Anda mau." "Bagus." "Tapi saya menginginkan sebuah perjanjian dalam pernikahan ini," lanjut Milla dengan cepat. Sebelah alis Mahesa terangkat, matanya memincing menatap Milla sedikit tidak suka. Apa maksudnya wanita itu membuat perjanjian dengannya. "Perjanjian?" "Ya, hitam di atas putih. Tertulis dengan jelas, dan bertanda tangan di atas materai. Beserta pengacara yang menjadi saksi." Milla menjawab dengan begitu mantap. Ia telah memikirkan hal tersebut matang-matang. Ia telah mengira jika Mahesa pasti akan menuntut haknya sebagai seorang suami terhadap Milla yang merupakan istri sahnya. Maka untuk membuat sebuah benteng pertahanan Milla harus membuat perjanjian pernikahan di antara mereka. "Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu? Apakah kamu tidak akan menyesalinya?" Sedikit ada rasa tidak nyaman di dalam hati Mahesa ketika Milla meminta perjanjian pernikahan di antara mereka. Mahesa masih tidak mengerti kenapa Milla begitu membatasi dirinya. Apa wanita itu membencinya karena ia gagal menikah dengan orang yang dicintainya. Tentu saja bodoh! Wanita mana yang tidak marah dan benci ketika rencananya gagal begitu saja? Sial! Bahkan kini iner Mahesa pun mengatainya. Tapi tunggu dulu, ini bukan sepenuhnya salah Mahesa, namun salah adik Milla yang bodoh itu! Tapi, jika ditelaah lebih lanjut, tidak heran juga jika Mitta melarikan diri di hari pernikahan mereka. Karena dari awal pun, Mahesa sudah dapat melihat jika Mitta tidak menyukainya bahkan cenderung menghindarinya. Bahkan gadis itu tidak ikut bersama Mahesa untuk memilih gaun dan cincin pernikahan. Gadis itu selalu memiliki alasannya sendiri untuk menghindarinya. Mahesa tersenyum miring mengingat hal tersebut, dia marah, tentu saja karena secara tidak langsung, Mitta telah menolaknya dan saat ini, kakaknya pun, Milla juga berusaha untuk menolaknya. Tidak ada wanita yang sanggup untuk menolak pesona seorang Mahesa Rahardian sebelumnya. Dan kini, kakak beradik itu menolaknya. Sial! "Tentu saja, saya sangat yakin dengan keputusan yang saya buat ini. Dan saya tidak akan menyesali hal tersebut. Karena dari awal, memilih untuk menikah dengan Anda, adalah keputusan saya. Dan saya harus menerima segala konsekuensinya." "Tapi, kenapa? Kita tidak perlu perjanjian, kita hanya perlu-" "Kita akan bercerai setelah adik saya kembali. Jika Anda lupa, saya hanya seorang pengganti." "s**t!" Mahesa mengumpat dengan sedikit keras, membuat Milla sedikit terlonjak, namun wanita itu berusaha untuk tetap bersikap tenang. "Haruskah kamu selalu mengucapkan kata memuakkan itu?" "Tentu, karena-" "Cukup, Milla!" ucap Mahesa sedikit membentak, wajahnya nampak memerah menahan amarah. "Saya muak mendengar kata pengganti yang keluar dari mulutmu itu!" Dengan cepat Mahesa menarik lengan Milla hingga kini jarak mereka hanya terpaut beberapa senti saja, kemudian kedua tangannya mencengkeram bahu Milla dengan sedikit kencang. "Dan satu lagi, tidak akan ada perceraian di antara kita!" Milla menggeleng pelan. "Tapi saya telah berjanji kepada seseorang." "Siapa? Tunangan berengsekmu itu? Kamu akan kembali padanya setelah kita bercerai? Iya?" ucap Mahesa cepat, ada nada marah di dalamnya. Ia marah? Tentu saja! Ia benci? Tentu saja! Ia muak? Jangan tanya lagi! Ia benci ketika membayangkan Milla akan kembali kepada tunangannya itu. Apalagi ketika mengingat ibu Andy yang telah mempermalukan dan mencaci Milla di depan semua tamu undangan. Hal itu membuat Mahesa menggeram marah. "Anda tidak perlu tahu." Kepala Milla sedikit menunduk sebelum akhirnya menatap Mahesa dengan lekat. "Yang jelas sekarang, saya telah menyetujui keinginan Anda. Dan saya memiliki beberapa syarat dalam perjanjian ini." Mahesa melepaskan kedua tangannya dari bahu Milla, pria itu menyisir rambutnya dengan sedikit frustrasi sebelum akhirnya kembali menatap Milla dengan napas yang sedikit memburu. "Apa syaratnya?" _________________________ [Cerita ini hanya dapat dibaca secara online atau versi digital di aplikasi Innovel / Dreame ©®2019 by Olipoill]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD