5. Compensation

2140 Words
Mata Jehan menatap takjub ke arah bangunan berlantai tiga di depannya. Bangunan dengan dominan cat berwarna biru muda itu terlihat sangat megah nan mewah. Plang bertulis 'SMA Lentera Bangsa' yang cukup besar mendominasi bangunan tersebut. Langit terlihat sangat cerah bak suasana hati Jehan hari ini. Rasa campur aduk antara bahagia dan gugup hadir karena hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Dengan setelah seragam sekolah berwarna putih abu-abu, rambut hitam bergelombang sebahu yang diurai, sneaker putih, dan tas ransel mini, Jehan terlihat sangat lucu dan cantik. Ditambah lagi ia memiliki tubuh yang mungil, membuatnya sangat terlihat imut. Jehan menyusuri koridor sekolah untuk segera menemukan ruang kelasnya. Ia terus melebarkan pandangannya untuk memastikan bahwa ia tidak salah ruangan. Tak butuh waktu lama, akhirnya Jehan berhasil menemukan ruang kelas tersebut. Ruang kelas 11 MIPA 3 itu nampak penuh dengan seluruh siswa yang sudah duduk rapi di bangku masing-masing. Jehan melirik jam tangan yang melingkar di lengannya, rupanya ia telah terlambat sekitar lima menit. Dilihatnya guru yang mengetahui akan kedatangannya, lantas guru tersebut segera mempersilahkan Jehan masuk dan membiarkannya memperkenalkan diri. "Silahkan duduk disebelah sana, Jehan." Guru tersebut menunjuk bangku kosong dibarisan ketiga. "Semoga kamu betah dan dapat teman baru, ya." Jehan mengangguk paham lalu mulai mengikuti interupsi dari guru tersebut. Ia sesekali memberi senyum pada beberapa teman yang duduk dekat dengannya. Ia cukup canggung karena ini adalah hari pertamanya di sekolah, ditambah ia yang tak memiliki kenalan satupun. Jehan juga sedikit khawatir jika tidak ada satupun siswa yang mau berteman dengannya. Apalagi ia bukanlah gadis kota yang keren dan mudah bergaul. Namun, penampilan Jehan tidak terlihat buruk. Ia cukup lihai untuk memadu padankan setelan ditubuhnya. Jadi, ia mencoba untuk berpikir positif dan tidak perlu merasa minder akan penampilannya, apalagi parasnya juga sangat cantik dan lugu. Setelah pelajaran usai dan memasuki jam istirahat, seorang gadis cantik yang duduk tepat di belakang Jehan mulai mendekat. "Hai, Jehan. Kenalin gue Shenna." Gadis bernama Shenna itu mengulurkan tangannya dengan senyum yang merekah. Jehan pun segera membalas jabatan tangan Shenna. "Hai, Shenna." Dua gadis dibelakang Shenna juga turut memperkenalkan dirinya pada Jehan. Mereka adalah Keysa dan Ola, sahabat dari Shenna. Setelah obrolan kecil yang mereka lakukan, akhirnya mereka berempat memutuskan untuk pergi ke kantin bersama. Jehan tidak menyangka bahwa ia dapat dipertemukan dengan teman sebaik mereka. Pikiran Jehan tentang anak sekolah elit yang sering melakukan bullying tidak sepenuhnya benar, buktinya ia langsung mendapatkan teman yang sangat baik seperti sekarang. Dengan senang hati Jehan mendengarkan Shenna yang sedang bercerita apa saja tentang sekolah dan kota ini. Shenna begitu antusias menceritakannya, dengan Ola yang beberapa kali memotong pembicaraannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Shenna jengkel. Lain halnya dengan Keysa, yang satu ini terlihat lebih pendiam dari kedua temannya. Keysa hanya sesekali melontarkan senyuman saat Shenna dan Ola berselisih paham. Jehan tak tahu pasti apakah Keysa benar-benar anak yang pendiam atau mungkin tak nyaman dengan keberadaannya. Yang jelas, wajah Keysa yang tak ramah membuat Jehan sedikit kikuk untuk memulai pembicaraan dengannya. "Eh, Je. Lo ini pindahan, kan? Sekarang lagi dimana? Biar nanti kalo ada waktu luang kita bisa main ke rumah lo," tanya Shenna. Belum sempat menjawab pertanyaan Shenna, seseorang dengan suara beratnya memanggil nama Jehan. Membuat keempat siswi itu mendongak cepat. Galen, pentolan SMA sekaligus ketua Orion itu tengah datang menemui Jehan. Tentu saja hal itu mengundang perhatian dari seluruh siswa yang ada di kantin, termasuk ketiga teman Jehan. "Astaga, Je. Lo kenal sama Galen?" Ola mengibaskan rambutnya beberapa kali. Berharap jika Galen akan meliriknya, tapi Galen tak sama sekali melihatnya. Jehan mengangguk kaku, lalu kembali menatap ke sumber suara. "Ada apa?" tanyanya. "Gue harap lo enggak lupa soal tadi malem. Ikut gue sekarang!" perintah Galen. Setelahnya ia pergi tanpa menunggu persetujuan Jehan, dengan para siswa yang masih menjadikannya pusat perhatian. Tiga teman satu meja Jehan itu melongo tak percaya. Kalimat 'tadi malam' membuat ketiganya menatap tak percaya ke arah Jehan. Pikir mereka, apa yang telah Jehan lalukan? Jehan merasa tidak enak pada teman-temannya, ia juga heran mengapa para siswa disini menjadikannya sebagai bahan tontonan. Selepasnya, ia segera berlari untuk mengikuti kemana Galen pergi. "Galen, tungguin aku," pinta Jehan masih sambil berlari. Entah mengapa sangat sulit baginya untuk bisa menyeimbangkan langkah kakinya dengan Galen. Pantas saja, ukuran kaki Galen jauh lebih panjang dari milik Jehan. Galen tidak menggubris, ia tetap berjalan entah kemana tujuannya. Jehan dibuat kebingungan karena Galen berjalan sampai melewati gerbang belakang sekolah. "Ini belakang sekolah? Kamu mau ngajak aku bolos?" "Jangan bawel!" Tak ingin berdebat dengan Galen, Jehan memutuskan untuk tetap mengikuti langkah kaki cowok itu. Kini, lahan kosong belakang sekolah itu terlihat sangat gelap karena pepohonan rindang berhasil menghalau sinar matahari untuk masuk. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah dengan arsitektur lawas yang keadaannya masih cukup mumpuni. Jehan bisa melihat jelas ada beberapa pemuda berjaket hitam yang tengah asik berbincang sambil bermain catur di teras. Jehan pun membungkukkan tubuh sambil memijit dua lututnya yang terasa pegal. Perjalanan yang ia tempuh bersama Galen tadi membuat kakinya kebas karena ia yang harus sedikit berlari agar tidak tertinggal dari Galen. Di sela aktivitasnya, ia dapat mendengar jelas bagaimana beberapa pemuda itu bercengkerama dengan Galen. Setelahnya Galen meneriaki dirinya untuk segera ikut masuk ke dalam. Jehan segera mengekor dibelakang Galen. Ia melihat jelas bahwa rumah ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari depan. Benar saja, rumah ini amat luas dengan beberapa sekat yang memisahkan ruang-ruang di dalamnya. Jehan juga tidak menyangka bahwa banyak sekali orang yang ada di dalam rumah ini. Jehan mengernyit, ia melihat ada beberapa pemuda yang mungkin berkisar 20 tahunan lengkap dengan pakaian serba hitam tengah asik bermain kartu, billiard, dan ada juga yang hanya asik mengobrol. Yang membuat Jehan heran adalah mereka selalu menyambut kehadiran Galen seperti seorang Bos yang tengah datang. Sepenting itukah Galen? Kedatangan Jehan kemari membawa kebingungan yang terselip di pikirannya, seperti bagaimana bisa Galen membawanya ke tempat seperti ini? Bahkan ia tak dapat menemukan wanita sama sekali. Pikirnya mulai tak waras, masih dengan keheranan yang berputar-putar di kepalanya. Jehan mulai bergidik, takut jika Galen akan merencanakan hal yang tidak-tidak. Atau bahkan Galen akan meminta sesuatu yang ... ah, tidak. Jehan tak sanggup membayangkannya. "Kamu mau macem-macem, ya?" tanya Jehan ragu-ragu. Terlihat beberapa butir keringat jatuh dari keningnya. "Enggak penting gue ngelakuin hal kayak gitu." Jehan mendengkus, antara ingin percaya atau tidak. Harap-harap jika Galen tidak berbohong atas ucapannya. "Serius?" Kini ia mulai memastikan sekali lagi. "Terserah." Jehan meremas tangannya kasar. Dari belakang tubuh Galen, Jehan sudah sangat siap untuk memukul cowok itu. Namun, itu hanya angan Jehan, tak sampai hati ia melakukannya. Mengapa Galen ini sangat mirip dengan Adelard? Dua saudara kandung ini sangat menyebalkan. Siapakah kira-kira yang menurunkan gen jutek nan judes tersebut? Setelah beberapa ruang bersekat yang mereka lewati, akhirnya Galen singgah disebuah ruang yang cukup sunyi karena terlampau dari dua ruang sebelumnya. Jehan mengamati ruangan tersebut, lalu ia kembali terkejut karena ada tiga remaja laki-laki yang tengah asik bersenda gurau lengkap dengan seragam sekolah yang senada dengan dirinya. Jehan berpikir bahwa ketiga remaja tersebut adalah komplotan Galen yang sudah berencana untuk bolos. Ketiga remaja itu adalah Finn, Ian, dan Eric. Mereka juga terkejut karena Galen membawa seorang gadis ke dalam markas. Mereka mengamati Jehan karena merasa asing dan tidak pernah bertemu sebelumnya. "Gila, dateng-dateng bawa cewek," cerca Ian. Ia buru-buru bangkit untuk mengamati gadis di depannya itu. "Emm, pinter nih Pak Ketua kalo nyari cewek." "Berisik!" tukas Galen. Ia menarik satu kursi kosong di sebelahnya untuk diduduki. "Bikinin kita kopi, Je. Dapurnya ada di sebelah sana." Jehan melongo. Sepanjang jalan ia mengikuti Galen, sesampainya disini ia harus membuat kopi? Ah, perintah Galen terdengar konyol. Kenapa ia tak menyuruh Jehan melakukan hal lain saja? Maksudnya, hanya membuat kopi saja siapapun pasti bisa, bukan? Meskipun akhirnya pikiran buruk Jehan tentang alasan Galen membawanya kemari itu tidak benar, tapi kenapa harus opsi ini yang menjadi permintaan pertama Galen? Perjalanan jauh yang menguras tenaga ... ah, sudah. Jehan kembali mengutuk Galen dalam hati. "Kenapa, lo keberatan?" "Eh, enggak. Cuma ... kamu jauh-jauh ngajak aku kesini cuma buat nyuruh aku buatin kopi? Padahal aku liat di depan tadi ada yang jualan kopi." "Emangnya kenapa? Lo enggak lupa sama perjanjian tadi malem, kan? Lo harus nurut sama perintah gue." Galen mensejajarkan kakinya dengan bertumpu pada meja kecil di depannya, lalu ia melipat tangannya kebelakang untuk dijadikan tumpuan kepalanya. Tiga temannya yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melihat drama antara Galen dan Jehan. Eric yang terkenal akan sifat mata keranjang mulai mencari kesempatan dalam kesempitan. "Kalo lo gak berani ke dapur, gue temenin," tawarnya. "Enggak usah!" sanggah Galen cepat. Finn dan Ian yang menyadari kejadian itu langsung tertawa lepas. "Galak banget. Punya lo, ya?" goda Eric. "Udah cepet bikin kopi, bentar lagi jam istirahat kelar!" Tak menggubris pertanyaan Eric, Galen kembali memerintah Jehan. Jehan segera pergi ke dapur yang sebelumnya telah Galen tunjukkan. Sambil menyeduh kopi, ia sempatkan untuk melihat-lihat ruang dapur minimalis tersebut. Ruangan sempit yang keadaannya cukup bersih, serta semua peralatan dapur yang tertata dengan rapi. Sangat jarang terjadi ketika banyak laki-laki yang menempatinya. "Ini kopinya." Jehan menyuguhkan satu-persatu kopi panas yang telah ia buat. Ia memamerkan senyum manisnya pada ketiga teman Galen. "Makasih ya, Jehan," ucap Finn. Cowok paling waras yang baik hati dan murah senyum. Jehan sedikit tersentak, pasalnya cowok pemilik senyum manis itu baru saja memanggil namanya. Namun, Jehan teringat bahwa Galen pasti telah membicarakan dirinya kepada teman-temannya itu hingga Finn bisa mengetahui namanya. "Gue juga makasih, Je. Oh iya, nama gue Ian Ivander. Panggil aja Sayang, hehe. Ini Finn dan ini Eric." Ian menunjuk satu-persatu kedua teman disebelah sambil terkekeh. Jehan hanya mengangguk sambil tersenyum, masih hati-hati jika mereka akan berbuat hal yang buruk. "Lo duduk, jangan kayak patung." Galen menyeret satu kursi kosong berwarna hitam untuk Jehan. Namun, gadis itu menolak. Ia ingin bergegas kembali ke sekolah. "Udah, Je, duduk aja. Lo bakal aman kok, nanti kita balik bareng-bareng ke sekolah." Finn menepuk-nepuk kursi kosong yang sebelumnya sudah Galen siapkan untuk Jehan. Jehan yang tadinya ketakutan, kini mulai merasa tenang karena ucapan Finn. Senyum manis dan tuturnya yang lembut membuat Jehan percaya bahwa Finn adalah orang baik. Lalu bagaimana dengan yang lain? Ah, Jehan tak mau ambil pusing. Terlebih ia juga sangat lelah karena perjalanan kesini cukup menguras tenaganya. "Nanti Adelard kesini, pulang sekolah jangan langsung cabut," kata Galen pada ketiga temannya. "Mau ngobrolin soal pencarian pelaku pembunuhan Tante Mila?" tanya Ian. Galen mengangguk, lalu menyeruput kopi panas buatan Jehan. Setelahnya ia melirik Jehan sambil mengedipkan mata. Jehan bingung, dahinya mengerut meminta penjelasan. "Manis," lirih Galen. Jehan memutar bola matanya, kelakuan Galen memang tak bisa ditebak. "Berarti Kak Dareen setuju, dong?" timpal Finn. "Ya gitu, lah." "Ayo, kapan, nih? Tangan gue gatel pengen mukulin orang." Eric mengepalkan tangan kirinya dan mengusapnya menggunakan tangan kanan. Ia menatap gemas pada jari-jari tangannya, layaknya sudah siap untuk bertarung. Jehan bergidik. Penyelidikan pembunuhan Mila? Ia baru paham jika mereka adalah Orion, sosok asing yang pernah dibicarakan Galen dan kedua kakaknya di meja makan. Bulu kuduk Jehan berdiri. Orang sebanyak ini akan membantu Galen untuk mencari pelaku pembunuhan Mila? Tentunya, Jehan merasa posisinya semakin terancam. Namun, ia segera menepis pikiran buruknya sambil mengusap tengkuknya yang terasa dingin. "Masih belum tau kapan, soalnya Dareen juga masih sibuk di kantor," jawab Galen. Teman-temannya mengangguk paham. Setelahnya mereka memutuskan untuk kembali ke sekolah setelah Eric menyadari bahwa jam istirahat akan berakhir dalam 15 menit. Galen menarik tangan Jehan agar bisa berjalan bersamanya. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, Jehan cukup kesulitan untuk mengejar Galen yang jalannya lebih cepat. Jehan meringis sambil mengutuk Galen dalam hatinya. Jika saja Jehan memiliki kemampuan untuk melawan, maka akan ia lakukan. "Kenapa ditarik? Sakit tau!" protes Jehan. Tentunya secara tidak sengaja kalimat bernada tinggi itu keluar dari mulutnya. "Pertama, karena lo harus nurut sama gue. Kedua, biar lo enggak hilang atau ketinggalan," jawab Galen datar. Galen, manusia yang mungkin memiliki dua kepribadian. Kadang ia akan berbuat hal yang menyebalkan, dan kadang ia juga bisa manis seperti ini. Ya, meskipun dengan cara yang cukup tidak wajar. "Kalo lo capek biar gue gendong, Je." Eric si buaya sekolah tengah melancarkan aksinya kembali. Meskipun sebelumnya berhasil mendapatkan penolakan sepihak dari Galen, ia tak menyerah. Jehan hanya membalasnya sambil tersenyum. Menurutnya, Eric adalah satu-satunya anggota Orion yang wajib diwaspadai. Cowok berpenampilan seperti anak nakal itu banyak berkeliaran di kota besar. Jehan tidak ingin jika ia dijadikan tumbal perasaan, terlebih Eric memiliki paras yang tampan. Jehan tidak ingin jika suatu saat ia mulai jatuh cinta pada Eric. Astaga. Apa yang baru saja Jehan pikirkan? Ia menggeleng cepat lalu menepuk keningnya beberapa kali. Pikirnya terlalu jauh. Hanya karena Eric menawarkan bantuannya, Jehan berpikir sejauh itu? Konyol dan polos, dua kata yang tepat disematkan untuk Jehan. "Eric, Eric. Nggak Shenna, nggak Jehan, semua lo modusin." Finn mengalungkan lengan jaket miliknya ke leher Eric, membuat semua tergelak. "Mentang-mentang ganteng itu, jago bela diri. Ck, sombong," caci Ian tulus. "Ya udah. Kita duel besok, yang menang dapet Shenna." . . (Bersambung)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD