Sah

1638 Words
Hari ini merupakan hari yang sangat dinantikan oleh keluarga Gilang dan Sandra karena hari ini Gilang dan Sandra akan melangsungkan pernikahan. Pernikahan Gilang dan Sandra hanya dihadiri oleh keluarga dan beberapa teman dekat keduanya saja. "Bagaimana para saksi Sah?" Tanya pak penghulu kepada para saksi. Sah... Sah... "Alhamdulillah." Pak penghulu kemudian berdoa setelah akad. "Silahkan cium kening istrinya pak." Pak penghulu memberikan arahan kepada Gilang dan Gilang mencium kening Sandra setelah mereka tadi memasangkan cincin pernikahan keduanya. Setelah acara akad selesai kini acara makan - makan. Keluarga dan para sahabat kini membaur menjadi satu. Selvi dan sang mama kini juga ikut bergabung dnegan keluarga Gilang. Selvi sedari tadi mencoba memasang wajah tersenyum dan ikhlas tetapi dalam hatinya tidak, begitu juga dengan sang mama Selvi yang hanya menampilkan raut wajah yang datar. "Sel nanti menginap di sini saja ya, nanti kamu kasihan di rumah sendirian." Mama Andini mengusulkan hal itu. "Selvi menginap di rumah mama Rosa saja ma, Selvi lama tidak menginap di sana. Kalau nanti aku juga nginap di sini kak Gilang bisa salah masuk kamar ma." Selvi menimpali usulan mama mertuanya dengan gurauan yang hanya digunakan sebagai topeng kesedihan. "Ah kamu bisa aja." Goda mama Andini. "Kasihanlah nanti masa pengantin baru suaminya salah kamar jadinya dianggurin deh." Mama Rosa ikut berbicara dan terdengar ketus. Sandra yang mendengarkan hal itu hanya bisa menunduk dan menghela nafas. Sandra merasa serba salah berada di tengah - tengah keluarga Gilang. "Sayang kamu makan dulu sana. Gilang ajak Sandra makan terlebih dahulu." Nenek Gilang berucap perhatian kepada Sandra, ya nenek Gilang menyukai Sandra sejak pertama bertemu secara tidak sengaja saat dulu. "Baik nek. Ayoo." Ajak Gilang mulai menggenggam tangan Sandra. Selvi yang melihat perlakuan Gilang kepada Sandra hanya dapat menahan emosi. Selvi menggenggam erat sendok yang ada di tangannya, hal tersebut diketahui oleh sang nenek. "Sekarang kamu sudah mulai berbagi Selvi jadi biasakan Gilang berperilaku manis kepada Sandra." Ingat nenek kepada Selvi. "Bagaimana bisa anak saya baik - baik saja." Mama Rosa mulai geram dengan perkataan nenek Gilang "Bukankah Selvi yang menyuruh Gilang menikah kembali?" Nenek bertanya kepada Rosa dengan tenang. "Benar tetapi apabila kalian tidak memberi tekanan kepada Selvi agar cepat memberi Gilang anak Selvi tidak mungkin melakukan hal ini." Mama Rosa marah kepada semuanya. "Ya sudah beri aku cicit kalau gitu selesaikan." Nenek menjawab dengan ketus. "Andaaa... " Mama Rosa mulai menaikkan suaranya. "Sudah - sudah inikan kesepakatan bersama, apabila Selvi tidak setuju harusnya Selvi cepat bertindak." Papa Gilang menengahi perdebatan mereka. "Hargai Sandra dan Gilang yang baru saja mengucapkan janji suci." Mama Andini nerdiri kemudian mengajak sang mama untuk istirahat saja di kamar. "Baik pa Selvi tidak akan merasa cemburu dan Selvi izin pulang terlebih dahulu." Selvi kemudian pergi menuju mobil diikuti sang mama. "Kalau mama mau ngomel - ngomel lebih baik mama pesan taksi online saja, Selvi pusing ma." Selvi kemudian tidur di mobil di temani sang mama. **** Setelah mengajak Sandra pergi keduanya masih bisa mendengarkan perdebatan antar orang tua. Sandra yang merasa menjadi topik pembicaraan hanya bisa pasrah saja bahwa nanti mamanya Selvi akan benci kepadanya. Gilang yang melihat perubahan raut wajah Sandra merasa kasihan, kemudian Gilang membawa Sandra ke pelukannya. "Sudah jangan didengarkan inikan kemauan bersama jadi engga ada yang perlu disalahkan oke." Gilang mencoba menenangkan Sandra. "Mentang - mentang pengantin baru pelukan di dapur ckckckck kamar sana." Goda Galang kepada pengantin baru tersebut. Sandra dan Gilang kini bergabung dengan para temannya, Sandra sebenarnya sudah ingin ganti pakaian tetapi ia merasa tidak enak kepada semuanya. Sandra dan Gilang menjadi bahan ledekan disana. "Hay San sekarang lo udah jadi bagian keluarga Wijaya." Galang mendekat ke arah Sandra dan memeluknya sebagai tanda mereka sekarang keluarga. "Panggil Sandra kakak yang sopan." Ingat Gilang kepada Galang. "Engga nyangka Sandra jadi nyonya Wijaya." Goda Arsa. Mereka kemudian mengobrol antar laki - laki sedang para perempuan sedang mengobrol sendiri. "Hati - hati ya San Gilang ganas." Goda Erica sebagai sepupu Gilang. "Kak." Sandra shock mendengar itu. "Hadeuhhh lo kak Sandra kan jadi takut ya San." Kini istri Johan yang bernama Puri mengingatkan Erica agar tidak berbicara yang bukan - bukan tentang Gilang. "Gimana San rasanya jadi istri kedua?" Tanya Nana kepada Sandra. "Emmm engga tahu deh, soalnya juga baru banget yang jelas kalau sekarang ditanya gimana perasaannya tentu aku merasa engga enak kepada kak Selvi dan mamanya." Jelas Sandra dengar jujur. Kini Erica mendekat ke Sandra kemudian dia memgang tangan Sandra, "Kamu engga usah merasa bersalah San ini semua sudah keputusan bersama selama om, tante dan nenek menerima kamu kamu tidak perlu takut dan merasa bersalah. Ada kita juga yang akan selalu membantu kamu jangan sungkan ya cerita ke kita kalau ada apa - apa." Sandra yang mendengar itu kemudian memeluk Erica dan mengucapkan terima kasih Saat sedang berpelukan terdengar teriakan anak kecil yang memanggil sang mama. "Mama mama, mama pelukan sama tante csntik kok engga ajak Rara sich ma." Rara sebal karena tidak diajak berpelukan. "Sini sayang peluk tante." Sandra membawa Rara ke pelukannya. "Tante cantik sekali, Rara mau jadi seperti tante." Rara membingkai wajah Sandra dengan dua tnagan mungilnya. "Tanpa harus jadi tante, Rara sudah cantik sekali kaya barbie." Jelas Sandra sambil menatap Rara. "Benarkah?" Tanya Rara kemudian memeluk Sandra kembali. Gilang dan yang lainnya sudah selesai mengobrol kini beberapa temannya mulai pulang. Gilang melihat interaksi antara Rara dsn Sandra tersenyum hatinya menghangat melihat tersebut dia membayangkan bahwa itu terjadi antara anaknya dan Sandra. Gilang mendekat ke arah mereka dan ingin mengajak Sandra istirahat terlebih dahulu. "Hayyy om kok engga diajak pelukan sih." Gilang menyapa semuanya terutama si gadis kecil yang menggemaskan. "Ommm.. Mau peluk gendong." Rara memang manja kepada Gilang. "Om berarti tante cantik ini isteri om juga, kok ada dua?" Tanya Rara dengan polosnya. "Iya sayangnya om, sekarang Rara punya 2 onty ya dan nanti saat Rara dewasa Rara akan mengerti." Jelas Gilang. "Ok." Jawab Rara. "Yuk ke kamar kamu istirahat dulu." Ajak Gilang yang saat ini sedang menggendong Rara dan dibalas anggukan oleh Sandra. "Yuk nak sama mama, tante sama om mau istirahat dulu capek." Ajak Erica tetapi Rara tidak mau melepaskan pelukannya pada Gilang dan berunung menangis yang membangunkan semua orang rumah. "Kenapa ini cicit nenek kok nangis sayang?" Tanya Nenek Utami. "Dia mau ikut Gilang sama Sandra nek, lihat tuh lengket banget." Jelas Erica kepada sang nenek. Mama Andini yang melihat Sandra yang sudah kelelahan mencoba untuk membujuk sang anak ponakan yang sudah dianggap cucu sendiri. "Yuk sama oma aja ya Rara cantik, kasihan tantenya capek. Nanti kita buat kue kesukaan Rara ya sama oma mau?" Bujuk mama Andini kepada Rara. Rara kemudian berpikir terlebih dahulu kemudian Rara melihat ke arah Sandra, entahlah Rara merasa tidak mau berpisah dengan Sandra. Kemudian Rara menggelengkan kepala dan semakin memeluk erat Gilang. Akhirnya setelah drama yang terjadi kini Sandra dna Gilang sudah berada di kamar tamu yang sudah dihias menjadi kamar pengantin tentu dengan bocil yang masih minta digendong. Mama Andini sengaja menyiapkan kamar tamu untuk Sandra, mama Andini tidka ingin Sandra merasa tidak nyaman berada di kamar Gilang yang sudah di temapti terlebih dahulu dengan Selvi. "Kamu sekarang mandi dulu aja sana biar aku tunggu bocil ini." Titah Gilang. Sandra sekarang berada di kamar mandi kini ia sedang melepas atribut pernikahannya yang berada di kepala. Saat akan menurukan resleting kebaya Sandara kesusahan kemudian dia minta bantuan Gilang. "Pak bisa minta tolong." Sandra memanggil Gilang dengan sebutan pak. Gilang membantu Sandra menurunkan resleting kebaya, tentu saja Gilang melihat bahu polos Sandra yang putih dan mulus. Gilang yang melihat itu tentu saja tergoda tetapi Gilang masih ingat di sini masih ada Rara. Sandra tentu berdebar saat tangan Gilang bersentuhan dengan kulit Sandra. Sandra berpikir apakah Gilang akan meminta haknya sekarang. Sandra kemudian merasakan kecupan di bahunya, Sandra merasakan getaran aneh di dadanya. Gilang yang merasa tergoda kemudian memeluk Sandra dan mencium bahunya. Setelah puas dengan itu Gilang kini melepaskan pelukannya dan mencium pipi Sandra, Sandra yang dicium secara tiba - tiba merasa malu. "Sudah cepat mandi kita istirahat, tenang aku engga akan minta hak ku malam ini." Gilang kemudian berjalan keluar dari kamar mandi. Saat sudah selesai mandi Gilang melihat pemandangan yang selama ini ia inginkan yaitu pemandangan seorang ibu dan anak tidur saat dia lelah bekerja, pemandangan tersebut sangat mengobati rasa lelahnya. Kini Sandra dan Rara tidur sambil berpelukan, tadinya Sandra ingin menunggu Gilang selesai mandi karena Gilang terlalu lama mandi dan Sandra yang sudah mengantuk akhirnya Sandra ketiduran. Cup.. Cup.. **** Suara kumandang Adzan membangunkan Sandra. Sandra yang sudah bangun lalu mandi dan menyiapkan keperluan Gilang. Sandra dan Gilang sudah selesai sholat kini Gilang dan Sandra duduk di ranjang menunggu Rara bangun. Gilang mulai membawa tangan Sandra ke pangkuannya dan mencium tangan Sandra. Sandra yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum malu. "Saat ini kita mulai semuanya dari awal ya, antara aku dan kamu. Kita mencoba melakukan yang terbaik aku hanya ingin bahagia dengan isteri dan anak - anakku." Gilang memberi pengertian kepada Sandra. "Iya pak saya berharap ke depannya bisa membawa kebahagian semua orang dnegan pernikahan kita." Jelas Sandra. "Apa tadi kamu bilang pak, ayolah San masa aku udah jadi suamimu masih kamu panggil pak." Gilang mulai protes dengan panggilan Sandra untuknya. "Mau dipanggil apa?" Sandra mulai bertanya kepada Gilang. "Ya apa gitu sayang, cinta, suamiku." Usul Gilang. "Lebayy." Jawab Sandra menggoda Gilang. "Aku panggil mas boleh?" Tanya Sandra. "Boleh sayang." Jawaban Gilang membuat Sandra tersipu. Gilang membawa Sandra kepelukannya dsn mulai mencium kening Sandra. Gilang memang tidak rmrasa canggung karena Gilang sudah mengenal Sandra dan Gilang ingin cepat Sandra merasa nyaman dengannya, kalau boleh jujur Gilang tertarik kepada Sandra tetapi karena dia sudah punya Selvi Gilang kemudian ingat kembali tentang pernikahannya tetapi saat Selvi meminta Gilang menikah lagi dan orangnya Sandra, kini Gilang akan mencurahkan cintanya kepada Sandra. "Om sama tante kok pelukan engga ajak - ajak Rara sih." Omel Rara yang ternyata kini sudah bangun dari tidurnya dan melihat kedua pengantin baru tersebut berpelukan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD