Menyesal

1290 Words
"Astaga, lantainya susah diinjak," monolog Ariana dengan tangan sambil menekan-nekan kepala hingga sedikit merusak tataan rambutnya yang diikat kuncir kuda. Keluar dari kelab, ia melihat mobil Gabriel berhenti di depan lobi. Ariana langsung masuk di samping kemudi dengan langkah sempoyongan. Duk! Duk! Kepala Ariana membentur atap pintu mobil dua kali. "Kenapa bumi berputar malam ini? Apa ada gempa kecil?" tanyanya pada Gabriel yang duduk diam di sampingnya. "Kenapa kita cepat pulang? Padahal aku mau buktikan pada ratu lebah itu, kalau aku bisa minum-minuman yang pahit seperti jamu itu! Kamu selalu membela mereka, Gabriel! Aku pengen banget masukkan botol-botol minuman tadi ke mulut mereka! "Ya ampun, mulutku sangat cerewet hari ini. Apa aku banyak bicara? Apa kamu ilfiel sama aku? Maafkan aku sayang, aku harap kamu nggak putusin aku saat ini juga. Kita akan bahas ini nanti, mataku berat, sangat mengantuk. Aku mau tidur, jangan ganggu aku, Okay?" tangannya terangkat ke depan wajah Gabriel mengacungkan jempolnya. Ariana beralih pada jok mobil untuk direndahkan, lalu mencari posisi ternyaman merebahkan diri, kepalanya begitu berat seperti membawa beban 5 kilo. Sebenarnya bentuk jok mobil milik paman Gabriel yang mereka pinjam tidak terasa seperti pertama kali ia naiki, cukup asing untuknya. Kali ini lebih nyaman dan wanginya terasa mewah. Tapi ia tidak memedulikan itu, yang terpenting saat ini adalah tidur, tidur, dan tidur. Karena lima gelas minuman berakohol sudah membuatnya pusing tujuh keliling. "What the..." tahan Geo untuk melanjutkan kalimatnya sambil meremas setirnya geram. Bentuk mobil asing bagi Ariana itu memang bukan mobil paman Gabriel, melainkan milik Geo yang baru saja ingin menggunakan jasa vallet. Pada awalnya Geo ingin mengusir yang ia kira w*************a nekat menaiki mobilnya secara tiba-tiba. Namun niatnya tertahan setelah melihat wajah tak asing bagi pupil matanya. Sambil mengoceh dengan bahasa yang tidak Geo mengerti, benar-benar membuat saraf otak dan telinganya sakit. Karessa, si wanita polos penuh kesialan yang menyatakan perasaan padanya di akhir kebersamaan mereka di bandara kala itu. Tentu saja Geo masih mengingatnya. Memecah rekor mengingat seorang wanita yang pernah dekat dengannya selain Rena. Wajah oval dan suara khas yang masih melekat di telinga Geo. Bahkan kebersamaan mereka selama 24 jam masih membayanginya selama tujuh bulan terakhir. Jangan lupakan bibir manis itu membuat Geo candu. Sial, Geo ingin menyicipinya lagi. Geo memukul setirnya lalu keluar dari mobil, berjalan cepat ke samping kemudi. Ia membuka pintunya dan menarik satu tangan Ariana secara tak manusiawi untuk menyeretnya keluar dari mobil. Geo benar-benar tidak ingin berurusan dengan Karessa lagi. Tentu tidak sehat untuk kepalanya yang selalu dihantui selama ini, seolah ia merindukan sosok wanita itu. Jika Geo bersama Ariana, ia seakan lupa siapa dirinya. Bukannya saat itu memang kesepakatan kalian untuk melupakan dunia nyata selama 24 jam dan menjadi sepasang kekasih? Iya, dan itu berefek berkelanjutan membuat Geo bertingkah seperti menyukai seorang wanita! Kau ingin mati?! Aku tidak menyukai wanita ini. Aku hanya menyukai bibir manisnya! Perdebatan batinnya benar-benar membuat Geo muak! Setelah berhasil mengeluarkan Ariana dari mobilnya dan membiarkan wanita itu bersandar di bawah tiang listrik secara mengenaskan. Tak lupa ia melempar tas Ariana ke tanah. Efek alkohol membuat wanita itu tidak terganggu sama sekali dengan pergerakan yang Geo buat selama memindahkannya. Hanya sesekali bergerak lalu kembali tertidur seperti diayun seseorang. Efek alkohol memang sekonyol itu. Dengan cepat Geo kambali memasuki mobilnya, ia langsung menancapkan gas keluar area kelab. Geo putuskan untuk menunda kesenangannya di negara orang kali ini.          "Bagaimana bisa dia mendownload sendiri aplikasi kamera aneh ini di handphoneku?!" Geo mengusap layar ponsel pintarnya dengan kesal melihat hasil foto selfie wanita itu. Geo menutup matanya, lalu menghela napas secara perlahan meredakan emosi. Kenapa ia harus membanting setir, dan membawa wanita itu ke kamar hotelnya?! Geo baru merasakan penyesalan setelah membawa Ariana kemari. Lalu, ke mana wanita itu sekarang setelah memakai ponselnya tanpa izin hingga berfoto tak jelas memenuhi galerinya? Berjalan sambil menebar pandangan ke seluruh suite room, Geo mencari pelaku yang sejak tadi membuatnya kelimpungan. "BUUMM!!" Demi apa pun, Geo sangat terkejut! Jika jantungnya hanya seutas benang, mungkin sudah putus dan menubruk organ tubuh lainnya. Okay, itu perumpamaan yang sangat berlebihan. Tapi sungguh, ia terkejut melihat Ariana berdiri di balik kaca penghubung balkon. Berdiri dengan senyum lebar bodoh khasnya yang sama sekali tidak menghibur Geo. "Kenapa kau selalu mengagetiku?! Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal telah membawamu kemari!" Geo mengusap dadanya seolah bisa menetralkan jantungnya. Dan ini sudah ke-3 kalinya Geo terkejut karena wanita itu. Ya, Ariana masih dalam keadaan mabuk. Jangan heran kenapa wanita itu bisa bersikap abnormal. Menghadapi Ariana yang normal saja membuatnya kesal dan ini lebih merepotkan dari ekspetasinya. Oh, jangan lupa bahwa Ariana masih menganggap Geo adalah Gabriel. "Gabby, kamu marah sama aku? Maaf, aku pikir kamu selalu senang melihatku." Ariana melangkah masuk lalu mendekati Geo dengan nada menyesal. "Sudah berapa kali aku katakan jangan menggunakan bahasa planet, aku tidak mengerti!" Geo benar-benar frustasi, setiap kata yang keluar dari mulut Ariana tak ada yang Geo mengerti. "Kenapa kau selalu menggunakan Bahasa Inggris? Baiklah aku akan menggunakannya juga. Kau juga pemarah hari ini. Apa Gabby sedang kedatangan bulan? Oh iya, kau laki-laki mana bisa datang bulan," monolog Ariana yang mulai Geo pahami karena menggunakan Bahasa Inggris. "Gabby? Jadi sejak tadi kau memanggilku dengan panggilan Gabby? Siapa dia? Oh astaga, untuk apa aku bertanya dengan wanita mabuk sepertimu." Geo berbalik menjauh dari Ariana. Kepalanya mulai pening, atau lebih tepatnya kesal Ariana menganggapnya orang lain. Tak hanya itu, ia juga kesal Ariana tak mengenalinya bahkan saat mabuk sekali pun, padahal wanita itu pernah mengatakan perasaannya pada Geo. Tak percaya dirinya dilupakan begitu cepat, sedangkan ia selalu mengingat kencan 24 jam konyol itu selama tujuh bulan terakhir! Perasaan bingung menerpanya, kenapa bisa mengingat nama wanita yang pernah ia kencani. Biasanya Geo akan lupa, senekat apa pun wanita itu menarik perhatiannya. Merasa uring-uringan seperti pria mengharapkan sesuatu pun tidak. Tapi jika ada waktu senggang, tanpa sadar tangan Geo membuka galeri ponselnya lalu membuka folder khusus buatan Ariana sendiri pada saat itu. Ya, Geo belum menghapus foto-foto hasil Ariana selama mereka berkencan, masih tersimpan rapi di ponselnya. Kaki Geo berhenti melangkah, lalu... Duk! Kening Ariana membentur punggung Geo yang kokoh. Wanita itu refleks mengusap keningnya. "Untuk apa kau mengikutiku? Tidur di sofa sana! Jangan ganggu aku! Aku mau istirahat. Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu," tunjuk Geo pada sofa panjang yang ada di ujung ruangan. Ariana mendongak menatapnya dengan mata mulai berkaca-kaca. Seperti dugaan Geo, wanita itu menangis dengan kencang seperti anak kecil yang baru saja dimarahi orangtuanya. "Huaaa... kau benar-benar marah padaku. Maafkan aku," air mata Ariana mengalir deras melalui pipinya seolah itu air mata penyesalan terdalam. Sangat mendramatis. Bukannya tambah kesal, Geo malah mengerjapkan matanya, menyesal sudah membuat Ariana menangis. Ini bukan pertama kalinya Geo melihat Ariana menangis-lebih tepatnya dua kali. Melihat seorang wanita menangis salah satu kelemahan Geo, walau ia terkenal berengsek di kalangan wanita. Namun sayangnya wanita yang sering datang pada Geo, kalau tidak menggodanya, mereka hanya marah-marah tanpa air mata. Otak Geo mulai berpikir mencari cara agar Ariana berhenti menangis. "Kau mau es krim?" Dari sekian banyak pertanyaan di kepalanya untuk membujuk, hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Kau pikir Karessa anak kecil?! teriak batinnya. Setelah melihat ekspresi Ariana berhenti menangis membuat Geo menelan teriak batinnya barusan. Wanita itu mengusap air mata menggunakan punggung tangan. Ariana menatap Geo lagi, lalu menganggukan kepala seperti anjing menurut pada sang majikan. Baiklah. Di mata Geo sekarang, Ariana terlihat sangat menggemaskan. Bibirnya yang sedikit maju ke depan menahan untuk tidak melanjutkan tangisnya, mata hampir bengkak, lalu warna merah muda timbul di bagian mata dan hidungnya usai menangis. Saking gemasnya, tanpa sadar Geo menundukan wajahnya dan langsung menggigit bibir bawah Ariana. Hanya mengigit gemas sesekali, lalu di detik berikutnya Geo mengambil kesempatan untuk meraup bibir yang sudah lama tak ia rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD