Jay berjalan tegap dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan matanya yang dingin nan tajam, seperti ada aura hitam di sekitarnya yang siap membunuh siapapun yang berada di sekitarnya. “Sa, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu membuat keributan di sini?” “Aku hanya ingin membuat dia mengakui semua kesalahannya Om. Dia itu—“ “Cukup Asa. Tolong jangan buat keributan di sini. Bukankah saya sudah bilang, kamu harus punya buktinya dulu, jangan menuduh orang sembarangan.” Asa merasa tertohok atas penuturan dari suaminya yang terdengar seperti membela Fania dari pada istrinya sendiri. “Apa Om? Jadi, Om menuduh aku sudah berbohong heuh? Apa Om ngga cinta sama aku?” “Bu-bukan begitu maksud saya Sa. Saya hanya perlu bukti. Lebih baik sekarang kamu pulang.” “Om ngusir aku?” tanya Asa denga

