Kini Selvi sedang menunggu sang suami Gilang untuk sarapan. Selvi mencoba untuk tetap menjalankan tugasnya menjadi istri padahal hatinya sedang kacau.
Selvi berulang kali menarik nafas untuk menetralkan rasa sakit di hatinya ketika mengingat ucapan sang nenek Gilang kemarin. Selvi melihat Gilang turun dari tangga dan menghampirinya kemudian mencium keningnya.
"Pagi hon."
"Pagi hon."
"Sorry hari ini sandwich ya sarapannya."
"Ok."
"Oh ya nanti aku izin mau jalan - jalan." Ujar Selvi.
"Jalan - jalan ke mana sama siapa?"
"Oh sendiri mungkin." Setelah menjawab itu Selvi kemudian diam sampai acara makan selesai.
Gilang yang merasa sang istri pagi ini berbeda ingin menanyakan apa yang sedang terjadi dengan Selvi tapi ia urungkan terlebih dahulu. Gilang tidak ingin hari Selvi diawali dengan pertengkaran mereka."
"Ok hati - hati dan kabarin aja." Akhirnya Gilang mengiyakan keinginan istri.
****
Sandra saat ini sudah masuk ke dalam ruangan atasannya guna membahas tentang pembangunan resort di Bali. Dari tadi setelah berdiskusi dengan Gilang dan terjadi kesepakatan bahwa mereka malam ini harus pergi ke Bali untuk memantau pembangunan resort tetapi Arsa tidak bisa ikut karena Asra sedang mempersiapkan acara pertunangannya.
"Nanti malam berangkat jam 8."
"Baik pak."
"Kamu sudah memesan tiket untuk kita?"
"Sudah pak saya sudah memesan tiket pesawatnya, apakah bapak ada request?" Tanya Sandra.
"Ah engga. Yasudah kamu balik ke meja kamu dan persiapkan sampai mana perkembangan resort."
"Baik pak saya permisi undur diri." Kemudian Sandra keluar ruangan Gilang.
Sampai di meja ternyata Arsa belum balik dari fitting baju untuk pernikahannya. Sandra menghelas nafas karena pasti dirinya yang harus extra untuk menyiapkan laporan resort. Suara keyboard mendominasi meja Sandra diiringi suara musik kecil agar ia tak bosan.
Setelah 10 menit kemudian bunyi lift menyadarkan Sandra dari kerjaannya ia menoleh kearah lift dan menemukan Arsa. Arsa datang dengan wajah sumringahnya dan senyuman tak pernah luntur dari wajahnya. Sandra yang melihatnya merasa jengah.
"Hehehe sorry agak lama tadi gue sarapan dulu bersama calon tunangan, nih gue bawain kopi sebagai tanda maaf gue." Rayu Arsa.
"Makasih loh ya sudah sadar diri wkwk." Canda Sandra.
"Gimana pak bos aman?"
"Masih aman tapi engga tahu untuk beberapa jam kemudian ataupun beberapa menit ke depan wajahnya tadi bete dari pagi makanya waktu kita berdiskusi gue agak takut kena semprot." Jelas Sandra secara hati - hati.
"Sabar sabar nanti dapat bonus akhir tahun."
Seperti dugaan Sandra benar kini tak sampai menunggu beberapa jam kemudian Arsa dan Sandra mendapat telfon bahwa Gilang menginginkan secangkir kopi buatan Sandra yang menurut Gilang pas. Setelah mendengar keinginan bosnya kemudian Sandra membuatkan kopi dan mengantarkannya ke ruangan Gilang.
Sandra baru duduk di kursinya dan mulai melanjutkan kerjaanya kini bunyi suara telpon intercom berbunyi kembali, kini Arsa yang mengangkatnya.
"Pak Gilang mau makan siang steak sana pesenin." Suruh Arsa.
"Kok gue sih."
"Sekalian lo beli buat kita, gue mau pergi ke bagian pemasaran nih atau mau lo yang ketemu pak Andy?"
"Ogah gue ketemu pak Andy, yaudah gue yang pesan makan aja."
Tentu Sandra memilih memesan makanan ia tak ingin bertemu dengan kepala divisi pemasaran karena pak Andy mencoba mendekati Sandra dan berakhir mengajak Sandra untuk makan siang bersama.
****
"Hai sudah lama Sel? Sorry tadi ada kerjaan bentar." Jelas Andre
Ya saat ini Selvi meminta Andre untuk bertemu di jam makan siang. Selvi ingin mengajak Andre menemani dia berjalan - jalan ataupun ngobrol.
"Santai aja Ndre." Jawab Selvi diiringi senyumannya.
"Weits udah ada makanan nih. Ada apa lo ngajak gue ketemu?" Tanya Andre yang saat ini mulai makan.
"Gue mau cerita tentang nenek."
"Nenek Ami nenek kita?" Tanya Andre dan dijawab anggukan kepala Selvi.
"Kemarin gue, Gilang, Galang dan Nana ke sana lo tahu Ndre apa yang nenek katakan ke gue?" Tentu saja Andre menggeleng.
"Nenek ingin gue cepat ngasih Gilang anak."
"Kan itu keluarga besar juga udah biasa kan begitu." Jawab Andre
"Ya emang sudah biasa hingga gue lama - lama tersinggung atas ucapan mereka. Lo tahu Ndre yang dikatakan nenek kemarin bener - bener ngebuat gue terkejut nenek minta gue buat Gilang nikah lagi dan punya anak." Mendengar cerita Selvi, Andre yang sedang minum pun tersedak.
"Gila - gila nending kita cepat selesaikan makan dan kita bicara di tempat lain." Ajak Andre.
Kini mereka berada di taman yang cukup mrmbuat pikiran Selvi lebih rileks.
"Terus apa yang mau lo lakuin Sel?"
"Gue belum tahu tapi setelah gue fikir - fikir sepertinya pilihan menyuruh Gilang untuk menikah lagi adalah yang terbaik. Gue sama Gilang sudah pernah program bayi tabung tapi gagal keluarga pun tidak ada yang tahu bahwa kita mencoba bayi tabung." Jelas Selvi dna benar Andre bahkan belum tahu tentang fakta itu.
" Gila lo Gilang mana mau menikah lagi sih Sel."
"Gue akan coba bujuk Gilang dan gue yang akan lilih calon istrinya. Ini pilihan terbaik Ndre menurut gue." Jelas Selvi dan kemudian dia menangis.
Andre yang melihat Selvi menangis tentu saja membuat dia tidak tega kemudian entah bagaimana kini Selvi berada dipelukan Andre, Selvi menumpahkan segala kesedihan dia hari ini. Acara pelukan antara Selvi dan Andre ternyata dilihat oleh 2 pasang mata yang juga sedang berada di taman tersebut.
****
Gilang pulang ke rumah dan kondisinya sepi, Gilang menduga bahwa Selvi saat ini masih belum pulang. Kemudian Gilang menuju kamarnya dan membersihkan diri.
Setelah selesai mandi kini Gilang beralih ke walking closet mencari kopernya, Gilang mulai menyusun pakainnya di koper walaupun tidak banyak membawa pakaian. Setelah selesai packing kini Gilang menuju dapur untuk memasak makan malam, dia tidak mungkin menunggu Selvi pulang walaupun dia telah mengirimkan pesan bahwa dia akan flight ke Bali malam ini tapi belum ada balasan dan tanda dibaca oleh Selvi. Sesaat setelah Gilang selesai masak kini Selvi sudah sampai di rumah.
"Sorry telat tadi bertemu Andre dan kita ngobrol." Jelas Selvi merasa tidak enak karena Melihat Gilang memasak.
"Engga papa aku juga ngerti kamu yang ingin jalan - jalan. Oh ya aku habis ini mau berangkat ke Bali tadi aku sudah kirim pesan ke kamu." Izin Gilang saat Selvi ingin berucap protes Gilang sudah menjelaskan bahwa ia sudah mengirimkan pesan tapi belum dibaca oleh Selvi.
"Ah maaf karena aku belum buka hp, kalau begitu aku mau mandi dulu dan ada yang mau aku bicarakan."
Gilang menunggu Selvi di ruang keluarga, selama menunggu Selvi Gilang kini membaca laporan pembangunan resort yang tadi dibuat Sandra. Selvi kini sudah duduk di samping Gilang dan ia mulai bicara.
"Aku mau bicara sama kamu ini penting."
"Iya bicara aja."
"Matikan dulu laptopnya."
"Aku ingin kamu menikah lagi."
Jedarrrrr
Kalimat yang diucapkan oleh Selvi mampu membuat Gilang kaget dan marah.
"Apa maksudmu!! jangan ngaco kamu." Teriak Gilang.
Karena mendengar teriakan Gilang kini Selvi tersulut rasa marahnya dia sudah lama tidak mendengar teriakan Gilang setelah terakhir bertengkar.
"Kamu tahu aku sudah mulai stress dna capek mendengar permintaan keluarga kamu yang ingin aku punya anak, kamu tahukan kita sudah berusaha tapi gagal lagi. Jadi tolong mau ya menikah lagi aku yang akan carikan istri yang cocok untuk kamu dan calon anak kamu nanti. Kita engga bakal pisah kita akan bersama selamanya." Awalnya Selvi ikut berteriak tapi lama kelamaan dia mulai berbicara halus.
"Lelucon apa ini Selvi, aku tidak mau menikah lagi."
"Aku engga mau tahu kamu pokoknya harus menikah lagi dan punya anak."
Mendengar penuturan Selvi yang terkahir membuat Gilang benar - benar marah sebelum Gilang membuat hal - hal yang tidak kepada Selvi dia meninggalkan Selvi yang mulai menangis.