Bab 5

1488 Words
Saat sampai dirumah itu, kepalaku semakin sakit karena ingatan masalalu yang tiba-tiba datang. Untungnya Ryhsand memegangi tanganku kuat. Tatapannya terlihat sangat khawatir. Aku tersenyum dan memenangkannya. Setelah itu aku lebih memilih duduk di sofa hingga pelayan memanggil kami untuk makan bersama. Kenangan masalalu yang tiba-tiba muncul seolah memberitahuku bahwa hubungan Artemisia dengan papanya sangat buruk karena papanya yang memaksa menikahkan Artemisia dan Ryhsand. Sia, kamu benar-benar … bisa-bisanya kamu mengabaikan ayahmu seperti itu. Aku kasihan melihatnya. Meski saat ini beliau tertawa seperti itu, pasti dia sangat kesepian karena putri semata wayangnya langsung pergi meninggalkannya. “Aku dengar kepalamu pusing, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya. “Iya baik. Papa sendiri gimana? Aku dengar keadaan papa turun akhir-akhir ini.” tanyaku akhirnya. “Itu nggak benar kok. Kalau keadaan papa drop, papa nggak akan disini makan sama kamu sama yang lain.” jawabnya dengan memegang tanganku. “Ayo kita makan.” ajaknya kemudian. Ia lalu mengambil nasi goreng dan menaruhnya di atas piringku. Aku menatapnya dan dia tersenyum. “Itu Nasi Goreng kesukaan kamu.” katanya. Aku mengigit bibirku sekuat mungkin menahan tangis. Ini membuatku teringat mendiang ayah dan ibuku yang sudah tiada. Sia, aku akan menyelamatkan ayahmu. Meski aku tidak tau akan tinggal sampai kapan disini... Tapi, selama aku ada didalam tubuhmu aku akan merawat papamu ini. “Makasih Pa.” ucapku. Papa tersenyum. Aku pun ikut tersenyum dan memakan makananku sembari menyuruhnya makan dengan banyak agar cepat sehat. “Kalau kalian mau segera punya anak, Mas Adi pasti cepet sembuh.” kata salah satu tanteku. Dia adik Papa yang merawat Papa saat aku tidak disini. Itu artinya, dia yang membunuh papa juga. Beraninya dia... “Hahaha.... Itu benar. Sia, Sand. Kalian nggak mau punya anak? Mau sampai kapan nunda?” tanya papaku kemudian. “Papa ... aku sama Sand masih mau berdua.” jawabku tenang. “Sia... Papa tau. Tapi mau sampe kapan? Setidaknya, papa mau sebelum mati, papa lihat kalian punya anak. Biar papa bisa mati dengan tenang karena punya cucu.” “Pa!! Kok ngomongnya gitu sih. Jangan ngomong gitu dong!” Papa hanya tertawa. “Lagian kamu mau ngapain kalau nggak punya anak? Shopping?” tanya ayahnya lagi. “Atau kalian mau coba itu bayi tabung? Tante punya kenalan Dokter dan Rumah Sakit yang bagus.” “Nggak perlu tante. Aku sama Sand, masih mampu punya anak secara normal kok. Kita cuma nunda aja.” jawabku cepat. Ryhsand hanya diam saja. “Jangan ditunda-tunda lebih lama.” “Kami akan berusaha Pa nanti.” Aku menoleh ketika Ryhsand menjawab pertanyaan Papa. “Beneran Sand? Papa seneng dengernya.” katanya yang kemudian tertawa. Mau tak mau aku langsung tertawa. “Bagaimana kalau kalian bulan madu lagi?” usul tante Bil. “Nggak perlu tante. Aku mau rawat Papa aja disini. Pa, mulai sekarang. Aku bakal tinggal disini rawat Papa.” “Katanya mau mulai rencana punya anak, lebih bagus dan cepet kalau bulan madu.” “Teori darimana itu tante? Buat dimana aja sih sama aja.” potongku kesal. “Papa seneng, kalau kamu mau pulang kesini lagi.” Aku tersenyum lalu menganguk. Setelah makan, aku menemani papa berbincang lalu menyuruhnya istirahat. Keluarga papa yang lain sudah pulang dan tinggal tante Bil dan keluarganya. Aku ingat, bahwa Artemisia yang meminta si Bilqis itu untuk menjaga papanya selama ia pergi. Jadi, sekarang aku mengucapkan terimakasih dan menyuruh si Tante Bil itu pergi dari sini secepatnya. Aku tidak suka anak kecil dan amat sangat mencintai ketenangan. Jadi, aku menggunakan cucunya untuk mengirimnya pergi. Tak lupa aku memberinya beberapa hadiah yang telah disiapkan Azriel sesuai perintahku. Alhasil mau tak mau tante Bil dan keluarganya pergi dari rumah ini. Malam itu juga, aku menyewa 3 perawat baru untuk mengawasi perawat papa yang lama dan menggeledah setiap detail rumah ini serta membantuku merawat papa. Selesainya, aku masuk ke kamar. Tapi, alangkah terkejutnya aku melihat Ryhsand yang tidur di sofa. Aku membangunkannya dan menyuruhnya berpindah ke atas tempat tidur. “Tapi anda kan benci bersama saya.” “Kata siapa? Aku tidak membencimu kok. Tolong jangan seperti ini.” “Apa tidak apa-apa saya berbaring disamping anda?” “Tentu saja. Kita kan pasangan jadi-” Aku malu. Aku rasa wajahku memerah. “Tolong jangan seperti ini lagi. Aku juga kan sudah minta maaf.” Dia menganguk lalu menurut berpindah ke atas tempat tidur yang sama. Astaga, Artemisia.... Bisa-bisanya kamu menyuruh laki-laki itu tidur di lantai ketika bersama-mu. Dasar tidak tau malu dan tidak tahu diri. Bagaimana bisa ada perempuan berhati dingin seperti itu. Aku langsung mencuci wajahku dan berganti baju. Tapi, melihat isi baju tidurku piyama seksi. Aku tidak punya lain selain memakainya. Lagi pula Ryhsand tidak tertarik padaku. Tapi tunggu, Ryhsand... Tenang, Elisia.. Ini hanya novel saja. Tidak akan terjadi apapun. Siapa tau ketika membuka mata nanti, kamu sudah bangun di tubuhmu sendiri. Yah, benar. Aku mencoba percaya diri meskipun gugup. Aku langsung naik ke atas tempat tidur lalu memakai selimutku dan mencoba menutup mata. “Nona,” “Ya?” “Apa anda baik-baik saja tidur bersama saya?” “Tentu.” jawabku setenang mungkin. “Anda berencana tinggal disini sampai kapan?” “Selamanya.” “Hah, memangnya anda tidak keberatan tidur dengan saya selama itu?” tanyanya dengan menatapku. Aku mampu merasakan tubuhnya bergerak menatapku. Astaga, sebenarnya aku harus bicara seperti apa agar laki-laki disampingku ini mengerti. Laki-laki? Tidak. Sudah pasti dia anak-anak yang suka merengek. Aku berbalik menatapnya. “Saya sama sekali tidak ada masalah apapun dengan Anda. Jadi, jika Ryhsand punya masalah tidur dengan saya. Anda bisa kembali ke rumah yang lama.” jawabku sejelas mungkin mengeja dan menekan setiap katanya. “Saya juga tidak ada masalah. Hanya, saya khawatir. Bagaimanapun anda pernah berkata tidak akan pernah mencintai saya atau bahkan menganggap saya sebagai suami anda sampai mati.” Aku tau aku salah. “Aku minta maaf. Waktu itu, aku hanya marah.” jelasku. Dia tersenyum. Tapi kenapa senyumnya terlihat sedih. “Maafkan saya nona. Saya tidak bisa menolak perkataan papa anda. Saya memiliki hutang budi yang sangat besar dengan beliau. Meski anda tidak menyukai pernikahan kita. Tapi tolong tahan itu. Saya janji, saya akan memperlakukan anda sebaik mungkin, agar anda tidak menyesal telah menikah dengan saya.” Aku menanguk, meski sebenarnya Artemisia yang asli sangat menyesali pernikahannya. Sejujurnya aku cukup bingung, ketika bertemu Kenzo tadi. Aku sama sekali tidak merasakan cinta ataupun suka untuk laki-laki itu. Tapi ketika bertemu Rahel dan papa tadi, aku sedikitnya menyadari bahwa tubuh ini memang menyayangi mereka berdua. Sementara perasaanku dengan Ryhsand, entalah itu rumit. “Saya tidak pernah menyesal menikah dengan anda Ryhsand. Anda keburuntungan yang saya miliki.” kataku dengan tersenyum. “Tapi, jika anda menyesali ini... Saya mempersilahkan anda pergi.” “Tolong jangan bicara seperti itu. Saya tidak akan pergi dari sisi anda.” katanya. Aku tersenyum mendengarnya. Saat ini ia bisa bicara begini, tapi.. dua tahun lagi ketika ia bertemu Bella. Ryhsand akan jatuh hati pada perempuan itu. “Soal, pembicaraan dengan papa tadi. Apa anda tidak mau memikirkannya?” “Tentang apa?” “Punya anak. Apa anda tidak ingin punya anak?” Aku membuka mataku. Tunggu sebentar, kenapa jadi seperti ini? “Tentu saja saya mau punya anak.” “Kalau begitu, apa tidak masalah jika melakukannya sekarang?” Blash... Wajahku memerah mendengarnya. Tunggu sebentar. Memangnya tidak masalah ya? “Me- melakukan- a-pa?” tanyaku gagup. “Hubungan suami istri.” jawabnya pelan. Tunggu, memangnya biasanya harus di bicarakan seperti ini ya? “Sa- saya memang kurang pengalaman tapi, saya akan memuaskan anda.” Tunggu sebentar, kenapa jadi begini. Aku menatap wajahnya yang sangat merah. Memangnya aku sepengalaman apa hingga dia berkata begitu? “Saya- saya melakukan ini bukan karena saya ingin nona. Tapi, ini karena papa ingin kita punya anak.” Apa katanya tadi? Karena papa ingin kita punya anak? Wajah memerah maluku hilang. Kini ganti wajah kesal yang menahan amarah. “Ryhsand, jadi kamu mau melakukan hal ini karena papa menyuruhmu?” tanyaku kesal. “Jadi, jika papa tidak menyuruhmu, kamu tidak akan melakukan itu ataupun punya anak denganku?” Wajahnya memerah lalu ia menatap kesamping. “Iya.” Aku kesal sekali mendengarnya. Meski ucapan ini ditujukan kepada Artemisia tapi itu benar-benar memalukan. Apa aku benar-benar eh salah maksudku, Artemisia yang cantiknya paripurna ini tidak punya nilai? Aku langsung berbalik memunggunginya. “Kamu tidak perlu memikirkan ucapan papa. Kamu harusnya hidup untuk dirimu sendiri. Bukan untuk papa!” kataku kesal. Meski begitu aku mencoba tenang. “Jika kamu tidak ingin punya anak denganku dari lubuk hatimu yang paling dalam, lebih baik kita tidak perlu melakukan apapun.” lanjutku lagi. Sialan! Ryhsand sialan! Menyebalkan! Aku sudah tidak tahan lagi. Aku akan mengatakannya kepada papa besok. Sepertinya aku mengerti kenapa Artemisia sangat membenci Ryhsand. Laki-laki itu selalu mengatakan apa kata ayahnya. Sabar... Sabar. Lagipula sebentar lagi Ryhsand juga akan bertemu cinta matinya lalu meninggalkanku. Sampai saat itu aku hanya perlu bersabar. Damn!! Padahal aku bukan Sia. Tapi kenapa aku kesal begini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD