Menabur Benih Kebencian

1558 Words
"Luka sebagai hiasan. Meninggalkan kesan tanpa pesan. Pahit yang menjuntai lebar menyala-nya lalu menjadi bara. Sedikit air menjadikannya abu, hilang, namun masih disitu, tempat yang ku sebut kamu." ___________ Novitri, Quotes Perkataan yang menguar dengan suara dingin itu membuat Aurora menegang. Seluruh ototnya berubah kaku hingga membuat tubuhnya tak mampu bergerak. Aurora menelan ludah tiba-tiba ingatannya melayang pada pertemuan pertama mereka dulu. Masih jelas tersimpan di memori Aurora bagaimana telapak besar dan kuat itu mencengkram lehernya hendak meremukkan tulangnya. Aurora refleks menyentuhkan tangan di lehernya seolah ingin melindungi dari predator buas yang kehausan itu. Sementara matanya menunduk, menatap ragu kepada Cleo yang masih memeluknya. Gerakan tangannya lembut ketika Aurora memutuskan untuk mendorong bahu Cleo menjauh. Tetapi lelaki mungil itu menolak, memberontak keras kemudian semakin mengencangkan pelukannya. "Tidak mau. Mau dengan ibu." Hati Aurora seolah diremas ketika mendengar suara Cleo yang bergetar karena menahan tangis. Dia tertegun, memandangi kepala Cleo dengan mata berkaca-kaca. Untuk sejenak keheningan yang terjebak dalam suasana menyesakkan cukup membuat Aurora berpikir dan menyimpulkan bahwa Cleo dan lelaki di hadapannya memiliki hubungan yang kurang baik. Karena itulah Cleo bersikap manja, merengek layaknya anak seusianya ketika keinginannya tidak dipenuhi. Aurora menghela napas pendek lalu menggerakkan tubuhnya susah payah untuk berjongkok di hadapan Cleo. Disapukannya ibu jarinya di pipi Cleo, mengusap pipinya dengan lembut. Matanya memandang penuh cinta ketika Aurora berucap membelah keheningan. "Jangan menangis. Wajah tampan ini menjadi rusak." Aurora memaksakan bibirnya mengulas senyum manis dan matanya yang berkaca-kaca tampak berkilau. "Maafkan aku." Cleo menundukkan kepala lemah sambil menjalinkan kedua tangannya dengan cemas, "Apa kau marah karena aku yang tiba-tiba memelukmu?" Aurora yang tadinya menatapi Cleo dengan sedih seketika membelalakkan mata karena keterkejutan yang sangat. "Tidak. Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan, untuk apa aku marah?" "Benarkah?" tanya Cleo melebarkan matanya yang sebiru laut seolah tidak percaya. Aurora menganggukkan kepala, "Sungguh. Aku tidak marah padamu." sambungnya lagi sambil meraih tangan Cleo, menggenggamnya erat hendak meyakinkan. Mata biru itu berbinar, senyumnya melebar. Cleo langsung melempar tubuhnya kedalam pelukan Aurora kemudian dengan sigap melingkarkan tangannya di bahu Aurora. "Ibu... aku sangat mencintaimu." ucap Cleo dengan penuh semangat, membuat Aurora tertegun sejenak. Darren yang sejak tadi bergeming tanpa kata tiba-tiba melangkahkan kakinya dnegan lebar lalu meraih tangan Cleo, menariknya supaya menjauh dari Aurora. Suara tangis dengan jeritan menyakitkan langsung memenuhi indera pendengarannya. Cleo meraung-raung, meronta sekuat tenaga supaya terlepas dari cengkraman Darren. "Lepaskan! Aku tidak ingin pergi!" Cleo menjerit keras lalu mengulurkan tangannya berusaha untuk menggapai Aurora, "Ibu! Ibu! Tolong aku!" Mendengar itu, Aurora melangkah maju oleh dorongan implusif lalu mengulurkan tangannya hendak menggapai tangan Cleo. Sayangnya mata biru Darren yang menatapnya seolah menghunus kedalam jantung Aurora membuat kakinya refleks berhenti melangkah. Aurora melangkah mundur perlahan, matanya tampak berkilat karena tak sanggup mendengar suara teriakan Cleo yang dipenuhi jeritan tangis. Sementara Darren semakin menambah kekuatan cengkramannya di tangan Cleo, menarik tubuh lelaki itu keras, merapatkan padanya. Dengan sigap, tangan Darren menyelip di belakang pundak Cleo, menahannya kuat supaya tidak bisa lari. "Ayah, tolong lepaskan aku." sambil berucap Cleo menggerak-gerakkan tubuhnya supaya terbebas dari Darren. "Jangan menguji kesabaran ayah Cleo. Kau tentu sangat tahu apa yang bisa ayah perbuat jika sudah lepas kendali." seru Darren lantang, menyelipkan nada geraman disana. Seketika itu pula Cleo langsung menghentikan semua usahanya karena percuma saja dia memberontak, tidak ada yang mampu menolongnya untuk terlepas dari perintah lelaki itu. Cleo mengangkat wajanya ke arah Aurora, menatap perempuan itu dengan pancaran cinta yang bersinar dari mata birunya yang basah. "Anthonio, bawa Cleo pergi." Segera setelah perintah itu bergaung, Aurora tersentak lalu memutuskan pandangannya terlebih dulu dari Cleo. Dia sungguh tidak sanggup melihat wajah Cleo yang dipenuhi kesedihan. Ketika tangannya telah dicengkeram lembut, Cleo masih tetap saja tidak memalingkan mata dari Aurora. Hendak menangis keras sayangnya suara Cleo seperti tersangkut di tenggorokan. Dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya telah di tarik dari hadapan Darren untuk kemudian menjauh dari Aurora. Cleo memutuskan membalikkan badan lalu mengikuti langkah Anthonio yang menggiringnya ke dalam mobil. Sementara itu, Aurora menatap punggung Cleo dengan perasaan kacau, hatinya berdenyut karena rasa sakit bahkan untuk sekedar menghela napas pun terasa sulit, sebab aura yang menguar dari Darren sungguh membuat pasokan udara seakan tersedot habis. "Kau menyukainya?" tanya Darren tiba-tiba dengan suara dingin, menyentak Aurora dari lamunan. Aurora langsung menolehkan pandangannya ke arah Darren, melempar tatapan benci yang sangat. "Cleo sungguh malang memiliki ayah tidak berperasaan seperti mu. Kau kejam! Tidak punya hati! Kau bahkan tidak layak disebut manusia." sahutnya dengan d**a naik turun karena emosi. Darren tertawa keras, keberanian Aurora sungguh membuatnya jengkel sekaligus memuji. "Aku memiliki sisi yang lebih kejam dari itu. Kau ingin melihatnya?" ucap Darren dengan penuh arti. Aurora seperti kehilangan akal, karena entah keberanian darimana dia malah mengangkat dagu kepada Darren menunjukkan sikap menantang. "Hentikan omong kosong mu tuan. Jika dunia yang terbiasa kau pijak tunduk padamu maka tidak denganku. Aku tidak akan pernah tunduk ataupun takut padamu, karena lelaki seperti mu tidak pantas mendapatkan semua itu. Kau hanya seorang predator buas yang meresahkan manusia lain, sebab itu memusnahkan mu adalah pilihan yang tepat." jawab Aurora kemudian dengan menggebu-gebu menyemburkan kemarahan yang nyata disana. Mendengar itu, sekali lagi Darren tertawa keras. Sungguh perkataan Aurora membuat lambungnya seperti diaduk-aduk untuk kemudian mengantarkan tawa membahana dari bibirnya. Namun tawanya segera surut terurai tanpa jejak ketika dia melangkahkan kakinya, memangkas jarak diantara mereka lalu berdiri tepat di depan Aurora. "Bukankah kau sudah terlalu lancang Aurora? Aku bisa saja meremukkan seluruh tulangmu dengan sedikit kekuatanku kemudian menenggelamkan tubuhmu tanpa memunculkan mayat mu dipermukaan." sambung Darren lambat-lambat mendedikasikan kalimatnya. "Oh, ya?" Aurora tersenyum meremehkan sengaja semakin membesarkan kobaran api kemarahan Darren, "Apa kau terbiasa melenyapkan seseorang dengan semudah itu? Pantas saja kau disebut predator, karena hanya seekor makhluk menjijikkan yang mampu melakukan itu." "Kurang ajar!" dengan gerakan cepat, Darren menempelkan telapak tangannya di leher Aurora, mencekik perempuan itu. Mata Aurora langsung melotot, napasnya sesak karena udara terhalangi untuk masuk ke dalam paru-parunya. Dadanya meronta kuat hendak pecah sementara tubuhnya sedikit melayang dari permukaan tanah seiring dengan semakin kuatnya cekikikan itu. Aurora menendang-nendang ke udara, menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga, kemudian meraih tangan Darren hendak melepaskan dari lehernya. Namun kekuatan Darren yang luar biasa membuat lelaki itu bergeming, tidak bergerak sama sekali. "Bagaimana? Apa kau mulai menikmati kekejaman ku?" Darren berucap sambil terkekeh, semakin menekankan tangannya di leher Aurora. Tubuh Aurora melemas, pandangannya mulai menggelap sementara dadanya terasa penuh. Dia ingin menyerah, menyudahi kesakitan ini dengan menenggelamkan diri dalam kegelapan yang telah menantinya. Tetapi harapan itu tidak terpenuhi sebab di detik Aurora hendak menyambut kegelapan itu, tubuh Aurora langsung terjatuh dan terbanting di permukaan lantai. Hal yang pertama sekali dilakukannya adalah terbatuk-batuk dengan keras sambil memegangi lehernya kemudian Aurora menghela napas dalam-dalam berusaha untuk mengisi paru-parunya yang kosong. Aurora menjerit ketika tubuhnya ditarik untuk kemudian dipaksa berdiri di depan Darren. Kali ini keberaniannya telah lenyap, sama sekali tidak tahan untuk menatap ke arah Darren yang hanya berjarak satu senti dengan wajahnya. Aurora mengigit bibirnya kuat saat merasakan air mata yang telah menggenang di kantung matanya. "Menyingkir dariku." desis Aurora mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman Darren. "Kau masih memiliki kekuatan untuk menantangku rupanya." Darren tersenyum sinis lalu memandangi rahang Aurora hendak mengukur dengan kekuatannya. "Aku sangat ingin merenungkan rahang kecil mu ini supaya bibir seksi mu itu tak lagi bisa memakiku. Bagaimana? Kau ingin mencoba?" "Manusia gila! Enyalah kau dari pandanganku!" teriak Aurora di sisa-sisa keberaniannya. Darren meraih dagu Aurora dengan kasar, mencengkeram kuat hendak meremukkan. Kemudian dia mendekatkan wajahnya di bibir Aurora sebelum kemudian berkata. "Shasa, Ken, Amira, dan seluruh penghuni panti, menurutmu mana yang terlebih dulu harus ku habisi. Aku memiliki ratusan makhluk yang menghuni laut tawar ku, memiliki puluhan binatang buas di rumah besi ku. Dan tentu saja, para penghuni neraka itu akan bersorak saat aku melemparkan daging segar sebagai santapan hariannya." Darren terkekeh pelan saat melihat wajah Aurora yang berubah panik, dengan santai dia mendekatkan bibirnya di samping wajah Aurora lalu berucap. "Bagaimana jika kita mulai dari Shasa, gadis kecil itu memiliki daging yang empuk dan tulang kecil. Sepertinya... dia sangat cocok untuk hidangan pembuka." Tepat ketika Darren menyelesaikan kalimatnya, Aurora mengumpulkan seluruh keberanian dan kekuatannya untuk mendorong tubuh lelaki itu menjauh darinya. Dengan amarah yang meluap Aurora langsung melayangkan tangannya, menampar keras pipi Darren. Wajah lelaki itu seketika terlempar, sama sekali tidak menduga bahwa dirinya mampu kehilangan kewaspadaan sesaat hingga memberikan kesempatan kepada Aurora untuk menyerangnya. Rasa panas nan pering menjalar di seluruh pipi hingga ke lehernya. Rahangnya mengeras sementara tatapannya tajam ketika beralih kepada Aurora. Darren segera mengangkat tangannya di udara, memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk berhenti ketika mendengar suara langkah yang berkejaran di balik punggungnya. "Kau menamparku?" ucapnya dengan menggeram. "Tamparan itu adalah harga yang pantas untuk mulutmu yang beracun. Kau membicarakan kehidupan seseorang dengan mudah seolah tidak memiliki nilai sama sekali. Kau pikir dirimu ini siapa ha! Hanya karena kau kaya raya dan tersohor di seluruh dunia, bukan berarti uangmu pantas untuk membuat hidup seseorang hancur, memperlakukan mereka dengan rendah! Kau ini sungguh menyedihkan, kau diagungkan hanyalah karena kau memiliki kekuasaan bukan karena dicintai." "Tutup mulutmu!" hardik Darren dengan emosi yang tidak lagi bisa ditahan. "Tahu apa kau tentang cinta. Hentikan omong kosong mu sebelum aku benar-benar meremukkan rahang mu itu. Camkan baik-baik Aurora, aku pasti akan membuat mu menyesal karena telah berani menantangku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD