Cahaya matahari pagi menyelip dari sela gorden mulai menerpa wajah Ariana dan berhasil mengganggu tidur nyenyaknya. Mata Ariana terbuka perlahan. Setelah melihat seputar ruangan, ia menarik selimut lebih tinggi menutup seluruh tubuhnya berniat tidur kembali. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya untuk memulai rutinitas. Suara percikan air dalam kamar mandi refleks mata Ariana terbuka lebar. Ia bergeming memastikan pendengarannya, dan itu terdengar sangat jelas ada seseorang di kamar hotelnya. Berpikir keras menebak-nebak siapa. Apa itu Gabriel? Tidak. Itu tidak mungkin, mereka memesan kamar secara terpisah. Atau penguntit? Seorang c***l menyusup ke kamarku?! Ia langsung memeriksa pakaiannya dengan panik, lalu bernafas lega setelah melihat pakaiannya masih langkap. Lebih tepatnya Ariana

