Fiance/e

1139 Words
"Oh, s**t!" Gerakan pinggul Geo melambat ketika sudah mendapatkan puncak kenikmatan yang ia inginkan. Dengan napas yang memburu, Geo melepaskan karet pengaman miliknya, lalu ia buang ke tempat sampah terdekat. Alih-alih merapikan celananya yang sedikit berantakan, tanpa ekspresi Geo mengucapkan terima kasih sambil lalu. Meninggalkan wanita cantik yang roknya terangkat hingga pinggang karena ulahnya. Wanita itu hanya diam, masih terengah merasakan sisa-sisa kenikmatan yang Geo beri. Wanita yang ia sendiri tidak ingat namanya itu, menawarkan dirinya sendiri karena baginya Geo terlihat menggoda dan menggairahkan. Tentu Geo tidak akan menyia-nyiakan kenikmatan yang ditawarkan secara cuma-cuma. Lagi pula wanita itu terlihat cantik dan mengaku mantan model Victoria Secret sebelum beralih bekerja kantoran The Roussel. Terlalu banyak jalang di kantor ini, menurut Geo. Jujur saja, ia muak melihatnya. Hampir semua wanita di sini berpakaian minim seperti siap pergi ke kelab. Geo mulai berpikir kalau kantor ini benar-benar perusahaan atau sebentar lagi berubah menjadi tempat jual diri. Tak hanya itu, ia juga meragukan kinerja orang yang hanya menjual tampang seperti itu. Walau belum menjadi pemimpin, Geo cukup pintar dalam menilai seseorang dari penampilan atau pertemuan pertama. Jika ia yang memimpin nanti, Geo akan membuat peraturan 'wanita yang menggunakan rok, hanya boleh sebatas lutut, jika di atas itu akan dipotong gaji'. Geo memang pecinta wanita, tapi ia tahu di mana ia harus bermain. Sudut bibir Geo tertarik menjadi sebuah senyuman miring. Sekarang Geo mengerti kenapa ayahnya memintanya menjadi kepala divisi yang berbaur dengan staf sebelum memimpin perusahan kakeknya. Mengenali karyawan sendiri sebagai 'rekan kerja' tanpa mengetahui identitas aslinya seperti ini, sangat menarik menurut Geo. Hanya beberapa orang yang berkedudukan tinggi mengetahui dirinya adalah anak tunggal Gio Roussel. "Albert." Kaki panjang Geo berhenti melangkah saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Itu Rena, wanita dengan perutnya sudah menggembung sebesar balon besar. Geo prihatin melihat wanita itu mulai kesulitan berjalan membawa manusia mungil di perutnya. Kandungan Rena sudah memasuki bulan ke-7, dan tentunya beberapa bulan lagi akan meletus pikir Geo. Ketika mengatakan seperti itu, tentu saja Geo akan mendapatkan sebuah tamparan bertubi-tubi dari Rena. Wanita itu tetap seperti dulu, dewasa secara sikap maupun cara berpikirnya yang Geo suka. Namun satu hal baru ketika Rena hamil, saat marah dia sangat menyeramkan. "Salut, bébé! Kenapa kau kemari? Bukannya sudah kukatakan akan pulang cepat hari ini?" ucap Geo mencoba seperti biasa dengan senyum lebar di wajahnya. "Aku ingin makan siang bersamamu," Rena menatap tunangannya dengan tajam. Rena tidak perlu menebak apa yang sudah pria itu lakukan di ruang fotokopi dengan seorang wanita karena setahunya hanya ruangan itu yang tidak terkena jangkauan cctv. Tak lama setelah Geo keluar dari ruangan itu, seorang wanita juga mengikuti namun dengan rambut sedikit berantakan. Ia tahu nama wanita itu, Brielle. Yang pernah tertangkap Rena beberapa kali melemparkan tatapan lapar pada Geo. Dan akhirnya wanita itu mendapatkan keinginannya, tapi takkan bisa menembus hati Geo yang masih tertutup rapat, pikir Rena. Kaki Rena melangkah mendekati Geo, sembari mengambil tisu di tas tentengnya lalu menyerahkan pada Geo. "Kau selalu meninggalkan jejak, apa kau tidak bisa bermain bersih?" Ia hanya menghela napas pasrah melihat kelakuan Geo seperti ini, bukan suatu hal baru lagi untuknya. Geo mengangkat alisnya lalu mengikuti arah pandangan Rena. Umpatan pelan langsung keluar dari mulutnya. Yang benar saja ada cairan wanita tadi mengenai celananya di bagian paha dalam. "Efek terburu-buru," jawab Geo seadanya dengan tangan meraih tisu itu lalu melap celananya tanpa minat. "Kau juga selalu mengatakan itu," Rena memerhatikan Geo dalam diam. Sejak 7 bulan yang lalu, di mana ia hampir kehilangan bayinya karena Justin menuduhnya telah mengandung anak Geo, ayah anaknya itu marah besar dan hendak menamparnya, tapi ia refleks mundur satu langkah hingga tersandung karpet yang terlipat di belakang langkahnya. Jelas-jelas Rena hanya melakukannya dengan Justin. Geo saja tidak pernah menciumnya. Bahkan sampai sekarang status mereka kini berubah menjadi bertunangan pun, Geo terlihat tidak ingin menyentuhnya. Bersyukur janinnya saat itu kuat walau Rena sempat pingsan setelah jatuh dan membuat Geo sangat panik. Setelah ia siuman dan menceritakan semuanya pada Geo, pria itu sangat marah. Dan seperti biasa, Geo yang sifat impulsifnya selalu menang dengan mengambil keputusan akan bertanggung jawab, namun hanya sebatas status. Tentu saja Alisa tidak menyetujui kekonyolan ini, tapi pria keras kepala itu tetap melaksanakan pertunangannya bersama Rena. Bukan Geo Albert Roussel namanya jika tidak mengandung syarat di setiap keputusannya. Rena harus membiarkan Geo hidup bebas sama seperti mereka sebelum bertunangan, hanya status yang berubah diantara mereka. Itu karena Geo tidak ingin kebebasannya tercekik hanya karena status mereka. Pada awalnya Rena bertanya-tanya kenapa Geo bersikeras mereka bertunangan, hubungan yang tidak pria itu inginkan di hidupnya. Lalu setelah itu ia sadar, ternyata Geo sedang menolong harga dirinya setelah semua perlakuan Justin padanya. Sejak pertama kali mereka berteman hingga sekarang, Rena tidak mengerti jalan pikir seorang Geo. Pria itu terkadang memang berengsek, namun Rena selalu tahu Geo adalah pria yang baik. Atau mungkin, Rena memang tidak akan pernah mengerti jalan pikir Geo. ... "Kenapa harus aku?" tersirat tidak terima dari suara Geo. Setelah makan siang bersama Rena, Gio memanggilnya ke ruangan sang ayah untuk membicarakan hal penting. Dan Geo tidak menyangka yang dimaksud adalah menangani The Roussel cabang Singapura. "Karena tidak ada orang lain yang kupercaya selain dirimu untuk mengatasi masalah ini." "Kita? Ini perusahaan kakek, bukan perusahaanku." Acuh tak acuh Geo mengangkat bahunya. "Oke, sekarang kau pilih. Jika aku menangani cabang Singapura di sana, maka kau harus menggantikanku sebagai CEO di sini. Kau tahu hanya kau cucu kakek mendalami dunia bisnis. Dan aku tahu kau senang menyelidiki sesuatu tanpa sepengetahuan Papa, Geo. Kau sepertiku, dan perusahaan kakek ini nantinya juga akan menjadi milikmu. "Bisa kau berhenti main-main untuk kali ini? Apa kau tidak lelah dengan hidupmu yang hanya bisa bekerja serampangan dan menghamburkan uang?" Ceramah Gio dengan kesimpulan yang sama seperti biasanya, membuka jalan pikiran putranya untuk ke depannya. Padahal Gio tahu perkataannya seperti bola basket dipantulkan ke lantai dengan keras. Menurut Gio, putranya belum menemukan sesuatu yang berharga sehingga semuanya dianggap enteng. Seperti cinta sejati mungkin? Ia pun tahu Rena bukan sosok wanita yang benar-benar Geo inginkan. Karena Geo sangat mirip dengannya. Seperti Gio di masa lalu sebelum bertemu dengan Alisa. Kadang, cinta bisa merubah jalan pikir dan kehidupan seseorang. "Bukannya Papa tahu kalau Rena sebentar lagi akan meletus—maksudku melahirkan, kalau aku tidak ada, siapa yang akan menemaninya? Aku tidak mungkin meninggalkannya," alasan Geo membuat Gio terdiam sesaat memikirkan jalan keluarnya. Mengurus perusahaan yang genting diambang kebangkrutan tidak mungkin selesai dalam waktu singkat. "Baiklah. Aku beri waktu satu bulan, selesai atau tidak kau boleh pulang." "Tidak, dua minggu." "Kau ingin bernegosiasi dengan Papa, Geo?" "Dua minggu atau tidak sama sekali, Tuan Roussel yang terhormat." Gio menghela napas pasrah, ia selalu kalah jika berdebat dengan putranya. Seperti berdebat dengan diri sendiri. "Oke, baiklah. Aku harap kau tidak mengecewakanku," finalnya. "Aku tidak akan terjadi selama Singapura menyenangkan untukku." Geo menampilkan senyum kemenangan pada Gio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD