13

1992 Words

Challista mengintip meja makan yang sepi. Tidak ada satu pun yang bicara selain dentingan garpu dan pisau, beberapa alat makan lainnya dan bunyi kunyahan buah di dalam mulut sang kepala keluarga. "Hubunganmu dengan Willy, bagaimana?" Challista menghela napas. Menatap sang ayah dalam tatapan datar. "Baik. Kami baik," katanya. "Sudah aku duga. Jangan terlalu cemas, Bryan," sahut sang istri. Disertai senyuman samar. "Challista tidak akan mengecewakan kita." Challista terdiam. Menatap wajah ibunya dalam arti lain. Ketika tarikan napasnya berubah berat dan terasa sesak. "Mama benar. Jangan cemaskan apa pun," bisiknya lemah. Sebelum kembali menunduk, menyapukan tatapannya pada sepiring daging panggang dan kentang rebus. "Hm. Tidak, hanya saja aku sedikit khawatir. Willy sangat sukses. Dia a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD