Singapure

1079 Words
"Berapa hari lagi aku harus menghadapi pria-pria penjilat berperut buncit itu?" tanya Geo pada sekretaris kepercayaan Gio yang bernama Laura. "Ini baru hari ke-2 kita di negara ini, Tuan. Jadi 12 hari lagi baru Anda bisa kembali ke Paris," Laura menjawab dengan sopan namun tegas karena ia tahu Geo adalah anak dari Boss besarnya. Atas perintah Gio, Laura ditugaskan untuk menemani Geo selama berada di negara singa putih ini. Mau tak mau Geo harus menjalani kesepakatan yang sudah ia setujui, dan itu benar-benar dua minggu, 14 hari. Geo butuh sesuatu yang membuatnya betah untuk 12 hari ke depan. Mungkin ke sebuah kelab malam ternama di sini bisa membuatnya sedikit terhibur. Tangan Geo terangkat melonggarkan dasi yang mencekat lehernya, terlihat sangat seksi saat melepasnya dengan poster tubuh berotot seperti itu. Setelahnya ia lempar pada Laura di belakangnya dan disambut dengan tenang. Mungkin sebagian wanita akan tergoda untuk membantu sekaligus melepaskan setelan Geo sekarang juga. Namun, itu tidak berlaku untuk Laura yang sudah terbiasa melihatnya, terlebih Laura sudah menikah. Tanpa menolak kenyataan bahwa calon CEO The Roussel selanjutnya ini sangat tampan dan seksi, persis seperti Gio, hanya berbeda khas dari wajah masing-masing. Sekarang mereka berada di lift, baru menyelesaikan rapat kedua mereka. Membahas laporan keuangan terakhir yang sudah diper-audit, ternyata hasilnya sangat jauh dengan nominal di laporan keuangan yang ada. Saat Geo menanyakan alasan kenapa bisa aset lancar maupun aset tetap merosot drastis di statistik terbaru yang dibuat oleh timnya dari kantor pusat, semua jawaban yang ia terima tak ada satu pun yang masuk akal. Yang ada malah terdengar pembelaan diri seolah berlomba-lomba mencari alasan dan sasaran yang tepat untuk menjadikan seseorang kambing hitam. Geo muak melihat para karyawan penjilat yang suka menggelapkan uang perusahaan untuk memperkaya diri. Sama saja halnya dengan maling, mencuri uang perusahaan kakeknya. Di dunia bisnis yang kejam seperti ini, memang cocok dengan sifat Geo yang cukup susah diajak berteman. Tentu Geo tidak akan beramah-tamah pada semua orang dan membiarkan mereka menginjak atau bahkan menancapkan pisau di saat ia lengah. "Selamat sore," sapaan terdengar hampir terlalu ramah salah satu dari pria-pria paruh baya berperut buncit itu pada Geo yang baru keluar dari lift. Karena pertemuan kali ini membuat Geo semakin naik darah, ia tidak akan menoleh apa lagi membalas sapaan itu. Geo hanya melaluinya tanpa menoleh sedikit pun. Tidak peduli akan tanggapan orang lain mungkin menyebutnya arogan. Kakinya tetap melangkah menuju mobil tepat di depan lobi yang sudah disiapkan untuk mengantarnya ke hotel menggunakan sopir, sayangnya Geo tidak ingin kembali ke sana. Sebelum menaiki mobil, Geo melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah diatur sesuai waktu Singapura. Dan jam baru menunjukkan pukul 8 malam. Ia menoleh pada sopir yang membukakan pintu mobil untuknya, "Aku pakai mobilnya, kau antar saja wanita itu ke hotel menggunakan mobil yang lain," tunjuknya pada Laura menggunakan dagu. "Aku ingin ke suatu tempat." Pernyataan tanpa bantahan, ia menaiki mobil di bagian kemudi dan langsung menancapkan gasnya. Laura yang sudah berdiri di samping sopir hanya menggelengkan kepala. Tugasnya merangkap selama di sini. Menjadi asisten Putra Boss-nya sekaligus menjadi melaporkan apa pun yang dilakukan Geo.          "Tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Aku akan kembali setelah tamu Tuan Wirawan pergi, aku janji nggak akan lama." Gabriel mengusap pucuk kepala Ariana dengan sayang lalu mengecup bibirnya singkat sebagai perpisahan sementara mereka. Dengan pakaian tak berlengan yang tertutup oleh mantel milik sang kekasih, Ariana menatap punggung Gabriel kian menjauh. Ia sengaja menggunakan baju cukup terbuka agar Gabriel selalu memberi perhatian padanya dan membuat Ariana seperti wanita spesial. Untuk pertama kalinya Ariana benar-benar merasa aman dan nyaman bersama seorang laki-laki selain ayahnya. Lima bulan masa pacarannya dengan Gabriel membuatnya percaya pada pria itu. Ya~ walau umur mereka cukup terbilang jauh, 9 tahun. Mungkin itu salah satu faktor Ariana merasa terlindungi. Mereka sedang berada di salah satu kelab malam Singapura dengan beberapa rekan kantor, alih-alih merayakan ulang tahun pemimpin cabang di perusahaan mereka bekerja. Saat sore menjelang senja, mereka baru sampai di hotel dari Jakarta. Ariana dan Gabriel tidak sempat istirahat dan mereka harus menghadiri pesta atasan mereka di kelab ini. Sebenarnya Ariana tidak mau ikut jika Gabriel tidak membujuknya, alih-alih liburan mengelilingi Singapura walau hanya beberapa hari di sini. Ya, Gabriel juga bekerja di Landor sebagai kepala bagian design art. Kisah percintaan seperti anak remaja yang baru puber, pertemuan karena kesamaan dalam memesan kopi membuat mereka sering bertemu saat makan siang, hingga mereka memutuskan berpacaran setelah Gabriel mengatakan perasaannya pada Ariana. Tak lepas tentang perbedaan jabatan kadang membuat para penggosip di kantor bertanya-tanya bagaimana mereka bisa bersama dan menimbulkan ketidaksukaan pada Ariana. Seperti sekarang, Ariana dapat mendengar bacotan dari tiga ratu penggosip yang sudah familier di telinganya. Jika melihat batang hidung Ariana, maka para penggosip itu sengaja meninggikan suara agar ia dapat mendengar dengan jelas. "Lo tau nggak? Ada cewek berlagak polos bilang 'aku nggak bisa minum-minuman beralkohol, karena dimarahi ayah', bukannya itu konyol? Sudah tua bangka masih nurut sama orangtua." Wanita bernama Tika ini tertawa seolah ucapannya sebuah lawakan, lalu memutar matanya melirik keberadaan Ariana yang duduk di sofa hanya berjarak beberapa meter di sampingnya. Wanita lainnya yang bernama Dela tertawa remeh ikut melirik Ariana. "Lihat dia sekarang ada di mana, bukannya kalimat itu terdengar munafik?" "Nggak heran muka dua kayak gitu bisa dapetin pria setampan Gabriel. Gue jadi kasihan dia dapetin cewek kayak gitu, terlalu banyak drama dan lebay!" ucap wanita berambut pendek bernama Poni sambil meminum wine nya. Kesabaran Ariana sudah habis! Ia muak mendengar celotehan yang membuatnya terbakar setiap mereka bertemu. Ariana berjalan mendekat pada tiga ratu lebah itu. "Kalau lo pengen ngomong sama gue, ya bilang aja langsung! Emangnya ada urusan apa Gabriel memilih gue dari pada wanita lain? Kalau kalian iri sama gue bilang aja!" Wajah Ariana memerah karena emosi yang memuncak. Mereka tertawa bersamaan, "Iri? Kami cuma prihatin sama Gabriel punya cewek munafik kayak lo, kalau lo anak kecil yang polos buat apa ke sini? Seharusnya lo kamar di hotel sendirian menunggu ayah lo jemput dari Jakarta," ketiga wanita itu kembali tertawa dengan puasnya, padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Katakan Ariana si wanita polos nan bodoh seperti perkataan Geo. Harusnya Ariana menulikan telinga agar tidak terpancing emosi karena memang itulah keinginan mereka, merasa panas setelah pancingan mereka dipatuk. Hanya karena tidak terima diremehkan, Ariana langsung meraih gelas yang ada di meja depannya lalu meneguknya hingga habis dalam sekejap. Tak hanya satu, tapi lima sekaligus. Walau rasanya sedikit pahit, Ariana tetap meneguknya menganggap minuman itu seperti jamu. Bedanya minuman ini terasa panas saat melalui tenggorokannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD