Tak butuh waktu lama, Azriel sudah tiba dengan map bewarna coklat ditangannya. Rhysand mempersilahkan Azriel untuk duduk lalu memberikan map itu kepadaku.
Aku melihat wajah Azriel. Wajah Azriel sangat mirip seperti yang dideskripsikam di novelnya. Wajah innocent yang mampu memikat siapa pun yang melihatnya. Tapi ia memiliki satu kekurangan yang sangat buruk. Playboy yang kurang ajar. Lihat saja tatapan bencinya padaku.
Yah, itu memang dijelaskan juga di novel. Dante maupun Azriel sangat membenci Artemisia yang tidak menghargai Ryhsand sebagai suaminya.
“Saya bisa terbakar jika anda menatap saya seperti itu.” kataku dengan menatap Azriel.
Dari novel yang aku baca ketika menghadirkan sosok Artemisia. Artemisia selalu memakai bahasa formal dengan orang asing. Tapi memakai bahasa non formal dengan keluarga besarnya maupun temannya.
“Gue nggak inget punya laser api di mata gue!” jawabnya asal.
Seperti yang digambarkan. Dia orang yang sangat terang-terangan dan mampu membuat siapapun yang bersamanya nyaman. Tidak cocok dengan pekerjaannya yang sebenarnya. Tapi, Azriel mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat rapi dan baik.
Rasanya aku bisa bernafas lega sejak adanya dia disini. Bagaimana pun suasanaku dengan Ryhsand selalu canggung dan aneh.
“Azriel jaga ucapanmu dihadapan istriku!” tegur Ryhsand.
“It's oke Ryhsand. Lagipula dia lucu juga kok. Aku menyukainya.” kataku padanya. Aku tersenyum kecil.
Ryhsand menatapku terkejut. Aku tidak tau apa yang membuatnya terkejut. Aku yang memanggil namanya atau memaklumi sikap kurang ajar Azriel.
Aku membuka map itu dan memperhatikan foto-foto disana. Sepertinya selingkuhan Artemisia ganteng juga.
“Dia kan kurang ajar.” kata Ryhsand lagi. Perkataannya seolah tak terima aku membela Azriel.
“Ya, kadang aku membutuhkan seperti itu.” jawabku dengan melihat bukti keburukan selingkuhanku.
Aku tidak tau, jika pada waktu itu Ryshand menatap Azriel tajam. Sementara Azriel sendiri melihatnya bingung.
“Jadi, kamu memata-mataiku?” tanyaku padanya.
Dia terlihat gugup. “Bu- bukan begitu. Aku- bukannya melanggar privasimu, tapi-”
“Memangnya nggak boleh? Kan Bos suamimu! Apa salahnya ngawasin istri tukang selingkuh?” saut Azriel.
“Azriel!” bentak Ryhsand. “Tolong maafkan dia.” ujarnya lembut padaku.
“It's oke. Lagian apa yang diucapkan Riel benar kok. Kalau gitu block semua kartu yang aku berikan ke dia. Dan panggil keamanan 2 jam lagi untuk ambil rumah itu.” balasku cuek.
“Anda mempercayai saya?” tanyanya terkejut.
“Apa semua bukti ini palsu?” tanyaku kembali.
Dia menggeleng.
“Apa ada alasan aku harus tidak mempercayaimu?”
Ryhsand terlihat cukup bingung membalas ucapanku.
“Papa mempercayaimu Ryhsand. Jadi, aku juga akan mempercayaimu.”
Ryhsand tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Tapi hal tersebut harus terganggu dengan telfon yang masuk. Aku mengangkatnya.
Tapi mendengar suara disana, aku dibuat terkejut kembali. Akhirnya aku menemukan kematianku juga.
“Apa terjadi sesuatu?”
Aku menganguk. “Kenzo pesen hotel di Madrid buat 10 hari.”
Kenzo adalah nama selingkuhan Artemisia.
“Anda akan pergi ke Madrid?”
“Boleh?” tanyaku.
“Kapan berangkat?”
“Dua Minggu lagi.” jawabku. Aku ingat di novel dikatakan 30 hari setelah pemakaman Gennady, Artemisia pergi dengan Sekingkuhannya ke Madrid. Bisa jadi, Dua Minggu itu papa Artemisia akan tiada lalu liburan ditunda sampe 30 hari setelah kematian papanya.
“Emangnya aku boleh pergi?” tanyaku.
Dia diam cukup lama sebelum mengatakan tidak. Aku menghela napas kasar.
Aku menatap ke Azriel. “Kamu mau ke Madrid?” tanyaku padanya.
“Gue nggak minat jadi selingkuhan lo!” sarkasnya.
Aku tertawa mendengarnya. Sumpah. Ternyata dia lebih kurang ajar dari yang dijelaskan di novel. “Wah, sayang banget. Padahal kamu tipeku.”
Aku melihatnya cukup terkejut dengan responku. Tentu saja. Jika ini Artemisia yang asli. Sia pasti akan membalasnya dengan sinis dan menghinanya habis-habisan. Sementara Ryhsand. Dia cukup terkejut dengan responku.
“Uhm, banyak kok yang bilang gitu.”
“Masa?” tanyaku dengan menatapnya sembari tersenyum.
Dia berkata iya. Aku lalu melihat jam di dinding ruangan kerja Ryhsand. Sudah saatnya aku menemui Kenzo.
“Kalau kamu minat, kamu bisa ajak pacarmu kesana. Anggap aja ini hadiah dariku.” kataku yang kemudian aku bangkit.
“Oke, kalau nyonya bos maksa.”
“Aku balik dulu Sand,”
“Ayo saya antar.”
“Nggak perlu. Kamu pasti sibuk. Biar Riel aja yang anter aku.”
Ryhsand terlihat aneh. Tapi ia kemudian menganguk dan memberikan pesan agar Riel menjaga ucapannya padaku selama perjalanan nanti.
Aku menyuruh Riel menyetir ke restoran terkenal. Riel dengan to the point menuduh bahwa aku sedang menggodanya. Tentu saja kali ini aku membalasnya dengan sarkas. Ryhsand yang seperti itu saja aku biarkan apalagi Azriel yang hanya seperti ini.
Azriel tak tersinggung dia hanya tertawa sebagai tanggapan.
“Tapi bos kan membosankan.”
Ya, itu fakta.
“Itu daya tariknya.” pujiku.
Aku berbohong tentang itu.
Sampai direstoran aku langsung menyuruh Azriel pergi dan menemui Kenzo. Tanpa basa-basi aku langsung memberikan bukti-bukti itu lalu memutuskan hubunganku dengannya. Kenzo menolak. Dan berusaha menjelaskan. Aku menampik tangannya, tapi Kenzo menolak melepaskan tanganku dan menggenggamnya sangat kuat hingga ada tangan yang langsung melintir tangan Kenzo. Aku melihat siapa orang tersebut, Azriel.
“Riel.”
“Anjing! Lo siapa b*****t! Jangan ikut campur urusan gue!”
“Gue pacar barunya! Sana pergi atau gue patahin tangan lo.” ancamnya.
“Lo berani- Akh,”
Aku terkejut ketika Azriel melintir tangan Kenzo. Aku meringis melihatnya. Kenzo terlihat sangat kesakitan. Azriel mengambil kunci mobil dan kunci rumah milik Kenzo lalu memberikannya kembali padaku.
“Beraninya kamu selingkuh di belakangku, jadi aku ambil lagi barang-barang ini.” kataku yang kemudian pergi membiarkan Azriel dan Kenzo.
Aku memakai mobil yang dulu pernah aku berikan ke Kenzo. Untung saja tubuh ini masih mengingat caranya.
Sampai dirumah aku langsung menghubungi Ryhsand meminta nomor Azriel. Ryhsand mengirimkannya tanpa banyak tanya. Aku langsung menghubungi Azriel menyuruhnya kemari jika ia tidak sibuk.
Tak butuh waktu lama Azriel sampai.
“Wow, bu bos udah ganti baju lagi?”
“Namaku Artemisia. Panggil saja Sia.”
“Pak Bos bisa marah kalau aku manggil bu bos begitu.”
“Bilang aja aku yang suruh.”
Azriel menurut. Meski ia menatapku penuh kewaspadaan dan kecurigaan. Aku lalu menyuruhnya untuk bekerja denganku. Aku akan memberikan bayaran yang besar. Azriel hanya perlu mengawasi keluarga besarku terutama 3 keluarga yang aku sebutkan.
Di dalam novel, Gennady punya 6 saudara. Mereka 7 bersaudara dengan Gennady adalah anak kedua. 5 orang saudaranya sangat gila harta. Hanya ada 3 orang yang berani nekat dan 2 orangnya meski serakah tapi mereka penakut dan tidak mau mengambil resiko yang besar.
“Awasi mereka dan laporkan semua kegiatan mereka secara rinci. Laporkan juga mereka melakukan kontak dengan siapa aja. Terutama Tante Bil yang ngerawat papa.”
“Baik.” jawab Azriel.
“Aku menantikanya.”
“Aku tidak akan mengecewakanmu Sia.”
Aku tersenyum dan hendak menawarkan makan ke Riel sampai pelayan datang dan berkata sudah menyiapkan air mandi untukku. Mereka memberitahuku bahwa, aku harus segera bersiap karena sebentar lagi aku harus pergi makan malam bersama ayahku dan keluarga besarku yang lain.
Aku menganguk meski tidak ingat apapun. Setelah itu Azriel berpamitan pergi. Dan aku langsung bersiap.
Persiapan malam ini lebih lama daripada pagi tadi. Dan ketika aku sudah siap. Ryhsand sudah menungguku di depan pintu. Ia mengulurkan tangannya dan aku meraihnya.
Anehnya, ada ingatan yang datang padaku. Ingatan itu memberitahuku bahwa Artemisia yang asli selalu menolak untuk bergandengan tangan ataupun menyuruh Ryhsand menjauh dari jarak pandanganya jika itu bukan di tempat umum.
“Maaf Ryhsand.”
“Ya nona?”
“Maaf karena selalu bersikap kasar.”
“Tidak apa-apa nona.” jawabnya.
Aku ingin sekali menyuruh Ryhsand untuk berhenti memanggilku begitu, tapi yah... Pelan-pelan dulu.