Akhir-akhir ini entah mengapa, setiap kali aku melihat Utha rasanya sebal sekali. Entah itu saat bertemu dengannya di kantor, atau bahkan lebih parahnya saat kami bertemu di luar, rasa ingin meledak itu berkali-kali lipat semakin menjadi. Meski tentu saja aku berusaha mengendalikan perasaan itu, selain karena aku tidak tahu alasan kenapa sikapku seperti ini, aku juga tidak ingin Utha menganggapku gila karena marah-marah tanpa alasan padanya. Tidak seperti hari biasanya yang bisa begitu saja ku lewati dengan menahan diri, hari itu ketika bertemu Utha di kantor rasa ingin marah-marah itu berlipat ganda hingga aku tidak bisa menahannya lagi, kecuali di depan umum. Aku berteriak meminta siapa pun yang ada di dalam lift menahannya untukku, hingga dengan nafas terengah akhirnya aku menaiki

