Bab 1
Saat ini Elisia sedang makan siang dengan sahabat baiknya Linda di restoran favorit mereka. Elisia memesan menu favorit yang ada yaitu Ayam Krispi dengan sambal hijau dan es jeruk.
“Habis ini lo kerja?” tanya Linda.
“Iya.” jawab Elisia dengan memainkan handphonenya.
“Terus, lo kapan sidang Skripsi?”
“Rabu depan. Doain ya.” kata Elisia yang masih fokus dengan handphonenya.
“Gue sih doain lu, tapi kalo lo nggak usaha dan baca novel terus ya percuma.”
“Gue belajar kok. Cuma ini aja, lo tau kan penulis favorit gue ngeluarin novel baru semester lalu, karena sekarang udah tamat, jadi gue baca sebelum diterbitin. Gue kan nggak punya duit buat beli novelnya.” balas Elisia.
Elisia seorang yatim piatu. Ia sendiri berkuliah dengan biaya bidikmisi sembari bekerja di butik terkenal.
“Seru banget, sampe lo fokus gitu?” tanya Linda penasaran.
Elisia menganguk. “Gue harus selesain ini sebelum masuk kerja entar.” lanjutnya.
“Emang apaan ceritanya?”
“Shut up Nda. Sumpah, gue nggak bisa meresapi novelnya nih.” omel Elisia yang merasa terganggu dengan pertanyaan Linda sahabatnya.
Linda yang kesal langsung merebut handphone Elisia.
“Nda..”
“Sebagus apa sih ceritanya, sampe lo segitunya... Anjir, lebay banget judulnya, Cinta CEO.” komen Linda ketika membaca judul novel tersebut.
“Ei, gue nggak terima ya lo bilang gitu. Ini tuh bagus banget, apalagi tokoh Bella-nya. Nih cewek keren banget nggak menye-menye dan tengil kek novel yang gue baca biasanya. Belum lagi si tokoh antagonisnya, Rahel.”
“Kenapa? Pingin lo bunuh?”
“Hehehe... Iya. Sumpah ngeselin banget tau.”
“A lah, udah biasalah itu.”
“Enggak Nda, ini beda. Ryshand tuh Duda tau. Biasanya kan di novel-novel gitu kan duda pasti punya anak, terus anaknya pasti suka sama si tokoh utama. Tapi ini tuh enggak, ini beda tau. Ryshand duda, yang ditinggal mati istrinya. Nah, istrinya tuh pewaris G grup. Pokoknya G grup itu perusahaan terkenal dan tersukses di novel itu.”
“Terus?”
“Ya itu masalahnya, istrinya mati bareng selingkuhannya. Mampus, karma tuh. Pokoknya ya, si Artemisia ini-”
“Siapa Artemisia?”
“Istrinya Ryhsand yang udah mati itu.”
“Ryhsand dulu tuh miskin terus susah banget kan. Nah, sewaktu kecil dia itu ketemu sama Gennady alias Pak Adi pemilik G Group. G Group itu perusahan yang kaya banget dan besar gituloh. Terus Ryhsand ini dirawat sama Adi dan jadi tangan kanan atau orang kepercayaannya. Pokoknya pak Adi ini percaya banget sama Ryhsand sampe di tuh mau jodohin putri tunggalnya si Artemisia ini. Artemisia ga mau karena udah punya pacar, terus karena diancam ga bakal dapat warisan dia pun mau. Dan parahnya, cewek ini ga pernah menghargai Ryhsand sampe akhirnya dia tuh mati kecelakaan. Terus Ryhsand ini tuh duda dan akhirnya ketemu pegawainya sendiri si Bella. Dan akhirnya Ryhsand jatuh cinta sama Bella. Masalahnya sebelum ketemu sampe ketemu Bella, dia selalu di gangguin Rahel sepupunya si Artemisia cuma buat ngincer warisan yang ditinggalin Adi sama Artemisia. Kan warisan ini jatuh ke tangan Ryhsand.”
“Jangan-jangan Ryhsand yang bunuh si Arte itu,”
“Eih, ga lah... Saking cintanya sama Bella, Ryhsand rela ngelepasin seluruh warisannya. Terus dia bangun bisnis baru bareng Bella.”
Ketika hendak melanjutkan ceritanya, seorang pelayan tiba dengan membawa pesanannya. Elisia menghentikan ceritanya dan mulai menikmati makanannya sembari melanjutkan bab akhir novelnya. Meski Elisia tidak percaya bahwa yang membunuh istri dan mertuanya Ryhsand itu adalah keluarga mereka sendiri. Elisia hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya. Padahal bukan harta miliknya, tapi kenapa saudara Gennady yang lain terobsesi dengan harta milik Gennady.
“Makan dulu Sa.”
“Iya.”
Linda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang sangat fokus dengan handphonenya.
Selesai makan, Elisia langsung bangun mencuci tangannya. Matanya masih fokus dengan handphonenya hingga ia-
Brak....
“Astagfirullahaladzim.”
“Ya Allah.”
“Ya ampun.”
“Kyaa...”
“Akhhh..”
“Ambulan. Telfon ambulan.”
“Ya ampun, darahnya banyak banget.”
“Elisia...”
Elisia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Kepalanya merasa pusing. Ia bisa mendengar banyak suara teriakan. Ia menatap handphonenya yang tergeletak tak jauh darinya. Pandangan matanya terasa kabur,
Apa ia harus mati seperti ini?
***
Elisia pov..
Aku membuka mataku perlahan. Hanya ada warna putih ketika mataku terbuka. Kepala atau badanku tak terasa sakit seperti tadi. Apa aku sudah mati?
Jangan-jangan ini di akhirat.
Aku langsung bangun agar bisa melihat kesekitar. Tapi anehnya, Aku melihat sebuah tempat yang asing. Tempat ini seperti kamar tidur yang sangat luas dan mewah. Aneh, apa akhirat seperti ini?
Tunggu, apa ini di surga? Tapi apa surga memiliki bau seperti ini? Baunya sangat wangi. Dan terasa cukup familiar. Aku mengenali aroma ini, ini mirip seperti bau bunga Anggrek.
Mataku berkeliling menatap ke sekitar, dan aku menemukan diffuser. Masa di akhirat ada diffuser?
Aku menunduk dan menemukan selimut, kasur, dan bantal? Tunggu, ini dimana?
Aku pun memeriksa tubuhku. Tapi aneh, kukuku bercat warna merah polos. Terlebih jari-jariku bewarna sangat putih. Aku menyingkap lengan kemeja yang aku gunakan, tanganku juga bewarna putih dan sangat kurus. Lalu rambut, rambutku juga bewarna hitam dan panjang. Aku juga meraba-raba wajahku, wajah ini sangat halus dan kecil.
Ini bukan tubuhku.
Aku ingat jelas tubuhku. Aku memiliki kulit kuning langsat dan aku juga tidak memakai kutek. Terlebih rambut hitam? Rambutku pendek dan aku cat warna coklat.
Tunggu, apa aku koma selama beberapa tahun? Tapi kok rasanya kayak sebentar ya. Aku melihat kaca yang sangat besar di sudut ruangan lalu bangun dan berjalan kesana. Anehnya, tubuhku tidak merasa sakit.
Harusnya kalau aku koma lama, aku tidak akan bisa bergerak tapi ini aku bisa bergerak. Aneh ya,
“Akhhh...,”
Aku langsung menutup mulutku. Siapa perempuan di depan ini. Ini bukan aku. Tidak mungkin aku tiba-tiba berubah secantik itu.
“Nona- apa nona baik-baik saja?”
Aku langsung berbalik mendengar seseorang bicara. Tapi melihat sorang laki-laki yang sangat tampan dan hanya mengenakan handuk melilit tubuhnya, aku syok. Siapa laki-laki itu?
“Nona maaf, saya masuk menggunakan pintu terhubung. Apa anda baik-baik saja?” tanyanya dengan wajah khawatir dan berjalan mendekat.
“Kyaaa!! Ada orang m***m!” teriakku yang langsung jatuh terduduk dan menutup mataku.
“Ya ampun, nona maafkan saya. Saya lupa jika saya habis mandi. Saya akan kembali memakai baju lalu kembali ke sini lagi.” katanya yang masih ku dengar.
Tak lama aku mendengar suara pintu tertutup.
Aku mendongak dan melihat ke sekitar. Laki-laki tadi sudah tidak ada. Siapa orang tadi? Dia memanggilku nona tapi masuk lewat kamar penghubung.
Aneh. Aku bingung. Aku harus keluar dari kamar ini. Yah, benar aku harus keluar.
Aku langsung bangun dan membuka pintu tak jauh dariku. Aku melihat ruangan ini. Itu artinya ini bukan surga, akhirat, apalagi alam kubur. Tapi dimana aku?
“Nyonya, apa anda baik-baik saja?”
Aku terkejut melihat seorang pelayan yang menghampiriku dan memanggilku nyonya.
“Apa anda baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi, raut wajah anda terlihat tidak baik.” kata pelayan itu sopan.
“Kamu siapa?” tanyaku.
“Saya Sera, Nyonya Artemisia.”
Aku terkejut mendengar jawabannya. Artemisia? Sera? Itu terdengar tidak asing.
Ceklik,
“Sera, siapkan air mandi untuk Nyonya.”
Aku berbalik mendengar suara yang tak asing. Laki-laki tadi. Astaga, bukankah dia sangat tampan. Kali ini dia memakai kemeja dan celana panjang. Laki-laki itu mengkancingkan lengan kemejanya santai. Lalu Sera mengucapkan permisi dan masuk ke ruangan tempatku bangun tadi.
“Kamu siapa?” tanyaku tenang.
Laki-laki itu terkejut. Tapi segera menunduk dan meminta maaf. Aku bingung lalu mendekatinya dan melarangnya menunduk. Betapa tidak sopannya aku menyuruh, laki-laki tampan itu menunduk minta maaf.
“Jangan minta maaf begitu, aku hanya bercanda.” kataku dengan tertawa kecil.
Bisa curiga dia kalau aku tidak mengingatnya. Melihat sikapnya yang seperti itu padaku. Sepertinya kita sangat dekat.
Dia menatapku dengan mata yang membulat. Terlihat jelas dia sangat terkejut. Ia lalu berdehem dan tersenyum kecil.
“Maaf nona, saya terkejut.”
Ekspresinya kembali seperti semula. Tapi aku masih bingung dengan orang ini. Kenapa dia memanggilku nona, tapi yang lain memanggiku nyonya?
“Tidak apa-apa. Kita kan dekat, jadi sudah sewajarnya kita bercanda.” kataku canggung.
Lagi-lagi dia terkejut.
“Maaf nona.” katanya yang kemudian langsung memeriksa keningku.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Ah, saya- hanya memeriksa anda. Anda terlihat aneh.” katanya yang kemudian menurunkan tangannya.
Apa sikapku mencurigakan? Tapi- aku bingung, jika kita tidak dekat. Emangnya bisa dia tinggal di kamar yang punya pintu terhubung denganku?
“Bukankah, kita dekat? Atau jangan-jangan hanya aku yang merasa dekat.”
Baiklah, ayo kita pura-pura saja.
“Yah, jika dilihat dari status kita memang dekat. Saya suami anda.”
Apa? Suami?
“Tapi, saya merasa hubungan kita tidak dekat secara emosional. Anda kan membenci saya.”
“Aku tidak membencimu!” jawabku cepat.
Matanya membelalak lagi. Upss... Sepertinya aku membuat kesalahan lagi. Lagipula untuk apa aku membenci laki-laki setampan itu, terlebih lagi dia mengaku sebagai suamiku?
Tenang, Elisia tenang. Aku harus memahami situasinya baru berbicara.
“Benarkah? Jika begitu, saya senang anda tidak membenci saya.” ujarnya dengan tersenyum.
Astaga, senyumnya itu-
“Kalau begitu, saya masuk dulu untuk siap-siap pergi kantor.”
Aku menganguk. Dia tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya.
Aku masih tidak mengerti. Sebenarnya aku ada dimana sekarang.