Setelah beberapa hari Gilang di Bali kini ia sudah berada di rumah. Gilang saat ini sedang istirahat di kamar dia merasa lelah setelah beberapa hari kerja di Bali.
Selvi saat ini sedang membuat makanan untuk Gilang, tadi Gilang request ingin makan ayam goreng dan sayur bayam. Selvi merebus ayam terlebih dahulu setelah itu ia menggoreng ayamnya dan di lanjutkan dengan memasak sayur. Saat sedang asik mengiris bawang ada sepasnag tangan yang melingkari perut Selvi siapa lagi pelakunya yaitu Gilang.
"Lepas dulu dong hon, lagi iris bawang nih." Selvi memperingati Gilang.
"Aku kangen tahu hon sama kamu beberapa hari engga tidur sama kamu." Jawab Gilang sambil mencium pipi Selvi.
"Lebay, sana ke meja makan sudah mau jadi ini." Suruh Selvi kepada Gilang.
"Oke bos." Kemudian Selvi mencuri ciuman Selvi di bibir.
"Dasar" Gerutu Selvi.
Selvi mehidangkan makanan di meja, Gilang yang tak sabar langsung meminta Selvi untuk mengambilkan nasi dan ayamnya.
"Gimana enak?" Tanya Selvi.
"Enak hon walaupun ayamnya agak asin." Jawab Gilang sambil menyipitkan makanannya.
"Dasar, habis makan kita ngobrol di ruang tengah ya." Pinta Selvi kepada Gilang.
****
Ruang Tengah
Setelah 30 menit di meja makan kini mereka sedang berada di ruang tengah. Gilang memilih film yang ingin mereka tonton sedangkan Selvi sedang menyiapkan cemilan.
"Ada yang ingin kamu katakan?" Tebak Gilang.
"Ada tapi kamu engga boleh marah." Balas Selvi kepada Gilang sambil memegang lengan Gilang.
"Kamu ingin segera punya anak?" Tanya Selvi to the point.
"Kamu tahu aku ingin punya anak tetapi kalau kamu belum di kasih yasudah kita berusaha terus." Jawab Gilang sambil menonton film.
"Aku ada solusinya agar kamu cepat punya anak." Selvi mulai memberanikan diri memberi usulan kepada Gilang.
"Apa?" Gilang mulai tertarik dengan topik yang Selvi bicarakan.
"Kamu menikah lagi." Akhirnya Selvi mengutarakan usulannya.
Gilang yang mendengar itu mulai emosi, dia melihat Selvi dengan wajah datarnya.
"Apa kamu bilang, menikah lagi kamu tahukan aku engga mau." Jawab Gilang mulai meninggikan suaranya.
"Hon dengar dulu, aku ingin kamu menikah lagi dengan sandra. Aku lihat Sandra sangat baik dan cocok dengan kamu yang mudah marah seperti saat ini." Jelas Selvi dengan perlahan.
"Apa tidak ada orang selain Sandra. Gila kamu ya nyuruh aku buat nikah lagi." Arkan kini menjawab dengan nada tinggi. Arkan pergi meninggalkan Selvi entah kemana.
"Hon hon tunggu hon.... " Selvi mengejar Gilang yang mulai masuk mobil tetapi tidak di dengarkan oleh Gilang.
****
Cafe Paris
Selvi beberapa jam lalu menghubungi Sandra, Selvi ingin membicarakan hal tadi di bicarakan dia dengan Gilang. Sandra datang agak terlambat dikarenakan tadi dia sedang olahraga.
"Siang bu maaf ya terlambat, soalnya tadi lagi olahraga." Sapa Sandra saat ini.
"Santai saja Sandra, duduk duduk sini." Titah selvi untuk Sandra.
"Gimana perjalanan kemarin, enak?" Tanya Selvi.
"Hehehehe enak dan melelahkan ibu tetapi tidak apa - apa namanya juga kerja." Jawab Sandra dengan jujur.
"Aku mau langsung saja keintinya ya Sandra dna jangan panggil aku ibu. Menurut kamu Gilang seperti apa di mata kamu?" Tanya Selvi.
Jujur Sandra kebingungan dengan pertanyaan Selvi tetapi ia mencoba menjawabnya.
"Ah pak Gilang menurut saya tegas dna di siplin ibu tetapi beliau mudah sekali marah susah senyum tetapi saya tahu bahwa pak Gilang adalah sosok yang mengayomi, baik dan bertanggung jawab beliau juga mencintai keluarganya." Jawab jujur Sandra kepada Selvi.
"Ahhh seperti itu. Kamu tahu aku ada masalah dnegan rahimku kan San. Aku ke sini ingin meminta kamu menjadi istri kedua Gilang dan memberikan dia momongan." Ujar Selvi to the point yang benar - benar membuat Sandra shock.
"Bu... maksud saya mbak jangan bercanda deh mbak." Sandra mencoba menjawab dengan senyuman.
"Kamu pikirkan ya San, aku hanya mau kamu yang jadi istri kedua Gilang." Selvi menyuruh Sandra untuk memikirkan permintaannya.
****
Rumah Sandra
"APAAAA GILA YA... " Terdengar teriakan Nana.
Nana berteriak setelah mendengar penjelasan Sandra saat Selvi tadi minta bertemu. Nana tidak habis fikir dengan jalan fikiran Selvi saat ini.
"Kenceng banget teriaknya." Tegur Sandra.
"Habisnya permintaannya aneh banget San." Jelas Nana.
"Sama Na aku juga shock tahu, pak Gilang apa engga marah denger itu." Sandra menjawab dengan muka bingungnya.
"Asal kamu tahu ya San saat kemarin aku ke rumahnya nenek Galang aku mendengar neneknya pengin punya cicit San karena usia nenek yang sudah tidak muda lagi." Jelas Nana menceritakan kejadian saat ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Selvi dan nenek Galang.
"Nguping ya kamu." Tuduh Sandra kepada Nana.
"Enak aj engga ya engga sengaja denger pas mau ngasih minum." Elak Nana kepada Sandra.
"Terus aku harus bagaimana Na?" Tanya Sandra melas.
"Kamu suka kan sama kak Gilang?" Tanya Nana selidik kepada Sandra.
"Ya siapa yang engga suka sama pak Gilang Na tapi aku masih tahu batasan Na aku engga mungkin berani sejauh itu, aku cuma suka secara diam - diam." Jelas Sandra dnegan jujur kepada Nana.
"Yaudah aku sebagai sahabat kamu cuma bilang terima aja San, coba pikirkan siapa tahu kak Gilang suka sama kamu dan anak kalian nanti." Kompor Nana.
"Kenapa sih kamu kok mendukung aku banget, dia udah punya istri yang sempurna dan baik Na." Jelas Sandra kepada Nana.
"Ya mana mungkin istri yang baik dan setia keluar dari kamar hotel berdua pagi - pagi." Jelas Nana yang membuat Sandra shock.
Beberapa hari kemarin Nana melihat Selvi keluar kamar hotel dengan seorang pria yang Nana tahu sekali bahwa pria tersebut bukan berasal dari keluarga Selvi. Nana ingin mengadu kepada Galang tapi mungkin Galang menyangkalnya sedangkan mau mengadu pada Gilang sudah pasti Nana dianggap gila oleh Gilang.
"YaAllah Na ternyata, aku kira mereka beneran harmonis." Jawab Sandra setelah mendengar cerita Nana.
"Makanya San aku dukung kamu agar kamu nyelametin kak Gialng dan keluarganya dari sakit hati nanti kalau tahu kelakuan kak Selvi. Aku selalu dukung kamu Sandra." Jawaban Nana membuat Sandra terharu kemudian Sandra memeluk Nana.
"Terima kasih ya, aku harus bicaraan ini sama pak Gilang terlebih dahulu." Jawaban Sandra membuat Nana lega.
****
"Kamu dari mana saja jam segini baru pulang hon?" Tanya Selvi saat melihat Gilang memasuki kamar mereka.
"Pergi" Jawaban singkat Gilang membuat Selvi sedih.
"Tadi aku sudah bicara dengan Sandra hon, aku menjelaskan ke Sandra tentang masalah kita awalnya Sandra menolak tetapi aku meminta dia memikirkan kembali tawaran aku." Jelas Selvi.
"Kamu benar - benar sudah gila Selvi, bagaimana bisa kamu melakukan hal itu." Teriak Gilang kepada Selvi.
"Terus apa yang harus aku lakukan Gilang apa? kamu tahu semua keluarga kamu mulai mendesak aku buat punya anak, nenek dan mama mulai mendesak aku Gilang." Selvi ikut berteriak menjawab Gilang.
Gilang sudah tahu perihal itu karena nenek dan mamanya sudah berbicara kepadanya terlebih dahulu. Tetapi yang tak habis pikir Selvi sudah menyiapkan calon untuknya. Gilang benar - benar pusing kali ini, dia tidak ingin bertengkar lagi dengan Selvi. Dia pergi meninggalkan Selvi yang menangis.