4. Jehan's Mistakes

1610 Words
"AKHHHH!!!" pekik Jehan membuat ketiga laki-laki yang tengah asik mengobrol itu terkejut. Pekikan disertai suara pecahan gelas membuyarkan diskusi putra Arsenio. Mereka segera pergi ke sumber suara, meninggalkan makanan hangat nan lezat di hadapan mereka. "Ada apa?" tanya Adelard panik. Sedang yang ditanya hanya diam terpaku. "Astaga! Lo dalam masalah besar!" hardik Galen. Ketiganya menatap tak percaya pada tumpukan buku di rak meja belajar Adelard. Ya, buku-buku persiapan ujian dan beberapa catatan penting untuk materi minggu depan, serta PR minggu lalu yang harus dikumpulkan esok hari telah basah terguyur air kopi. Jehan tak sengaja tersandung ketika masuk ke dalam kamar Adelard. Mati, pikirnya. Adelard merampas kasar tangan Jehan, ia mencengkeram uat-kuat lengan gadis itu. Kini mata Jehan memerah, tanpa sadar air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. Ia takut, lengannya begitu sakit. "Liat gue!" Adelard mencengkeram dagu Jehan, memaksanya untuk menatap bulat-bulat matanya. "Baru sehari lo di rumah gue, lo udah bikin masalah. Lo bisa nggak, sih, hati-hati? Lo tau ini buku apa?" Jehan terkesiap, benar-benar tak menyangka bahwa Adelard akan semarah dan sekasar ini. Sebelumnya ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang laki-laki. Ketakutan, perih di dadanya, dan nyeri akibat cengkeraman Adelard membuat Jehan tak dapat membendung air matanya. "Jawab!!!" Jehan semakin terisak, ia hanyalah orang asing. Tak akan ada yang menolongnya. "Aku ... enggak tau." "Ini buku persiapan buat ujian akhir, catatan materi gue, dan PR yang harus gue kumpulin besok! Gue udah baik hati mau nolong dan ngasih kesempatan lo buat kerja, tapi apa sekarang?" "Den ...," "Nggak usah ikut campur urusan aku, Bi!" Bi Arum terdiam, niatnya untuk membela Jehan sirna. Jika ia membangkang maka bersiap-siaplah ia yang akan di depak dari rumah ini. Bi Arum tak dapat berbuat lebih, pasalnya ia hanya seorang asistem rumah tangga, sama seperti Jehan. "Aku minta maaf, aku nggak sengaja numpahin kopinya. Aku bener-bener minta maaf, tolong maafin aku," sesal Jehan. "Cewek kayak lo bisanya cuma jual air mata dan kata maaf." Adelard melepas cengkeraman pada lengan Jehan dan meninggalkan bekas kemerahan disana. "Bi, bersihin ini. Aku enggak mau liat muka dia!" *** Di kamar berukuran sedang dengan single bed itu Jehan tengah menangis terseduh-seduh. Omong-omong tentang kamar, kini Jehan tidak lagi menempati kamar tamu, melainkan kamar dengan ukuran jauh lebih kecil dari sebelumnya yang berada di ruang belakang, tepatnya disebelah kamar Bi Arum. Ya, sekali lagi ia bukanlah tamu lagi, melainkan asistem rumah tangga yang baru. Syukur ada Bi Arum yang setia menghibur dan menenangkan Jehan saat ini. Jehan juga telah menceritakan awal mula pertemuannya dengan Adelard kala itu, tentunya tanpa memberi tahu apa alasan sebenarnya ia datang kemari. "Udah, Neng, jangan nangis terus. Den Adelard aslinya baik, kok. Dia jarang banget loh marah kayak tadi. Dijadiin pelajaran aja, ya, Neng, biar lebih hati-hati kedepannya," hibur Bi Arum. Ia juga sangat bersimpati dengan Jehan yang hidup sendirian tanpa kedua orang tua, hingga memaksa dirinya untuk pergi ke kota mencari nafkah. "Bi, apa aku nggak pantes ada disini? Apa aku pergi aja?" Bi Arum mendekati Jehan lalu duduk tepat disebelahnya, meraih kepalanya lembut untuk di dekap. "Jangan gitu, Neng. Mereka masih butuh Neng Jehan, cuma mereka belum ngerti Neng Jehan aja. Percaya deh sama Bibi." Keduanya saling mendekap, Jehan sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang sebaik Bi Arum. Dekapan serta kalimat yang menyejukkan hati membuat Jehan merindukan sosok Ibu. Setelah bertahun-tahun akhirnya Jehan bisa memeluk dan merasakan kehangatan kasih sayang meskipun bukan dari Ibu kandungnya. "Makasih, ya, Bi. Bibi udah sayang sama aku. Akhirnya aku bisa ketemu versi lain dari ibuku." "Sama-sama. Oh iya, Neng Jehan ini masih sekolah atau udah lulus?" Jehan baru teringat tentang ini. Bagaimana ia bisa lupa dengan pendidikannya? Mungkin keputusannya untuk pergi kemari terlalu Terburu-buru. Kini ia harus memikirkan pendidikannya lagi, apalagi di kota besar ini pasti biaya sekolah semakin mahal. "Aku masih kelas sebelas, Bi. Entah aku mau sekolah dimana." Jehan semakin mempererat pelukannya pada tubuh Bi Arum. "Kalo sekolah di kota pasti biayanya mahal, ya?" "Sekolah di SMA nya Den Galen sama Den Adelard aja, Neng," tawar Bi Arum. "Bukannya makin mahal ya, Bi?" "Besok kita obrolin baik-baik ke Den Adelard dan yang lain, masalah biaya bisa pakai gaji Neng Jehan selama disini. Setuju?" "Aku nggak yakin, sih, Bi. Apalagi Adelard abis marah besar ke aku, tapi nggak apa-apa besok kita coba. Sekali lagi makasih ya, Bi." Jehan melepaskan pelukannya dan mengulas senyum manis nan tulus untuk Bi Arum. "Astaga, tangan Neng Jehan merah gini." Bi Arum segera meraih tangan mungil milik Jehan. Benar, lengan sebelah kirinya memerah akibat cengkeraman Adelard tadi. "Pasti sakit banget ini, Bibi obatin ya?" *** Sebagai anak geng motor yang gemar bela diri dan olahraga, Galen selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk melatih otot tubuh agar fisiknya tidak lemah. Karena hobi yang sudah menjadi kebiasaan itu, Galen sampai menyediakan ruangan khusus olahraga di rumahnya. Ia senantiasa menjadikan ruangan ini sebagai ruang privat yang tak sembarang orang bisa masuk. Termasuk Dareen yang sering jail dengan masuk secara diam-diam untuk mengganggu dan mengotori tempat ini. Akhirnya Galen memutuskan bahwa hanya Bi Arum yang boleh memasuki ruangan ini untuk membersihkannya. Sudah beberapa minggu ia tidak bermain boxing, tangannya terasa sangat gatal dan ingin meninju sesuatu. Apalagi dalam waktu dekat Orion akan bekerja sama dengan keluarganya untuk mencari jejak pelaku pembunuhan Mila. Alangkah baiknya jika ia bisa menambah kekuatannya dalam bela diri. Seperti biasa Galen akan menggunakan perlengkapan untuk melakukan tinju. Ia mulai mencari keberadaan handwrap berwarna hitam kesayangannya. Sebenarnya ia memiliki banyak handwrap, tapi handwrap berwarna hitam itu sangat ia sukai dan membawa hoki menurutnya. Ia masih terus mencari sambil merutuk. Bagaimanapun benda itu harusnya masih tetap di tempat yang sama, karena tak ada satu orang pun yang boleh masuk kecuali Bi Arumーitupun jika Bi Arum mencucinyaーsetelahnya benda itu akan ada disini lagi. Kali ini ia tinggalkan handwrap dengan beralih mencari headband miliknya. Nihil, kedua benda tersebut tak dapat ia temukan. Harusnya benda tersebut masih ada di tempat yang sama, kalaupun tidak, pasti ada disekitar sini saja. Sepertinya ada keteledoran yang telah dilakukan oleh Bi Arum. Galen pun buru-buru menemui wanita tersebut. Dengan langkah kaki memburu dan amarah yang berkobar Galen akan bersiap-siap untuk mencaci Bi Arum. Galen adalah tipe orang yang perfeksionis, semua pekerjaan harus tertata rapi dan perintahnya harus terlaksana dengan tepat. Ia juga heran mengapa Bi Arum bisa sampai teledor seperti ini. Langkahnya terhenti ketika ia mendapati Bi Arum yang tengah asik bercengkrama bersama Jehan sambil memotong sayur. "Bi, headband sama handwrap aku mana?" Tatapan tajam serta intonasi tinggi itu berhasil membuat dua orang di depannya membeku. Bi Arum mati kutu, kejadian kemarin berhasil melibatkannya pada masalah besar lagi. Ingin sekali ia jujur pada Galen, tapi ia juga merasa kasihan dengan Jehan jika harus berurusan lagi dengan tuan rumah. Ia tak ingin kehilangan Jehan, ia juga paham bagaimana hidup susah. Jehan menggenggam tangan Bi Arum kuat dan menahannya agar tetap diam. Jehan mengangguk yakin pada Bi Arum, ia akan mengakuinya. "Sebenernya ini bukan kesalahan Bi Arum, tapi salah aku. Kemarin waktu Bi Arum diluar, aku yang beresin seisi rumah. Terus aku juga beresin tempat olahraga kamu, dan aku udah buang headband sama handwrap kamu itu. Aku minta maaf," jelas Jehan sambil menundukkan kepala. Tangan Galen mengepal, lagi-lagi gadis ini berulah. Setelah berurusan dengan Adelard, kini Jehan harus berurusan dengan Galen. Namun, Galen memilih untuk menahan amarahnya. Kini ia mencoba menetralkan emosinya dan mengacak kasar rambutnya. "Kenapa lo harus buang itu?" tanya Galen setenang mungkin. Tak ingin jika Galen mencengkeram dagunya seperti yang dilakukan Adelard, kini Jehan memberanikan dirinya untuk menatap mata Galen. "Aku liat headband dan handwrap itu udah kusut, dan aku rasa pasti ada yang lain buat gantiin benda itu." Tak kuasa, air matanya kini berlinang deras. "Bener, ya, kata Adelard. Lo tuh bisanya cuma nangis. Baru sehari ada disini udah banyak bikin kesalahan. Gue bakal bilang Dareen biar lo diusir dari sini." ancam Galen. Jehan ketakutan, "Aku mohon jangan lakuin itu, aku minta maaf. Aku janji nggak akan ulangi lagi." Kini ia nekat sampai berlutut di kaki Galen sambil menangis. Bi Arum yang menyaksikannya ikut teriris hatinya. Ia sangat ingin membela Jehan, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ketakutan jika ia juga akan diperlakukan sama halnya dengan Jehan. Sedang Galen hanya diam membisu masih dengan amarahnya yang memuncak. "Aku mohon sama kamu, aku udah nggak tau lagi harus tinggal dimana kalo kamu ngusir aku," isak Jehan, "aku bakal terus memohon sampai kamu maafin aku." "Ada syaratnya ...," Galen menggantungkan kalimatnya, "lo harus nurutin semua perintah gue." Jehan menepis air matanya lalu bangkit dan menatap mata cowok didepannya. Tatapan itu penuh dengan pertanyaan tentang tawaran Galen yang yang tak dapat ia pahami. "Lo harus ngelakuin apapun yang gue mau. Sebagai tebusan kesalahan lo dan posisi lo di rumah ini bakal tetep aman." Galen mendekatkan pandangannya tanpa memberi jarak sedikitpun, hingga ia bisa merasakan deruan napas Jehan. Jehan menggigit ujung bibirnya, ia sangat kebingungan sekarang. Takut jika Galen meminta sesuatu diluar batas kemampuannya. Namun, jika ia menolak maka kesempatannya untuk bertahan di rumah ini sangat kecil. Ia menatap Bi Arum yang juga sama ketakutannya dengan dirinya. Dilihatnya Bi Arum yang menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Jehan dengan tawaran Galen. "Iya ... aku mau," jawab Jehan. Galen tersenyum penuh kemenangan, "Bagus, posisi lo bakal aman disini. Satu lagi, lo masih sekolah, kan? Gue bakal urusin biar lo bisa masuk sekolah juga." Jehan makin kebingungan, antara sedih atau senang. Mengapa Galen sangat aneh seperti ini, ia bisa menjadi sangat mengerikan dan sekejap akan berbuat baik. Namun, Jehan harus tetap hati-hati, takut jika Galen akan merencanakan hal yang kurang menyenangkan. "Sekolah di SMA kamu? Itu pasti mahal banget," sanggah Jehan. "Enggak ada yang mahal buat kita. Besok di sekolah lo harus nurutin perintah pertama gue." . . (Bersambung)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD